Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 062. Festival [7] Mengabulkan Permintaan?



“Katanya jika kau meletakkan lentera di sungai, maka harapanmu akan terkabulkan. Dewa akan mendengarnya dan mengabulkan permintaanmu.”


Huh, omong kosong macam apa itu?


Zhang Yui Wei tidak terlalu percaya pada hal seperti itu. Dewa? Ia sedikit meragukan eksistensi itu.


“Jikapun Dewa mendengarnya, mungkin dia akan menggerutu saking banyaknya permintaan.”


Oh ya, ngomong-ngomong soal harapan, memangnya apa harapannya? Ia sendiri tak tahu apa yang ia harapkan. Apalagi Dewa. Memangnya apa yang akan Dewa kabulkan? Huh.


“Apa permintaanmu?”


Yang Jia Jun langsung menoleh pada gadis bersurai merah muda di sampingnya ini. Rambut yang sangat unik. Sedikit berkilau oleh cahaya lentera yang terpasang di sekitar sungai. Oh, jangan lupakan mata bulatnya yang berwarna magenta. Sejak awal gadis ini memang unik.


“Apa kau penasaran apa permintaanku?”


***


Hei, padahal ia sudah serius bertanya. Kenapa malah tanya balik? Tapi, Zhang Yui Wei sedang tidak ingin baku hantam lagi. Ia kan ramah lingkungan.


“Sudahlah, aku juga tidak terlalu penasaran.” gerutunya.


Melihat hal itu Yang Jia Jun tersenyum tipis. “Suatu saat nanti, mungkin kau akan mengetahuinya.”


Suatu saat nanti? Itu kapan?


“..... ”


“Kenapa mendadak jadi hening begini?”


Zhang Yui Wei menoleh pada Yang Jia Jun, namun pria itu saat ini hanya tengah memandangi lentera-lentera yang terapung. Ia bisa melihat bibir pria itu yang terbuka, namun tak lama kembali menutup. Kenapa mendadak pria ini jadi murung begini?


Zhang Yui Wei membuang nafas tipis dan iseng-iseng menata rambutnya yang sedikit keluar dari jalurnya. Ia membiarkan keheningan ini melanda mereka. Setidaknya ini jadi sedikit lebih tenang.


Tak perduli seberapa ramainya festival, tapi keheningan ini masih terasa.


Sungguh aneh tapi asli


“Yang Jia Jun.” panggilnya lirih.


Pria itu sedikit tersentak. Bahkan gadis ini juga tak tanggung-tanggung memanggilnya hanya dengan nama, tanpa embel-embel 'kak'. Tapi, jika seperti itu.....


“Kak Jia Jun!”


UHUK


Memikirkannya saja membuatnya ingin tertawa. Rasanya sangat aneh. Ia kemudian menoleh pada gadis itu yang tengah menatapnya aneh.


“Ada apa?” tanyanya.


Huh, wajahnya yang seperti biasa kini telah kembali. “Tidak.”


Zhang Yui Wei yang merasa sangat gabut pun hanya mengorek-ngorek tanah dengan ranting kayu yang entah dari mana ia dapatkan. Ia tidak menyukai suasana yang cukup canggung ini. Huh, apakah tidak ada topik yang bisa dibahas? Apa saja.


Ia jadi memikirkan, apa yang biasanya para gadis bicarakan saat sedang bersama? Biasanya sih tak melenceng jauh dari kata cogan. Namun, masa iya Zhang Yui Wei membahas cogan dengan Yang Jia Jun yang adalah seorang pria? Dia itu masih normal, mungkin.


Zhang Yui Wei melirik ke arah lain. Sungguh sebuah kebetulan, ia melihat duo sister nya di seberang sungai.


“Huh?”


Kenapa malah bertemu lagi? Jujur saja, ia sedikit malas bertemu mereka. Apalagi setelah ia memberi sedikit salam perkenalan di saat pertama kali menginjak dunia ini. Bagaimana jika nanti mereka tahu dan ingin membalas dendam? Ia tidak akan terjebak dengan permainan kecil seperti itu. Namun, ia terlalu malas untuk meladeni.


Yang Jia Jun menatap Zhang Yui Wei yang terlihat sedang fokus ke arah lain. Ia jadi sedikit penasaran, “Apa yang kau lihat?”


“Aku pergi saja,”


Yang Jia Jun mengernyit. Ada apa dengan gadis itu? Padahal tadinya antusias.


Saat hendak berbalik, ia melihat Zhang Yui Wei tengah berdiri tak jauh darinya. Eh, dia kan hantu? Mungkin lebih tepatnya gentayangan.


