
Queen yang mendengar ringisan itu segera melihat kearah cengkramannya, "Ah! Maaf." ucap Queen langsung tersadar, jika dia melukai pria yang ada didepannya.
Queen ingin menarik tangannya dari pundak Raphael, karena merasa tidak enak, tapi pria itu menahannya, "Jangan dilepas." bisik Raphael, sambil menggenggam tangan Queen dan menaruhnya kembali dipundaknya.
"Ada apa dengan bocah ini?" bingung Queen, "Harusnya dia menegur ku bukan? Tapi apa-apa ini." batin Queen tidak mengerti dengan pemikiran pria itu.
Mereka terus berdansa, tapi Queen sama sekali tidak terfokus pada gerakan dansanya dan selalu menginjak kaki Raphael, tapi untuk sekian kalinya Raphael tidak merasa keberatan dengan hal itu, lagipula ini tidak menyakitinya.
"Kenapa lagunya lama sekali sih?" binggung Queen pelan, Raphael yang mendengar itu segera menjawab, karena tidak mau membuat wanitanya kebingungan.
"Itu wajar, karena ini lagu ketiga, dan akan sedikit lebih lama dari lagu pertama dan kedua." jawab Raphael menerangkan, sambil menatap mata Queen yang sungguh membuatnya terlena.
Saat Raphael sedang menerangkan, Queen sama sekali tidak menjawab maupun merespons ucapannya, dia masih sibuk bergulat dengan batinnya, "Kenapa lama sekali? Apa lagu ketiga begitu lama? Aku benar-benar sudah tidak tahan!" ricau Queen sedikit pusing.
Queen melirik kearah Alvarez berada, dan dia melihat bahwa Alvarez sedang berdansa dengan seorang wanita, tapi dia tidak peduli siapa wanita itu, karena Queen dapat melihat jika wanita itu tidak terlalu buruk.
Dia trus menatap kearah Alvarez, berharap bocah itu juga melihatnya dan mengetahui keadaannya sekarang, "Bocah sialan! Lihat kesini bodoh! Kenapa kau malah melihat lantai?! Apa lantai begitu menarik dari pada aku? Dan setidaknya lebih menarik dari wanita yang menjadi pasangan mu?!" batin Queen kesal, sambil terus melempar tatapan matanya mengikuti setiap gerak gerik Alvarez.
Tapi Queen sama sekali tidak mengetahui bahwa ada seorang pria yang sakit hati melihatnya menatap pria lain, lalu mengabaikannya, dan dia adalah Raphael, "Sakit sekali melihat mu memandang pria lain..." lirih Raphael dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Queen semakin dibuat pusing karena terus berdekatan dengan manusia, bahkan pegangan tangannya juga semakin melemah, serta kelopak matanya sedikit sayu karena menahan mual.
Lalu tak berapa lama tubuh Queen sedikit terhuyung, dan itu disadari oleh Raphael, dia melihat bahwa wanitanya dalam kondisi tidak baik, "Ada apa?" cemas Raphael melihat wanita pujaannya seketika melemas.
Queen tidak menjawab, dan semakin tidak bisa berdekatan dengan manusia lagi, dengan sisa-sisa tenaganya, Queen ingin melepaskan posisi dansanya dengan Raphael.
Tapi Raphael tidak membiarkannya, karena dia tau bahwa wanitanya dalam kondisi lemas, sehingga dia tidak mau melepaskan Queen dan terus memeluknya.
"Lepas-" ucap Queen pelan sambil menatap Raphael dengan mata sayu-nya, untuk sesaat Raphael merasa gugup dan sedikit merona menerima tatapan itu, tapi dengan segera Raphael membuang pemikirannya, karena melihat wanitanya sedang sakit.
"Tidak! Nanti kau bisa jatuh jika aku melepaskannya." tolak Raphael tegas karena takut wanitanya terjatuh, karena sekarang ini dia dalam kondisi lemas.
Sedangkan Queen yang mendengar itu semakin dibuat tidak nyaman, dengan menggertak gigi Queen berusaha melepas pelukan Raphael yang memang sangat erat, "Lepas, lepas, lepas-" ucap Queen terus menerus.
"Jika kamu mau aku melepaskannya, kita pergi kerumah sakit." jawab Raphael sambil menarik Queen kembali kedalam pelukannya.
Dia merasa tubuh wanita itu tidak bertenaga, dan itu membuatnya ikut merasakan sakit.
"Kau kenapa?" gumam Raphael pelan, "Kita kerumah sakit yah..." sarannya lagi kepada Queen.
Tapi saran itu sama sekali tidak dihiraukannya, karena dia masih menatap tajam kearah Alvarez yang saat ini sedang manahan rasa mualnya, dan itu dapat dilihat Queen.
"Tidak bisa diharapkan-" batin Queen benar-benar sudah lemas.
Tidak berapa lama, lagu ketiga akhirnya selesai, dan orang-orang yang ikut berdansa segera kembali kepasangan mereka, tapi tidak dengan Queen yang masih dipeluk oleh Raphael, dan itu sudah dilihat oleh orang-orang yang tidak ikut berdansa, jadi mereka tidak heboh lagi, tapi tidak dengan yang baru melihat itu, mereka seketika heboh, bahkan sangat heboh.
"Lepas! Ini sudah selesai." tegas Queen, "Kalau begitu kita kerumah sakit." balas Raphael langsung.
