Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 006. Apa Ini Air Mata?



Gadis yang dipanggil Lian Qiyue itu tersenyum hangat. Qiyue merangkul pundak Hua Lin dan berkata, "Bagaimana? Bukankah misi ini sangat cocok untukmu?"


"Memang kau yang paling mengerti aku, Yue'er!" ucapnya memeluk erat sahabatnya.


"Tentu saja. Bukankah kau sangat beruntung?" ucapnya dengan narsis.


Hua Lin tersenyum tak berdaya melihat tingkah narsis sahabatnya. Dia menyesal telah memuji Qiyue. Qiyue langsung mengubah ekspresinya dan langsung mencabut kertas misi itu.


"Baiklah, ayo kita mulai mengerjakan misi" ucapnya bersemangat.


Hua Lin hanya terdiam di tempat sambil menunduk. "Qiyue, apa kau tidak keberatan mengerjakan misi ini? Kalau iya, kita ganti misi saja yang lebih mudah, bagaimana?" ucapnya tiba-tiba yang membuat Qiyue terkejut.


"Hua Lin, apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Qiyue tidak mengerti.


"Kita berdua adalah partner, tapi setiap misi yang kita kerjakan hanya berdasarkan keinginanku. Aku—" ucapannya terhenti. Dia tidak lagi melanjutkan perkataannya dan merasa bersalah.


"Tidak perlu khawatir. Lagi pula, aku juga suka mengerjakan misi sulit seperti ini" ucapnya dengan senyum hangat.


"Baiklah, ayo kita berangkat" ucap Hua Lin sambil menepuk pelan pundak Qiyue.


Qiyue hanya mematung di tempat sambil terus memandangi Hua Lin yang mulai menjauh darinya. Tatapannya yang sendu tengah menatap ke bawah.


Tik...


Tanpa sadar air mata menuruni wajah cantiknya. Qiyue mengusap air mata itu dan menatap tangannya yang basah.


"Apa ini air mata?" tanyanya dengan bergumam.


Qiyue dengan cepat menghapus air matanya dan segera menyusul Hua Lin dengan berlari karena telah tertinggal jauh.


***


Akhirnya kini mereka telah sampai di tempat ilmuwan itu. Tempat itu adalah Rumah Sakit yang sudah tidak terpakai, menimbulkan kesan horor.


"Baiklah, kita berdua akan berpencar untuk mencarinya. Qiyue, kau ke arah sana. Dan aku akan ke sana. Jika menemukan sesuatu, kabari aku" ucap Hua Lin dengan berlari.


Di saat Qiyue masih berjalan melewati lorong untuk mencari target, tiba-tiba seseorang muncul di belakangnya sambil menatap dengan pandangan gelap.


"Jangan lupa lakukan tugasmu, atau aku sendiri yang akan turun tangan dan membuatnya mati mengenaskan" ucap seseorang di belakang Qiyue, kentara kalau itu adalah suara seorang wanita.


Tubuh Qiyue seketika menegang saat mendengar suara itu, suara yang familier baginya. Bulu kuduknya pun sudah berdiri, tangannya masih tetap gemetaran walaupun Qiyue berusaha untuk mencengkeramnya sekuat apapun


"K-kau—" ucapnya dengan suara bergetar dan membalikkan badan untuk menghadap ke wanita misterius itu.


"Apakah ancamanku hanyalah sekedar omong kosong belaka? Aku sudah memeringatkan dirimu, tapi kau tidak mau dengar. Kalau begitu, aku saja yang menghabisinya, kebetulan aku sudah membawa senjata yang cocok" ucap wanita misterius itu dengan suara dingin dan menatap pedang di tangannya dengan pandangan dingin pula.


Qiyue bergidik ngeri melihat tatapan wanita misterius yang haus akan darah. Dirinya sudah ketakutan setengah mati hanya dengan melihat tatapan wanita misterius itu.


"Aku percaya kau tidak akan menolak. Aku akan menunggu kabar baiknya. Jadi, jangan kecewakan aku" ucap wanita misterius itu berjalan menuju ke arah Qiyue dan menepuk pundak Qiyue sambil mencengkramnya dengan kuat.


Kemudian, dia menghilang bagai debu yang tertiup oleh angin. Qiyue menengok ke kanan kiri dan tidak mendapati siapapun di sana.


"Hufff...untunglah dia sudah pergi. Aku baru bisa bernafas" ucapnya terduduk dengan bernafas lega.


Sedari tadi nafasnya tercekal, jantungnya berpacu kencang hanya dengan tatapan dingin wanita misterius itu.


