Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 053. Pernahkah Kau Menyesalinya?



Episode sebelumnya ....


Wanita itu kini sedikit menampilkan seringainya. “Oh, sepertinya aku sudah bicara terlalu banyak padamu. Bagaimana kalau kita akhiri sekarang saja?”


Dia menodongkan pedangnya pada leher Ye Lian. Kini mata pedang itu telah menyentuh leher putih Ye Lian, sedikit memberikan goresan hingga darah segar menetes dari goresan itu.


Wanita itu tiba-tiba menarik kembali pedangnya dan menancapkannya ke tanah. Tangannya bertumpu pada pangkal pedang dan miring pada Ye Lian. Wanita itu terlihat sedikit gila, dia tersenyum di situasi yang menegangkan ini.


Wanita itu sedikit cemberut. “Kau ini tidak seru. Padahal hanya ingin bermain, tapi kau malah menanggapinya itu-itu saja.”


Ye Lian mengepalkan tangannya erat-erat. Di balik bajunya, ia tengah mengumpulkan Qi untuk dilemparkannya pada wajah wanita ini. Setelah cukup besar, dia segera melemparkannya saat wanita itu tengah lengah.


Wanita itu langsung membuat perisai saat qi itu hampir mengenai wajahnya. Namun, saat dia berhasil mengatasinya, sebuah pisau kecil terlempar ke wajahnya. Dia tidak sempat menghindar dan pisau kecil itu membuat goresan di pipinya dan membuat beberapa helai rambutnya terpotong.


Kini pisau kecil itu telah tertancap di batang pohon cukup dalam. Ye Lian sengaja melemparnya saat wanita itu membuat sebuah perisai. Ia tahu jika wanita itu tidak akan mudah dibodohi hanya dengan sebuah qi yang bahkan tidak ada apa-apanya.


***


“Apa kau sudah bersemangat hari ini, Ye Lian?”


Wanita itu tersenyum menghadapi perlawanan dari Ye Lian dan mencabut pedangnya yang tadi ia tancapkan di tanah. Dia menodongkan pedangnya pada Ye Lian, ujung pedangnya menyentuh dada kiri Ye lian, tepat di mana jantung berada.


“Han Lin, sadarlah.” gumam Ye Lian menggigit bibir bawahnya.


Wanita yang dipanggil Han Lin itu menatap miring Ye Lian sambil tersenyum. “Apa kau baru saja mengatakan sesuatu? Sadar? Apa kau baru saja mengatakan itu? Harusnya kau lah yang sadar!!”


Tiba-tiba saja suara Han Lin meninggi. Dia menggigit bibir bawahnya dan sedikit memberikan tekanan.


“Harusnya kau tahu, kalau sedari awal .... tidak ada lagi Han Lin yang dulu. Aku .... sudah meninggalkan semuanya. Dan aku datang ke mari untuk membunuhmu. Tapi .... ”


Han Lin terdiam sesaat. Dia menjeda kata-katanya hingga membuat suasana begitu hening. “ .... aku bisa melepaskanmu. Dan itu tidaklah gratis. Aku ingin mengambil kembali anak yang sudah kau rebut itu! Di mana dia?!”


Ye Lian hanya terdiam sambil menunduk, tidak ada jejak di wajahnya ingin menjawab Han Lin. Hal itu membuatnya geram, Han Lin merenggut dagu Ye Lian untuk membuat wanita itu menatap matanya.


“Ye Lian, tolong katakan padaku. Di mana dia sekarang? Bagaimana kabarnya?”


Ye Lian dapat melihat ada jejak kesedihan di wajah Han Lin. Namun, Ye Lian tidak ingin mengatakannya dan memalingkan wajahnya.


“Kenapa sulit sekali untukmu mengatakannya? Di mana dia sekarang?! Jangan katakan jika dia sudah .... ”


Sekali lagi Ye Lian hanya terdiam. Han Lin berlutut di tanah dan menunduk. Ada sedikit jejak keputusasaan di wajahnya.


“Mau sampai kapan kau menyembunyikannya dariku?! Katakan padaku!!”


Secara tiba-tiba, Ye Lian merenggut pedang di tangan Han Lin dan menusuk jantungnya sendiri. Entah apa yang wanita itu pikirkan hingga membuat keputusan yang begitu gegabah.


