The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 98



Meski sosok itu memang cukup merepotkan akan tetapi sama sekali bukan masalah besar baginya. Jadi dia akan menyingkirkan sosok itu dari jalannya.


"Kali ini biar aku saja yang melawan mereka." ucap Kevin.


Raphael masih memandang kearah depan dengan curiga, "Ada apa? Pasti ada alasannya bukan?"


Huh! Harusnya dia senang dong tidak perlu menghabisi semut-semut itu. Kenapa mesti nanya alasannya? Merepotkan!


"Hahhh… jika iya kakak tidak perlu tau. Dan jika tidak kakak juga tidak perlu tau." belit Kevin malas menjelaskan.


Raphael mengacuhkannya, pria itu melirik ke salah satu lubang lahar di sana. Tapi tidak ada tanda-tanda akan kemunculan monster yang sudah mereka tunggu-tunggu.


Tentu saja itu semakin membuat dirinya curiga. Dengan pelan ia mengambil batu kerikil yang berserakan di sana, lalu melemparnya kedalam lubang lahar tersebut.


Gerakan cepat itu tak sempat Kevin cegah. Tapi setelah dipikir-pikir cara ini juga tak sepenuhnya ceroboh. Karena memang sepertinya mereka harus memancing sosok itu keluar dulu, daripada dia menyerangnya secara tiba-tiba.


Bukankah akan lebih seru jika kedua belah pihak siap untuk bertempur?


Tak lama setelah terdengar suara batu yang tercebur kedalam lahar. Munculah semburan lahar bertekanan tinggi yang menbuat tanah yang mereka pijak menjadi bergetar.


Raphael masih terlihat datar. Pria itu seperti sedang menunggu sesuatu. Kevin juga sama, anak itu dengan santainya mencelupkan jarinya kearah semburan lahar tersebut, yang baru saja ia dekati.


"Woy! Apa kamu gila bocah!" teriak Arcas kalang kabut saat Kevin melakukan hal gila lagi. Tapi sepertinya kali ini lebih gila daripada sebelumnya.


Dengan kasar ia menarik kerah baju Kevin. Alhasil mereka pun terjatuh bersama dengan memalukan.


"......."


Kevin menatap jengah Arcas yang masih dibawahnya, "Dasar merepotkan!" dengus anak itu.


Kevin langsung berdiri dan menginjak kaki Arcas kesal. Bocah ini memang tak memiliki sopan santun dari dulu.


Lihat saja! Kau sudah masuk kedalam daftar buronan ku!!


"Huh! Sudah ku selamatkan malah ngelunjak!" ujar Arcas tak mau disalahkan.


"Aku tak butuh pertolonganmu b*bi!" maki Kevin dengan urat kekesalan yang tercetak di dahinya.


Arcas lagi-lagi dibuat tercengang. Oh ayolah apa muka tampannya terlihat seperti b*bi? Sepertinya mata bocah ini katarak! Itu pasti!


Anehnya beberapa detik setelahnya, anak itu sudah kembali serius.


"JANGAN BERMAIN-MAIN!" ujar Kevin dengan mengeluarkan rantai-rantai berwarna hitam kebiruan yang sangat pekat.


Rantai itu juga diselimuti dengan berbagai tanaman beracun. Dan tentu saja merupakan racun berbagai macam racun Es yang paling mematikan. Jika dilihat secara sekilas, rantai itu malah seperti menyerupai rambat Es karena terdapat daun-daun Es di setiap sudutnya.


Kevin melirik kebelakang dan ternyata pria bodoh itu masih terduduk di sana.


"Mundur lah dasar sampah." gumam Kevin menendang pantat Arcas geram. Anak itu juga menginstruksikan kepada kakaknya dan Keanu untuk mundur bersama b*bi sialan ini.


Mereka menurut dan mundur beberapa meter dari sana.


"Raphael, apa tidak apa-apa jika adikmu yang melawan monster itu sendirian?" jujur ia merasa cemas walau sudah tau kemampuan anak itu.


