Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 030. "Hah?"



Di pagi yang hampir siang ini, seorang gadis cantik dengan surai merah muda-nya juga hanfu biru yang cantik berjalan dengan anggun di sebuah taman yang cantik, memandangi kecantikan bunga-bunga yang berjejer dan tersusun dengan rapi. Menikmati hangatnya sinar mentari.


"Hua Hua, bukankah bunga ini cantik? Kemarilah."


Zhang Yui Wei memetik bunga cantik berwarna merah muda, sama seperti warna rambutnya. Dia memetiknya dengan hati-hati dan lembut, seperti takut melukai bunga cantik itu. Setelah memetiknya, dia menghampiri Hua Hua dan memasangkan bunga itu di telinganya.


"Nona?"


Hua Hua sedikit terkejut saat Zhang Yui Wei memasangkan sebuah bunga di telinganya. Dia menyentuh bunga di telinga-nya itu dan tersenyum. Wajahnya sedikit memerah karena senang.


"Saya tentu harus berterima kasih atas bunga yang telah nona berikan. Nona, tunggu dan duduklah di sana, saya akan segera kembali."


Zhang Yui Wei mengernyit, penasaran apa yang akan dilakukan oleh Hua Hua. Dia hanya bengong dan diam terpaku. Hua Hua menghela nafas dan mendorong Zhang Yui Wei untuk duduk di bawah pohon.


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Zhang Yui Wei yang penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Hua Hua.


"Nona, ini rahasia. Duduk saja di sini."


Hua Hua langsung berlari entah ke mana. Zhang Yui Wei bengong melihat Hua Hua pergi meninggalkannya.


"Ada apa dengan Hua Hua? Dia ingin melakukan apa sih, misterius." gumamnya dengan mengernyit.


Dia mengernyitkan bahu dan duduk di salah satu bangku dengan beratapkan sebuah pohon besar dan kokoh yang daunnya rimbun. Jika ingin berteduh dari hujan, mungkin saja bisa.


Zhang Yui Wei menengadah dan dapat melihat seekor tupai yang juga sedang menatap ke arahnya. "Hm?"


Zhang Yui Wei terus menatap tupai itu dengan mata berbinar, imut sekali!


Tupai itu memiringkan kepalanya, terlihat heran dengan tatapan Zhang Yui Wei. Saat berjalan, tupai itu tergelincir dan terjatuh. Dia memeluk ekornya yang panjang dengan erat dan memejamkan matanya, bersiap untuk jatuh.


Tupai itu terjatuh di hanfu Zhang Yui Wei dengan masih memeluk ekornya. Tupai itu membuka salah satu matanya lalu mata yang satunya. Dia bingung karena tubuhnya tidak terasa sakit, namun terasa nyaman. Tupai itu berguling-guling di hanfu-nya dan terjatuh.


Zhang Yui Wei dengan sigap langsung menangkap ekor si tupai dan mendekatkannya ke wajahnya. Tupai itu meronta minta dilepaskan.


"Lepaskan aku, lepaskan aku!"


Zhang Yui Wei terpaku sesaat sebelum dirinya tersenyum. Tupai itu terasa ringan di tangannya seperti kapas yang bisa terbang ditiup angin.


"Lepaskan? Kenapa harus dilepaskan? Itu sayang sekali." Zhang Yui Wei tersenyum dan memangku tupai kecil itu dan mengelus bulu-bulunya yang lembut.


Itu bukanlah tupai biasa, melainkan seekor spirit beast. Wajar jika bisa berbicara karena telah mencapai tingkatan tertentu.


Hua Hua kini telah kembali dengan membawa bunga-bunga yang telah dirangkai menjadi hiasan kepala. Dia mendekati Zhang Yui Wei dan memakaikan bunga-bunga itu di atas kepala Zhang Yui Wei. Sekarang, dia menjadi lebih cantik dan menawan.


"Sangat cocok untuk nona. Bunga ini membuat nona bertambah cantik," Hua Hua tersenyum puas melihat hasil karyanya yang cukup memuaskan.


