Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 002. Jika Aku Mati, Kau Juga Harus Mati



***Sebelum baca, kasih like, vote, rate, dan jangan lupa komentarnya nanti untuk author yang imut ini ...


Jangan lupa kasih jejak setiap selesai baca 1 bab ya*** ...



Sore hari di sebuah gazebo. Di samping gazebo itu ada sebuah kolam yang cantik dengan ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari dengan anggun di dalamnya.


Angin sepoi-sepoi yang dapat membuat orang terlarut dan tertidur. dengan meja kecil yang telah ada dua cangkir cantik dan teko antik juga beberapa camilan.


Seorang gadis yang tengah duduk di gazebo dengan wajah linglung seperti tengah menunggu seseorang sambil menggigit kuku jarinya.


Rambutnya yang berwarna kecoklatan sama seperti warna matanya tergerai dan melambai-lambai karena angin. "Dia di mana sih?! Katanya dia janji kalau akan datang. Sekarang dia di mana?!" gumam gadis itu dengan panik, takut rencana yang telah ia susun dengan baik akan hancur seketika.


Gadis itu adalah Lin Shu. Dia tengah panik karena sampai sekarang Lin Yuan masih belum datang juga. Padahal Lin Yuan sendiri yang mengatakan kalau akan datang.


Tapi sekarang...? Lin Shu samar-samar mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar. Menandakan kalau si pembuat suara itu semakin mendekat ke arahnya.


"Apa dia yang datang?" gumam Lin Shu dan menoleh ke arah suara dan tebakannya memang benar.


Lin Yuan telah sampai di gazebo dan duduk berhadapan dengan Lin Shu. Dia tersenyum tipis pada Lin Shu. Namun, entah mengapa Lin Shu merasa merinding ketika melihat senyuman itu.


Lin Shu memejamkan mata dan menarik nafas lalu menghempasnya dengan pelan lalu membuka matanya perlahan, memamerkan mata coklatnya yang indah.


"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Lin Yuan dengan wajah dan nada datar.


Lin Shu menggeleng dengan cepat dan menjawab, "Tidak! Tidak sama sekali! Aku juga baru saja sampai" ucapnya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya, namun terlihat dipaksakan.


Padahal dalam hatinya, 'Tentu saja! Tentu saja aku sudah menunggu lama sampai-sampai tubuhku kaku karena terus menunggumu! Dan juga rambutku menjadi berantakan dan wajahku terkena debu!'


"Oh, baguslah kalau begitu" ucap Lin Yuan dengan nada datar yang membuat Lin Shu semakin kesal padanya, namun ditahannya amarahnya yang bertumpuk dengan senyuman dipaksakan.


"Baiklah, Lin Yuan, aku akan menuangkan teh untukmu, ya?" ucap Lin Shu meraih teko antik di depannya untuk menuangkan teh di cangkir Lin Yuan.


"Terima kasih" ucap Lin Yuan sambil terus menatap tangan Lin Shu yang tengah menuangkan teh untuk dirinya.


Lin Shu menyodorkan cangkir teh yang telah dia isi ke Lin Yuan dan tersenyum sinis. Namun itu hanya sementara dan dia kembali menetralkan ekspresinya.


Lin Yuan yang melihat senyuman sinis Lin Shu menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis. 'Oh, jadi dia punya rencana untukku ya? Baiklah, jangan mengatakan aku tega, saudaraku' batin Lin Yuan.


Dia meraih cangkir yang disodorkan Lin Shu dan mengendusnya. Dia menemukan aroma aneh yang terdapat pada teh itu. Orang biasa mungkin tidak akan menyadarinya, namun tidak untuk Lin Yuan sang Queen Mafia.


Racun itu tidak terdapat dalam teh, tapi di cangkir itu sendiri. Dokter terhebat pun tidak mampu mendeteksinya. Racun itu mampu membuat orang mati seketika. Sungguh mengerikan!


'Dia berniat meracuniku!' desis Lin Yuan dalam hati.


