Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 031. Mimpi yang Berbekas



Happy Reading~


"Kepalaku sakit ... "—anak itu memegang kepalanya sambil memejamkan mata menahan rasa sakit yang dia rasakan—" ... Kau siapa?" anak itu kini menatap Lu Xiao Lan dengan pandangan bertanya.


"Rupanya kau bisa lupa juga. Jadi kau tidak ingat? Padahal kau sudah dengan tidak sopan-nya menodongkan pedang ke arahku, lalu tiba-tiba pingsan di hadapanku. Menurutmu, apa yang seharusnya dilakukan padamu?" Pandangan Lu Xiao Lan menancap pada anak itu dan balik bertanya.


Anak itu terkejut. Dia bersikap waspada dan meraba sekitarnya untuk mencari sesuatu, namun tidak menemukan benda yang dicarinya.


"Kau mencari ini?"—Lu Xiao Lan mengambil sebuah pedang dan memperlihatkannya pada anak kecil itu—"Kupikir kau membutuhkan ini."


Anak itu terkejut. Dia segera mengambil pedang itu dan memeluknya. Terdapat air mata di ujung matanya.


Lu Xiao Lan yang melihatnya mengernyit, begitu pula dengan Xin'er. Mereka heran dengan sikap anak itu, terlihat sangat menyayangi pedang itu dan menganggapnya berarti.


"Sepertinya pedang itu cukup berarti bagimu. Jadi, simpanlah." ucap Lu Xiao Lan yang kini telah berbalik dan keluar dari gubuk.


Anak kecil itu hanya menatapnya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi sepertinya gadis itu baik. Jadi, sepertinya dirinya tidak perlu terlalu waspada padanya.


"Jangan terlalu diambil ke hati atas sikap nona tadi. Dia dulunya tidak seperti itu, tapi nona sekarang telah berubah. Dia tidak lagi seperti dulu, tapi aku senang. Setidaknya, nona tidak selemah dulu." Xin'er mengatakannya pada anak itu walaupun pandangannya menuju ke luar.


"Kenapa kau memanggilnya nona? Jika dia seorang nona muda, bagaimana mungkin tinggal di sebuah gubuk? Dan lagi berada di hutan yang berbahaya. Biasanya seorang nona bangsawan tinggal di rumah yang mewah dan baju yang bagus." anak itu bertanya pada Xin'er yang sepertinya dekat dengan gadis itu.


"Dia adalah ... anak kandung dari Ratu Xia, namun untuk alasan yang tidak diketahui, nona diasingkan ke sini." ucap Xin'er sambil menatap sendu.


"Ratu Xia?" anak itu bergumam, mencoba mengingat nama yang familier itu, namun dia tidak ingat di mana dia mendengar nama itu. "Itu artinya dia adalah seorang Putri? Sungguh tidak terbayangkan,"


Xin'er tersenyum samar dan kembali ke pekerjaannya. Sementara anak kecil itu kembali beristirahat karena tubuhnya belum pulih. Bergerak hanya akan membuatnya jahitannya terbuka dan tubuhnya akan bertambah sakit.


***


Di sebuah pasar, seorang gadis dengan surai merah muda dan mata magenta tengah melihat-lihat sekelilingnya yang dipenuhi dengan orang-orang yang membeli maupun menjajakan barangnya.


Dia tengah memilih barang-barang yang menurutnya bagus, namun belum menemukannya. Pandangannya tertuju pada toko antik yang ada di sampingnya.


Ada banyak pedang yang dipajang di etalase. Zhang Yui Wei memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Zhang Ji Xiao mengikutinya dari belakang dengan bingung. Untuk apa ke sini? Ini kan hanya toko barang antik.


"Untuk apa kau ke sini? Apa belakangan ini kau tertarik dengan barang antik? Seleramu sungguh tidak terduga." Zhang Ji Xiao yang mengikutinya melihat-lihat barang-barang antik yang dijual di sana.


"Diamlah,"


Di saat mereka sedang melihat-lihat, seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka berdua. Wanita paruh baya itu berdehem pelan dan membuat fokus mereka tertuju ke arahnya.