"Jadi kau ingin memberi ini? Cukup bagus juga." Zhang Yui Wei menyentuh karangan bunga itu dan tersenyum.


Tupai yang berada di pangkuan Zhang Yui Wei melompat ke atas bahu Zhang Yui Wei. Dia menatap Hu Hua dengan intens, seperti penasaran. Tidak, dia memang penasaran.


"Yui'er, kau sedang apa?" Zhang Ji Xiao kini telah berada di depan Zhang Yui Wei dan masih dengan wajah senangnya.


"Tidak ada, hanya sedang santai," Zhang Yui Wei sedikit menengadah untuk menatap kakaknya yang cukup tinggi.


"Kalau begitu, ayo ikutlah denganku. Aku akan mentraktir-mu, apa saja boleh."


Zhang Yui Wei menaikkan alisnya, tumben sekali Kakaknya ini dengan murah hati ingin mentraktirnya. Ini sangat mencurigakan, pasti ada udang di balik batu.


"Benarkah? Apa kau yakin? Aku tidak akan segan-segan loh menghabiskan uangmu." Zhang Yui Wei tersenyum menatap Kakaknya, namun ucapannya membuat senyum itu menakutkan.


Zhang Ji Xiao menelan saliva-nya dengan susah payah. Adiknya akan membuatnya bangkrut!


"Ha ha ha, tentu saja aku tidak keberatan." Zhang Ji Xiao mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan sambil tertawa kaku.


"Benarkah? Terakhir kali aku minta sesuatu kau begitu pelit. Apa kau ingin aku mengingatkannya? Pertama, aku pernah meminta kelinci peliharaan-mu, tapi kau tidak mengizinkannya. Jadi aku memberikan kelinci itu pada orang lain. Kedua, aku pernah minta untuk digambarkan, tapi kau menolak. Jadi aku menggambar wajah-mu saat kau sedang tidur."


Zhang Ji Xiao merinding saat mendengarnya. Adiknya ini memang kejam, yang tadi itu bukan apa-apa, masih ada yang lebih parah lagi.


'Iya, benar, aku ingat itu. Dipikir-pikir nona itu kejam juga ya.' Hua Hua yang sedari tadi hanya menonton hanya tersenyum tak berdaya sambil menatap Zhang Yui Wei yang tersenyum-senyum.


***


Seorang gadis dengan surai coklat tengah memejamkan matanya. Dia tidak tidur, lebih terkesan tengah menunggu. Ekspresinya selalu datar dan tidak berubah sedetikpun. Gadis itu menghela nafas bosan dan membuka matanya, memamerkan mata gelapnya yang begitu menawan dan berkharisma.


Dia menatap seorang anak laki-laki yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjang yang terbuat dari kayu yang sedikit lapuk, sama sekali tidak membuat nyaman untuk tidur di sana.


"Merepotkan sekali."


Gadis itu bergumam dan mengompres anak itu karena tubuhnya sedikit panas. Di tubuh anak itu terdapat banyak luka lecet dan juga beberapa jahitan. Namun, gadis itu sama sekali tidak ngeri dengan hal itu karena sudah terbiasa.


"Nona, apa anak itu masih belum bangun juga?" Suara Xin'er membuyarkan Lu Xiao Lan yang tadinya sedikit melamun saat melihat anak itu.


"Belum," Lu Xiao Lan masih menatap anak itu tanpa menoleh ke arah Xin'er.


Alis anak itu berkedut, bulu matanya bergetar, jari-jarinya sedikit bergerak menandakan kalau anak itu akan segera sadar. Xin'er menangkap hal itu dan mengernyit. Berbeda dengan Lu Xiao Lan yang masih dengan ekspresi datarnya.


"Uhh, aww,"


Anak itu ingin mendudukkan dirinya, namun rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya membuatnya tidak bisa melakukan hal itu.


"Syukurlah, setidaknya kau sudah bangun." Lu Xiao Lan masih menatapnya dengan ekspresi datar.


Anak itu mengedipkan matanya beberapa kali.


"Hah?"


...🌾🌾🌾...