The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 59



_POV Queen_


Aku berjalan menghampiri pria itu, berencana ingin membalasnya, aku tidak terima jika dipermainkan oleh manusia seperti dia, jadi aku tidak akan membiarkannya merasa puas saat mempermainkan ku!


"Raphael~" aku memanggil namanya dengan sangat lembut, dan sekarang aku sudah ada dihadapannya.


"Kamu sudah mempermainkan ku~" bisik ku lembut tepat ditelinganya, sedangkan jari-jari ku sudah dari tadi ku letakan didada bidangnya.


"Apa kamu tau konsekuensinya saat mempermainkan ku?" seyum ku menggoda sambil memainkan jari-jari ku didada bidangnya, "Bisakah kau mengusir semut-semut itu?"


"Kamu mau apa?" ucap pria itu gugup, terlihat dari telinganya yang memerah.


"Usir mereka." singkat ku masih berusaha membuatnya terangsang.


"Kalian pergilah tinggalkan tempat ini." perintahnya kepada orang-orang yang ada disini.


Tak butuh waktu lama mereka semua sudah meninggalkan tempat ini, dan hanya tersisa aku dan pria itu saja, akupun sedikit senang akhirnya aku bisa dengan leluasa membuatnya masuk kedalam permainan ku.


"Aku mau duduk~" manja ku padanya, memang benar aku sudah lelah berdiri terus, lagipula akan lebih menyenangkan jika duduk dari pada berdiri saat melakukan itu.


Anehnya pria itu sama sekali tidak membuka suaranya dan hanya terdiam sambil menutup matanya rapat, tapi aku tau jika dia pasti sedang menahan sesuatu, huh lucu sekali.


Karena aku tidak mau membuang banyak waktu, aku segera menyeretnya duduk kesofa yang tidak terlalu jauh dari tempat ku berada, aku mendudukinya dan naik keatas pangkuannya.


Seketika dia langsung membuka matanya kaget, "Kau mau apa, sayang?" akhirnya dia mau buka suara, yang sendiri tadi sudah ku tunggu-tunggu.


"Aku mau yang tadi~" manja ku memeluknya erat, sengaja ingin membuatnya merasakan b*nda ke*al yang ada did*da ku.


Hmph! Enak saja aku sudah dibuatnya merasakan sesuatu darinya, tapi aku tidak membuatnya merasakan sesuatu dariku.


"Sayang-" liriknya memegang pinggang ku cukup kuat.


"Cupp...!"


Aku meng*cup bibirnya yang terasa cukup dingin, aku tidak peduli ciuman ku diambil oleh siapapun, karena itu bukanlah masalah buat ku, tapi asal jangan mahkota ku yang direnggut.


"Umm~" desah ku mel*mat habis mulutnya, lalu saat aku sudah puas menc*umnya dan ingin melepaskan ciuman ku.


Tapi pria itu menahannya, "Aku mau lagi." lirihnya dengan mata sayu.


Dia langsung mel*mat bibir ku dan meng*sapnya kasar "Uhhhh!" desah ku sedikit terbawa suasana.


Tapi aku langsung tersadar dan membalas ciuman itu menjadi lebih panas, aku memasukan l*dah ku kedalam m*lutnya, dan dengan suka rela pria itu menerimanya.


L*dah ku terus bermain didalam mul*tnya, aku ingin membuat pria ini mabuk kepayang dibuat ku, dan sepertinya itu benar-benar berhasil.


Sesekali aku merasa jika l*dah ku dimainkan olehnya, tapi aku tidak akan membiarkannya menguasaiku, jadi aku tidak mau melanjutkan ini.


Aku menghentikannya dengan cara mengganti arah permainan ku, lagipula aku sudah cukup puas membuatnya tidak berdaya dan terus ikut kedalam permainan ku.


Tapi aku sedikit tidak menyangka jika pria ini sangat men*kmati setiap sentuhan ku, dan itu membuat ku curiga apa dia juga mau ku sentuh, atau memang dia orang yang seperti itu? Yang mudah disentuh oleh banyak wanita?


"Cih sialan! Apa aku harus lebih agresif?" batin ku kesal karena dia tidak meminta ku berhenti atau memarahiku, tapi malah ikut menikmati setiap pemainan ku dengan panas.


