
Di suatu tempat dimana terdapat sebuah goa di sana. Terlihat jika lingkungan di sana sama sekali tidak ada kehidupan.
Shinggg…
Cahaya redup muncul didepan goa bersamaan dengan kedatangan keempat pria tampan.
"Bocah, apa benar ini tempatnya?" Arcas berucap sambil menelan salivanya kasar. Padahal mereka baru saja sampai di sana tapi entah kenapa dia sudah ngeri duluan.
"Kalau takut kau bisa tunggu disini. Aku tak perlu membawa seorang pengecut." ketus Kevin.
Wajah Arcas seketika menghoror, lagi-lagi dia diremehkan oleh bocah tengik tak tau sopan satun.
"Siapa bilang aku takut. Ayo masuk!" Arcas dengan pedenya memasuki goa tersebut.
"Idihh sok berani, coba saja melangkah lagi. Akan ku pastikan jika kau akan mati..." Kevin melipat kedua tangannya.
Mendengar itu tubuhnya langsung membatu. Dia kembali sadar jika dia sudah hampir masuk kedalam goa. Pria itu langsung berlari menuju Raphael dengan wajah pucat.
"Kau masuk tanpa persiapan, tentu saja akan mati bodoh!" Raphael berdecak kesal.
Brukk!
Suara benda jatuh itu membuat mereka bungkam sesaat. Dengan refleks mereka melengos kebelakang dan mendapati jika Keanu sudah tak sadarkan diri, dengan hidung yang mengeluarkan darah.
"Keanu!!" Arcas segera menghampiri Keanu dengan wajah cemas diikuti oleh Raphael.
Sedangkan Kevin, bocah itu masih nyaman ditempatnya, "Hahh… karena jiwanya lebih lemah dari kalian berdua jadi wajar jika dia lebih dulu tumbang."
Badan Arcas langsung bergetar, "Tumbang?"
"Huhuhu… walaupun dia ngeselin dan suka ceramah kayak kakek-kakek, tapi dia tetap sahabatku..."
Arcas langsung memeluk tubuh Keanu erat. "Jangan mati Keanu… Huaaaaaa...nanti siapa yang akan jadi kakek ku lagi!!!" rengek Arcas.
Bukkk!!
Uhuk-uhuk…
"Woy bocah, kenapa kau menendang punggung ku! Tidak liat jika aku sedang sedih hah?!" seru Arcas.
"Oh jadi kau sedang sedih?" cueknya, "Trus siapa yang bilang jika teman mu sudah mati, bodoh..."
"Hahh? Tapi tadi kau bilang jika Keanu sudah tumbang."
"Iya, maksudku pingsan bukannya mati."
"Ta-tapi… Tumbang itu sebutan untuk orang yang sudah gugur dalam arti besar mati bocah!!"
Karena itulah Arcas terus memaki Kevin yang bisa-bisanya mempermainkan dirinya. Mungkin jika ia harus menulis dibuku seberapa kesalnya ia kepada Kevin. Mungkin saja buku yang ada di seluruh dunia akan habis ia coret-coret dengan isinya segala hujatan untuk Kevin.
"Cukup! Jangan membuang-buang waktu." Raphael mengerang geram karena sudah menghabiskan banyak waktu, hanya untuk membuat tubuh baru.
"Nah iya betul! Aku akan menempa kalian dulu sebelum menghadapi Beast itu."
Hampir saja lupa…
Takk!
Kevin langsung menjentikkan jarinya. Seketika muncul api biru yang sangat dingin melahap ketiga pria itu. Rasa sakit menusuk sampai tulang dan jantung mereka. Bahkan mereka merasakan peredaran darah mereka bertambah cepat dan terasa sangat menyakitkan. Kulit mereka lama-lama membiru karena menahan kobaran api itu.
Disisi lain Kevin masih menunggu mereka selesai menempa tubuh mereka masing-masing dengan kemampuannya sendiri.
Tenang saja api itu tak akan membunuh mereka. Dia juga tidak akan membiarkan mereka bertiga mati.
Saat sedang menunggu, Kevin menyadari ada sepasang mata besar yang mengawasinya dari dalam goa.
Anak itu dengan santainya duduk di atas batu tepat di samping goa tersebut. Diam-diam dia tersenyum karena akan segera menonton adegan menarik yang akan dimainkan oleh ketiga pria itu serta Beast tersebut.
Kevin menatap langit yang berwarna merah hitam dengan tatapan hambar, "Entah kenapa aku seperti orang jahat yang ingin segera menantikan adegan berdarah..."
