
Mereka semua sudah memasuki ruang makan yang ada di Kasino, ruang makan ini didominasi oleh warna putih dan emas.
Didalam sana juga sudah ada berbagai macam makanan yang berjejer rapi diatas meja, mulai dari makanan pembuka, makanan ringan, makanan pokok atau berat, lalu makanan penutup, semua tertata lengkap diatas meja.
"Apa tidak berlebihan?" gumam Queen tercengang melihat banyaknya masakan yang berjejeran diatas meja, dia tercengang bukan karena melihat banyaknya makanan yang ada disana.
Karena dia sendiri sudah terbiasa melihat lebih banyak makanan yang lebih mewah dan enak daripada ini, dan itu tersedia lengkap di Istananya.
Makanya alasan yang membuat dia tidak percaya adalah, karena dia sendiri tidak mungkin memakan semua makanan ini, karena dia sekarang masih kurang suka dengan bahan masakan yang ada dibumi, jadi untuk apa dia makanan sebanyak ini?
"Tidak! Kau harus makan yang banyak, aku tidak mau melihat badan mu jadi kurus!" unjar Raphael cepat.
"Hey! Aku tidak akan kurus jika tidak makan tau!" balas Queen kesal dibilang badannya akan menjadi kurus jika tidak makan.
"Hmph! Apa dia tidak bisa melihat jika tubuh ku sangat bagus?!" batin Queen melirik tajam kearah Raphael yang masih bisa terlihat cuek.
"Sepertinya mereka berdua selalu ribut jika bertemu." bisik Arcas heran.
"Mungkin ini cara mendekati wanita versi baru." bisik Keanu membalas.
"Ehem!" dehem Raphael yang mendengar bisikan kedua sahabatnya.
Saat kedua itu mendengar deheman yang mengisyaratkan sebuah peringatan, dengan cepat Arcas langsung mengubah topik pembicaraan, karena takut jika nantinya dia akan mendapatkan hukuman dari sahabatnya, "Kapan kita makan?"
"Oh iya, ayok makan." ucap Keanu menanggapi, dan mereka berdua dengan bodohnya langsung berlari menuju tempat duduk mereka, yang memang sudah sering mereka tempati.
"Kekanakan." ucap Queen bergumam ketika melihat sikap mereka berdua yang terkadang seperti anak kecil, "Mirip dengan mereka..."
Sedangkan Raphael yang mendengar kata 'mereka' menjadi sangat penasaran, dan sedikit cemburu dengan orang yang dimaksud oleh wanita pujaannya.
Dan pastinya sekarang wanita itu sedang memikirkan orang yang dimaksud olehnya.
"Kapan aku bisa memiliki mu?" batin Raphael gelisah karena takut jika wanita pujaannya akan direbut oleh pria lain.
Tapi dengan cepat dia segera menghilang perasaannya, dan langsung mengalihkannya agar tidak merasa gelisah lagi, "Mari makan." ucap Raphael pelan dengan nada yang tidak bersemangat.
Lain halnya dengan Queen yang dapat mendengar perubahan suara dari pria itu tapi dia tidak peduli dan langsung mengabaikannya.
Tanpa menunggu lagi Queen langsung berjalan mendahului Raphael, tapi entah kenapa langkahnya harus terhenti, bukan karena dia berhenti berjalan, tapi dia merasa ada sesuatu yang menahannya.
Dengan cepat Queen langsung melihat apa yang menahan langkahnya, dan seketika juga ekspresinya langsung berubah menjadi datar.
"Sejak kapan." tanya Queen masih menatap tangannya yang digenggam oleh Raphael erat.
"Dari tadi, maaf." jawab Raphael tidak enak, karena dengan tidak sopannya dia memegang tangan Queen, apalagi tanpa memberitahunya.
"Apa semua pria yang ada disini sangat lancang?" ucap Queen terseyum hambar karena merasa jika dirinya turun kebumi bukannya mendapatkan ketenangan melainkan malah mendapatkan gangguan.
"Sudah lupakan." Queen kembali berjalan tapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena Raphael masih mengenggam tangannya, padahal dia kita pria ini akan melepaskan genggamannya.
