
Episode sebelumnya ....
Setelah memakan 2 porsi ayam, Zhang Yui Wei bersender pada kursi dan mengelus perutnya. Perutnya sekarang terasa penuh. Sebuah pertanyaan secara tiba-tiba muncul di benaknya. Di dunia antah berantah ini, apakah ayam sudah ada?
Entahlah. Zhang Yui Wei melambaikan tangannya, berusaha untuk menepis pertanyaan di benaknya. Untuk apa memikirkannya? Yang penting perutnya kenyang sekarang.
*Tiba-tiba merasa malu dengan sikap FL🙃*
Setelah perutnya kenyang, Zhang Yui Wei pergi ke kasir untuk membayar makanannya. Gadis itu langsung pergi dari kedai setelah membayar. Sekarang hari sudah siang, mataharinya sangat terik hingga membuat kulitnya terasa terbakar.
Rasanya tenggorokannya begitu haus. Sepertinya ia harus segera pulang. Zhang Yui Wei mencari sebuah kereta kuda untuk kembali pulang. Ia kemudian menemukan rentetan kereta kuda dan menghampiri salah satu.
“Tolong antarkan aku di dekat kediaman Zhang,”
***
Sang kusir menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berdiri di dekat keretanya. Dan lagi, gadis itu memintanya untuk mengantarkannya di dekat kediaman Zhang. Tunggu gadis ini .... bukankah Nona ketiga Zhang Yui Wei? Gadis dengan surai dan mata yang unik, ciri khas dari keturunan Zhang. Apa yang gadis kecil itu lakukan di sini?
Kusir itu menatap heran pada Zhang Yui Wei, namun ia tak mau berurusan dengan keluarga Zhang karena menolak untuk mengantarkan gadis kecil ini. Bagaimanapun, mereka keluarga yang sangat berpengaruh. Juga bisa dibilang sebagai pilar Kekaisaran. Bagaimana bisa dia berani?
“Baiklah, nona. Silahkan masuk ke kereta,”
Kusir itu kemudian menjalankan kereta saat Zhang Yui Wei telah masuk. Gadis itu menghela nafas, setidaknya sekarang tidak sepanas tadi. Ia menatap tangannya yang sedikit lebih gelap dari kulitnya yang biasanya. Benar-benar .... Sepertinya lain kali ia harus membawa payung, jadi tidak akan kepanasan dan terbakar seperti tadi.
“Yah, walaupun begini juga tidak kapok untuk pergi lagi.”
Zhang Yui Wei memejamkan matanya, terlihat menikmati suara di sekitarnya. Suara tapak kaki kuda, suara roda berputar, suara angin yang berdesir, suara gesekan daun, dan lainnya lagi. Ia bersender di kereta. Ia tak tidur, hanya memejamkan mata. Namun, ini membuatnya lelah dan sedikit mengantuk.
Saat kereta kuda melewati bagian belakang kediaman Zhang, Zhang Yui Wei segera mencegat kusir untuk tidak berjalan lebih jauh lagi dan segera turun.
Kusir itu merasa heran dan mengatakan, “Nona, kita kan belum sampai.”
“Tidak, sampai di sini saja. Aku akan turun di sini saja,”
“ .... "
Kusir itu tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia juga terus dibuat bingung oleh Zhang Yui Wei sedari tadi. Lalu sekarang, apa yang akan dilakukan gadis itu?
“Paman bisa kembali saja,”
Zhang Yui Wei berusaha untuk mengusir kusir itu secara samar. Tidak mungkin ia langsung menyuruh kusir itu untuk pergi. Dan lagi, ia tak ingin kusir itu melihatnya naik ke tembok. Bagaimana jadinya?
“Baiklah, saya pergi dulu, nona.”
Kusir itu segera menjalankan keretanya dan pergi meninggalkan Zhang Yui Wei sendirian. Saat yakin kalau kusir itu telah pergi, ia langsung mengambil tali yang tergeletak di atas tanah dan memutarnya lalu melemparkannya ke atas tembok.
