Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 059. Festival [4] Zhang Jiu Zhi Kakak yang Siscon



Episode sebelumnya .....


Saat berbalik, rasanya Yang Jia Jun ingin memukul seseorang sebagai pelampiasan. Ternyata Zhang Yui Wei saat ini tengah berdiri di depan pedagang topeng. Pantas saja tidak terlihat.


“Hei, jangan berlarian kemana-mana. Bagaimana jika kau hilang? Kau itu kan kecil, akan sulit untuk mencarimu.” gerutunya.


Pria ini sedang mengkhawatirkannya atau sedang mengejeknya? Zhang Yui Wei merasa geram dan langsung menginjak kaki pria menyebalkan ini sekuat tenaga. Apalagi sepatunya mirip seperti sepatu hak.


Yang Jia Jun yang merasa sakit di kakinya langsung berjalan dengan satu kaki sambil melompat-lompat. Jujur saja, ini lumayan sakit. “Kejam sekali.”


“Bukankah ini cantik?”


***


Yang Jia Jun mengerutkan keningnya. Cantik? Ia merasa heran dan mempertanyakan kalimat yang terlontar dari gadis kecil ini. Terkadang gadis itu sulit dimengerti arti dari tindakannya, apa yang dia pikirkan.


Sekarang gadis itu mengatakan kalau topeng itu cantik. Ia tidak mengerti dari segi apa topeng ini dilihat. Jika warna, menurutnya masih ada yang lebih bagus. Jika kualitas, ia rasa semua kualitas topeng ini sama. Hanya saja berbeda bentuk. Jika keanehan, mungkin ia akan menyetujuinya.


Karena topeng itu hanyalah topeng yang berbentuk agak kecil dari yang lainnya. Warnanya juga hanya putih dan bentuknya menyerupai bentuk wajah manusia.


Supaya Yang Jia Jun tidak terlalu penasaran, ia memilih untuk menanyakannya saja pada gadis itu. “Apa maksudmu?”


Zhang Yui Wei membalas tatapan yang diberikan padanya dengan wajah polos. “Entahlah.”


Entahlah?


Memang sudah seharusnya sejak awal ia tidak bertanya. Mengapa? Karena jawabannya tidak jelas.


Di tengah keheningan itu, Zhang Yui Wei meraih topeng yang tadi mereka bicarakan. “Paman, aku membeli topeng ini.”


Paman penjual itu terdiam sejenak sambil menatap topeng yang ada di tangan Zhang Yui Wei. Saat ini gadis itu sudah mengulurkan tangannya untuk memberikan kantong berisi uang.


“Tentu, nona. Harganya 2 koin emas.”


Yang Jia Jun terkejut mendengarnya. Ia seperti seekor kucing yang diinjak ekornya. “Apa?! 2 koin emas kau bilang? Bukankah biasanya hanya 40 perak?”


Paman pedagang itu menatap tak senang pada Yang Jia Jun dan tersenyum mengejek. “Kau tidak tahu apa-apa soal berdagang. Dari awal aku membuatnya itu sulit, jadi ini juga setimpal harganya dengan tingkat kesulitan.”


“Bukankah kalian itu bangsawan? Tidak mungkin kan sepelit itu sampai tidak mau mengeluarkan 2 koin emas.” lanjut paman itu lagi.


Yang Jia Jun masih tidak menerimanya. Namun, ucapan paman pedagang itu seketika membuatnya bungkam.


“Sudahlah,” ucap Zhang Yui Wei sambil menatap Yang Jia Jun, kemudian menyodorkan koin emas pada paman pedagang. “Ini paman, terima kasih banyak.”


Paman pedagang itu mengernyit. 5 koin emas? Padahal ia yakin kalau tadi ia mengatakan *2 koin emas*. Namun, ia tetap mengambil uang itu dan menatap 'sepasang kekasih' itu.


“Padahal harganya 50 koin emas. Sulit kupercaya aku menjualnya dengan harga yang sangat rendah. Tapi—” ia tak lagi melanjutkannya karena menurutnya hanya membuang waktu saja.


***


“Kenapa kau malah memberikan 5 koin emas?” tanya Yang Jia Jun merasa bingung.


