
Episode sebelumnya .....
Saat keluar dari kamar mandi, Lu Xia Lin tersenyum ke arahnya. “Sudah selesai? Duduklah,”
Xin'er hanya diam dan menurut. Dia duduk di kursi depan meja rias dan melihat pantulan wajahnya di cermin. Kalau dilihat-lihat, wajahnya memang mirip dengan Ye Lian—Ibunya. Rambutnya masih basah, buliran bening jatuh dari ujung rambutnya dan membuat bahunya basah.
“Rambutmu sangat halus dan cantik. Aku menyukainya,” puji Lu Xia Lin.
Sembari merapikan rambut Xin'er yang basah dengan menggunakan sisir kayu, Lu Xia Lin tersenyum dan bersenandung kecil. Xin'er tidak tahu lagu apa yang sedang disenandungkan oleh Lu Xia Lin, ia sedikit penasaran.
“Ratu sedang menyanyikan apa?”
Mendengar Xin'er yang mulai mau bicara, Lu Xia Lin terkejut sekaligus merasa lega. Setidaknya gadis kecil ini sedikit memberi respon walaupun sedikit.
“Mendengarmu memanggilku Ratu, rasanya seperti aku sudah tua. Hahaha,”
Xin'er hanya terdiam, dia terlihat tak tertarik dengan candaan Lu Xia Lin. Lu Xia Lin hanya tersenyum canggung, padahal niatnya adalah untuk membuat gadis kecil ini kembali ceria. Namun sepertinya tidak berhasil.
“Danau angsa,”
***
“ ..... ”
Danau Angsa, itu adalah lagu yang pernah terkenal beberapa tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu siapa pencipta lagu itu alias noname. Namun, banyak yang menyukai lagu itu karena nadanya yang halus dan lembut. Saat mendengarnya membuat kita terhanyut ke dalamnya, seolah melihat angsa yang sedang berenang bersama pasangannya di danau yang hijau.
“Xin'er, apa kau tahu tentang Danau Angsa? Memang terdengar lembut dan tenang, seperti lagu pengantar tidur. Namun, apakah kau tahu kalau sebenarnya lagu ini bermakna sebuah kehilangan?”
Xin'er hanya terdiam. Dia tahu kalau Danau Angsa terdengar seperti pengantar tidur, namun ia tidak tahu jika lagu itu memiliki makna yang seperti itu. Tapi dengan nada yang memang seperti ada kesedihan ..... siapa yang tahu?
“Aku menyadarinya karena aku sering menyanyikannya saat sendirian. Aku menyukai lagu itu. Namun, saat benar-benar terlarut ke dalamnya, tiba-tiba saja aku menangis. Dadaku terasa sesak, seperti telah kehilangan sesuatu yang berharga. Terkadang, kau akan benar-benar tahu sebuah makna jika kau benar-benar memahami perasaan yang ditorehkan.”
Author bukanlah orang yang puitis, jadi cuman asal tulis aja🤧
“Ini membuka mata saya. Sebelumnya saya tidak tahu kalau anda adalah orang yang seperti ini. Sungguh sebuah keberuntungan saya dapat mengetahuinya,”
Xin'er memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Walaupun begitu, tapi ini membuat Lu Xia Lin turut senang karena Xin'er mau bangkit dari keterpurukannya.
***
Sebuah kereta kuda yang cukup sederhana terparkir di depan penginapan. Lu Xia Lin menggenggam tangan Xin'er dan menariknya masuk ke dalam kereta. Mereka berdua duduk berhadapan dalam diam. Apakah hanya Lu Xia Lin yang merasa kalau ini canggung.
Xin'er hanya duduk manis di kursi yang berhadapan dengannya sambil terus diam. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk mengawali pembicaraan.
Xin'er melirik ke arah luar lalu menatap Lu Xia Lin, perasaannya mengatakan ada yang tak beres. “Anu, Ratu, ini bukan jalan ke gerbang kota.”
Lu Xia Lin tahu itu, namun dia hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke kereta. Biasanya para prajurit yang telah bertempur kembali ke kota (itu pun jika selamat) dan melewati gerbang kota. Orang-orang menyambut mereka tentu saja dengan meriah.
Tapi sekarang mereka bukan pergi menuju gerbang kota. Bukankah ini aneh? Dilihat dari situasi, sepertinya para prajurit dan Jenderal yang pergi ke medan perang pasti telah kembali. Di sepanjang perjalanan tidak jarang untuk menjumpai orang-orang, namun hari ini terlihat sangat padat.
“Kau akan segera tahu, Xin'er,”
Tapi kediaman mereka kini tidak bisa dikatakan aman. Tadi malam saja ada pembunuh bayaran. Bagaimana jika ada yang masih di sana dan membuat Ayahnya dalam bahaya? Jangan sampai itu terjadi.