"Silahkan nona dan tuan melihat-lihat barang yang ada di sini. Jika tertarik, nona dan tuan bisa membelinya. Saya ada di sini jika butuh sesuatu." Wanita paruh baya itu berbicara dengan lembut.


Zhang Yui Wei dapat melihat ada banyak guci yang ada di sana. Ada juga aksesoris yang terpajang. Meskipun barang-barang yang ada di sini adalah barang antik, namun terlihat seperti baru. Sepertinya Wanita tua itu sering membersihkan barang-barang yang ada di sini.


Lalu dia menuju ke arah di mana guci-guci diletakkan dengan rapi. Zhang Yui Wei memperhatikan semua guci dan ada satu yang menarik perhatiannya.


Dia mengambil guci itu dan memandangnya dengan mata berbinar. Zhang Yui Wei meletakkan kipasnya dan menelisik setiap sudut guci itu. Mengkilap!


"Baiklah, aku ingin membeli dua ini." ucap Zhang Yui Wei mengambil kedua barang itu dan menunjukkannya pada wanita tua itu.


Wanita tua itu segera mengambil sesuatu untuk membungkus guci itu dan menjumlahkan total kedua barang itu. Zhang Yui Wei melirik Zhang Ji Xiao sembari tersenyum.


"Kakak, kau akan membayarnya untukku kan?"


Zhang Ji Xiao menghela nafas dan membayar barang yang dibeli oleh Zhang Yui Wei. Bagaimanapun, itu harus dia lakukan. Ada hal yang lebih penting yang dia butuhkan, jadi berkorban sedikit ... mungkin tidak apa.


Setelah itu, mereka berdua meninggalkan toko tersebut. Tujuan mereka sekarang adalah untuk kembali ke Kediaman Zhang.


Di kereta, Zhang Yui Wei memeluk guci yang dibelinya tadi dengan senang. Sementara kipasnya diletakkan di sampingnya. Zhang Ji Xiao yang duduk di hadapannya menatap heran pada adiknya.


"Benarkah hanya ini yang kau minta?"


"Ya, hanya ini."


Zhang Ji Xiao menghela nafas lega. Setidaknya, adiknya tidak benar-benar menguras habis kantongnya. Jika tidak ... dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa uang jajan.


Keduanya tidak mengatakan apapun lagi sampai akhirnya mereka telah tiba di kediaman Zhang. Zhang Yui Wei turun dari kereta kuda dengan dibantu oleh Kakaknya.


"Baiklah, sampai jumpa. Aku ingin pergi ke paviliun."


Zhang Yui Wei meninggalkan Zhang Ji Xiao dengan raut wajah bahagia sambil membawa kedua belanjaannya. Sementara Zhang Ji Xiao diam mematung. Bukan ini tujuannya ...


Sementara Zhang Yui Wei kini tengah meletakkan guci itu di rak yang khusus untuk menempatkan barang, baik untuk hiasan atau bukan. Dia meletakkan kipasnya di meja samping tempat tidurnya.


Zhang Yui Wei membaringkan tubuhnya. Jujur saja, perjalanan tadi cukup melelahkan. Apalagi dirinya masih belum terlalu terbiasa dengan tubuh seorang anak kecil. Dan lagi, tubuh ini sedikit lemah dan rentan, sedikit menyulitkannya.


Namun, dia bersyukur atas kehidupan keduanya yang telah dia rasakan, walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Zhang Yui Wei menatap langit-langit dan menjulurkan tangannya seperti sedang meraih sesuatu, dan bergumam.


"Siapa gadis itu?" gumam Zhang Yui Wei.


Dia masih ingat rupa gadis yang ada di mimpinya. Mimpi itu ... seperti menghantuinya. Walaupun hanya sekali, namun itu berbekas di ingatannya. Itu terjadi saat dirinya pingsan di kamar mandi.


Sebenarnya, setelah mimpi mengerikan itu, masih ada mimpi lainnya. Namun, dia tidak ingin membahas itu lagi.


...🌾🌾🌾...