Han Lin langsung menarik pedang yang bersarang di dada kiri Ye Lian. Tubuh Ye Lian seketika ambruk ke belakang. Darah mengalir di sudut bibirnya.


Dari kejauhan, Xin'er melihat Ibunya dengan berderai air mata. Kenapa bisa begini? Apakah ini yang membuat Ibunya membawanya lari? Inikah alasannya?


Melihat Ibunya sendiri terbunuh di depan matanya—walaupun berada jauh—membuatnya sangat syok. Dia menutup mulutnya dengan keduanya tangannya dengan rapat supaya ia tidak berteriak atau pembunuh yang lainnya akan datang menghampirinya dan membunuhnya.


Ia tidak melihat semuanya, hanya melihat saat Han Lin menarik pedang yang bersarang di tubuh Ibunya. Ia sendiri tidak tahu jika Ibunya bunuh diri. Hal itu membuatnya membenci Han Lin yang dia kira telah membunuh Ibunya.


Xin'er mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku tangannya memutih. Perasaannya berkecamuk, rasa sedih dan marah berkumpul menjadi satu. Dadanya kini terasa sangat sesak, air mata terus mengalir membasahi pipi mungilnya.


Saat ini Han Lin tengah frustasi. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan memukul udara kosong. Dia merasa sangat kecewa pada Ye Lian. Kenapa wanita itu tetap menutup mulut sampai akhir hayatnya?


Sekarang orang terakhir yang mengetahui keberadaan anaknya telah tiada. Sekarang, apa yang harus dilakukannya? Dia masih mengingat jelas kejadian beberapa tahun yang lalu. Ingatan itu masih segar di memorinya dan tak akan pernah terlupakan.


Pria yang sedari tadi hanya menonton mulai mendekati Han Lin. “Jangan membuat hal ini menjadi penghalang untukmu. Sekarang aku mengerti kenapa kau bersikukuh untuk masuk dalam misi kecil ini.”


“Ck, aku juga tahu itu. Hanya saja .... ”


Pria itu menoleh pada gerobak yang berada jauh dari mereka. “Bukankah sedari awal kau sudah tahu kalau anaknya bersembunyi di sana?”


Han Lin menoleh pada gerobak jerami sekilas, lalu kembali menatap mayat Ye Lian. Bibirnya membentuk sebuah senyuman, “Biarkan saja dia. Aku ingin tahu bagaimana dia akan membalas kematian Ibunya kelak,”


Han Lin menyuruh rekannya untuk kembali dan juga menyuruhnya untuk melapor kalau misi telah selesai. Pria itu juga tutup mulut kalau Han Lin melepas salah satu target dengan sengaja.


“Kau menyembunyikan Yun Yi dariku selama bertahun-tahun, tapi kenapa? Walaupun kau telah tiada, namun aku tahu jiwamu belum tenang. Ye Lian, pernahkan kau menyesalinya?”


Wanita itu bergumam pada makan di depannya. Dia memakamkan Ye Lian seadanya. Setidaknya, ia masih berbaik hati untuk memakamkannya walaupun secara sederhana.


Setelah itu, Han Lin pergi meninggalkan makam. Dia melirik sekilas pada gerobak jerami, lalu menoleh ke atas untuk melihat langit yang tertutupi oleh awan.


“Berterimakasihlah padaku karena aku membiarkannya hidup. Entah bagaimana jika dia sudah besar nanti,”


Han Lin langsung pergi meninggalkan tempat itu. Saat merasa tidak ada lagi orang, Xin'er mengintip dan melirik ke sekitar. Memang semuanya telah pergi, termasuk Ibunya. Dia langsung berusaha untuk keluar dari gerobak dan berlari menghampiri makam Ibunya.


“Ibu!” teriaknya.


Dengan berderai air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya, dia berlutut di depan makam Ye Lian. Jika Ayahnya kembali, apa yang harus dikatakannya?


“Ibu, kau bilang tidak akan pergi. Kau bilang akan selalu bersamaku. Kenapa Ibu mengingkari janji?”


Xin'er memukul-mukul tanah tempatnya berpijak dengan terisak. Dia sendirian. Dia juga tidak tahu bagaimana kabar Ayahnya.


...🌾🌾🌾...