Tak lama setelahnya, salah satu dari ketiga pria itu selesai menempa tubuhnya. Siapapun yang berhasil menempa tubuh lebih dulu berarti jiwa mereka sudah cukup kuat. Dan tentu saja orang itu adalah Raphael.
"Sudah selesai?"
Raphael mengangguk pelan.
"Gimana rasanya?"
"Lumayan... baru penempaan dasar sudah dapat memberikan keuntungan yang berlimpah. Entah karena bakat mu atau karena kemampuan api ku yang sangat hebat, hahaha.." Kevin tertawa puas.
"Rasanya seperti mendidik seorang mur-" belum sempat melanjutkan kata-katanya. Tatapan mata Raphael seperti sudah siap mengacak-acak organnya hingga berserakan.
Gleeg…
Kevin langsung melempar tatapannya kearah Arcas yang kebetulan juga sudah selesai menempa tubuhnya. Bersamaan dengan Keanu yang tiba-tiba sudah kembali sehat setelah ditempa.
"A-ahh kalian sudah selesai ya... Cepat masuk kedalam goa." canggung Kevin karena masih merasakan tatapan lekat Raphael.
"Ehem…! Bukankah kita harus membuat rencana dulu?" Raphael mengerutkan keningnya menatap tajam Kevin. Suaranya masih saja dingin seperti sebelumnya.
"Ha-haha iya, harusnya seperti itu… Tapi seperti tidak perlu." jawab Kevin masih terlihat canggung.
"Kenapa tidak perlu? Menyusun rencana sangat penting sebelum menyerang musuh." Keanu melirik sekilas kedalam goa, ia tadi sempat mendengar adanya pergerakan didalam sana. Mungkin pendengaran tajam merupakan kemampuannya saat ini.
Karena perkataan Keanu, Kevin langsung menampakan senyum cerianya. Anak itu turun dari atas batu dan bergeser sedikit agar lebih jauh dari goa.
Tingkah anehnya ternyata dilihat oleh Raphael, "Jangan bilang…" gumamnya.
Kevin tersenyum makin lebar, "Kita tak perlu menyusun rencana untuk menyerangnya..."
"Karena dia sudah dari awal mengetahui keberadaan kita!" Kevin langsung mengubah senyumannya menjadi seram.
Raphael seketika tersentak, "Menghindar!!!"
BRAKKKM…!!!
Krakk.. Wosshh…!!
Ledakan itu menyebabkan debu berterbangan dan menciptakan badai pasir yang sangat panas. Bahkan sangat mampu membuat siapa saja matang saat diselimuti oleh pasir itu.
Namun pengecualian untuk orang yang memiliki kemampuan, mereka akan baik-baik saja.
……………………………………………
Diantara badai pasir terlihat seorang pria yang sedang berlindung. Saat ini Raphael terpisah dengan sahabatnya serta adik jahatnya. Pria itu terlihat sedang bersembunyi dibalik batu besar yang jaraknya tak jauh dari goa. Badai pasir tak membuat dirinya kesulitan karena tubuhnya sudah ditempa.
GROOOOAAAAARRRRR!!!
Suara Beast yang berasal dari dalam goa mengguncang tempat tersebut.
"Mengerikan... hanya karena gerakan dan suaranya saja sudah membuat dampak semengerikan ini." gumam Raphael menggenggam pedangnya erat.
Disisi lain, Arcas dan Keanu sedang bersembunyi disela-sela tanah yang retaknya cukup dalam. Sungguh tadi sangat membuat mereka syok namun sebisa mungkin mereka kontrol.
"Hosh…Hosh… Hosh… Sebenarnya wujud Beast itu seperti apa?" Arcas menepuk-nepuk dadanya sesak.
"Aku tidak yakin seperti apa. Tapi suaranya sangat kencang, telinga ku bahkan dalam sekejap mati rasa." Keanu menimpali.
Kevin dan keluarga Alaric sedang menonton dari atas langit. Kevin sengaja membuat dimensi kaca agar keluarganya bisa melihat namun tidak bisa merasakan apa yang ketiga pria itu rasakan.
Dari dalam pelindung lotus, ia mendengar jika ibunya meminta dirinya menolong ketiga pria itu. Namun bukan Kevin namanya jika menurut dan menghilangkan rada cueknya.
"Aku sudah tau jika mereka tak akan mampu melawan Beast tingkat Raja. Makanya aku akan membantu setelah mereka kelelahan." batin Kevin.
"Walau mereka akan terluka parah nantinya pasti darah dingin yang ada ditubuh mereka akan langsung membuat tubuh mereka sebuh kembali, dan akan tetap menjaga kesadaran mereka."
………………………………………………
Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺
(Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next