
Suara tembakan kembali terdengar di ruangan yang sepi itu. Hua Lin merasa ada yang menembus jantungnya. Darah pun mengalir keluar dari mulutnya dan membuat baju yang ia kenakan terkena darah.
Dengan tatapan yang masih terkejut itu, dia menoleh ke belakang dan melihat Qiyue tengah menodongkan pistol ke arahnya.
"Kenapa?? Kenapa?! Kenapa??!! Qiyue, katakan alasannya!!" desis Hua Lin dengan nada tercekal, menahan rasa sakit.
"Apa aku harus mempunyai alasan untuk membunuh dirimu?" tanya balik Qiyue.
"Ternyata, aku sangat bodoh!! Hahaha!!! Aku sangat bodoh!! Bahkan sahabat-ku sendiri mengkhianati aku. Apa hanya aku yang menganggap persahabatan kita, Qiyue?" ucapnya dengan pandangan sayu.
Qiyue hampir meneteskan air mata, namun ditahannya. Dia terus menatap Hua Lin dengan tatapan dingin, walaupun hatinya terasa sangat sakit.
Qiyue mengepalkan tangannya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia sedang menahan perasaannnya dalam-dalam.
Hua Lin yang sudah tidak kuat lagi pun akhirnya meninggal dunia. Dia mati dengan penuh penyesalan. Di saat-saat terakhirnya, hal yang paling dia sesali bukanlah pengkhianatan Qiyue.
Melainkan karena dia sendiri tidak tahu apa yang telah dialami Qiyue sampai melakukan hal itu padanya. Yang jelas, Hua Lin tahu kalau Qiyue terpaksa melakukan itu.
Karena, Hua Lin sempat melihat bulir bening yang menetes saat Qiyue tengah menunduk. Jelas saja Qiyue saat itu sedang menangis.
"Qiyue, apa yang terjadi padamu sebenarnya?" gumam Hua Lin sebelum menutup mata untuk selama-lamanya.
Qiyue membulatkan matanya saat melihat Hua Lin yang terkapar dengan bersimbah darah tidak bergeming. Bahkan ada air mata di ujung matanya.
"Hua Lin. Hua Lin! Hua Lin!!!" teriak Qiyue yang mengguncang badan Hua Lin berkali-kali, namun ia sama sekali tak bergeming.
Qiyue merasa frustasi saat tahu Hua Lin telah meninggal. Dia sangat menyesal telah melakukan hal itu. Namun, jika ia tidak melakukannya, maka Hua Lin akan lebih menderita.
"Maafkan aku Hua Lin, maafkan aku. Aku minta maaf. Maaf, tolong maafkan aku" ucapnya sambil menangisi mayat Hua Lin dengan air mata yang mengucur deras.
Qiyue terus menangis sambil bergumam mengucapkan minta maaf. Namun, itu tak bisa mengembalikan Hua Lin.
***
Di sebuah ruangan yang gelap, seorang wanita tengah tersenyum puas seolah apa yang ia inginkan telah terjadi.
"Kau sangat kejam. Bagaimana bisa kau mempergunakan sahabatnya untuk membunuh dirinya? Aku tak habis pikir" ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul dari kegelapan.
Wanita itu—atau mungkin kita panggil wanita misterius itu hanya menatap pria itu dengan tatapan jengah, seolah pria itu sudah merusak kesenangannya. Lalu pandangannya beralih ke bola kristal di depannya.
"Memangnya kenapa? Toh, aku ditugaskan untuk membunuhnya. Lagi pula, dia harus segera kembali ke tempat asalnya. Kita tidak punya banyak waktu" ucap wanita misterius itu dengan pandangan serius sambil terus menatap bola kristal-nya.
Pria itu hanya terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi wanita iblis di depannya itu. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan langsung menghilang dari sana.
***
Di tempat antah berantah, seorang gadis perlahan membuka matanya, memamerkan mata coklatnya yang indah.
Gadis itu menyibakkan rambut coklatnya dan bangkit. Dia melihat ke sekeliling dan tidak menjumpai siapapun di sana.
"Apa ini surga? Tapi, kalau benar begitu, bagaimana bisa? Bagaimanapun, aku telah membunuh banyak orang. Ya, walaupun aku memang harus melakukannya" gumam Hua Lin.
