Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 065. Bunga yang Layu



Episode sebelumnya .....


“Xiao Gui, siapkan pot untukku. Nanti aku akan meletakkan tanaman hiasnya.”


Gadis ini sungguh menganggap itu tanaman hias belaka? Memang cantik dan cocok untuk dijadikan hiasan. Namun, apakah para peracik tidak akan terkena stroke jika mengetahui hal ini?


“Nona...”


Ia benar-benar harus menangis, namun ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Xiao Gui segera melaksanakan tugasnya—menyiapkan pot. Ia hanya berdoa semoga tanaman herbal ini bahagia dengan peran barunya.


Mungkin kau tidak seharusnya mengkhawatirkan itu.


Jam berapa sekarang? Mungkin hampir pukul 3 pagi. Hari masih gelap dan ia masih butuh lenteranya. Lu Xiao Lan berjalan sambil membawa lentera dan menelusuri jejak—eh salah, maksudnya menyusuri rerumputan.


Jadi ceritanya bukit ini tuh bukan kayak tanah, tapi padang rumput gitu ges.


***


Setelah selesai memetik beberapa tanaman Herbal lainnya, Lu Xiao Lan memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Tentu saja, dengan jalan kaki. Memangnya mau bagaimana? Terbang? Ia tak punya sayap seperti burung, tentu saja.


Sekarang kira-kira pukul 03.45. Hari mulai terang walaupun matahari belum juga muncul. Mungkin dia baru bangun dan masih bersiap untuk melakukan pekerjaannya.


Yah, cukup dulu melanturnya.


Lu Xiao Lan berjalan menuruni bukit dengan masih membawa lentera. Ia tak tahu apa yang akan ditemui saat perjalanan, jadi berjaga-jaga membawa lentera.


“Yah, pada akhirnya, aku mendapatkan keberuntungan.”


***


Kini ia telah sampai di belakang rumahnya. Lu Xiao Lan telah melepas jubahnya sedari tadi, menyisakan rambutnya yang sedikit terurai. Maklum saja, ia bangun saat tengah malam dan pergi ke bukit tanpa persiapan yang berarti. Ia hanya mengganti dengan pakaian laki-laki yang menurutnya sesuai untuknya dan tanpa merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Hanya membasuh mukanya saja.


Sreet


Lu Xiao Lan menggeser pintu perlahan, sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan mereka yang masih tidur. Saat telah masuk, ia kembali menutupnya


“Fyuuh.”


Lu Xiao Lan menghela nafas dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sungguh sebuah kebetulan Yan Xiao Han tengah berdiri tak jauh dari kamarnya. Bocah itu mengucek matanya yang berair karena menguap. Jujur saja, ia masih mengantuk. Namun, ia merasa haus sehingga memaksa dirinya untuk bangun dan pergi ke dapur.


“Pintunya menutup? Tapi, bagaimana mungkin?Putri kan masih tidur. Mungkin aku salah lihat?” pikirnya.


Yan Xiao Han menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju dapur dengan langkah gontai seperti zombie.


Sementara di dalam kamar, Lu Xiao Lan melirik ke arah pintu. Ia sempat melihat Yan Xiao Han sehingga buru-buru untuk masuk. Yah, walaupun bocah itu tak melihat dirinya karena masih setengah sadar dan menguap.


Bukannya apa, namun ia tak ingin ada yang tahu kalau ia pergi. Bagaimana jika bocah itu merengek untuk ikut? Tentu tak akan ia izinkan, namun dia pasti akan terus merengek sampai berguling-guling seperti trenggiling.


Lu Xiao Lan memutuskan untuk masuk ke ruang dimensi. Tentu saja, kalian ingat kan? Ia ingin menaruh tanaman herbal yang telah dipetik sebelumnya ke dalam pot. Itu bahkan ada di episode sebelumnya.


Jadi, dia benar-benar ingin menjadikannya tanaman hias? :D


“Sangat cantik.” pujinya sambil menatap tanaman herbal di pot mini itu dengan puas.


