Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 028. Bergetar



Seorang gadis dengan surai coklat dan mata hitam sehitam malam tengah termenung di sebuah batu besar yang digunakannya untuk duduk. Surai coklatnya berkibar karena terkena angin malam yang cukup kencang dan juga dingin.


Karena hawa yang dingin, gadis itu mengenakan mantel untuk membuat tubuhnya hangat. Dia memeluk kakinya dengan erat dan meletakkan dagunya di antara lututnya. Tatapannya terlihat tidak bersemangat, pikirannya juga kacau.


Dia tidak tahu mengapa dirinya menjadi se-galau ini, padahal dirinya tidak sedang puber. Bibirnya terlihat bergerak dan seperti ingin mengatakan sesuatu, namun kembali menutup dan hanya terdiam menikmati suara jangkrik dan angin.


Bulu matanya yang lentik bahkan hampir terlihat tidak berkedip. Mata hitamnya terlihat sayu, seperti tidak ada tanda kehidupan. Alisnya yang indah kadang sedikit berkedut. Gadis itu adalah Lu Xiao Lan.


Dia menatap ke atas dan dapat melihat dimana rembulan yang bersinar memberikan cahaya remang-remang menyinari malam yang gelap dan sunyi ini, dengan bintang-bintang yang terlihat kecil bertebaran seperti serbuk bercahaya menemani sang rembulan.


"Aku ini sedang apa sih? Kenapa aku seperti ini? Tidak pernah terjadi seperti ini padaku. Apa karena tubuh ini masanya sedang puber? Yah, walaupun begitu, jiwaku yang berusia 20-an harusnya juga bisa mengendalikannya," gumam Lu Xiao Lan tidak jelas.


"Dan lagi, siapa gadis kecil itu? Bahkan dia memanggilku kakak ... Aku tidak tahu kalau Lu Xiao Lan mempunyai adik. Tapi itu juga tidak mungkin, rambut gadis itu perak ... dan rambut Ibuku sama denganku ..." gumam Lu Xiao Lan lagi.


Dia masih dengan jelas mengingat mimpi yang dialaminya di ruang dimensi. Entahlah, dia selalu mengingatnya saat pikirannya sedang kosong. Memori itu selalu datang seakan kalau dirinya harus bisa mengingatnya.


"Kau sepertinya sedang dalam masalah, ya. Ada apa?" ucap sebuah suara berat.


Lu Xiao Lan hanya terdiam. Dia tanpa menoleh pun sudah tahu kalau dia siapa. Laki-laki yang menyebalkan. Bibirnya terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, namun dia mengurungkan niatnya dan bersikap cuek.


"Tidak perlu tahu!" ucapnya dengan sedikit ketus.


" ... "


Lu Xiao Lan kemudian bangkit dan berjalan melewati pria itu. Pria itu menoleh untuk melihat Lu Xiao Lan yang perlahan mulai menjauh darinya. Dia ingin menghentikannya, tapi untuk apa? Memangnya setelah itu dia mau apa?


Beberapa saat setelah kepergian Lu Xiao Lan. Pria itu terdiam di tempatnya seperti patung. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


Mungkin dia ketularan galau sama Lu Xiao Lan ...


"Ada apa dengannya? Apa mungkin ... Tidak mungkin lah kalau ingatannya kembali sekarang. Tapi, jikalau memang ternyata begitu, aku harus menghentikan ini. Semua akan kacau balau jika ingatannya kembali." gumam Pria itu menggigit bibir bawahnya.


Dia terlihat sedang berpikir keras dan sedikit frustasi. Setelah itu, Pria itu tiba-tiba menghilang dari sana tanpa jejak. Tempat itu kini telah sepi, hanya ada suara jangkrik di sana, juga angin malam yang dingin yang kadang menerbangkan dedaunan yang rontok.


***


Gadis dengan surai merah muda dan mata berwarna magenta tengah mengganti pakaian ke pakaian tidur dan menyisir rambutnya. Jari-jarinya yang mungil cukup lihai dalam menata rambut merah muda nya.