Lin Yuan ingin meletakkan cangkirnya ke meja dan tidak berniat untuk meminumnya, namun entah mengapa tangannya tidak bisa bergerak sesuai yang dia mau.


Tangannya seolah membantah dan mendekatkan cangkirnya ke mulut Lin Yuan untuk diminum. 'Ada apa ini?! Kenapa tanganku bergerak sendiri?!' tanya Lin Yuan dalam hati.


"Kau meracuniku!" ucap Lin Yuan dengan nada marah.


Badannya terasa remuk, jantungnya terasa diremas-remas. Lin Yuan mencengkram dadanya menahan rasa sakit yang kini ia rasakan.


"Memangnya kenapa?! Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa membunuhmu hari ini! Aku merasa tidak adil karena Ayah dan Ibu selalu saja menyayangimu! Sedangkan aku?! Aku seperti tidak dianggap oleh mereka! Apa kau pikir aku akan menerima semua itu?! Tidak! Aku tidak terima! Saat kau di neraka nanti, sampaikan salam-ku pada Ayah dan Ibu" ucap Lin Shu dengan berteriak, air matanya juga turun di wajahnya. Dia tersenyum sinis saat mengucapkan kalimat terakhir.


Lin Yuan mengambil pistol yang selalu dia bawa kemanapun dan menodongkannya ke arah Lin Shu.


"Apa yang ingin kau lakukan?!" teriak Lin Shu sedikit takut karena Lin Yuan menodongkan pistol ke arahnya.


"Kau ingin aku mati bukan? Kalau begitu, jika aku mati, kau juga harus mati bersamaku!" teriak Lin Yuan dengan menarik pelatuknya.


Doorrr...


Suara tembakan dapat terdengar. Peluru itu menembus dada Lin Shu sampai ke jantungnya. Darah mengalir keluar dari mulut Lin Shu.


Brukk...


Lin Shu ambruk ke tanah. Dia melotot ke arah Lin Yuan. Sebelum Lin Yuan ingin mengatakan kata-kata kasar, rohnya sudah berpisah dari tubuhnya.


Lin Shu mati dengan mata melotot, tidak terima kalau dirinya sudah mati. Lin Yuan tersenyum sinis, namun dia merasakan sakit yang luar biasa menusuk.


"Bukankah aku sudah bilang kalau kita akan mati bersama?" ucap Lin Yuan dengan nada tercekat.


Lin Yuan pun mati di tempat dengan tubuh terbaring dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.


Sebelum Lin Yuan mati, dia bergumam dengan berlinang air mata, "Aku tahu apa yang kau rasakan, Lin Shu. Kau pasti merasa sedih, tapi juga marah, iri, dan cemburu. Kau pasti juga menyalahkan aku, bukan? Hehehe, Aku mengakui kalau aku bodoh. Aku masih tidak bisa menerima kalau aku akan mati begitu saja"


***


Di sebuah tempat antah berantah di mana semuanya hanya berwarna putih. Seorang gadis yang tengah menutup matanya tiba-tiba membuka matanya.


"Di mana ini? Aku sudah mati bukan? Apakah ini adalah surga? Tapi kenapa semuanya hanya berwarna putih?" ucap gadis itu—yang ternyata Lin Yuan—dengan penuh tanda tanya.


Lin Yuan menoleh ke sana ke mari untuk melihat di mana dia sekarang. Namun usahanya sia-sia saja karena hanya ada dirinya sekarang.


Lin Yuan bingung saat melihat tubuhnya yang transparan.


"Apa ini? Tubuhku transparan?" gumam Lin Yuan mencubit pipinya cukup keras.


Namun, dia tidak merasakan sakit apapun karena dicubit. Dia memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. Dia masih tidak mengerti dengan keadaannya saat ini.


"Tidak perlu terlalu bingung. Saat ini kau sedang dalam keadaan roh. Aku yang membawa roh-mu ke sini" ucap sebuah suara berat menjawab pertanyaan di benak Lin Yuan.


...🌾🌾🌾...