Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 010. Rencana yang Berhasil



Pelayan laki-laki itu tersipu saat melihat wajah imut Yui Wei. 'Nona ketiga ternyata sangat imut' batin pelayan laki-laki itu.


"Ah oh, tentu saja boleh, nona ketiga. Silahkan" ucap pelayan laki-laki itu sambil menyodorkan tali di tangannya.


"Terima kasih banyak, kakak tampan" ucap Yui Wei sambil berlari dan tersenyum juga melambaikan tangannya.


"Barusan itu, nona ketiga memuji aku?" gumam pelayan laki-laki itu dengan wajah yang sudah memerah.


Yui Wei tersenyum puas dan berlari ke arah dua pohon yang saling berhadapan dan mengikatkan tali itu di kedua pohon. Perkiraan Yui Wei, dua gadis tadi akan pergi melewati ini.


"Hm, sepertinya ada yang kurang" gumam Yui Wei bingung.


Lalu dia melirik ke arah dua pelayan yang tengah berjalan sambil bergosip dengan baskom berisi air di tangan mereka.


"Ah, kakak pelayan! Tunggu sebentar!" teriak Yui Wei memanggil kedua pelayan itu.


Kedua pelayan itu berhenti dan menoleh ke arah suara. Saat melihat Yui Wei, mereka berdua langsung menunduk hormat.


"Ah, salam nona ketiga" ucap kedua pelayan pada Yui Wei sambil membungkuk.


"Ah, kakak pelayan tidak perlu sungkan begitu kepada diriku. Oh iya, ngomong-ngomong, untuk apa air di baskom itu?" tanya Yui Wei.


Kedua pelayan itu saling menatap sebelum salah satu dari mereka menjawab, "Oh, ini, kami ingin membuang air ini karena sudah kotor"


"Oh, kalau begitu, aku ingin kalian membuang ini di suatu tempat" ucap Yui Wei.


Kedua pelayan itu saling memandang satu sama lain dengan ragu, lalu mereka mumutuskan untuk menuruti Yui Wei.


Kedua pelayan itu mengikuti Yui Wei dan sampailah di dua pohon yang saling berhadapan dengan tali terikat di antara dua pohon.


"Nah, di sini" ucap Yui Wei sambil menunjuk ke arah tanah di dekat tali.


Tanpa ragu dan bertanya, mereka langsung membuang air itu di sana dan segera memberi hormat karena harus pergi untuk mengerjakan tugas lainnya.


Yui Wei mengangguk dan segera bersembunyi sambil mengamati dua gadis yang tengah bersantai. Dia terlihat sedang berpikir.


"Hm, bagaimana cara membuat dua j*l**g ini pergi, ya?" tanya Yui Wei pada dirinya sendiri.


Yui Wei melihat ada beberapa ulat dan langsung mendapatkan ide. Dia mengambil ranting di samping kakinya untuk mengambil ulat itu.


Yui Wei berjalan jongkok dengan perlahan menuju dua gadis itu supaya ulat di ranting tidak akan terjatuh. Saat telah berada di belakang mereka, Yui Wei meletakkan ulat itu di atas kepala keduanya.


Karena terlalu asyik mengobrol, mereka tidak sadar akan kedatangan Yui Wei. Yui Wei langsung lari ke tempat yang agak jauh dari mereka dan menunggu drama yang akan segera dimulai.


"Hihihi, pertunjukan akan segera dimulai"


Lian Ran, salah satu dari gadis itu melihat ada sesuatu di rambut Xian Mei, gadis yang lainnya.


"Xian Mei, apa yang ada di atas kepala-mu itu?" tanya Lian Ran sambil menunjuk ke benda yang berada di atas kepala Xian Mei.


"Lian Ran, di rambut-mu juga ada sesuatu. Apa itu?" tanya Xian Mei yang juga melihat ada sesuatu di atas kepala Lian Ran.


Keduanya terus mengamati sampai akhirnya mereka sadar apa yang ada di atas kepala mereka dan mendadak menjadi gagap.


"I-itu kan...itu kan...u-ulaat!!!" teriak keduanya secara bersamaan.


