
Episode sebelumnya ....
“Kau menyembunyikan Yun Yi dariku selama bertahun-tahun, tapi kenapa? Walaupun kau telah tiada, namun aku tahu jiwamu belum tenang. Ye Lian, pernahkan kau menyesalinya?”
Wanita itu bergumam pada makan di depannya. Dia memakamkan Ye Lian seadanya. Setidaknya, ia masih berbaik hati untuk memakamkannya walaupun secara sederhana.
Setelah itu, Han Lin pergi meninggalkan makam. Dia melirik sekilas pada gerobak jerami, lalu menoleh ke atas untuk melihat langit yang tertutupi oleh awan.
“Berterimakasihlah padaku karena aku membiarkannya hidup. Entah bagaimana jika dia sudah besar nanti,”
Han Lin langsung pergi meninggalkan tempat itu. Saat merasa tidak ada lagi orang, Xin'er mengintip dan melirik ke sekitar. Memang semuanya telah pergi, termasuk Ibunya. Dia langsung berusaha untuk keluar dari gerobak dan berlari menghampiri makam Ibunya.
“Ibu!” teriaknya.
Dengan berderai air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya, dia berlutut di depan makam Ye Lian. Jika Ayahnya kembali, apa yang harus dikatakannya?
“Ibu, kau bilang tidak akan pergi. Kau bilang akan selalu bersamaku. Kenapa Ibu mengingkari janji?”
Xin'er memukul-mukul tanah tempatnya berpijak dengan terisak. Dia sendirian. Dia juga tidak tahu bagaimana kabar Ayahnya.
***
Sebuah kelopak bunga lepas dari tangkainya dan terbawa oleh angin hingga mendarat di atas makam Ye Lian. Xin'er menatap ke atas di mana bunga itu berasal.
Kelopak bunga yang terjatuh di makam Ye Lian kembali terbang terbawa angin seperti hendak menuju langit. Bisakah ia menganggap kalau Ibunya telah pergi dengan bebas?
“Ibu .... ”
Rasanya angin seperti memeluknya, menenangkannya. Walaupun itu hanyalah perasaannya saja, namun rasanya hangat. Bisakah ia menganggap kalau itu adalah Ibunya yang tengah mengucapkan selamat tinggal kepadanya.
Suara samar-samar seorang wanita terhapus oleh embusan angin yang menerpa. “Selamat tinggal, sayang. Maaf,”
Entah Xin'er mendengarnya atau tidak.
“Maaf, sepertinya aku terlambat untuk menyelamatkan kalian,”
Xin'er membalikkan badan dan melihat Lu Xia Lin yang menatap nanar padanya. Dia langsung memeluk Lu Xia Lin tanpa memperdulikan sopan santun dan terisak.
Lu Xia Lin membalas pelukan itu dan mengelus puncak kepala Xin'er. Ia tahu, gadis kecil ini sangat terpukul. Saat dia baru saja datang, pemandangan yang ada di depannya adalah Han Lin yang tengah mengubur mayat Ye Lian. Dia terlambat .....
“Maafkan aku. Aku terlambat menyelamatkan kau dan Ibumu.”
Xin'er menatap Ratu Xia dengan mata berkaca-kaca. “Ratu, di mana Ayah hamba sekarang? Hanya dia satu-satunya keluarga hamba sekarang,”
Lu Xia Lin terkejut. Dia kembali memeluk Xin'er. Dia tidak ingin menatap wajah Xin'er yang berkaca-kaca, itu membuatnya sulit untuk mengatakannya.
“Xin'er, ikutlah dulu denganku. Kita akan temui Ayahmu besok,”
Walaupun masih sedih, Xin'er mengangguk. Dia mengikuti Lu Xia Lin ke sebuah penginapan.
***
Dia masih belum tidur. Matanya terasa kering setelah menangis tadi. Xin'er menghela nafas, dia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Ayahnya mengenai kematian Ibunya. Tidak tahu juga bagaimana reaksinya saat mengetahui hal itu.
