Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 005. Bagaimana Kalau Misi yang Ini Saja?



"Xin'er, apa tidak ada pakaian lain? Kenapa hanya ada baju berwarna putih?" tanya Lu Xiao Lan masih dengan tersenyum kecut.


"Maaf Putri, tapi hanya ada pakaian seperti ini" jawab Xin'er dengan kepala menunduk, takut untuk menatap mata Lu Xiao Lan.


"Haih, sudahlah, tidak perlu menunduk begitu. Dan lagi, jangan panggil aku Putri, panggil saja Nona. Aku tidak nyaman dengan panggilan Putri itu" ucap Lu Xiao Lan menghela nafas kasar.


Xin'er yang mendengar hal itu merasa tidak enak dengan Lu Xiao Lan, karena dirinya telah membuatnya merasa tidak nyaman oleh panggilan Putri.


"Maafkan nubi" ucap Xin'er kembali menunduk merasa bersalah.


Lu Xiao Lan memutar bola matanya malas, ternyata orang jaman dulu doyan banget minta maaf, pikir Lu Xiao Lan.


'Xin'er ini sangat emosional, sepertinya aku harus berhati-hati saat berbicara dengannya' batin Lu Xiao Lan.


Lu Xiao Lan langsung mengambil hanfu dari tangan Xin'er. Xin'er yang tengah menunduk langsung saja menengadahkan kepalanya dan melihat Lu Xiao Lan yang pergi meninggalkan dirinya.


"Nona, apa tidak perlu nubi temani? Biasanya nona selalu meminta bantuan kepada nubi untuk membersihkan diri" panggil Xin'er.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" teriak Lu Xiao Lan karena jaraknya dengan Xin'er cukup jauh, supaya Xin'er mendengar ucapannya.


Lu Xiao Lan pergi ke arah yang sesuai dengan arahan dari Xin'er tadi. Xin'er hanya menatap kepergian Lu Xiao Lan dengan mata berkaca-kaca.


"Apa nona marah padaku? Sepertinya aku membuat kesalahan" ucapnya tertunduk lesu dengan nada sedih. Air matanya pun sudah menetes.


***


Lu Xiao Lan kini telah sampai di sungai yang jernih. Dia mendengar samar-samar suara air terjun dan mengikuti ke arah suara. Dia ingin melihat air terjun itu.


Setelah berjalan sepanjang ratusan meter, akhirnya Lu Xiao Lan sampai di air terjun yang cantik. Lu Xiao Lan terkagum-kagum melihat pemandangan indah di hadapannya saat ini.



Kira-kira gitu lah air terjunnya...


Xiao Lan meletakkan bajunya di atas bebatuan dekat air terjun itu. Dia melepaskan pakaiannya dan mulai berendam di sana. Beruntung di sekitar air terjun itu tidak ada orang lain selain dirinya.


"Aku hidup sebagai seorang Putri, namun tidak seperti Putri lainnya. Bahkan 'Ayahku sendiri' tidak menganggap diriku dan malah percaya kalau diriku itu pembawa sial dan memilih untuk mengasingkan diriku seumur hidup. Tapi ada bagusnya juga. Aku bisa hidup bebas tanpa harus terkekang" gumam Xiao Lan.


"Oh iya, ngomong-ngomong, sepertinya ada yang kurang, tapi apa yah?? Oh ya, di sini tidak ada shampo ataupun sabun, jadi bagaimana?" ucapnya dengan nada bingung.


***


Di sebuah apartemen mewah di salah satu kamar VIP, seorang gadis cantik masih terjaga, padahal sudah larut malam. Dia tengah bermain dengan ponselnya.


"Baiklah! Aku harus tidur yang cukup untuk mengerjakan misi besok!" ucapnya dengan merenggangkan tubuhnya dan ke kamar mandi untuk membersihkan muka dan gosok gigi.


Setelah itu dia pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Saat akan tidur di kasur king size nya yang empuk, suara dering ponsel terdengar.