"Ah!! Ulat!! Ulaaatt!!!" teriak Lian Ran.


"Aahh!! Singkirkan! Singkirkan ini dariku!!!" teriak Xian Mei.


Mereka berlari ke sana karena itu adalah jalan untuk menuju ke paviliun mereka. Kebetulan paviliun keduanya searah.


Saat melewati pohon, karena tidak terlalu memperhatikan jalan karena terlalu sibuk mengurusi ulat di atas kepala mereka, akhirnya mereka pun tersandung.


"Aduuh"


'Brukk'


"Auu, sakit!"


Akhirnya mereka pun terjatuh ke depan dan tengkurap di tanah. Dan tanah yang mereka jatuhi itu basah karena air tadi, akhirnya wajah dan hanfu yang mereka kenakan menjadi kotor.


Sekarang mereka tidak mirip dengan nona bangsawan, namun terlihat seperti gembel. Sedangkan Yui Wei kini tengah tertawa dengan ditahan, takut mereka mendengar suaranya.


"Akh, sial!! Hanfu-ku yang sangat cantik menjadi kotor!!" teriak Lian Ran dengan marah.


"Ayo, cepat kembali. Lihatlah, bahkan para pelayan sedang menertawakan kita" ucap Xian Mei menarik tangan Lian Ran.


Lian Ran melihat ke arah para pelayan itu dan mendelik kesal sebelum pandangannya teralihkan ke depan. Para pelayan itu pun berhenti untuk tertawa dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Saat yakin kalau keduanya sudah pergi, Yui Wei yang tidak bisa menahan tawanya langsung saja tertawa dengan kencang.


"Hahaha!!! Lihatlah mereka, hahaha!!!" ucap Yui Wei sambil terus tertawa terpingkal-pingkal sampai perrutnya sakit.


Para pelayan yang mendengar tawa keras Yui Wei pun menoleh dan menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas.


Mereka tentunya tahu dalang dibalik ini semua adalah Yui Wei. Namun, para pelayan itu tidak memusingkan hal itu, toh itu bukan urusan mereka.


Setelah puas tertawa, Yui Wei berjalan ke arah kursi taman dan duduk di sana. Dia hanya menatap kosong ke arah langit-langit.


Tiba-tiba pandangannya terasa berat. Matanya terasa tak sanggup untuk tetap terjaga. Apalagi ditambah angin sepoi-sepoi yang menenangkan.


Akhirnya, Yui Wei pun terlelap di bangku taman. Dia terlihat begitu imut dan polos, tidak ada aura pembunuh seperti di kehidupan zaman modern.


Seorang wanita berusia 30-an datang menghampiri Yui Wei yang tengah terlelap. Pandangan wanita itu tak lepas darinya, dia menatap Yui Wei dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


***


Di Paviliun Air, di kamar Yui Wei, Yui Wei sekarang tengah tidur di ranjangnya yang empuk dengan ditemani wanita tadi yang notabenenya adalah Ibunya.


Bulu mata Yui Wei bergetar, perlahan matanya terbuka dan mengedipkan matanya untuk menyesuaikan pencahayaan. Saat telah kesadarannya telah penuh, dia mendapati sosok Ibunya tengah duduk di sampingnya.


"Kau sudah bangun? Ibu telah menyiapkan makanan untukmu, kau pasti lapar, bukan?" ucap Ibunya sambil menyibakkan rambut Yui Wei.


"Hm, Ibu memang sangat pengertian, ya?" ucap Yui Wei sambil tersenyum.


***


Di Paviliun Hujan milik Lian Ran, di kamarnya, Lian Ran tengah mengamuk dan memecahkan apa saja yang dilihatnya sampai tangannya berdarah karena pecahan vas.


"Nona, tolong untuk tenang. Jika nona seperti ini, citra-mu malah akan semakin hancur" ucap pelayan pribadi Lian Ran dengan muka yang tenang.


"Tenang?! Kau bilang untuk tenang?!! Aku tidak seperti dirimu yang hanya tetap tenang walaupun ada masalah!!" teriak Lian Ran frustasi.


...🌾🌾🌾...