"…… Aku nyakin jika dia sangat mampu mengalahkan monster itu." ucap Raphael pelan.


Bohong jika dia tidak khawatir dengan adiknya sendiri. Ahh dia malah curiga jika anak ini benar-benar adiknya atau bukan?


………………………………………………


"Mau sampai kapan kau bersembunyi seperti curut? Keluar!" ujar Kevin arogan.


Lengan anak itu terlihat sedang dililit oleh rantai. Tapi sepertinya rantai ini tak akan menyakitinya, walau terlihat jika rantai ini melilitnya dengan kuat.


"Masih belum keluar ya? Hahhh… hanya monster tingkat sampah saja begitu angkuh!"


"Kalau begitu jangan salahkan aku..." ketusnya.


Kevin mengangkat tangannya. Diujung matanya muncul sebuah tato berwarna hitam biru dengan gambar tengkorak disertai rantai yang menyilang.


"Kalian bisa memakannya." ucap Kevin dalam.


Rantai itupun seperti merespon, dan langsung melesat cepat hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Rantai itu mengebor tanah dan masuk kedalam sana mencari sosok yang akan menjadi makanannya.


"Cari yang paling besar dan berwarna hijau pekat." bisik Kevin mengelus rantai yang ada di lengannya.


Tangan anak itu juga ikut membeku namun tak menghalangi pergerakannya sama sekali.


Tak lama setelah itu, gerakan rantai terhenti.


SRAK!!


GRRR…


"Sudah tertangkap rupanya... Seret dia keatas!"


SREKK..SREKK..SREKK!


Brumm! Byur…Byur!


Tanah menjadi pecah saat rantai-rantai milikinya menyeret sosok itu dari dalam lahar.


Dari sana munculah sesosok monster dengan mata biru sempurna, dengan tubuh yang berwarna hijau pekat namun menyala. Terlihat sangat membara!


Gggrrr…


"Makhluk sampah… ia tak berguna untuk kita. Kalau begitu makan dia!"


Rantai kembali melilit tubuh sosok itu namun lebih kuat dari sebelumnya. Rantai itu juga saling menembus kedalam tubuh monster itu, hendak mencari makanannya.


Sosok itu meraung kesakitan saat rantai Kevin menembus jantungnya dan keluar lagi melalui matanya. Tubuhnya juga terasa mati rasa karena racun Es yang bertabrakan dengan Martial Soul miliknya.


Krekk! Krekk!


Tubuh sosok itu sudah membeku sempurna, tak ada lagi tubuh lahar cair yang ada hanyalah kebekuan. Tak lama tubuhnya yang beku langsung pecah karena tak kuat lagi menahan gerakan brutal dari rantai-rantai tersebut, yang sangat jelas jika mereka benar-benar kelaparan.


"Masih kurang ya?" dengus Kevin.


Rantai itu kembali menuju kearahnya, lalu dengan seenaknya rantai itu langsung menusuk paru-parunya. Darah merembes keluar dari dadanya, namun ia masih sangat santai. Bibirnya juga sedikit memucat karena rantai rakus ini cukup memakan banyak Spirit miliknya.


Sudah merasa jika seluruh rantai terisi energi dingin, rantai tersebut langsung masuk kembali kedalam telapak tangan Kevin dan menghilang, bersamaan dengan luka yang ada di dadanya.


Dengan pucat Kevin menengok kebelakang, "Ayok lanjut, kita tidak bisa membuang-buang waktu."


……………………………………


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka hingga tak terasa sudah sampai kewilayahan dimana Beast itu berada.


Tempat disana jauh berbeda dari tempat-tempat sebelumnya. Tempat itu terdapat banyak tanaman obat yang memiliki Martial Api murni yang sangat bermanfaat namun juga langka.


Anehnya hawa disini tak terlalu panas seperti tempat sebelumnya. Sungguh aneh jika membayangkan jika ditempat inilah yang merupakan tempat sang Raja Api berada.


"Pantas saja dia disebut sebagai salah satu Raja Api. Mudah sekali mengelabui seseorang..." smirk Kevin.