Zhang Yui Wei melirik Yang Jia Jun sebentar lalu menatap topeng yang berwarna seputih salju di tangannya. Ia tersenyum tipis.


Kini Yang Jia Jun sedikit mengerti tentang satu hal. Wanita akan mengeluarkan uang sebanyak apapun untuk barang yang diinginkan. Mendadak ia jadi tidak ingin dekat dengan wanita, apalagi menyentuhnya. Namun .....


Gadis ini terasa cukup istimewa baginya. Sifatnya yang aneh namun unik, berbeda dengan yang lainnya.


Zhang Yui Wei yang dipandangi pun merasa sedikit canggung dan berdehem pelan. “Kenapa menatapku begitu?”


Yang Jia Jun segera memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang seperti sedang dikejar oleh anjing yang ada di kompleks.


Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Memikirkan gadis kecil? Sungguh, Zhang Yui Wei bukan tipenya. Namun, kenapa malah jadi terus memikirkannya?


“Sepertinya ada yang salah dengan kepalaku.”


Saat Yang Jia Jun menoleh, ia terkejut dan segera melompat mundur karena Zhang Yui Wei yang tiba-tiba mengenakan topeng. Rasanya seperti melihat mbak kunti!


“Astaganaga!”


Namun sialnya, ia malah menginjak batu dan membuat tubuhnya tidak seimbang. Walaupun sudah berusaha berdiri tegak, namun tubuhnya masih belum bisa seimbang dan akhirnya tubuhnya akan terjatuh. Ia memejamkan mata, bersiap untuk menerima rasa sakit.


Namun, ia kembali membuka matanya saat merasakan tangan kecil menggenggam tangannya, menahannya untuk tetap berdiri. Yang Jia Jun dapat melihat tangan kecil Zhang Yui Wei yang sedang menahan tubuhnya. Dipikir-pikir gadis ini kuat juga.


“Dasar ceroboh.” cibir Zhang Yui Wei dengan wajah datar.


Gadis ini benar-benar .....


Yang Jia Jun membalas genggaman tangan itu dan kembali berdiri. Ia melirik topeng yang telah terjatuh ke tanah karena kedua tangan Zhang Yui Wei digunakan untuk menahannya.


Zhang Yui Wei kembali memungut topeng itu dan membersihkannya dari tanah yang menempel. Untunglah tanahnya kering sehingga topengnya tidak terlalu kotor.


Yang Jia Jun kembali menggerutu. “Kau malah mempedulikan topengnya. Padahal aku hampir terjatuh, dasar tidak punya hati.”


Zhang Yui Wei langsung melayangkan tatapan tajam padanya. “Bukankah aku sudah menolongmu? Bahkan tidak mengucapkan terima kasih.” balas Zhang Yui Wei pedas.


Yang Jia Jun menghela nafas. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi atau perdebatan ini akan terus berlangsung entah sampai kapan.


“Kalian sedang apa?”


Keduanya serentak langsung menoleh pada sumber suara. Pria itu—Zhang Jiu Zhi—mengernyit dengan wajah tidak senang melihat adiknya dekat dengan pria lain. Padahal baru beberapa hari ia tak melihat Yang Jia Jun, ternyata sekarang ia telah cukup dekat dengan adiknya.


Zhang Jiu Zhi langsung menarik adik kecilnya itu ke sisinya dan menatap sahabatnya itu dengan wajah muram. Ia kurang suka bila pria ini dekat dengan Zhang Yui Wei.


Yang Jia Jun langsung saja menjelaskan, takut pria ini memiliki pikiran lain—tentang ia dan gadis kecil itu—padanya. “Hei, jangan salah paham. Aku hanya menemani dia jalan-jalan karena katanya tidak punya teman untuk diajak.”


“Oh, kalau begitu aku yang akan menemaninya. Tugasmu telah selesai, Tuan Muda Yang. Kau bisa pergi sekarang.”


Jelas-jelas pria ini tengah mencoba mengusirnya. S*al, Zhang Jiu Zhi ini siscon, bahkan ia tak boleh dekat dengan adiknya. Rasanya ingin protes, tapi takut.


“Kakak.” Zhang Jiu Zhi langsung menoleh pada adiknya yang kini tengah menarik-narik pakaiannya. “Ada apa?”


...🌾🌾🌾...