
"Sudah beres~" unjar Queen masih memegang jantung dari orang itu, "Apa pertarungannya masih berlangsung?" tanya Queen menolehkan kepalanya kebelakang, menatap orang-orang yang masih berdiri terdiam ditempatnya.
"Ba-bagaimana mau lanjut! Sedangkan Ketua kami sudah kau bunuh!" seru orang-orang yang ada disana yang sudah tidak berdaya dan memilih untuk menyerah.
"Oh benarkah? Sayang sekali~" lirih Queen yang dibuat-buat sedih, "Yasudah ambilah ini, anggap saja sebagai hadiah dan permohonan maaf dari ku~" Queen menyodorkan jantung yang ada ditangannya, sambil tersenyum datar kearah mereka.
Tapi mereka sama sekali tidak mengambilnya, karena tidak mungkin mereka mengambil jantung itu, apalagi mengambilnya dari tangan monster cantik yang ada dihadapan mereka, lagipula meraka masih waras, bagaimana mungkin mereka menyimpan jantung itu. Gila saja!
"Kenapa tidak diambil? Ambilah!" ucap Queen sedikit kesal karena merasa diabaikan, tapi lagi-lagi dia tidak respon oleh orang-orang itu.
"Dasar manusia tuli, Huh!" cibir Queen menghina, lalu berjalan mendekati Pria pertama, "Mereka mau kau apakan?"
"Kamu tidak perlu tau..." ucap Pria pertama, tidak ingin memberitahu apa yang akan dia lakukan kepada segerombolan sampah yang masih hidup itu.
"Lalu bangunan apa itu?" Queen mengerutkan keningnya menatap lensa mata yang ada dibalik topeng itu, sebenarnya dia ingin sekali membuka topeng yang dipakai oleh Pria itu, tapi karena dia merasa tidak sopan, makanya dia tidak melakukannya.
"Cantik, sebaiknya kamu tidak perlu tau, bangunan ini rahasia." ucap Pria kedua yang tiba-tiba sudah ada disebelah mereka berdua.
"Cih, kenapa bangunan itu begitu rahasia? Tapi.. masa bodolah jika aku ingin tahu, tidak akan ada yang bisa menghalangi ku, sepertinya aku harus membujuk Pria bertopeng ini." batin Queen.
"Kakak~ Apa aku tidak boleh beristirahat didalam? Ayolah aku sangat lelah dan lapar~" bujuk Queen mengeluarkan senjata imutnya.
"Istirahatlah didalam." singkat Pria pertama langsung karena tidak tahan melihat mata imut yang dikeluarkan Queen, "Apakah boleh?" jawab Queen memastikan.
"Tentu saja boleh, tidak ada yang melarang mu." balasnya, sedangkan Queen yang mendengar itu merasa rencananya berhasil, dan langsung berlari masuk kedalam bangunan itu.
Dia juga tidak lupa melempar jantung yang ada ditangannya kepada Pria pertama, "Awetkan itu." teriak Queen dari jauh.
Setelah Queen sudah tidak terlihat lagi oleh mereka, Pria kedua langsung protes dengan keputusan sahabatnya.
"Raphael apa kamu gila?! Bagaimana bisa kau membiarkan wanita asing seperti dia masuk!" tegur Pria kedua.
"Wanita asing? Dia wanita ku!" jawab Raphael datar, lalu berjalan memasuki Kasino tanpa menghiraukan Pria kedua.
"Wanita mu..? Ma-maksudnya dia wanita yang sama dengan wanita yang ada dipesta itu!" seru Pria kedua yang baru menyadari kemiripan antara wanita ini dan wanita yang ada dipesta itu.
Dia baru menyadarinya karena tadi dia masih belum terlalu fokus melihat wajah Queen, makanya dia tidak tau jika wanita ini merupakan wanita yang sama dengan wanita yang ada dipesta kemarin.
Mungkin karena inilah yang membuat sahabatnya tidak membunuh wanita itu, padahal dia sudah melihat pertarungan ini, ternyata dia wanita yang disukai oleh sahabatnya.
"Eh? Dia kemana?" celingak celinguk Pria kedua yang mencari keberadaan sahabatnya.
"Cepat sekali hilangnya! Apa dia sudah menyusul wanita pujaannya?!" batin Pria kedua sudah menyadari jika sahabatnya benar-benar sudah tidak ada lagi disini, "Yasudah abaikan saja." lanjutnya dalam hati.