Dengan perasaan dongkol Queen kembali menatap wajah Raphael tajam, yang seperti mengisyaratkan bahwa dirinya harus melepaskan genggamannya.
Tapi entah kenapa pria itu bukanya melepaskannya, melainkan dia malah berjalan mendahului Queen, makanya mau tidak mau dia harus ikut terseret mengikuti pria ini dari belakang.
Raphael berjalan menuju tempat duduknya yang sering dia tempati ketika makan, tapi sebelum itu dia terlebih dahulu menduduki Queen s
disamping tempat duduknya.
Dia dengan hati-hati menarik kursi itu dan menduduki Queen dengan lembut.
Bahkan Keanu dan Arcas hampir terdesak, dan seketika mereka harus bersusah payah menahan tawanya, karena biasanya sahabatnya ini sangat BarBar.
Apalagi ketika sahabatnya imi ingin duduk, pasti dia akan selalu menggeser kursi yang terbuat dari emas itu dengan kakinya, bahkan bukannya terlihat digeser tapi lebih terkesan ditendang olehnya.
Benar-benar berbanding terbalik dengan yang sekarang, "Cinta bisa mengubah semuanya, bahkan bisa sampai mengubah sikap dan kebiasaan kita." batin kedua orang bodoh itu menatap satu sama lain, lalu mengangguk bersamaan.
Lalu bagaimana reaksi Queen saat diperlakukan dengan lembut seperti itu? Yah tentu saja dia bukanya merasa senang atau terharu, melainkan dia hanya memasang raut wajah cemberut, "Permainan apa lagi yang dia mainkan?" batin Queen curiga.
Dia berfikir jika pria itu memperlakukannya dengan lembut pasti ada sesuatu yang dia inginkan, yah walaupun memang tebakannya tidak salah, karena Raphael sendiri hanya ingin lebih dekat dan bisa membuat Queen jatuh cinta kepadanya.
Setelah itu tanpa menunggu lagi, mereka semua langsung mengambil berbagai macam makanan yang ada diatas meja, dan langsung memasukannya kedalam mulut mereka.
Bahkan pemeran utama turut ikut memasukan makanan itu kedalam mulutnya, walaupun dengan perasaan tidak ikhlas tapi dia tetap memakannya, karena tidak mungkin jika makanan itu dia abaikan.
…………………………
"Apa makanannya tidak enak?" tanya Keanu saat dia melihat Queen seperti orang yang tidak bersemangat ketika memakan hidangan mewah didepannya.
Raphael juga sebenarnya melihat itu tapi dia tidak mau menegur wanita pujaannya lagi, karena dia tau jika wanita ini masih marah kepadanya karena hal tadi.
"Enak kok." jawab Queen terseyum hambar, "Hanya saja aku tidak berselera dengan pengawet." lanjutnya.
"Buang semuanya!" perintah Raphael tiba-tiba, "Ganti dengan yang baru, dan jangan gunakan pengawet!"
"Jangan membuang makanan okay! Diluar sana masih banyak orang yang harus bersusah payah mendapatkan makanan!" unjar Queen mengepalkan tangannya geram jika membayangkan bagaimana susahnya orang-orang itu.
Sedangkan semua orang yang ada diruangan ini termasuk Raphael, Keanu, Arcas, Maid, dan semua Cheff yang memang sejak awal ada disana, merasa jika perkataan Queen sangatlah mulia.
Apalagi memang dasarnya jarang sekali orang kaya seperti mereka yang merupakan orang kaya level berlian, dapat memikirkan nasib rakyat jelata.
"Maaf..." lirih Raphael merasa bersalah, sedangkan semua orang yang ada disana hanya bisa terseyum tipis melihat Ketua mereka mengalami sedikit perubahan dan itu semua berkat wanita ini.
Tanpa menghiraukan yang lain, Queen kembali melanjutkan kegiatan makan-nya yang sempat tertunda.
…………………………
Sekarang ini mereka berempat sedang berada didepan Kasino, berencana ingin mengantar Queen pulang.
Walaupun awalnya Queen menolak tawaran mereka, tapi tetap saja dia tidak bisa menolak karena salah satu dari pria tampan itu sangat keras kepala, apalagi dia terlihat sangat protektif terhadapnya, dan siapa lagi jika bukan Raphael.