Huh?


Hua Lin mengernyit. Apa yang sedang gadis kecil itu lakukan di sini? Ia tak menyadari keberadaannya. Atau memang baru saja datang? Entahlah, ia tak ingin memusingkan hal itu. Ia berjalan ke arah Zhang Yui Wei berada. Tentu yang lain tidak akan melihatnya karena dalam wujud arwah.


“Ikuti aku, Wei.” ucap Hua Lin lirih. Meskipun begitu, ia yakin jika Zhang Yui Wei dapat mendengarnya.


Hua Lin kembali berjalan setelah berhenti selama sesaat. Tangannya yang menyentuh Zhang Yui Wei pun tembus. Zhang Yui Wei berbalik dan menatap Hua Lin sebentar lalu dengan patuh mengikuti dari belakang.


Hua Lin menuntunnya ke tempat yang lebih sepi. Entah mengapa suasana di sini sedikit menyeramkan. Suara hiruk pikuk festival hanya terdengar seperti kentut. Terdengar, namun tidak terlalu jelas.


“Apa ada yang ingin kau bicarakan, Wei?” ucap Hua Lin yang kini telah duduk di atas batu besar. Wajahnya kini berubah menjadi datar dan sedikit dingin. Sangat berbeda dengan saat di festival tadi. Apakah ini sifat aslinya?


Zhang Yui Wei menelan ludah dengan susah payah. Entahlah, ia tidak tahu ingin mengatakan apa. Dia hanya ingin mengikuti Kakak cantik ini pergi. Ini nyaris ia seperti ekor Hua Lin.


“Emm, sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin bertemu dengan kakak cantik. Apa kau tidak tahu? Aku ini sangat bosan, tidak ada teman! Lagipula kan hanya kau yang bisa melihatku. Teman hantu ku juga membosankan, tidak ada yang menarik.”


Yah, kembali lagi sifat cerewet gadis ini. Padahal tadi ia sedikit gentar saat melihat Hua Lin. Sudah seperti melihat macan saat sedang sirkus. Menakjubkan, namun ada sedikit rasa takut. Tunggu, bukankah biasanya gajah?


Sudahlah, kesampingkan hal itu dulu.


“ ..... ”


Huh? Kenapa mendadak jadi hening begini? Zhang Yui Wei juga hanya diam, tidak tahu apa yang harus dia katakan.


“Wei—”


STAB


DEG


Apa itu tadi? Sangat cepat. Apakah itu hewan? Hua Lin tak bisa memastikannya. Ia kemudian melirik batang pohon yang berada dekat dengannya. Sebuah anak panah?! Beberapa helai rambutnya sedikit terpotong akibat anak panah itu. Bukankah itu artinya dia hampir saja mati terkena panah? Bagaimana bisa ia tak menyadari jika ada orang lain di sini. Kemampuannya menjadi melemah.


Hua Lin berjalan menuju batang pohon malang yang tertancap oleh anak panah. Ia mencabut anak panah tersebut sekuat tenaga. Anak panahnya menancap cukup dalam. Ini sudah bukan pemula lagi namanya. Ini artinya ada seorang ahli memanah yang tengah mengincarnya.


Melihat anak panah itu, Hua Lin yakin jika si pemanah sengaja tidak mengenai dirinya. Ini sebuah peringatan untuknya.


Tapi, siapa dan kenapa?


Hua Lin segera berjalan dengan cepat menuju Zhang Yui Wei. Yang jelas gadis itu pasti sangat terkejut dan syok.


“Wei, apa kau baik-baik saja?”


Si pemanah yang tengah berdiri di atas dahan pohon pun mengernyit. Targetnya tampak sedang berbicara dengan seseorang. Namun, dengan siapa? Ia tak melihat adanya orang lain di dekat gadis itu.


“Aku... baik-baik saja.” jawab Zhang Yui Wei lemah. Wajahnya tampak pucat itu menunjukkan kalau dia tidak baik-baik saja.


Hua Lin kini telah berubah menjadi serius. Ia menoleh ke sekitar untuk mencari orang yang telah melontarkan anak panah padanya. Dari atas sana terlihat benda yang sedikit berkilau. Itu adalah anak panah yang memantulkan sinar bulan. Namun, kilauan itu tak bertahan lama karena bulan yang mulai tertutupi oleh awan.


Meskipun begitu, Hua Lin kini telah mengetahui lokasi dari si pemanah.


“Di sana rupanya.”


...🌾🌾🌾...