"Kalian cepat tangkap mereka! Bawa keruang tahanan!" tegas Pria kedua, setelah itu langsung menyusul sahabatnya kedalam Kasino.
Dia masuk kedalam sana dengan terburu-buru, mungkin karena ingin melihat dan berkenalan dengan wanita itu, karena dia sendiri juga sudah jatuh kedalam pesona seorang wanita yang sudah dicap oleh sahabatnya.
"Hahh... jika dia bukan sahabat ku sudah kurebut wanita itu." ucap Pria kedua walaupun hanya bercanda.
_Kasino_
Saat Queen masuk kedalam Kasino itu, dia melihat jika disetiap ruangan Kasino terlihat banyak sekali orang yang berlalu lalang sambil memegang senjata, mereka juga ada yang sedang berlatih dan beristirahat.
Didalam sana juga sangat didominasi oleh warna merah darah serta emas, disana juga banyak patung-patung yang tertata rapi.
Tapi jika dilihat lebih jelas disini memang sangat sepi, orang-orang yang ada disini tidak banyak berbicara dan hanya fokus pada perkerjaan mereka.
Tapi jika didengar lebih jelas, kalian dapat mendengar suara jeritan dan isakan dari seseorang yang entah itu berasal dari mana, tapi yang sekarang ini Queen dengan itu dari beberapa sisi Kasino.
Dan menurut pemikirannya suara itu berasal dari ruangan-ruangan tertentu, yang memang tidak sembarangan orang boleh masuk.
_POV Queen_
"Apa mereka sungguhan Mafia?" gumam ku melihat sana-sini.
"Mereka memang Mafia, sayang." suara halus itu terdengar jelas ditelinga ku.
Segera aku membalikkan badan ku kebelakang dan melihat orang itu, "Apa mereka Mafioso?"
"Hmm… bisa dibilang begitu, apa kamu tidak takut, sayang?" ucap Pria pertama yang sebenarnya adalah Raphael yang menutupi wajahnya dengan topeng.
"Berhenti memanggil ku sayang! Kita tidak saling mengenal!" tegur ku menatap tajam kearahnya.
"Benarkah? Tapi aku tidak merasa jika kita tidak saling mengenal." bisik Pria itu lembut kearah telinga ku, lalu aku merasa ada sesuatu yang lembut tapi lembab yang menjalar dileher ku.
Tubuh ku menegang, Pria ini sedang apa? Kenapa begitu dekat! Kenapa dia menempelkan bibirnya keleher ku lalu menjilatnya! Benar-benar kurang ajar!
"Ahkk lepas! Dasar baj*ngan gila! Sedang apa kau hah?!" geram ku berteriak marah sambil mencengkeram pundak pria itu kuat.
Aku meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pria itu, tapi dia menangkap tubuh ku dan mendorong ku kebelakang.
Tapi aku tidak marah dengan tindakannya, melainkan aku marah kepada orang-orang yang ada disini, yang seolah-olah tidak melihat kearah kita, bahkan tidak membantu ku, lalu pria ini benar-benar tidak tau malu!
"Sayang apa kamu tidak mengenal ku, hemm?" ucapnya pelan sambil memegang dagu ku, "Tidak! Jadi lepaskan aku!" gertak ku.
"Apa perlu aku ingatkan?" tanyanya terseyum mengoda, sedangkan aku yang sudah tidak tahan dengannya segera menarik topeng itu, aku ingin melihat siapa orang yang melakukan ini kepada ku!
Tapi ternyata ini sungguh diluar dugaan, aku bahkan menatap wajah pria itu tidak percaya.
Nasib ku sial sekali! Itulah yang ada dipikiran ku sekarang, karena selalu dipertemukan oleh pria ini, tapi kenapa dia terlihat agresif dari biasanya?! Ini benar-benar membingungkan ku!
"Apa sekarang kau sudah mengingat ku, sayang?" ucapnya tersenyum sexy, dan semakin menipiskan jarak diantara kita, dia semakin menempelkan tubuhnya ketubuh ku.
"Iya-" ucap ku pelan.
"Sayang? Kenapa suara mu jadi pelan begitu?" tanyanya menatap ku dengan senyum yang bisa ku artikan, "Lepas-" singkat ku lelah.
"Jika aku tidak mau, kau mau apa?" godanya, "Ck! Behenti bertindak seolah-olah kita saling mengenal! Cepat lepaskan aku, apa kamu tidak tau jika aku sama sekali tidak nyaman berdekatan dengan mu!" sarkas ku tajam.