Mata magenta yang cukup unik berkedip, menampilkan bulu mata yang lentik. Gadis itu adalah Zhang Yui Wei, yang saat ini menuju ke kasur dan bersiap untuk mengarungi mimpi.


Setelah berjalan-jalan, dirinya cukup lelah dan mengantuk. Jadi, memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Zhang Yui Wei memejamkan matanya dan mengarungi lautan mimpi.


***


Seorang gadis dengan surai merah muda perlahan membuka matanya, menampilkan mata magenta yang unik. Dia mengucek sebelah matanya dan duduk di tepi ranjang. Matanya masih sayu karena baru saja bangun tidur.


Zhang Yui Wei, gadis itu merapikan rambut merah mudanya yang berantakan. Lalu, pandangannya menoleh ke arah pintu yang bergeser, lalu muncullah sosok Hua Hua yang tengah membawa baskom. Baskom itu berisi air bersih untuk mencuci mukanya.


Hua Hua berjalan menuju Zhang Yui Wei dan mendekatkan baskom pada Zhang Yui Wei. Zhang Yui Wei menyibakkan rambutnya ke belakang supaya tidak terkena air saat akan mencuci wajahnya. Dia mendekatkan wajahnya ke air dan mencuci muka.


Zhang Yui Wei mengelap wajahnya dengan kain bersih yang diberikan oleh Hua Hua.


"Apakah airnya telah siap? Aku ingin mandi sekarang." ucap Zhang Yui Wei sambil menatap Hua Hua.


"Belum nona. Biar saya siapkan air hangat dulu." ucap Hua Hua yang berniat untuk memanaskan air untuk nonanya mandi. Namun, Zhang Yui Wei mencegahnya untuk pergi.


"Tidak perlu, siapkan saja air biasa." ucapnya sambil mencengkram baju Hua Hua.


"O-oh baiklah, nona." ucapnya dengan segera melaksanakan perintah saat Zhang Yui Wei melepaskan cengkraman pada bajunya.


Setelah air telah siap, Zhang Yui Wei berjalan menuju kamar mandi dan mengunci pintunya. Dia melepas pakaiannya dan berendam di bathub berisi air yang cukup dingin.


"Hufft ... "


Rasanya seperti sudah lama dirinya tidak melakukan aktivitas yang biasa dia lakukan sebagai pembunuh bayaran. Terutama pelatihan ketahanan tubuh. Jika saja Zhang Yui Wei tidak kuat untuk menahan dinginnya air yang tidak seberapa ini, itu berarti tubuhnya terlalu lemah saat ini.


Di saat Zhang Yui Wei masih berendam, tiba-tiba pandangannya memburam. Semuanya tampak tidak jelas. Kepala dan matanya juga terasa sangat sakit. Zhang Yui Wei yang sedang bersandar di pinggiran bathub segera mencari tepian bathub untuk menjadi pegangan supaya dirinya tidak terjatuh ke dalam air.


***


Pandangan Zhang Yui Wei kini perlahan mulai kembali. Pandangannya yang awalnya buram menjadi jelas dan semakin jelas. Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya, namun yang dia lihat justru adalah sebuah kota yang hancur ...


Kota yang begitu maju yang kini telah hancur dan berantakan. Banyak yang berlarian ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Suara panik dan takut menambah suasana hancur di sana. Zhang Yui Wei masih tidak tahu apa yang terjadi di sini, semuanya begitu tiba-tiba.


Pandangannya menoleh ke arah lain dan mendapati sebuah bendera mengerikan yang tengah berkibar. Ada sebuah simbol di bendera itu. Namun, saat melihatnya, tangannya bergetar. Tubuhnya langsung ambruk, matanya juga bergetar.


"Ini ... aku kenapa? Ayolah, tangan, jangan gemetar seperti ini." ucap Zhang Yui Wei sambil mencengkram tangannya dan berharap tangannya berhenti bergetar. Namun, sekarang malah kakinya menjadi lemas. Dia menggigit bibir bawahnya dengan frustasi. "Kenapa?"


...🌾🌾🌾...


Halo, arigatou gozaimasu buat kalian yang udh baca sampai sini ~_~