Lu Xia Lin melirik Xin'er yang terlihat cemas. Dia menggenggam tangan gadis kecil itu, “Jangan khawatirkan apapun. Apapun yang terjadi, masih ada aku yang akan merawatmu.”
Selama perjalanan hanya ada keheningan yang menyelimuti. Sesekali Xin'er melirik Lu Xia Lin yang sepertinya sengaja menghindari tatapannya. Ia merasa ini semakin aneh.
Dan saat mereka telah sampai, ia justru malah merasa semakin aneh. Apa ini? Kenapa membawanya ke pemakaman? Dia ingin bertemu Ayahnya, bukan bertemu Ibunya. Tapi, Ibunya juga tidak dimakamkan di sini. Jadi .....
Tidak mungkin kan?! Xin'er langsung menatap Lu Xia Lin untuk meminta penjelasan dari wanita itu, tapi Lu Xia Lin lagi-lagi menghindari tatapannya sambil mengusap salah satu tangannya.
Suara Xin'er yang serak dan sedikit dingin terdengar di telinga Lu Xia Lin. “Ratu, tolong jelaskan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi,”
Lu Xia Lin tidak mampu menjelaskannya, namun kaki jenjangnya melangkah masuk melewati gerbang pemakaman. Ada banyak ruang di dalam sana. Dia menuntun Xin'er hingga ke sebuah ruangan.
Lu Xia Lin terdiam sejenak sebelum membuka pintu besar dan tinggi di depannya. Dia menatap Xin'er yang saat ini tengah menatap kosong pada sebuah peti di dalam ruangan itu. Setetes bulir bening perlahan menetes dari pelupuk matanya.
Lu Xia Lin memalingkan wajahnya, tak sanggup untuk melihat gadis kecil itu. Sudah cukup untuk melihatnya menangis. Kenapa di saat gadis itu berusaha untuk berdiri tegak, malah ada saja badai yang membuatnya tumbang kembali?
“Ratu,” panggil Xin'er dengan suara yang sedikit serak.
Lu Xia Lin menoleh saat namanya dipanggil. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Lidahnya terasa kelu. Dia merogoh kantong di balik pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kertas.
Lu Xia Lin memberikan kertas yang terlipat itu pada Xin'er. Xin'er menerimanya dan membuka lipatan kertas itu. Dia sedikit terkejut saat di dalamnya ada rambut berwarna merah bata. Terlebih lagi, dia tidak mengerti dengan simbol yang tergambar di secarik kertas itu.
Xin'er yang tidak tahu mengenai itu pun bertanya pada Lu Xia Lin tanpa pandangannya menoleh dari kertas itu. “Ratu, apa ini?”
Lu Xia Lin terlihat ragu, “Aku juga tidak tahu apa itu. Dia memberikannya sebelum—”
Lu Xia Lin tak menyelesaikan kata-katanya. Tanpa diteruskan pun pasti gadis kecil itu mengerti maksudnya apa.
Xin'er kembali melipat kertas itu dan memasukkannya dibalik pakaiannya, begitu juga rambut Ayahnya. Rambut Ayahnya memang berwarna merah bata, jarang orang mempunyai rambut unik seperti itu. Jadi, curiga juga tidak ada gunanya.
Xin'er menghampiri peti mati yang terletak di ruangan yang dihiasi dengan obor itu dan menyentuhnya dengan lembut seakan itu sangatlah rapuh. Dia memotong sedikit rambutnya yang juga merah bata, keturunan dari Ayahnya.
Setelah melakukan itu, dia berdoa dan bergumam. “Ayah, jika kau bertemu ibu, tolong sampaikan salamku. Aku juga ingin minta maaf karena tidak bisa melindunginya dengan baik. Semoga kalian bahagia di sana,”
Lu Xia Lin juga ikut berdoa dengan Xin'er. Jasad sang Jenderal akan dikremasi beberapa hari lagi. Untuk sementara ini, jasadnya akan disimpan di dalam peti mati.
Kremasi dilakukan supaya orang yang telah pergi akan bisa naik ke langit. Menurut mitos, jika mengubur jasad seseorang tanpa mengkremasinya maka itu berarti orang yang telah tiada itu tidak bisa kembali ke atas sana dan tetap menetap di dunia ini sebagai arwah penasaran. Dalam arti tidak berniat untuk membuatnya bebas.
Wkwkwk, itu cuman pemikiranku aja. Jangan kaitkan dengan dunia nyata karena ini bergenre fantasi!! Jadi semua di sini itu bener-bener dunia khayalanku. Arigatou kalian masih bertahan sampai sini! Bye
Prrang!!!
Aduh, ngamok lagi nih. Kabur deh, nanti kena panci!! Bye bye!!
#takutkenalemparpancidarikamu
...🌾🌾🌾...