Lu Xia Lin berbaring membelakangi Xin'er. Ia sedari tadi juga masih terjaga, namun tidak berniat untuk membuat Xin'er tidak nyaman padanya karena dirinya yang masih bangun. Suasana di antara mereka begitu hening, *kayak orang lagi naksir tapi malu-malu.
Bagi kalian yang naksir sama orang (2D juga) segera nyatakan perasaanmu!! Author dukung 10%, wkwkwk. 100% deh. Tapi gak tahu sih kalau korban si gepeng, mengsedih🤧👌*
“Aku tahu kalau kau sedih. Entah bagaimana reaksinya besok. Aku harus bagaimana? Saat ini posisiku serba salah. Apa aku sembunyikan saja?”
***
Keesokan harinya di penginapan .....
Xin'er membuka matanya dan menguap. Dia lihat kalau Lu Xia Lin telah bangun sejak tadi. Saat ini wanita itu sedang menyisir rambutnya dengan anggun, sepertinya dia baru saja mandi.
Suara lembut Lu Xia Lin berdengung di telingat Xin'er, “Oh, kau sudah bangun rupanya? Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan air untukmu. Karena sudah bangun, apa kau ingin mandi sekarang?”
Xin'er tidak menjawab, namun ia sudah turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Seperti yang dikatakan oleh Lu Xia Lin, air untuknya mandi sudah tersedia dengan taburan bunga juga. Mungkin karena mereka adalah VIP makanya diberikan pelayanan seperti ini.
Saat ini pikirannya tengah kacau, jadi setelah melepas pakaiannya, Xin'er mencelupkan kakinya dan berendam. Wangi harum ini cukup membuatnya sedikit tenang. Walaupun masih ada sedikit trauma, namun itu tidak terlalu menghambatnya. Namun itu membuatnya jadi sedikit bicara.
“Tenangkan dirimu, Xin'er. Kau harus tetap semangat walaupun saat ini kau sedang goyah. Lagi pula, masih ada Ayah juga.” gumamnya menyemangati diri sendiri yang terpuruk.
*Mungkin buat kalian yang sedang terpuruk, ingatlah untuk tetap bersemangat demi orang yang kalian sayangi!! Bisa curhat sama orang terdekat untuk berbagi kesedihan, atau sama author juga boleh, wkwkwk. Cemungut!
Tumben gak asal ngomong🙄*
Setelah cukup berendamnya, Xin'er memakai pakaian yang terlampir di sana. Sepertinya sudah disiapkan baju juga untuknya. Yah, dia tidak membawa baju apapun, hanya baju yang dikenakannya tadi.
Saat keluar dari kamar mandi, Lu Xia Lin tersenyum ke arahnya. “Sudah selesai? Duduklah,”
Xin'er hanya diam dan menurut. Dia duduk di kursi depan meja rias dan melihat pantulan wajahnya di cermin. Kalau dilihat-lihat, wajahnya memang mirip dengan Ye Lian—Ibunya. Rambutnya masih basah, buliran bening jatuh dari ujung rambutnya dan membuat bahunya basah.
“Rambutmu sangat halus dan cantik. Aku menyukainya,” puji Lu Xia Lin.
Sembari merapikan rambut Xin'er yang basah dengan menggunakan sisir kayu, Lu Xia Lin tersenyum dan bersenandung kecil. Xin'er tidak tahu lagu apa yang sedang disenandungkan oleh Lu Xia Lin, ia sedikit penasaran.
“Ratu sedang menyanyikan apa?”
Mendengar Xin'er yang mulai mau bicara, Lu Xia Lin terkejut sekaligus merasa lega. Setidaknya gadis kecil ini sedikit memberi respon walaupun sedikit.
“Mendengarmu memanggilku Ratu, rasanya seperti aku sudah tua. Hahaha,”
Xin'er hanya terdiam, dia terlihat tak tertarik dengan candaan Lu Xia Lin. Lu Xia Lin hanya tersenyum canggung, padahal niatnya adalah untuk membuat gadis kecil ini kembali ceria. Namun sepertinya tidak berhasil.
“Danau angsa,”
...🌾🌾🌾...