
Episode sebelumnya .....
“Nona, anda terlihat cantik.”
Zhang Yui Wei mencibir. “Cantik? Aku tidak merasa begitu. Mungkin lebih tepatnya mirip tembok.”
Hua Hua hanya tersenyum tak berdaya. Ia sesekali merapikan rambut nonanya yang sedikit keluar dari jalurnya.
“Sekarang nona sudah siap. Bagaimana, nona?”
Zhang Yui Wei hanya diam saja. Ia masih tak terbiasa pada riasan seperti ini. Pada akhirnya ia seperti seorang badut.
“Tidak buruk.” kemudian, pandangannya beralih pada jendela yang terbuka. Angin sedikit berhembus dan membuat gorden tipis yang tembus pandang sedikit berkibar di bagian bawah.
Hua Hua tersenyum. “Waktunya nona berangkat. Sepertinya mereka telah menunggu.”
***
Ia mengetahuinya karena melihat seseorang yang tadi melintas. Suara tapak kakinya juga terdengar walaupun samar, dan berhenti di depan pintu. Sepertinya itu adalah pengawal untuk menjemput Zhang Yui Wei.
***
Sesampainya di depan kediaman yang 'cukup luas' ini, Zhang Yui Wei mengedarkan pandangannya. Yang ia lihat di sini hanyalah satu kereta kuda yang cukup mewah.
“Perdana Menteri telah berangkat terlebih dahulu untuk sebuah urusan. Beliau meminta saya untuk mengantarkan anda ke tempat festival itu diadakan.” jelas pengawal itu sambil menunduk hormat.
Zhang Yui Wei menyipitkan matanya, lalu menganggukkan kepala. Namun, kenapa kereta kudanya hanya satu? Bagaimana dengan kedua 'brother'nya? Apalagi dua 'sister'nya yang pasti akan ikut untuk tebar pesona.
“Kedua tuan muda bilang akan menyusul nanti. Dan kedua nona juga telah berangkat duluan beberapa waktu yang lalu. Apakah anda siap untuk pergi sekarang?”
Zhang Yui Wei bergumam dan masuk ke dalam kereta.
***
Rasanya sangat bosan hingga ia menghela nafas. Seharusnya tadi ia menyeret Hua Hua untuk ikut, kalau perlu culik saja. Keheningan ini nyaris membunuhnya.
*Eh, jadi keinget satu hal.*
“Ketegangan ini nyaris membunuhku.”
~By Squidw*rd Tentacl*s
“Apakah masih lama?” gumam Zhang Yui Wei entah pada siapa.
Setelah waktu bosan yang cukup lama, akhirnya kini ia telah sampai di tempat festival. Lebih tepatnya di sungai. Di sana cukup ramai, padahal festival masih belum di mulai.
“Kau sudah datang rupanya.” ucap seorang pria yang menghampirinya saat ia ingin turun dari kereta.
Ayahnya—Zhang Xiuzhu—mengulurkan tangan untuk membantunya turun. Dengan senang hati Zhang Yui Wei menyambut tangan besar yang hangat itu dan tersenyum.
“Dengan senang hati putri ini menerima tangan Ayah yang hangat.” ucapnya.
Zhang Xiuzhu sedikit terkejut dengan ucapan itu. Hatinya terasa hangat dan ia tersenyum tipis pada putri bungsunya. Walaupun sudah besar, namun gadis kecil itu masih imut seperti dulu. Ia jadi teringat saat pertama kali menggendongnya.
“Ayah.” panggil Zhang Yui Wei.
Zhang Xiuzhu segera tersadar dan mengembalikan wajahnya menjadi datar. Dia mengelus puncak kepala Zhang Yui Wei dengan lembut dan menatap putrinya itu dengan hangat walaupun wajahnya masih datar.
“Bersenang-senanglah. Kau bebas untuk melakukan apapun. Setidaknya, carilah kebebasan. Ayah akan pergi sebentar.”
Setelah mengatakan hal itu, Zhang Xiuzhu berbalik meninggalkan gadis kecil itu.