"Jadi kita tidak saling mengenal, begitu?" ucap pria itu tiba-tiba berubah suasana, bahkan ruangan ini menjadi lebih dingin, tapi aku tidak peduli.
"Kau sadar? Kamu itu hanya orang asing, jangan mengira jika kita sudah berkenalan kita bisa jadi dekat." sinis ku mengarahkan pandangan ku kearah lain.
"Kalau begitu akan ku buat kita menjadi dekat!" ucap pria itu merapatkan tubuhnya kearah ku, aku dapat melihat jika ada tatapan membara dimatanya.
"Ka-kau mau apa! Jangan mendekat... uhhgg!" ringis ku tiba-tiba karena aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
"Aku mau menjadi orang terdekat mu!" tekan pria itu menatap ku tajam, dan sekarang aku tau jika pria ini bersikap protektif kepada ku, bahkan aku sendiri tidak mengerti kenapa dia harus melakukan ini.
"Jangan bergerak bodoh!" geram ku semakin dibuat merinding karena dia menggerakkan tubuhnya dan sesuatu yang mengganjal itu semakin terasa.
"Inilah yang aku benci! Harusnya aku tiak punya nafsu akan birahi, karena jelas-jelas aku tidak akan pernah merasakan cinta! Tapi kenapa aku masih tetap wanita normal!!!" batin ku kacau.
"Sayang...." lirih pria itu memelukku erat, posisi kita sekarang ini sudah benar-benar rapat, dan itu semakin berasa dibawah sana.
"Hisss lepas!" ucap ku geli karena dia menjilat leher ku lembut benar-benar lembut.
"Sadarlah bodoh!" ucap ku memukul punggungnya tapi dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan ku.
Namun tiba-tiba dia mengangkat wajahnya dan mendekat bibirnya kebibir ku, tapi tentu saja aku memundurkan kepala ku kebelakang, tapi sialnya kepala ku terhalang oleh tembok.
Makanya aku mencari cara lain yaitu dengan cara memalingkan kepala ku kesamping, tapi pria itu malah menahannya.
Dan entah kenapa bibir ku dan bibirnya sudah menyatu, aku berusaha mengelak dan terus meronta, tapi dia terus mengecup bibir ku lembut.
Tapi lama kelamaan ciuman itu semakin panas, dia mengecup ku kasar, lalu ******* bibir ku rakus, dia bahkan berani menghisap dan sesekali mengigit bibir bawah ku!
"Umm... Le-lepas..." ricau ku tidak beraturan, aku pusing sepertinya alergi ku kambuh, padahal aku tidak ingin jatuh pingsan lagi.
"Uhhh... Le..pas!" ucap ku lagi, tapi pria itu malah semakin brutal, dia mencium ku dan memeluk ku seolah-olah aku hanyalah miliknya, seolah-olah dia tidak akan melepaskan ku.
"Ahhh! You crazy?!" seru ku kaget karena dia mengigit leher ku hingga terlihat tanda merah, "Kau milih ku sayang-" lirihnya.
"Shitt! Jangan ber-gerak!" ronta ku tidak tahan karena pria ini terus menggerakkan tubuhnya, "Sayang apa kau merasakannya, hemm? Ini punya mu sayang, apa kau mau mencobanya?" ucapnya dengan suara mengoda.
"No! Aku tidak mau!" teriak ku, "Tapi kamu terlihat tidak menolak sayang." ledaknya sambil tertawa kecil.
"Kesempatan!" batin ku bersorak kegirangan, lalu dengan cepat aku melepaskan diri dari dekapannya, lalu berlari menjauh dari pria mesum ini.
"Hahaha.." tapi yang kulihat dia malah tertawa senag gitu, "Apa tadi aku berlebihan?" tanya pria itu kembali normal.
Sedangkan aku hanya tertegun melihatnya, sialan ternyata aku dikerjain, awas saja kau!
"Berlebihan? Oh tentu saja tidak Tuan~" ucap ku mengedipkan mataku mengoda, lalu berjalan mendekati pria itu, yang namanya mungkin Raphael kalau tidak salah.
Huh! Lihat saja aku yang akan membuat mu sengsara setelah ini dan akan ku buat kau mandi tiga jam! Lihat saja.
……………………………………
Jangan lupa Like and Komen
.
.
.
.
.
#Next