
Travel in a Different World Ch 39
Episode sebelumnya ....
Zhang Yui Wei masih mencari Siyu Hua, namun sampai saat ini belum bertemu dengan wanita tua itu. Ia merasa lelah karena telah menelusuri setengah dari kediaman Zhang. Oh ayolah, bahkan kediaman Zhang lebih besar dari sebuah lapangan sepakbola.
Ia telah mencari Siyu Hua ke Paviliun Zhang Jiu Zhi, Paviliun Zhang Ji Xiao, Paviliun Ibunya, kediaman pelayan yang pastinya kosong karena mereka sedang bekerja, bahkan ke tempat pelatihan untuk prajurit.
Hei, berhenti. Kenapa malah sampai mencari ke tempat pelatihan prajurit? Dia sedang mencari Neneknya, bukan mencari penjaga untuk kediamannya.
“Sebenarnya, di mana Nenek? Sulit sekali mencarinya.” keluh Zhang Yui Wei.
‘Tunggu, ada satu tempat yang belum dibedah. Mungkin saja Nenek ada di sana!’
***
Zhang Yui Wei langsung bergegas menuju taman. Tempat itu masih belum ditelusuri. Mungkin saja Neneknya ada di sana.
Dan, benar saja. Siyu Hua saat ini tengah duduk sambil meminum secangkir teh. Walaupun sudah berusia paruh baya, namun keanggunannya masih melekat. Tidak ada perubahan dari sikap, hanya perubahan tubuhnya yang kini menjadi sedikit keriput.
“Nenek, akhirnya aku menemukanmu!”Siyu Hua menoleh, mendapati cucunya yang tengah berlari ke arahnya. Wanita tua itu tersenyum dan membiarkan Zhang Yui Wei untuk duduk bersamanya. Syukurlah, sepertinya cucunya tidak marah lagi padanya.
Zhang Yui Wei mengambil tempat duduk di samping Neneknya saat Siyu Hua sedang menyesap tehnya. “Nenek, aku mencarimu ke mana saja. Bahkan aku hampir menjelajahi semua isi kediaman ini.”
Siyu Hua tertawa kecil, mengira kalau Zhang Yui Wei hanya bercanda saja. Namun, memang itu kenyataannya. Zhang Yui Wei merasa tulangnya tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya setelah berkeliling selama berjam-jam. Rasanya Zhang Yui Wei tidak bisa merasakan kakinya.
Saat berjalan saja ia tak merasakan kakinya menapak tanah. Tapi ia bukan hantu yang tidak memiliki kaki!
“Syukurlah, sepertinya kau sudah tidak marah lagi padaku.” ucap Siyu Hua sambil menghela nafas.
“Nenek, aku memikirkan perkataan Nenek semalam. Dan aku memiliki perjanjian untuk dilakukan denganmu.”
Perjanjian? Siyu Hua merasa tertarik pada ucapan Zhang Yui Wei dan segera bertanya. “Oh, ya? Perjanjian apa yang ingin kau buat dengan Nenek?”
Zhang Yui Wei tersenyum. Sepertinya ini akan berjalan mulus. “Yah, perjanjiannya adalah .... 1) Aku tidak ingin menikah sekarang. 2) Aku tidak ingin dijodohkan, hanya ingin dengan pasangan yang kucintai. 3) Aku tidak akan menikah sampai umurku 17 tahun, itu keputusanku. Dan yang terakhir .... ”
Siyu Hua mengernyit, ia merasa penasaran dengan perjanjian yang terakhir. “Dan yang terakhir?”
Zhang Yui Wei menarik nafas dan menjawab. “Jika seandainya Kakak Jiu Zhi atau Kakak Ji Xiao menikah dalam 1 tahun ke depan,, maka aku akan menikah saat umurku 16 tahun”
Suasana mendadak hening. Padahal ia telah mengatakan perjanjian itu dengan percaya diri, namun apa-apaan suasana ini? Ini tidak sesuai ekspektasinya. Dan lagi, ekspresi Siyu Hua yang tak terbaca, membuatnya sulit untuk mengetahui isi pikiran wanita tua itu.