"Tidak! Kau lepaskan aku! Pria sialan apa kau tuli hah?" marah Queen kepada Raphael, dan karena suaranya cukup keras, itu membuat seisi ruangan menjadi sunyi.
Raphael yang mendengar itu merasa sakit hati untuk sekian kalinya, dia menatap wanita pujaannya dengan tampang terluka.
Namun tiba-tiba tubuh Queen ditarik seorang wanita dengan sangat kasar, lalu "Plaakkkk!" tamparan keras itu bergema diseluruh ruangan.
Para pria yang melihat itu merasa tidak terima jika wanita cantik itu ditampar oleh wanita tersebut, yang tidak lain yaitu wanita model yang dimanfaatkan Arcas menjadi pasangan Raphael.
"Dasar wanita jal*ng tidak tau diri, harusnya kau beruntung bisa dipeluk oleh idola ku! Tapi kau malah membentaknya dan menghinanya!! APA MAKSUDMU MU HAH?!" murka Elena.
Sedangkan para wanita yang ada disana hanya mengangguk membenarkan ucapan Elena.
"Kenapa diam hah? Jadi benar kalau kamu itu ja-" ucapan Elena terjeda karena tiba-tiba, "Plaaakkk!!" suara tamparan kembali bergema tapi itu bukan berasal dari Queen.
Melainkan berasal dari Raphael, dia bahkan tidak segan-segan bermain kekerasan kepada wanita yang membuatnya marah, contohnya adalah wanita itu, Elena.
Raphael menatap Elena dengan tatapan psycho-nya, serta tatapan merendahkan, Raphael berjongkok menyejajarkan tubuhnya pada Elena, yang saat ini sedang tersungkur dilantai karena tamparannya.
"Tangan ini." seyum devil tiba-tiba muncul dari sudut bibir sexy itu, "Mau kupatahkan? Atau ku cincang? Katakan saja." bisik Raphael geram.
Sedangkan Keanu dan Arcas yang melihat itu segera berlari kelantai bawah karena melihat perubahan sikap dari sahabatnya.
Sekarang ini Raphael sedang memegang pergelangan tangan Elena yang terlihat gemetar hebat, sedangkan orang-orang yang ada disana tidak dapat mendengarkan bisikan Raphael barusan, dan mereka merasa binggung kenapa Raphael menggenggam tangan Elena.
Berbeda lagi dengan Queen yang masih berusaha untuk bertahan, dia sesekali melirik kearah Alvarez yang sedang memulihkan kondisinya dulu, Queen terus berharap bisa bertahan selagi bocah itu memulihkan kondisinya.
"Aku harus bertahan sedikit lagi, tidak boleh pingsan! Memalukan!" tegas Queen dalam hati.
……………………………………………
"Huh! Sayang sekali jika tangan mu ku potong, kalau begitu aku patahkan saja jari-jari mu, walaupun belum bisa membayar perbuatan mu karena menampar wanitaku, tapi setidaknya ini pembalasan awal." bisik Raphael kejam.
Elena yang mendengar kata 'Wanitaku" sedikit tersentak, dia bukannya merasa takut kepada Queen, tapi malah semakin membenci Queen yang bisa diakui oleh idolanya, tapi tentu saja dia tidak memperlihatkan kebenciannya.
Tapi Elena tidak tau jika Raphael dapat melihat kebenciannya, dan itu semakin membuatnya marah, "Krekk.." bunyi tulang patah terdengar, walaupun pelan tapi itu mengagetkan Queen.
Sedangkan Elena yang mau berteriak kesakitan segera dibungkam mulutnya oleh Arcas yang tiba-tiba saja muncul, begitu juga dengan Keanu.
Keanu berusaha menahan sahabatnya, dan memohon kepadanya untuk berdiri, "Raphael kumohon jangan begini, berdirilah disini banyak orang." ucap Keanu pelan sambil berusaha menutupi wajah Elena yang sedang menangis menahan rasa sakit.
Dengan tatapan dingin Raphael berdiri dan segera berbalik menghadap wanitanya, tapi apa yamg dia lihat membuat sedikit tersentak.
Queen saat ini sedang menatap Raphael tidak percaya, karena bisa melakukan itu didepan banyak orang, apalagi selama didepannya Raphael terlihat baik.
Raphael tiba-tiba merasa takut jika wanitanya menjauhinya karena melihat dia bertindak kasar dan melihat dia mematahkan jari Elena.
Raphael berjalan mendekat kearah Queen, tapi Queen mundur menjauh beberapa langkah, dan itu semakin membuat Raphael takut.
Padahal Queen mundur bukan karena takut dengan tindakan Raphael, tapi tidak ingin dekat manusia, karena sekarang dia sedang berusaha menahan agar tidak pingsan, dan jika pria itu mendekatinya Queen bisa menebak jika dia pasti akan jatuh pingsan.
"Jangan takut, kemarilah." ucap Raphael dengan tatapan lembut, berusaha menenangkan wanitanya, padahal jelas-jelas dia salah paham.
Namun ucapannya sama sekali tidak direspon, makanya Raphael kembali berjalan mendekati Queen, namun tiba-tiba muncul siluet pria yang memeluk wanitanya erat, dan membenamkan wajahnya kedada pria itu.
…………………………………
Jangan lupa Like ya guys
.
.
.
.
.
#Next