The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 103



_Dimensi Seven Glass Power_


Wunggg…Wungg…Wungg…


Suara alarm keseimbangan dunia bawah berbunyi. Beberapa orang yang bekerja di Menara Keseimbangan langsung mengunjungi tempat dimana alarm itu dipasang. Tempat itu sangat luas, serta penuh dengan berbagai benda sihir.


Namun poin utama yang membuat tempat itu istimewa adalah karena terdapat kolam cermin pemecah dunia.


Kolam yang bisa melihat seluruh isi alam Semesta. Dan kolam itu juga dapat memberikan hukuman atau kutukan kepada siapapun. Mau ia berlari atau bersembunyi, kolam itu dapat dengan sendirinya menyampaikan hukuman tersebut. Maka dari itu kolam tersebut sangat berbahaya jika jatuh ditangan orang yang salah.


Namun sekali lagi, kolam itu hanya ada satu. Kolam itu pun tidak dapat dicontoh atau dibuat ulang. Karena yang membuat kolam itu bisa melihat semua yang ada di semesta dikarenakan terdapat tetesan air mata Queen. Sehingga dapat disimpulkan jika kolam itu adalah mata lain dari Queen, sang RatuNa.


………………………………………………


Karena alarm tersebut tempat itu menjadi gaduh. Bukan karena apa-apa. Mereka gaduh karena menyadari banyaknya suara alarm yang berbunyi. Dimana sebagai penentu ketinggian Keseimbangan yang goyah.


Saat situasi lagi gaduh-gaduhnya, pintu ruangan itu terbuka. Salah satu petinggi atau bisa dibilang wakil dari pemimpin Menara Keseimbangan datang.


"Apa sekarang kalian diajarkan untuk membuat kegaduhan? Cepat periksa dari mana suara itu berasal. Jangan mengganggu ketenangan ketua!" ucap lelaki itu berwibawa.


Saat mereka menerima perintah tersebut. Mereka pun dengan sigap langsung mengecek dan mengaktifkan beberapa benda sihir yang dibutuhkan saat ini.


Tak lama kemudian. Mereka akhirnya bisa menemukan titik pasti yang membuat alarm ini berbunyi.


"Tuan Arhad, kami sudah menemukan titik cahaya tersebut."


"Bagus, jelaskan lebih detail."


"Menurut analisa benda sihir dan beberapa jejak Martial yang baru ada di sana begitu juga dengan nafas seseorang yang ada di sana. Kami bisa memperkirakan mereka berjumlah empat orang. Berat dari jejak kaki serta banyaknya nafas yang dikeluarkan mereka semua, bisa dipastikan jika mereka laki-laki dewasa. Di sana juga kami menemukan ada mayat Beast dari Raja Api Pemurnian." jelas salah satu dari mereka.


"…… Beast Api Pemurnian ya? Baiklah, kerja kalian cukup memuaskan." ucap Arhad lalu berjalan keluar ruangan.


Arhad terus berjalan entah mau kemana. Pria itu bahkan mengabaikan orang-orang yang membungkuk saat melihatnya. Pria itu terus berjalan semakin lama semakin tergesa-gesa.


Aku harus segera melaporkannya kepada ketua. Entah kenapa akhir-akhir ini ketujuh monster kerajaan terlihat mengawasi dunia bawah. Biasanya mereka acuh tak acuh.


Takk!


Saat pria itu sudah berada didepan ruangan yang diduga sebagai tempat kerja pemimpin Menara tersebut. Pria itu menghembuskan nafasnya sebentar.


Dreeeet……


Pintu besar yang dilapisi emas berwarna biru terbuka dengan sendirinya. Langsung saja ia memasuki ruangan tersebut bersamaan dengan pintu ruangan tertutup.


Didalam ruangan terlihat seorang pria dengan ketampanan yang melebihi batas normal. Saat ini pria itu sedang duduk santai sambil membaca dokumennya. Akan tetapi ada satu hal yang tak wajar, karena pria itu terlihat sedang menopang kakinya di atas punggung seseorang yang sudah tergeletak lemas dilantai. Terlihat sekali jika orang itu habis terkena racun yang dipastikan berasal dari pria itu juga.


"Ketua kau sedang apa…" ucap Arhad setelah membungkukkan badannya hormat.


Walau disini tak mengharuskan mereka bersikap hormat kepada orang yang lebih hebat kemampuan serta kedudukannya. Akan tetapi bagi rakyat disini berbeda jika bertemu dengan ketujuh pembuatan onar kerajaan. Mereka harus sebisa mungkin tak membuat kesalahan didepan mereka jika ingin merasa tenang.


"Hanya bermain-main. Ada apa?" suara dingin itu mampu membuat seseorang pusing jika terus mendengarnya.


"Sa-saya ingin melaporkan sesuatu..." gugup Arhad.


"Karena alarm tadi? Tidak perlu."


Argad tersentak, pria itu tak mengerti kenapa ketuanya tak membutuhkan informasi ini, "Maksud ketua apa?"


"Aku sudah tau penyebab dari goyahnya Keseimbangan dunia bawah." smirk pria itu sambil menekan pijakan kakinya.


"Aku harus bersabar menunggu cicak itu tumbuh besar. Maka akan lebih seru membuatnya hancur." wajah pria itu menggelap. Ia bergumam dengan suara yang sangat pelan.


Beraninya menginginkan Ratuku… Tidak akan kubiarkan! Huh, jangan meremehkan ku sebagai pembuat onar nomor satu jika aku tak bisa membuatmu melebur didepan ku!