Sebuah senyuman terukir di wajah Siyu Hua yang tak lagi muda, namun kecantikan alaminya tidak luntur. Zhang Yui Wei mendadak ingin menarik perjanjian terakhirnya, namun apakah bisa?
Siyu Hua menyuruh pelayan yang lewat untuk mendekat dan memberi perintah. “Tolong ambilkan kertas dan tinta untuk Yui'er.”
Pelayan itu segera pergi untuk mengambil barang yang diminta. Tak perlu menunggu terlalu lama, pelayan itu membawa kertas, tinta dan juga kuas untuk menulis.
Zhang Yui Wei mengambil ketiga barang itu dari pelayan dan mulai menulis isi perjanjian. Sedangkan pelayan tadi telah pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. “Baiklah, seperti ini dan seperti ini, lalu seperti ini .... Dan, siap.”
Zhang Yui Wei meng-angin-anginkan kertas itu supaya tinta yang tertulis di kertas sedikit kering. Paling tidak, tintanya tidak akan meleber kemana-mana.
Siyu Hua menerima kertas itu dan membaca isi kertasnya. Ia berdecak kagum saat tengah membaca kertas itu. “Yui'er, tulisanmu bagus dan rapi. Sepertinya kau sangat mahir dalam menulis.”
Zhang Yui Wei mendadak merasa bangga. Memang tulisannya sangat bagus, dan tak jarang orang-orang memujinya. Saking banyaknya pujian, sampai membuatnya tidak lagi mempan dengan pujian. ‘Tentu saja, Nenek. Jangan pernah meremehkanku. Biarpun tubuhku masih remaja, tapi jiwaku telah dewasa.’
Zhang Yui Wei mengambil kembali kertas itu dari tangan Siyu Hua. “Baiklah, jadi apakah Nenek menyetujuinya?”
Siyu Hua hanya mengangguk. “Iya.”
Baiklah, sekarang misinya telah selesai. Sekarang waktunya kembali. Pasti gadis itu telah menunggunya sangat lama.
Hua Lin segera kembali ke Paviliun Zhang Yui Wei untuk menemui gadis itu setelah perjanjian selesai. Ia yakin, gadis itu pasti penasaran dengan apa yang dilakukannya.
Memang benar, Zhang Yui Wei saat ini tengah menunggu Hua Lin kembali. Ia tak pergi kemanapun, hanya berada di kamarnya dan menunggu.
Zhang Yui Wei menghela nafas. “Sebenarnya Kakak cantik ada di mana? Lama sekali,”
Beberapa lama kemudian, pintu terbuka. Namun, yang datang bukan orang yang ia harapkan. Itu adalah Hua Hua yang tengah mengecek apakah Zhang Yui Wei ada di kamar atau tidak. Tentu ia tak melihat Zhang Yui Wei yang eksistensinya seperti udara.
“Nona tidak ada di kamarnya. Ke mana dia pergi?”
Setelah bergumam, Hua Hua menutup pintu dan pergi. Zhang Yui Wei menghela nafas. Rasanya ia seperti maling yang kepergok mencuri. Padahal ia adalah si pemilik kamar, tapi rasanya jadi berbeda karena ia hanya sebuah roh.
Krieet
Pintu terbuka dan seorang gadis masuk ke kamar. Zhang Yui Wei yang tadinya lesu menjadi bersemangat saat melihat Hua Lin yang datang. Ia langsung menghampiri gadis itu dan bertanya.
“Kakak cantik, kau ke mana saja? Aku dari tadi menunggumu lama sekali! Oh, kau bilang ingin melakukan perjanjian. Perjanjian apa? Katakan padaku!”
Hua Lin hanya tersenyum tak berdaya saat ia dilempari banyak pertanyaan dari Zhang Yui Wei. Ia baru sadar, ternyata gadis ini sangat cerewet. Padahal saat awal bertemu, gadis ini terlihat kalem dan pendiam. Sepertinya ia telah salah.
“Lihat saja sendiri dengan mata hantumu itu.”