Zhang Yui Wei merasakan rasa hangat di ujung matanya. Jarinya sedikit mengusapnya dan melihat ada bulir bening juga bedak. Walaupun sudah terkena air mata, namun bedaknya masih ada. Bayangkan berapa kali ia harus membasuh muka nantinya.
Tidak, bukan masalah bedak yang saat ini harus direnungkan! Itu nanti belakangan.
“Ho, ternyata kau datang. Cantik juga.”
Zhang Yui Wei menoleh pada asal suara dan ia melihat 'duo sister'nya kini tengah memasang wajah yang berbeda. Yang satu berwajah acuh, yang satu berwajah sedikit mengintimidasi.
Zhang Yui Wei sedikit memberi pengawet pada senyumannya supaya tidak langsung luntur. “Terima kasih atas pujiannya, Kakak. Kau juga cantik hari ini.”
Keduanya cukup terkejut. Alis mereka bertaut, ekspresi bingung dan terkejut juga tidak peecaya bercampur menjadi satu dalam wajah mereka.
“Nikmati festivalnya, kami pergi.”
SWOOSH
Sekarang ia sendirian lagi. Tidakkah ada yang merasa kalau hubungannya dengan kedua 'sister'nya itu canggung? Zhang Yui Wei berpikir mereka tidak buruk. Namun, mengapa hubungan mereka canggung? Mungkinkah itu karena kurangnya komunikasi di antara mereka?
Zhang Yui Wei menghela nafas. Menikmati festival? Ia merasa tidak bisa melakukannya. Jarang sekali ia pergi ke festival. Dan lagi, tidak ada yang menemaninya. Tiba-tiba ia jadi tahu bagaimana kehidupan para jomblo.
Tidak, jangan samakan dirinya dengan mereka!🤧
“Sepertinya kau sendirian.” ucap seseorang yang membuat Zhang Yui Wei sedikit jengkel.
Kali ini siapa lagi? Saat menoleh ke sumber suara, Zhang Yui Wei mengernyit. Siapa pria ini?
“Kau—” Zhang Yui Wei mencoba untuk mengingat siapa pria ini. Rasanya familiar, namun dia lupa pernah bertemu di mana. “—siapa?”
JDEERR
Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Gadis ini bertanya siapa dirinya? Pria itu—Yang Jia Jun—merasa sedikit pedih karena dirinya mudah untuk dilupakan. Lihatlah wajahnya yang tampan, bagaimana mungkin gadis ini tidak mengingat wajah yang sempurna ini?
Rahang yang tegas, alis yang tajam namun juga lembut, hidung yang mancung, dan bibir yang sexy. Bukankah sempurna?
“Siapa sih dia? Seperti kenal. Dia—”
Zhang Yui Wei langsung terkesiap dan mundur beberapa langkah untuk menghindari pria dengan aura sedikit biawak ini. Dia ingat, pria ini pernah terjebak 'insiden' dengannya waktu ia kabur untuk jalan-jalan. Kenapa ada di sini?
Kemudian, matanya langsung berubah seperti sebuah pemindai dan melihat Yang Jia Jun dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jelas sekali kalau pria ini adalah bangsawan yang disegani. Pandangannya langsung tertuju pada token yang bertengger di pinggang pria itu. Zhang Yui Wei menyipitkan matanya dan berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas tulisan yang ada di sana.
Sedangkan Yang Jia Jun, pria itu merasa sedikit gugup saat Zhang Yui Wei mendekat sambil menunduk. Gadis ini mau apa? Sekarang gilirannya berjalan mundur untuk menjauhi Zhang Yui Wei. Padahal niatnya hanya ingin menyapanya, tapi kenapa suasana diantara mereka jadi begini?
Yang Jia Jun menelan ludahnya dengan susah payah. “Hei, kau ini mau apa?”
Namun, bukannya menjawab, gadis ini malah semakin mendekatinya. Hei, dia tidak ingin berbuat macam-macam, kan?
**BRUUKK
...🌾🌾🌾**...