
Travel in a Different World Ch 49
Episode sebelumnya ....
Ternyata mereka sedang menonton pertarungan. Lu Xiao Lan mengernyit. Seorang gadis kecil yang kira-kira berusia 13 tahun tengah melawan beberapa orang dewasa. Gadis kecil itu hanya diberikan pedang kayu yang kini telah tergores-gores oleh pedang.
Sepertinya pertarungan telah terjadi beberapa lama. Namun, orang dewasa yang dilawannya menggunakan pedang sungguhan. Bukankah ini sangat tidak adil? Ini namanya ingin membunuh gadis kecil itu. Pantas saja orang-orang banyak berkumpul untuk menonton. Pantaskah hal ini menjadi sebuah tontonan?
Sebuah senyuman terukir di wajah Lu Xiao Lan yang tertutupi setengahnya. Walaupun hanya menggunakan pedang kayu, gadis kecil ini mampu bertahan. Sorot matanya yang tajam memperlihatkan kepercayaan diri dan juga keberanian.
Pertarungan terus berlangsung. Gadis kecil itu nampak kewalahan, namun masih mampu bertahan hanya dengan pedang kayu yang hampir patah.
*Kretak*
***
Pedang kayu di tangan gadis kecil itu menghasilkan suara retakan saat menghantam sisi tajam pedang. Orang-orang dewasa yang melawannya saat ini tengah tersenyum. Inilah kesempatannya. Salah satu dari mereka mengayunkan pedangnya, hendak membunuh gadis kecil itu.
Namun, entah sejak kapan, Lu Xiao Lan kini telah berada di panggung pertarungan dan berdiri di tengah-tengah gadis kecil itu dan beberapa orang dewasa. Pria yang tadinya mengayunkan pedangnya kini tak berkutik. Pedangnya tidak bisa digerakkan!
Lu Xiao Lan telah mengapit pedangnya dengan cukup kuat. Pria itu berusaha menarik kembali pedangnya, namun tidak berhasil. Tanpa aba-aba, Lu Xiao Lan segera menarik pedang itu. Kini pedang pria itu berada di tangannya.
“Hei, kami ini sedang menonton pertarungan! Jangan mengacau, pergi sana!”
Lu Xiao Lan menoleh pada orang yang menyoraki dirinya. Dia tersenyum, namun orang itu merasa sedikit merinding. Walaupun wajahnya tidak terlihat setengahnya, namun aura gadis itu begitu menakutkan. Seperti telah membunuh banyak orang tanpa berkedip.
“Pantaskah hal ini menjadi tontonan?” semuanya terdiam saat pertanyaan itu terlontar.
Pria yang tadi mengayunkan pedang langsung berlutut pada Lu Xiao Lan dan memberi hormat. Beberapa pria di belakangnya juga mengikuti. “Hormat pada senior. Apa yang bisa kami lakukan untuk anda?”
Lu Xiao Lan tersenyum puas pada mereka, “Ternyata kalian pintar juga, ya.”
Beberapa orang itu masih berlutut dan memberi hormat padanya. Lu Xiao Lan suka, mereka langsung tunduk begitu melihat kekuatannya. Awalnya mereka terkejut karena ternyata Lu Xiao Lan adalah seorang gadis. Namun, mereka tetap segan melihat kekuatannya berada di atas mereka.
Lu Xiao Lan menunjuk gadis kecil yang kini tengah menyeka darah di sudut bibirnya. “Berikan bocah itu padaku,”
Gadis kecil itu merasa terkejut. Kenapa orang yang luar biasa ini tiba-tiba muncul dan menginginkan dirinya? Tidak ada yang istimewa dari dalam dirinya. Setidaknya itulah yang ada di pikirannya.
Mereka terdiam. Lu Xiao Lan tahu jika mereka ingin menolak karena hal ini akan merugikan mereka, namun mereka segan untuk mengatakannya dan hanya terdiam.