Makanya perdebatan itu bisa dimenangkan oleh Raphael, lalu pada akhirnya Raphael-pun bisa mengantar wanita pujaannya pulang kerumahnya.
Ini sungguh sebuah keajaiban karena dia bisa punya lebih banyak waktu bersama wanitanya, dan bisa sekaligus mengetahui dimana rumahnya berada.
"Aku harus bersabar jika ingin memeiliki mu." batin Raphael yang sekarang ini sudah ada didalam mobil sport listriknya, yang hanya ada satu didunia dan baru saja dikeluarkan di perusahaannya.
Dia menyetir mobil dengan perasaan gembira, bahkan dia merasa jika hatinya sedang ditabur oleh ribuan bunga.
Disisi lain disamping kursi mobil, terlihat juga seorang wanita cantik yang sedang terduduk manis sambil menopang dagunya melihat keluar kaca mobil, wanita itu terlihat lebih memilih memandang jalan raya daripada melihat wajah tampan Raphael, yah begitulah Queen.
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Raphael saat sudah mengaktifkan fitur pengendali mobil otomatis.
"Untuk apa kamu bertanya itu? Apa begitu penting, pertanyaan mu sangat tidak berguna." sinis Queen malas meladeni pria ini.
"Tapi itu berguna dan sangat penting untuk ku." tegas Raphael dengan pandangan serius yang dia arahkan tepat ke lensa mata Queen.
"Penting? Penting mananya?" heran Queen, "Ah sudahlah, aku belum punya kekasih, puas?"
Raphael yang mendengar itu langsung terseyum senang, rasa protektif-nya pun semakin bertambah, dia akan lebih berusaha mendapatkan wanita pujaannya ini.
"Puas." jawab Raphael terseyum tipis.
"Pria gila." batin Queen saat melihat reaksinya.
Berberapa menit berlalu, suasana yang ada disana menjadi sunyi karena tidak ada satu diantara mereka yang ingin membuka percakapan, sampai akhirnya Queen yang membuka suara.
"Apa kamu masih memiliki keluarga?" itulah yang ditanya Queen kepada Raphael.
"Tentu, tapi hanya tinggal Opa ku saja, kenapa?" ujarnya langsung.
"Tidak, hanya bertanya saja." balas Queen, namun dia kembali bertanya lagi kepada Raphael, dan pertanyaan ini sungguh sangat mengejutkannya.
"Apa kamu sudah memiliki tunangan?" unjar Queen bertanya dengan asal, mungkin dia hanya iseng saja.
Sesaat seluruh ruangan mobil menjadi dingin, Queen yang merasakannya sudah paham jika pria itu pasti sudah memiliki seorang wanita yang suatu saat nanti pasti akan menjadi pasangan hidupnya.
"Ternyata sudah memiliki tunangan yah, apa aku bisa seperti itu? Apa aku bisa merasakan apa yang disebut dengan cinta? Lalu bisakah aku mencintai seseorang?" lirih Queen terseyum sedih dalam hati.
"Huft... tidak perlu dijawab, aku hanya sembarangan bertanya." ucap Queen langsung menolehkan kepalanya kembali menatap kaca mobil.
Dengan petunjuk yang diberikan oleh Queen, mereka dengan cepat sudah sampai didepan Mansion QueenZell, tempat dimana Queen tinggal.
Saat sudah sampai didepan Mansion, Raphael dengan pandangan kagum menatap Mansion yang amat sangat besar dan terlihat canggih itu dari dalam mobilnya.
Lalu ketika dia ingin menjalankan mobilnya lagi, tiba-tiba saja wanitanya menegurnya untuk tidak mendekati Mansion itu.
Namun ternyata sudah terlambat, mobilnya sudah melewati garis pendeteksi, sehingga senjata yang tersembunyi dibalik tembok Mansion langsung keluar dan segera mengunci targetnya tepat ke mobil Raphael.
Bahkan senjata-senjata itu terlihat sudah siap untuk membasmi apapun yang ada didepan mereka.
………………………………………
Jangan lupa Like and Komen!
.
.
.
.
.
#Next