Gadis itu segera meraih ponselnya dan mengangkat telfon dari Ibunya.


"Hua Lin, kau pasti belum tidur bukan? Cepatlah tidur, ini sudah larut malam" panggil Ibu dari gadis bernama Hua Lin itu.


"Ibu, bagaimana kau bisa tahu? Apa kau memasang mata-mata? Oh, atau alat penyadap?!" tanya Hua Lin berpikir yang tidak-tidak.


"Kau ini sedang mencurigai Ibu, ya?! Berani sekali kau bocah nakal?!" ucap Ibu Hua Lin berpura-pura marah.


"Ampun!!" ucap Hua Lin dengan berpura-pura takut.


"Sudahlah, cepat tidur sana!" ucap Ibunya.


"Baik! Akan aku laksanakan!!"


Hua Lin langsung menutup telfon Ibunya dan meletakkannya di meja kecil yang terletak di samping kasur king size-nya.


"Kenapa aku merasa tidak enak untuk hari esok? Apa aku berlebihan? Aku sudah menjadi pembunuh bayaran cukup lama, lalu kenapa aku seperti merasa takut?" gumam Hua Lin merasakan firasat buruk.


Hua Lin menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menepis firasat buruk yang mengganggunya itu.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan! Tenang Hua Lin, tenang. Besok pasti akan baik-baik saja. Kau akan berhasil menyelesaikan misi dan mendapat pujian dari teman-teman mu dan tatapan kagum. Kau tidak perlu terlalu khawatir!" ucapnya sambil berbaring dan menenangkan pikirannya yang berkecamuk.


Lama-lama matanya terasa berat dan akhirnya Hua Lin tertidur lelap. Kini ia tengah mengarungi mimpi indahnya.


Di pagi hari yang cerah, Hua Lin tengah duduk sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil dan meminum air putih yang dibawanya. Ia telah menyelesaikan olahraga rutinnya.


Sekarang, Hua Lin menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia memakai handuk putih untuk menutup tubuh polosnya dan memilih pakaian di ruang ganti.


Akhirnya, setelah memakai pakaian yang khusus untuk ia gunakan saat mengerjakan misi. Pintu kamarnya terketuk oleh pelayan yang membawakan sarapan untuknya.


"Masuk!" ucap Hua Lin.


Pelayan itu pun membuka pintu perlahan dan membawakan beberapa makanan yang Hua Lin telah pesan tadi dan menyajikannya di meja makan.


Pelayan itu heran dengan pakaian yang dikenakan oleh Hua Lin, namun dia tidak bertanya karena Hua Lin adalah pelanggan VIP mereka.


"Terima kasih" ucap Hua Lin dengan tersenyum ramah.


Pelayan itu pun langsung keluar, takut menganggu Hua Lin. Hua Lin langsung memakan semua makanan itu sampai habis dan langsung berangkat menuju markas.


***


Sesampainya di markas, semua rekan-rekannya telah berkumpul di sana. Hua Lin berjalan menuju mereka dan bergabung. Dia harus melewati kerumunan untuk melihat papan misi.


Setiap harinya akan ada misi baru di papan misi. Kau harus cepat-cepat mengambil kertas misi sebelum orang lain yang mengambilnya, makanya Hua Lin bergegas menuju papan misi.


"Baiklah, apa yang kita punya di sini?" gumam Hua Lin yang telah berhasil melewati kerumunan dan menatap papan misi.


Dia tengah mencari misi yang cocok untuk dia kerjakan. Dengan sifatnya yang senang akan tantangan, tentunya misi sulit yang akan dia ambil.


"Baiklah, bagaimana kalau misi yang ini saja? Misi untuk menangkap ilmuwan yang mempergunakan manusia untuk menjadi kelinci percobaan?" ucap seorang gadis cantik dengan warna rambut abu-abu dan warna matanya yang sama yang terdengar familier di telinga Hua Lin.


"Lian Qiyue?" panggil Hua Lin pada gadis itu.