
Episode sebelumnya .....
Setelah melakukan itu, dia berdoa dan bergumam. “Ayah, jika kau bertemu ibu, tolong sampaikan salamku. Aku juga ingin minta maaf karena tidak bisa melindunginya dengan baik. Semoga kalian bahagia di sana,”
Lu Xia Lin juga ikut berdoa dengan Xin'er. Jasad sang Jenderal akan dikremasi beberapa hari lagi. Untuk sementara ini, jasadnya akan disimpan di dalam peti mati.
Kremasi dilakukan supaya orang yang telah pergi akan bisa naik ke langit. Menurut mitos, jika mengubur jasad seseorang tanpa mengkremasinya maka itu berarti orang yang telah tiada itu tidak bisa kembali ke atas sana dan tetap menetap di dunia ini sebagai arwah penasaran. Dalam arti tidak berniat untuk membuatnya bebas.
Wkwkwk, itu cuman pemikiranku aja. Jangan kaitkan dengan dunia nyata karena ini bergenre fantasi!! Jadi semua di sini itu bener-bener dunia khayalanku. Arigatou kalian masih bertahan sampai sini! Bye
Xin'er's Story End
***
Tak terasa beberapa hari telah berlalu. Malam ini adalah waktu di mana festival akan diadakan. Tentu saja akan sangat meriah dan akan ada banyak orang yang datang. Tak terkecuali dengan gadis bersurai merah muda—Zhang Yui Wei.
Gadis itu juga bersemangat untuk malam nanti, namun rasanya ini terbalik. Hua Hua malah terlihat lebih bersemangat daripada dirinya.
“Sepertinya kau sangat menantikannya,” gumam Zhang Yui Wei dengan sebuah senyuman yang mengembang seperti roti. wkwkwk
“Nona, anda harusnya lebih bersemangat. Ini pertama kali nona berinisiatif untuk datang ke festival. Biasanya kan nona ke festival karena terpaksa,”
Ya, Zhang Yui Wei yang dulu seperti pendiam dan kalem. Namun, ia merasa kalau gadis itu sesungguhnya tidak begitu. Setiap bertemu arwah Zhang Yui Wei yang gentayangan di sekitarnya, gadis itu sangat cerewet dan tidak bisa diam.
“Hua Hua ..... Menurutmu seperti apa diriku yang sekarang?” tanya Zhang Yui Wei iseng.
“Seperti apa, ya? Saya bingung ingin mengatakan apa. Tapi, saya senang dengan perubahan nona. Bisa dibilang sekarang nona lebih jujur dengan perasaan nona,” jawab Hua Hua dengan senyuman yang mengembang seperti roti, tanpa pengawet dan pemanis buatan.
“Perasaanku?” lirihnya sambil mengepalkan tangan di dadanya.
Hua Hua menyisir rambut merah muda milik Zhang Yui Wei dan menatanya dengan sederhana sesuai selera dari gadis itu yang menurutnya sedikit berubah. “Baiklah nona, anda telah siap. Apakah ini memuaskan?”
“Ehmm.” jawab Zhang Yui Wei sambil menatap dirinya di cermin.
Hua Hua meletakkan tangannya di bahu kecil Zhang Yui Wei dan juga melihat pantulan keduanya di cermin. Dia tampak puas dengan 'hasil karyanya'.
“Pernahkah nona berpikir kalau nona itu imut?”
Imut? Dia tidak pernah memikirkan hal itu. Apakah dia memang imut? Tapi 'imut' malah membuatnya merasa dirinya adalah lolly. Walaupun usianya baru 14 tahun, namun sebentar lagi ia akan dewasa.
Oke jangan bahas lolly lagi. Adakah pecinta lolly di sini?
“Hua Hua, mengapa kau melayaniku?” Sebuah pertanyaan tak terduga tiba-tiba saja terlontar dari bibir mungil gadis itu.
Hua Hua mengernyit. Mengapa ia melayani Zhang Yui Wei? Bukankah itu cukup jelas—karena ia adalah pelayan pribadinya? Kenapa dipertanyakan? Jika ini menyangkut tentang pribadi ..... entahlah. Dia tidak tahu.
