Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 064. Tanaman Hias? Aku Ingin Menangis



Episode sebelumnya .....


“Kau ini dari mana saja?”


Dengan malas, Zhang Yui Wei menoleh ke sumber suara. Yah, memang tidak bisa menyingkirkan pria ini. Entah mengapa mereka jadi sedikit.... dekat?


Tidak, tentu ia tidak akan mengakuinya.


“Memangnya kenapa? Aku hanya pergi mencari angin segar. Lagi pula di sini pengap dan berisik.”


Yang Jia Jun mengangguk pelan. Memang benar yang dikatakan oleh gadis ini. Namun, jika si pink ini hilang bagaimana? Yang jelas, Zhang Jiu Zhi pasti akan menghampirinya dan melabraknya seperti sedang melabrak pelakor.


Huh, membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.


Huh?


Zhang Yui Wei menoleh pada asal suara. Ia yakin jika ia mendengar suara Guzheng. Apakah ini adalah bagian dari festival?


“Danau Angsa.” gumam Yang Jia Jun.


“Danau.... angsa?” Zhang Yui Wei tanpa sadar mengucapkannya kembali. Ia menatap Yang Jia Jun yang tengah memperhatikan seorang Pria yang tengah memainkan Guzheng.


Tunggu, kenapa pria itu ada di sini?!


***


“Hoaam.”


Lu Xiao Lan menguap dengan tangan untuk menutupinya. Terlihat ada sedikit bulir bening di sudut matanya akibat menguap tadi. Ini adalah hari yang pagi, terlalu pagi malah. Matahari masih beristirahat di tempatnya, namun bulan juga perlahan memudar walaupun perubahannya tidak signifikan.


“Apakah aku terlalu pagi?” gumam Lu Xiao Lan sambil mencengkram jubahnya hingga membuatnya kusut.


Ia memakai kerudung jubahnya yang sedari tadi terlampir di punggungnya. Angin dingin menerpa kulit putihnya, membuatnya merasakan dingin. Kulitnya juga menjadi sedikit pucat, bulu-bulu halus di kulitnya sedikit meremang.


Bukankah ini cukup dingin?


Jika diperkirakan, ini sekitar pukul 02.30. Memangnya itu terlalu pagi? Padahal itu waktu yang cukup terlambat. Setidaknya, itu menurut Lu Xiao Lan.


Lu Xiao Lan menghela nafasnya. Dari situ, muncul asap yang keluar dari mulutnya. Itu cukup untuk menunjukkan bahwa udara di sini cukup dingin. Atau mungkin sangat dingin.


Dan di sini—eh, apa aku sudah beritahu kalian di mana Lu Xiao Lan? Maaf, sepertinya belum. Di sini adalah bukit yang berada di belakang tempat ia tinggal. Tidak berada tepat di belakangnya, namun berjarak beberapa mil. Ia menemukan bukit ini beberapa hari yang lalu. Saat itu, karena merasa gabut, entah sebuah kebetulan dari mana, ia menemukan bukit ini. Siapa yang menyogok Dewi Fortuna untuk memberikan keberuntungannya?


Apa kalian bertanya-tanya, mengapa dikatakan beruntung? Karena di bukit ini terdapat tanaman herbal dan obat yang menurutnya cukup bagus kualitasnya. Di pasar belum tentu ada. Jikapun ada, mungkin harganya lebih mahal atau kualitasnya jauh lebih rendah. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan untuk peracik seperti dirinya?


Tapi jika memang ada yang seperti ini, kenapa rasanya tempat ini sepi sekali? Biasanya para peracik pasti akan langsung mengambilnya jika menemukan tempat sebagus ini. Tempat ini juga tidak terlalu terpencil untuk ditemukan.


Namun, bukankah ini bagus? Ini seperti tempat ini adalah miliknya.


Lu Xiao Lan kini telah berada di tengah-tengah bukit. Ia menatap ke sekitar, sungguh gelap. Walaupun masih ada cahaya bukan yang agak pudar, namun ini masih saja mengganggunya. Ia tak bisa melihat dengan jelas jika seperti ini.


“Xiao Gui, ambilkan aku sesuatu untuk membantuku melihat dengan baik.”