Disisi lain Arcas sedang melihat-lihat tumbuhan cantik bewarna merah disekelilingnya. Saat ia hendak melirik kearah Keanu, ia mendapati jika sahabatnya terlihat tidak baik.


"Kenapa muka mu merah begitu? Bukannya disini gak panas-panas banget?" Arcas menunjuk pipi Keanu memberitahukan sahabatnya jika kedua pipinya memerah.


"Kau kepanasan?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku sama sekali tidak merasakan tubuhku panas." pria itu sudah mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan telapak tangannya ke dahinya. Namun nihil, dia sama sekali tidak merasakan perasaan panas.


"Api Pemurnian ya… apa Api itu bukan langsung membuat tubuh kita terbakar?" lagi-lagi Raphael menebak dengan benar.


Sekarang kakak ku mirip kayak cenayang daripada Mafia... Hahah


Kevin melebarkan senyumnya hingga lesung pipinya terlihat, imut namun tampan. Haiss bagaimana mungkin dia berfikir yang tidak-tidak?


Kenyataan jika Api Pemurnian sangat berbahaya memang sesuai tebakannya. Walau ia belum pernah melihat Api itu secara langsung, akan tetapi anak itu hanya bisa berdoa agar ketiga pria bodoh ini tak mati terlebih dahulu sebelum sampai kedalam Goa tempat dimana Beast itu berada.


Bisa saja mereka lenyap terlebih dahulu sebelum sampai.


"Ehem… sesuai tebakan, Api Pemurnian tidak langsung membakar tubuh kita, namun membakar jiwa kita terlebih dahulu. Keren bukan?" tawa Kevin kecil.


Itulah sebabnya Api ini dinamai sebagai Api Pemurnian…


"A-apa!! Hey bocah tengik! Kau memang dari awal tidak ikhlas menuntun kita kan!? Kau ingin kita mati disini ya?" lagi-lagi Arcas mengamuk ingin menjambak rambut Kevin.


Sebelum sempat menjambak bocah itu, ia sudah terlebih dahulu ditarik oleh Keanu. Terlihat jika mata Keanu sedikit memerah seperti orang sakit mata.


Kevin sekilas melihat mata Keanu dan sadar akan kelainan itu, namun tetap ia abaikan. Anggap saja jika mereka harus beradaptasi sebelum benar-benar sampai ketempat Beast tersebut tinggal.


"Kita gunakan teleportasi untuk kesana." tanpa banyak bicara Kevin sudah langsung membuat mereka menghilang dari sana.


Tanpa mereka sadari terdapat mata besar yang melihat mereka dari jauh. Mata yang berwarna hitam dan merah yang sendari tadi melihat mereka.


Gggggrrrr……!!!


Seketika tanaman obat yang ada di sana langsung menjadi batu ketika terkena hembusan nafas dari mahkluk itu.


Sebenarnya dia sudah dari awal merasakan adanya orang asing yang menginjak tanahnya. Akan tetapi entah kenapa ia tak bisa melangkah menuju orang-orang itu.


Seakan-akan ada sesuatu yang menahannya dan memberikannya arahan agar menyerang sesuai petunjuk orang tersebut.


Dan benar saja saat ia sudah mendapati orang asing itu, dia menyadari ada satu orang yang sebenarnya bukan manusia namun bukan juga mahkluk hidup.


Entah siapa mereka, namun jika mereka mengusik tempat tinggalnya. Ia benar-benar tidak akan segan-segan membunuh mereka semua walau dia juga bisa saja dalam bahaya ditangan orang aneh itu.


Dengan sekejap sosok itu menghilang. Ia menunggu bisikan tadi memberitahunya kapan dia bisa menyerang manusia-manusia itu.


Entah bisikan siapa, namun ia nyakin bahwa orang itu sangatlah kuat, hingga bisa menerobos kedalam inti jiwa mahkluk sepertinya.


………………………………………………


Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺


(Bagi yang mampu aja ya)


.


.


.


.


#Next