"Oh iya, aku harus segera mencarinya" ucapnya dengan cepat bangkit dan segera berlari secepat mungkin.


Saat berbelok, Qiyue berpapasan dengan Hua Lin yang tengah menendang pintu hingga membuat pintu yang terkunci itu langsung terbuka.


Hua Lin menoleh ke arah samping dan mendapati Qiyue yang tengah terengah-engah karena berlari sedari tadi tanpa berhenti.


Keduanya pun masuk ke dalam untuk menangkap ilmuwan itu. Di sana, seorang pria yang terkejut karena tendangan Hua Lin yang merobohkan pintu langsung menetralkan ekspresinya.


"Heh, sekarang mereka mengirim dua orang gadis? Sepertinya mereka sekarang telah meremehkan standarku, ya" ucap Ilmuwan itu dengan ekspresi seperti orang gila.


Ya, memang, dia memang sudah gila. Dulunya dia adalah ilmuwan yang sangat terkenal. Ilmuwan termuda itu memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya.


Namun, karena keirian seseorang atas pencapaiannya, kekasihnya pun menjadi korban. Ilmuwan itupun merasa sangat terpukul dan juga marah, perasaannya bercampur aduk.


Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang ilmuwan dan mulai membuat penelitian ilegal tentang manusia dan tak segan-segan untuk membedah tubuh manusia, bahkan anak-anak atau bayi sekalipun.


Sekarang, ilmuwan itu telah berubah menjadi seorang pembunuh, dia sangat suka saat mendengar jeritan korbannya saat dia sedang membedahnya.


Oke, back to story...


"Menyerahlah, karena aku tidak akan segan-segan membunuh dirimu, br**gs*k!!" ucap Hua Lin dengan penuh penekanan.


"Ahahahahaha!!! Kau! Ingin membunuhku?!! Hahaha!!! Baiklah, tunjukkan kemampuan-mu padaku!!" ucap ilmuwan itu dengan tertawa gila.


Dorrr!!! Dorrr!!! Dorrr!!!


Hua Lin langsung mengambil pistolnya dan menembak ilmuwan itu dan mengenai kaki kiri dan tangan kanannya.


"Aaakkhhh!!!"


Ilmuwan itu menjerit kesakitan saat tembakan itu mengenai dirinya. Namun, dia dengan cepat bangkit dan menyerang Hua Lin dengan marah.


Hua Lin terus menghindar, menahan, dan menangkis semua serangan yang diberikan oleh ilmuwan itu. Jujur, dia cukup bosan sampai menguap.


"Beraninya kau meremehkan aku??!!!" ucap Ilmuwan itu dan menyerang Hua Lin dengan semakin brutal, namun gerakannya acak-acakan.


Hua Lin mulai serius dan langsung menangkap pukulan yang ditujukan kepadanya dan memuntir tangan kanannya dan membuat darah keluar dari bekas tembakan.


Ilmuwan itu makin marah dan menyerang Hua Lin dengan tangan kirinya, namun berhasil di tahan oleh Hua Lin.


Hua Lin langsung menendang perut Ilmuwan itu dengan keras hingga membuat Ilmuwan itu menabrak meja dibelakangnya dan membuat meja itu rusak. Punggungnya pun jadi terluka.


"Ssshhh"


Ilmuwan itu mendesis karena sakit yang ia rasakan di punggungnya. Dia berusaha untuk bangkit, namun kembali terjatuh. Tubuhnya tak sanggup untuk berdiri.


"Sepertinya misi ini cukup mudah ya?" ucap Hua Lin dengan senyum puas dan membalikkan badan.


"Cepatlah!!!" ucap suara wanita misterius yang ditemui(?) oleh Qiyue beberapa saat yang lalu dengan mendesis.


Qiyue dengan tangan gemetar mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada Hua Lin. Dia telah siap untuk menarik pelatuknya.


"Apa yang—?!" tanya Hua Lin saat melihat Qiyue mengarahkan pistol ke arahnya. Namun, ucapannya terhenti oleh suara tembakan yang bergema.


Doorrr!!!


Mata Hua Lin membesar karena terkejut. Dia melihat ke arah Qiyue dengan mata terpaku. Lalu pandanganmya teralihkan ke belakang.


Hua Lin dapat melihat seorang pria yang bersimbah darah. Darah itu mengucur keluar dari dada kirinya. Sepertinya, Qiyue memang ingin mengarah ke jantung Ilmuwan itu.


"Sepertinya dia sudah mati" ucap Hua Lin yang telah memeriksa nadi dan nafas pria itu, namun tidak ada detak jantung maupun nafas.


*Doorrr!!!


...🌾🌾🌾*...