Setelah itu, ia juga melakukan hal yang sama pada bunga cantik yang telah ia petik.


Namun sepertinya bunga itu jadi agak layu saat dimasukkan ke dalam pot. Meskipun tidak kentara, namun matanya masih bisa menangkap hal itu. Ia pun mengernyit heran dengan hal ini.


“Aneh, kenapa jadi layu, sih?” gerutunya.


Xiao Gui yang sedari tadi hanya memperhatikan dari samping—akhirnya buka suara. “Mungkin tumbuhan ini tidak bisa langsung beradaptasi dengan tanah di ruang dimensi, makanya layu.”


“Jadi?”


“Tuan, serahkan saja padaku. Aku pasti akan merawatnya dengan baik dan membuatnya menjadi cantik kemb—tidak, bahkan lebih cantik!” ucapnya dengan nada penuh percaya diri. Lihat, bahkan ada efek imajiner yang membuat hidungnya terlihat lebih mancung.


Lu Xiao Lan mendengus. “Aku tidak yakin.”


Seketika Xiao Gui merasa wajahnya jadi lebih tua. “Kenapa? Kau bisa percaya padaku, tuan. Tidak mungkin bunganya jadi tambah layu, apalagi mati! Itu tidak akan terjadi bila aku yang merawatnya.”


Sangat terlihat jika Xiao Gui berusaha meyakinkan Lu Xiao Lan. Namun, saat mata bocah penjaga itu melirik pada Lu Xiao Lan, terlihat seperti sedang meremehkan. Hoho, kok kezel yah?


“Sepertinya aku ingin matamu yang indah itu.”


Mendengar hal itu, seketika seluruh tubuhnya meremang, seperti kucing yang diinjak ekornya. Padahal ia tak ada maksud apa-apa, namun sepertinya tidak juga.


“Baiklah, kau urus tanamanku. Tapi ingat, jangan sampai rusak, layu, apalagi sampai mati! Kalau tidak, kau akan tahu konsekuensinya.” ucap Lu Xiao Lan tiba-tiba.


Entah Xiao Gui harus berterima kasih atau tidak. Rasanya ingin menarik kembali ucapannya tadi. Namun, apakah bisa? Gadis ini menakutkan baginya.


“B-baiklah, tentu saja. Kau tidak akan kecewa.” ucap Xiao Gui yang berusaha menutupi kegugupannya.


“Waa huaa waaa.”


Tiba-tiba Ling Luo muncul dan melompat-lompat di samping Xiao Gui, membuat tubuhnya yang seperti jelly terlihat menggemaskan. Namun, entah mengapa Xiao Gui merasa kesal. Ini seperti sedang menertawakannya.


***


Lu Xiao Lan memutuskan untuk keluar lagi dengan membawa pot tanaman rumput merah. Ia meletakkan pot itu di meja kecil yang berada di dalam kamarnya.


Yah, sayang sekali bunga cantiknya layu dan kini tengah diurus oleh bocah penjaga itu. Semoga saya tidak terjadi apa-apa pada bunga cantiknya itu.


“Apakah aku harus tidur lagi? Ini masih cukup pagi.” gumamnya.


Jika di kehidupan sebelumnya, ia akan bangun lebih awal tentu saja. Apalagi gelarnya sebagai Queen Mafia. Tentu banyak hal yang harus ia kerjakan, itu adalah tanggungannya. Bahkan ia pernah terjaga selama beberapa hari di hutan yang cukup berbahaya karena banyaknya binatang buas yang langka dan mematikan. Lengah sedikit saja, mungkin ia akan menjadi bangkai.


Apalagi musuh yang terkadang mengincarnya. Tentu kewaspadaannya sangat ekstra. Itu adalah penderitaan yang sebenarnya masih belum seberapa. Hanya di sini ia bisa hidup dengan tenang walaupun sempat terancam oleh pembunuh bayaran.


Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kabar saudara kembarnya, Lin Shu?


...🌾🌾🌾...