Lu Xiao Lan mengeluarkan kantong yang cukup besar berisi koin emas dan melemparnya pada mereka. “Jika tidak cukup, katakan saja,”
Salah satu dari mereka langsung menangkap kantong itu. Mereka masih menatap kantong itu, lalu membukanya. Semuanya isinya emas! Ini .... sangat berkilau! Mereka menatap tak percaya pada gadis di depan mereka itu.
“Aku anggap kalian menyetujuinya,”
Lu Xiao Lan menarik gadis kecil itu untuk pergi dari sana. Kerumunan pun telah bubar karena tidak ada lagi yang bisa mereka tonton. Sedangkan mereka hanya celingak-celinguk, sekarang tidak ada orang di sana.
Sedangkan saat ini Lu Xiao Lan tengah menggandeng gadis kecil untuk pergi ke warung makan. Gadis kecil itu hanya diam dan mengikuti Lu Xiao Lan. Gadis itu terdiam, tidak tahu ingin bicara apa.
Mereka telah sampai di kedai terdekat. Lu Xiao Lan menyuruh gadis kecil itu untuk duduk di depannya dan memesan 2 porsi mie. Lu Xiao Lan kemudian mengeluarkan kotak P3K dan meletakkannya di atas meja.
Gadis kecil itu merasa penasaran dengan kotak berwarna putih yang dikeluarkan Lu Xiao Lan. Tentu saja ia belum pernah melihatnya.
“Mendekatlah,”
“Eh?”
Gadis kecil itu terdiam sejenak dan mendekat pada Lu Xiao Lan. Dia memejamkan matanya saat tangan Lu Xiao Lan terulur untuk menyentuhnya.
Dia membuka mata dengan terkejut. Saat ini Lu Xiao Lan tengah mengobatinya dengan alat-alat yang menurutnya aneh.
“Ini pesanan anda, silahkan dinikmati,”
Seorang pelayan membawakan pesanan Lu Xiao Lan dan meletakkannya di depan mereka, lalu pergi. Lu Xiao Lan membereskan kotak P3K miliknya dan memasukkannya kembali ke dalam ruang dimensi.
Gadis kecil itu menatap ragu pada makanan di depannya, dia bingung apakah boleh makan atau tidak. Perutnya merasa sedikit lapar.
Lu Xiao Lan yang tengah menyeruput mie menatap gadis kecil itu. “Makan saja, tidak ada yang melarang,”
Gadis itu akhirnya memakan mie itu dengan lahap sampai habis. Perutnya saat ini telah terisi. Gadis itu menatap Lu Xiao Lan yang juga telah selesai makan. Dia merasa heran karena sedari tadi Lu Xiao Lan tidak menurunkan kerudungnya.
Mungkinkah orang ini adalah seorang buronan? Namun, orang ini tetaplah penyelamat baginya. Apapun identitasnya, orang ini tetap majikannya.
“Siapa namamu?”
Gadis itu langsung mendongak. Orang ini menanyakan namanya? Ia kembali menunduk. “Luo Xi,”
Lu Xiao Lan mengangguk. Dia mengangkat dagu Luo Xi supaya gadis itu menatapnya. “Jangan menunduk seperti itu, menunduklah jika memang diperlukan saja. Jika kau menunduk, maka kau akan terlihat lemah,”
Luo Xi terkejut. Sebenarnya, apa maksud orang ini? Dia tidak mengerti.
Lu Xiao Lan berdiri dan menarik Luo Xi. “Ikutlah denganku,”
Luo Xi hanya ikut saja. Mereka menuju ke rentetan kereta kuda yang terparkir tak jauh dari kedai. Mirip seperti tukang ojek.
Lu Xiao Lan berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh, “Kita akan naik kereta kuda. Kau pasti lelah, apalagi tubuhmu luka-luka.”
Luo Xi sedikit terpana. Dia juga sedikit penasaran dengan sosok gadis di depannya. Dia terlihat berwibawa dan kharismatik. Bisa dibilang dia adalah fans dadakan.
...🌾🌾🌾...