Oh, hampir lupa. Lu Xiao Lan melepaskan tas yang dipakainya tadi dan membukanya. Ia gunakan tas ini untuk membawa tanaman obat dan herbal yang dipetiknya. Mana mungkin membawanya dengan tangan kosong.


Ruang dimensi? Ia tidak ingin terlalu bergantung dengan itu. Apalagi ia masih belum sepenuhnya mempercayai makhluk penghuninya. Bisa saja mereka menipu untuk mengambil keuntungan darinya.


Yah, walau tidak ada yang mencurigakan dari yang mereka lakukan, namun tidak salah kan jika waspada?


Lu Xiao Lan menghentikan langkahnya dan jongkok di tempat ia berpijak, tangannya terulur untuk menyentuh bunga yang berada tak jauh darinya. Gerakannya sangat lembut, seolah takut untuk mengusik bunga cantik itu.


“Sepertinya sekarang telah mekar.” gumam Lu Xiao Lan tersenyum puas.


Ia mengambil sekop dari dalam tasnya dan mengambil bunga itu dengan hati-hati, langsung bersama akarnya. Ia sedikit tahu jika bunga herbal bisa cepat layu jika memetiknya dengan sembarangan. Harus diambil dengan akarnya dan ditanam kembali. Dengan kata lain, itu seperti memindahkan bunganya.


Lu Xiao Lan hanya mengambil satu karena yang lain masih kuncup dan masih belum mekar sempurna. Mungkin ia akan menjadikan ini tanaman hiasnya.


“Nona, jangan jadikan itu tanaman hias!”


Rasanya Xiao Gui ingin melarang, namun juga tidak bisa. Akhirnya hanya bisa menangis dalam hati. Tolong bisakah ada yang membantunya? Kasihan .....


Setelah berhasil memetiknya, ia pun memasukkannya ke dalam ruang dimensi. Jika di sana, bunganya tidak akan layu, apalagi rusak. Beda jika ia taruh ke dalam tas, pasti kelopaknya akan copot. Bukankah sayang, bunga ini sangat cantik!


Lu Xiao Lan beranjak untuk pergi ke sisi lain. Kini ia menemukan Rumput Merah. Meskipun begitu, rumputnya berwarna hijau seperti rumput pada umumnya. Lalu, mengapa dinamakan Rumput Merah? Karena saat kau memotongnya menjadi dua, maka kau bisa melihat di dalam daun itu berwarna merah. Akan lebih jelas saat menumbuknya, rumput itu akan berwarna merah.


“Meskipun aneh-aneh dan aku tidak tahu namanya, namun bukankah ini unik? Mungkin kujadikan tanaman hias saja daripada menjadi tanaman obat.”


Sekali lagi Xiao Gui hanya terdiam sambil meratapi nasib tanaman herbal itu.


“Semoga tenang.”


Apa maksudnya itu? Untunglah Lu Xiao Lan tidak mendengarnya.


Lu Xiao Lan juga melakukan hal yang sama pada rumput merah itu, mengambilnya dengan akarnya lalu meletakkannya di ruang dimensi. Jika diletakkan di ruang dimensi, apa gunanya membawa tas? Entahlah, ia sendiri tak tahu. Mungkin akan berguna nantinya.


“Xiao Gui, siapkan pot untukku. Nanti aku akan meletakkan tanaman hiasnya.”


Gadis ini sungguh menganggap itu tanaman hias belaka? Memang cantik dan cocok untuk dijadikan hiasan. Namun, apakah para peracik tidak akan terkena stroke jika mengetahui hal ini?


“Nona...”


Ia benar-benar harus menangis, namun ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Xiao Gui segera melaksanakan tugasnya—menyiapkan pot. Ia hanya berdoa semoga tanaman herbal ini bahagia dengan peran barunya.


Mungkin kau tidak seharusnya mengkhawatirkan itu.


Jam berapa sekarang? Mungkin hampir pukul 3 pagi. Hari masih gelap dan ia masih butuh lenteranya. Lu Xiao Lan berjalan sambil membawa lentera dan menelusuri jejak—eh salah, maksudnya menyusuri rerumputan.


Jadi ceritanya bukit ini tuh bukan kayak tanah, tapi padang rumput gitu ges.


...🌾🌾🌾*...