"Ini bukan surga, melainkan alam bawah sadarku" jawab seorang gadis berusia kurang lebih 14 tahun.
Wajahnya yang polos seperti anak kecil dengan mata berwarna merah agak merah muda (wkwkwk, emang ada ya?) dan rambut berwarna merah muda, warna rambut yang jarang ditemui.
"Perkenalkan, namaku adalah Yui Wei, Zhang Yui Wei (namanya tetep sama)" ucap gadis bernama Yui Wei itu memperkenalkan dirinya.
"Yui Wei?" gumam Hua Lin.
"Sebelum jiwa Kakak memasuki alam baka, seseorang menarik jiwa Kakak dan sebagai gantinya maka Kakak harus membantu aku untuk balas dendam. Jiwa-ku akan tetap ada untuk membantu Kakak. Jika tugas Kakak sudah selesai, maka aku akan menempati tubuhku kembali" jelas Yui Wei.
Hua Lin terdiam saat mendengar penjelasan Yui Wei. "Lalu, apa yang akan terjadi padaku setelah itu?" tanya Hua Lin yang tadi sempat berpikir tentang itu.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Kakak. Pria itu bilang, setelah selesai melakukan tugas yang diberikan, maka Kakak akan kembali ke tempat asal Kakak. Aku sendiri tidak mengerti apa yang pria itu bicarakan" jawab Yui Wei sambil menggelengkan kepalanya tidak tahu.
'Apa itu artinya aku akan ke alam baka? Baiklah, aku akan memanfaatkan kesempatan itu, walaupun aku hanya bisa hidup sebentar' batin Hua Lin.
"Oh iya, aku akan memperlihatkan memori-ku padamu Kak" ucap Yui Wei sambil melambaikan tangannya.
Lalu muncullah memori milik Yui Wei dan masuk ke dalam pikiran Hua Lin. Hua Lin menggigit bibir bawahnya untuk menekan rasa sakitnya.
Proses itu membuat kepala Hua Lin terasa sangat sakit seperti ada ribuan semut yang menggigit, untuk dia berhasil menahannya sampai prosesnya selesai.
***
'Ctak'
Hua Lin membuka matanya dan melihat ke sekeliling yang terasa asing, namun juga familier. Dari memori itu, Hua Lin tahu kalau itu adalah kamar milik Yui Wei.
"Ini kan kamar Yui Wei? Sepertinya aku sudah sampai" gumam Hua Lin sambil mencengkram kepalanya karena masih terasa sakit.
Hua Lin melihat tangan kecil Yui Wei yang kecil, dan rambut panjangnya yang tergerai berwarna pink, serta pakaian tidur yang ia kenakan.
"Nona, ayo cepat bangun, no—" seorang gadis dengan rambut berwarna coklat dengan mata berwarna hijau masuk ke kamar Yui Wei.
Gadis itu terkejut saat mendapati Yui Wei (sekarang panggilan Hua Lin ganti Yui Wei) telah bangun. Padahal biasanya dia harus bersusah payah membangunkan Yui Wei setiap paginya.
"Nona, anda sudah bangun?" tanya gadis itu dengan tatapan tidak percaya.
"Hehehe, iya, aku sudah bangun. Kalau belum, bagaimana mungkin aku membuka mata dan duduk?" jawab Yui Wei dengan senyum imutnya.
'Harus bertingkah imut, bertingkah imut!" batin Yui Wei.
"Oh, iya yah. Nona, anda ingin mandi dengan wewangian apa? Biar nubi siapkan" ucap Gadis itu.
Dalam ingatan Yui Wei, gadis itu adalah pelayan setianya yang bernama Hua Hua.
"Oh, wewangian lavender saja, Hua Hua" ucap Yui Wei sambil tersenyum cerah.
"Baiklah, nubi akan segera siapkan" ucap Hua Hua sambil berjalan cepat menuju pemandian.
Saat Hua Hua telah pergi, Yui Wei menghela nafas lega dan mengubah ekspresinya menjadi ekspresi dingin.
"Huff, ternyata sulit untuk menjadi anak kecil. Pipiku rasanya pegal"
...🌾🌾🌾...