Zhang Yui Wei menarik tali itu dan memastikan kalau tali itu kuat. Setelah itu, ia segera memanjat tembok seperti yang ia lakukan saat kabur dari paviliun-nya.
Namun, seorang pria tengah berdiri sambil memandangi sang nona ketiga yang tengah memanjat tembok. Pria itu—Yang Jia Jun—tersenyum melihat kelakuan Zhang Yui Wei yang menurutnya itu unik. Adakah seorang gadis yang seberani gadis kecil ini? Sepertinya tidak.
Gadis itu terlihat menarik ....
Yang Jia Jun tersenyum penuh arti. “Memangnya siapa yang bisa menirunya?”
Zhang Yui Wei kini telah sampai di puncak. Dia mengangkat jangkar yang tersambung dengan tali dan melemparnya ke tanah.
Zhang Yui Wei meremas gaunnya dan melompat turun dari atas tembok. Untunglah tidak ada tulangnya yang retak atau patah. Mendarat dengan sempurna.
Dia menepuk-nepuk pakaiannya untuk membersihkannya dari kotoran debu yang menempel setelah melompat. Zhang Yui Wei menghela nafas. Kali ini tidak ada yang memergokinya kabur dari rumah.
Zhang Yui Wei pergi menuju kamarnya. Dia membuka pintu dengan perlahan. Sebelum masuk, dia menengok kanan-kiri untuk dan mengendap-endap masuk ke dalam. Rasanya ia seperti maling.
“Nona,”
Zhang Yui Wei terkesiap mendengar sebuah suara memanggilnya. Jika saja tidak memegang meja, ia hampir saja terjatuh. Dia mengelus dadanya dan menghela nafas. Gara-gara Hua Hua, jantungnya hampir saja terlepas dari tempatnya.
Zhang Yui Wei menatap cemberut pada Hua Hua. “Kau mengejutkanku Hua Hua,”
Tanpa perduli telah membuat Zhang Yui Wei terkejut, gadis itu justru malah mengomel. “Nona, anda ke mana saja? Saya mencari anda ke mana-mana sejak tadi. Jangan bilang anda—”
Zhang Yui Wei langsung menutup mulut ember Hua Hua. Untung saja hanya ada mereka berdua di sini. “Diamlah, Hua Hua. Jangan beritahu siapa-siapa,”
Hua Hua menatap pasrah pada Zhang Yui Wei. Nona yang satu ini sekarang sulit untuk diatur, dan pecicilan ....
Hua Hua menghela nafas, “Nona, lebih baik anda jangan melakukannya lagi. Yang ada nanti saya yang kena.”. Hua Hua melanjutkan, “Oh iya, Nona. Saya dengar dari beberapa pelayan yang bergosip kalau beberapa hari lagi ada festival yang diadakan kekaisaran. Anda pasti ingin pergi, kan?”
Zhang Yui Wei menatap Hua Hua dengan pandangan tak percaya. ‘Tampangnya saja yang begini. Ternyata dia juga suka ghibah. Memang, perempuan .... ’
Seolah tahu apa yang dipikirkan Zhang Yui Wei, Hua Hua langsung menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangan. “Tidak, tidak seperti itu. Saya bukan penggosip. Kan hanya dengar,”
Zhang Yui Wei masih menatapnya. Sepertinya gadis ini masih menganggapnya penggosip. Oh, ayolah. Dia bukan penggosip.
*Jangan-jangan kalian juga menganggapnya tukang ghibah?*
Sudahlah, ini memang nasibnya🙃
“Ya ya, baiklah. Aku percaya itu,”
Walaupun yang dikatakan gadis itu seperti itu, namun masih ada tatapan tak percaya darinya. Sudahlah, tidak percaya ya tidak percaya saja.
...🌾🌾🌾...