……………………………………………


Disisi lain, terdapat salah satu pembuat onar kerajaan yang terlihat sedang berburu. Akan tetapi muncul sesosok bayangan yang muncul dibelakangnya.


"Lapor master!"


"Hemm…" pria itu masih sibuk meminum darah orang-orang yang terdaftar sebagai buronan yang berani masuk kedalam Seven Glass Power.


"Sebelum itu saya ingin bertanya... Master?"


"Apa tidak masalah master menghabisi mereka tanpa sepengetahuan Ratu?"


"Tidak masalah, mereka juga bukan orang-orang kita."


"Tapi……"


"Cih! Anggap saja ini sebagai tugas ku. Kau mengerti bukan, anak baik……" suara itu seakan-akan mengancam sosok tersebut.


"Ba-baik master…"


"Nah, jadi ada apa?"


"Saya mendapatkan laporan jika ada seseorang yang melakukan terobosan dalam pembuatan tubuh baru."


"Lalu kenapa?"


"Ka-katanya Beast Api Pemurnian sudah dibantai oleh orang itu..." sosok itu ketakutan saat mengatakannya. Ia juga tau jika sekarang ini ketujuh monster kerajaan sangat sensitif mengenai dunia bawah.


"Bukannya ia ada di dunia bawah?" wajah pria itu berubah menjadi suram. Senyum devil tercetak jelas disudut bibir indahnya.


"I-iya master... RatuNa menempatkannya di dunia bawah, karena Beast itu tak dibutuhkan di dunia atas."


"Dunia bawah…" perlahan-lahan aura kemarahan keluar dari tubuhnya. Muncul tanduk di kepalanya disertai mahkota sabit yang melayang di kepalanya.


Kekekek…… pembuatan tubuh baru katanya? Apa mungkin mereka ceceguk yang di bicarakan kakak Reizel?


Pria itu menjilat bibirnya seram.


Jangan sebut aku si gila pembunuh jika tidak bisa membuat ceceguk itu kehilangan dagingnya.


Sedangkan sosok yang yang diduga sebagai anak buah pria itu hanya bisa menunduk sambil bergetar. Ia benar-benar tak paham dengan keadaan masternya sekarang. Bukan hanya masternya tapi ketujuh monster kerajaan yang semakin bengis kepada orang-orang luar, terlebih lagi dunia bawah.


Sepertinya ini ada hubungannya dengan kepulangan Ratu yang tiba-tiba. Apalagi saat itu Ratu dalam keadaan pingsan dan terikat rantai pengontrol.


Lebih baik dia tak banyak bicara jika ingin tetap hidup. Dia hanya bisa merasa kasian kepada orang yang menyebabkan jiwa protektif monster-monster ini kembali bangkit.


Yahh bagaimana pun juga jika dia membahayakan atau menginginkan Ratu, berarti dia juga musuh ku… ahh maksudku musuh kami semua!


………………………………………………


"Ughh… Cukup!" ucap wanita itu pelan. Ia mencengkeram kuat punggung seseorang didepannya.


"Belum cukup! Harus diberi hukuman lebih dari ini!" ucapan wanita itu dibantah keras oleh seorang pria yang memberikannya hukuman.


"Aku tak akan mengulanginya lagi! Sudah hentikan…" balasnya lemas. Wanita itu lemas karena pria ini terus menerus meminum darahnya.


"Mulai sekarang kau tidak diizinkan turun ke dunia bawah!" tintanya.


"Kau tidak bisa melarang ku Verell!" ucap wanita itu menolak. Wanita itu adalah Queen, ia saat ini sudah berulang-ulang kali mendapat hukuman yang menguntungkan anak-anaknya. Akan tetapi tidak dengannya.


"Sayang… ingatlah anak-anak mu memiliki banyak mata. Dan saat ini kondisi mu tidak memungkinkan mu untuk melindungi bajingan itu dari kami semua..."


"Jadi kau tau kan apa artinya? Kami bisa saja membunuh bajingan itu tanpa sepengetahuan mu… Ratuku." bisik nya lembut.


Queen mengigit bibir bawahnya membenarkan. Wanita itu memejamkan matanya. Ia mengangguk menyetujui perintah anak gilanya ini.


Diantara ketujuh anaknya, yang paling protektif adalah anaknya yang ketujuh. Ia tak segan-segan menghukumnya dan memberikan perintah dengan cara apapun.


Pria itu tersenyum, lalu mengecup bibir manis Queen, "Pintarnya… kalau begitu aku pamit dulu."


Setelah mengecup bibir Queen seenaknya. Pria itu keluar dari kamar Queen. Terlihat sekali ekspresi pria itu jadi sangat berubah dari sebelumnya yang dipenuhi dengan kecemburuan serta kebencian dan kemarahan. Moodnya juga semakin membaik saat mengecup bibir wanita yang sangat berharga baginya.


Queen yang ditinggal sendirian di kamarnya langsung berdiri dari kasurnya. Wanita itu memanggil Maid untuk mengganti seprai yang penuh dengan darahnya. Ia juga tak lupa membersihkan dirinya.


Tak butuh beberapa menit wanita itu keluar dari kamar mandi. Langsung saja para Maid memakaikan gaun baru kepada Queen.


Tak berapa lama Queen pun berjalan keluar kamar berniat menemui anak pertamanya yang sedang sibuk dengan pekerjaan dunia atas.