***
Matahari kini mulai 'bersembunyi lagi' untuk berganti shift dengan bulan. Waktu hampir mepet untuk pergi ke festival. Namun, menurut Zhang Yui Wei ini masih lenggang. Waktu festival dimulai adalah beberapa jam lagi. Jika diperkirakan, ini masih pukul 5 sore. Sedangkan waktu mulai festival diperkirakan pukul 9 malam. Sangat renggang, bukan?
“Nona, cepat bersiap-siap!” ucap Hua Hua sambil 'sedikit mendorong' tubuh mungil Zhang Yui Wei. Gadis kecil itu masih mengucek matanya yang berair akibat menguap setelah tidur siang.
Dengan malas dia mengeluh pada Hua Hua, “Bukankah ini masih sore? Setidaknya nanti saja, kan masih lama.”
Hua Hua menghela nafasnya. Rasanya 'sedikit greget' dan ingin 'mengusap' pipi Zhang Yui Wei. “Tidak tidak, tidak bisa. Anda harus bersiap sekarang.”
Mungkin sekarang ia tahu kenapa Zhang Yui Wei jarang ikut ke festival. Pasti karena 'bau wangi' yang 'harum', lebih menyengat dari biasanya. Apalagi durasi mandinya menjadi lebih lama. Hampir 1 jam! Tidakkah kulitnya nanti akan keriput?
Dan lagi harus memakai hiasan kepala khas yang dipakai untuk wanita China zaman dulu. Bisa dibilang cukup berat, rasanya seperti 'catatan hutang yang menumpuk! Menunggu untuk dibayar'.
“Nona, anda mau pakai yang mana? Apakah yang saya bawa ini cukup bagus? Atau anda ingin yang lain?”
Jelas saja, di sini yang antusias hanya Hua Hua, sedangkan Zhang Yui Wei hanya *B aja*.
“Sepertinya kau ingin ikut juga? Kau bisa pergi bersamaku.” ucap Zhang Yui Wei yang terlihat acuh.
Hua Hua tentu saja terkejut dan langsung gugup. Ia melambaikan tangannya beberapa kali. “Tidak! Mana mungkin saya ikut? Saya tidak akan ikut Nona. Nona bersenang-senang saja tanpa saja.”
Suasana seketika hening.
Hua Hua menelan ludahnya susah payah. “Setidaknya katakan sesuatu, Nona.”
“Baiklah, pilih saja yang ini.” suara imut dan acuh itu membuyarkan Hua Hua. Ternyata sedari tadi Nona muda itu tengah memilih pakaian.
Ia menatap pakaian yang ditunjuk oleh Zhang Yui Wei. Warna peach, warna yang kalem. Hiasannya juga tidak terlalu banyak. Apakah selera nona ini berubah? Biasanya dia menyukai pakaian dengan banyak hiasan.
Hua Hua tanpa menunggu lagi langsung membalut Zhang Yui Wei dengan pakaian warna peach. Ini agak sedikit menyatu dengan warna kulitnya yang sedikit pucat. Kulit yang sedikit pucat ini dia warisi dari Ayahnya, Zhang Xiuzhu.
Setelah di lapisi dengan bedak sekilo yang membuat wajahnya kaku, juga lipstik yang membuat merasa tidak nyaman karena rasanya seperti habis makan puluhan gorengan. Akhirnya sekarang Zhang Yui Wei siap untuk fashion show.
“Nona, anda terlihat cantik.”
Zhang Yui Wei mencibir. “Cantik? Aku tidak merasa begitu. Mungkin lebih tepatnya mirip tembok.”
Hua Hua hanya tersenyum tak berdaya. Ia sesekali merapikan rambut nonanya yang sedikit keluar dari jalurnya.
“Sekarang nona sudah siap. Bagaimana, nona?”
Zhang Yui Wei hanya diam saja. Ia masih tak terbiasa pada riasan seperti ini. Pada akhirnya ia seperti seorang badut.
“Tidak buruk.” kemudian, pandangannya beralih pada jendela yang terbuka. Angin sedikit berhembus dan membuat gorden tipis yang tembus pandang sedikit berkibar di bagian bawah.
Hua Hua tersenyum. “Waktunya nona berangkat. Sepertinya mereka telah menunggu.”
...🌾🌾🌾...
Yah, dah abis deh .....
Nantikan Ch selanjutnya, ya! Bye bye👋