"Sayang, sudah..." lirihnya akhirnya sudah tidak kuat lagi jika aku meneruskannya.


"Aku mau lebih~" smirk ku sekilas dan langsung menggodanya dengan meng*sekan pelan d*daku kedada bidangnya, sambil mem*jat kepalanya lembut.


"Shit!" umpatnya n*kmat, dia menutup matanya berusaha menahan sesuatu yang menggejolak dib*wah sana, dia berusaha untuk tidak menerkam ku.


"Sa-sayang berhenti.. okay!" ucapnya memohon kepada ku, tapi aku tidak menghiraukannya, ingat aku belum puas!


"Sayang buka mata mu, lihatlah aku~" pinta ku lenbut, memegang rahang kokohnya yang sangat mengoda.


Aku terseyum dalam karena semua rencana ku berhasil, aku kembali melanjutkan permainan ku dengan memb*ka bajunya, aku melepaskan kancing-kancing baj*nya dengan cepat.


Dan terpampanglah jelas p*rut atletisnya yang sungguh terlihat indah bagi siapapun yang melihatnya, sepertinya aku tidak salah mempermainkannya anggap saja ini keuntungan lain.


Tidak membuang-buang waktu, aku langsung memegang dan mengusap p*rutnya lembut.


"Ugghh..." desahnya n*kmat disetiap sentuhan ku, "La-lanjutkan baby..." sambungnya dengan nafas tersengal-sengal.


Aku langsung meng*cup per*tnya beberapa kali, tapi aku sekilas merasakan perasaan yang bingbang saat melakukan ini, aku takut dosa! Aku takut 'Dia' semakin membenci ku.


"Ahh...ahh...!" desah kami saling bersahutan, walaupun aku mendesah dengan terpaksa.


"Sayang~" ucap ku berusaha mengatur deru nafas ku yang sedikit tidak beraturan, mungkin karena aku merasa sangat pusing.


Dan lagi-lagi itu semua karena aku tidak bisa berdekatan dengan manusia terlalu lama.


Jadi aku memutuskan untuk berhenti dan turun dari pangkuannya, lalu menjauh darinya, "Kita berhenti sampai sini saja." singkat ku jelas.


"Kenapa?" suaranya terdengar surau sambil menatap ku dengan pandangan heran.


"Baby?" panggilnya dengan tatapan tajam yang dia arahkan kepada ku, "Kamu tidak mau bertanggung jawab?"


"Tidak." ucap ku santai membenarkan pakaianku yang sedikit berantakan.


"Shit! Kau mempermainkan ku?" ucapnya dengan senyum pahit, dan sepertinya dia kecewa.


"Aku hanya membalas apa yang tadi kau lakukan pada ku." jawab ku malas.


"Tapi sayang~ lihatlah sepertinya to*gkat mu sudah ku buat men*gang, apa terasa k*ras?" ledek ku melihat bagian b*wah pria itu.


"Hahh... kau benar-benar kucing yang nakal!" unjarnya, lalu berdiri dari sofa.


"Tunggu disini!" pintanya menatap ku sengit, aku tau jika dia sedang kesal karena ulah ku.


Tapi aku tidak peduli! Lagian siapa suruh mempermainkan ku! Dan itulah akibatnya, jangan menyalahkan ku.


"Bawel udah sana mandi, jangan lama-lama! Pakai sabun yang banyak biar licin, ahahaha~" ledek ku.


"Dasar! Untung cinta." batin Raphael berjalan keluar ruangan itu menuju ruangannya, dia berniat menuntaskan gejolak ini sendirian.


Setelah pria itu pergi meninggalkan tempat ini, aku langsung berjalan menuju sofa tadi, dan langsung duduk dengan nyaman seperti layaknya tuan rumah.


"Kuharap tindakan ku ini tidak akan membuat mu semakin menjauhi ku." batin ku cemas.


……………………………………


Tolong baca dengan bijak ya, Author juga menyarankan jika novel ini dibaca oleh anak usia 17 tahun keatas 😉


Ok kangan lupa Bom Like and Vote ya


.


.


.


.


.


#Next