The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 93



1 minggu kemudian


Setelah kejadian itu, seluruh keluarga Alaric memutuskan untuk pindah ke Amerika karena mereka tidak ingin melihat Raphael terus merasa sedih dan kehilangan sosok yang dicintainya.


Namun sudah 5 hari semenjak mereka pindah sosok pria tampan itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Mereka tau jika anak ini memiliki mimik wajah yang dingin, akan tetapi semenjak hari itu sosoknya semakin terasa dingin dan suka menyendiri.


Mereka bahkan selalu memantau pria itu melalui layar CCTV yang mereka pasang dibeberapa tempat yang sering ditempati Raphael di Mansion tersebut.


Tapi ternyata mereka hanya melihat jika pria itu hanya terdiam sambil melamun dengan tangan yang menggenggam erat sebuah permata yang mereka nyakini sebagai benda pemberian wanita tersebut.


Sesekali mereka juga diam-diam sering bolak-balik ke depan pintu kamar Raphael, tapi lagi-lagi mereka hanya mendengar suara tangisan kecil dengan menyebut nama seorang wanita didalam kamar tersebut.


Dan sekarang pria itu entah kenapa memanggil mereka semua berserta kedua sahabatnya untuk berkumpul diruang tamu di Mansion tersebut.


Terlihat jika saat ini mereka semua sudah duduk diam diruang tamu selama setengah jam, namun pria itu sama sekali tak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Salah seorang sahabat dari pria itu yang bernama Arcas ingin mengeluarkan suaranya memperjelas apa yang sedang mereka lakukan, namun ia tertahan saat Raphael sudah terlebih dahulu menyelanya.


"Opah, aku tau kau bukan manusia biasa seperti Anasya." ucap Raphael menatap kosong kearah kakeknya yang sedang berkerut kening saat mendengar ia bertanya hal itu.


"Lalu?" bingung Tuan Besar Alaric.


Sedangkan Keanu serta Arcas terlihat kebingungan mendengar percakapan yang terdengar misterius didepannya. Mereka tak tau apa yang dimaksud dengan 'bukan manusia biasa'.


Ingin bertanya namun mereka memilih untuk diam dan lanjut mendengarkan pembicaraan antara cucu dan kakek itu saja. Siapa tau jika pertanyaan mereka bisa terjawab secara tak sengaja.


"Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi kuat. Melebihi orang itu, pria yang saat itu mengambil Anasya dariku."


Uhuk! Uhuuk!


Mendengar ucapan kakaknya yang sangat gila, membuat Kevin tersedak. Anak itu tak menyangka jika keberanian yang dimiliki kakaknya ini terkesan tak masuk akal.


Wajar sih kakak ku ini emang bodoh.


Sekilas mereka semua melihat kearah Kevin, sesaat kemudian mereka lanjut menatap wajah Raphael serius, kecuali kedua sahabatnya yang semakin dibuat kebingungan.


"Opah tak nyakin jika kau bisa lebih kuat dari pria itu. Opah sendiri sangat terkejut melihat kekuatannya. Opah nyakin jika saat itu dia tidak mengeluarkan kekuatan aslinya."


"Tapi setidaknya Opah tau bagaimana caranya untuk menjadi kuat 'kan?"


"Ya... kau memang bisa saja menjadi kuat, namun harapan itu sangatlah kecil. Terlebih lagi dunia tempat kita tinggal sangatlah tidak cocok untuk berlatih kekuatan Magis seperti itu."


"Tapi andaikan memang ada tempat yang cocok, kau harus memiliki bakat serta Akar Roh. Jika tidak, kau hanya bisa menggunakan kekuatan dari alam dan bukan tenaga dalam."


"Seberapa jauhnya jika aku tidak bisa menggunakan tenaga dalam?"


"Haihh… Kekuatan alam merupakan unsur atau Martial yang tersebar disekitar kita. Jika kita tidak mempunyai Akar Roh, maka Martial tersebut tidak dapat kau olah menjadi tingkat selanjutnya. Beda lagi jika kau memiliki Akar Roh, dengan itu kau bisa mengolah Martial itu didalam kolam spirit yang ada didalam tubuhmu."


"Kolam spirit juga tergantung bakat orang tersebut. Jika orang itu memiliki bakat yang menentang langit maka kolam Spirit tersebut akan sangat besar dan Martial didalam kolam itu akan terisi penuh. Selain itu warna dari Martial Kolam Spirit juga berbeda-beda seusai dari bakat Akar Roh dan tingkat apa kau memiliki Akar Roh tersebut."


Tuan Besar Alaric menjelaskan semuanya dengan ekspresi serius namun terdengar santai.


"Andaikan aku memiliki Akar Roh, apa aku bisa melatihnya?"


Tuan Besar Alaric menggelengkan kepalanya pasrah, "Mustahil nak, kau tidak memiliki Akar Roh dan tempat kita tinggal tidak cocok untuk melatih kekuatan seperti itu."


"Dimasa lalu dunia kita masih sangat mungkin untuk mengubah seseorang menjadi seorang petarung, namun dunia bisa berubah seiring berjalannya waktu, Martial disini juga sudah bercampur dengan polusi."


Raphael yang mendengar jika semua harapannya sangat mustahil diwujudkan, mengertakan giginya sambil mencengkram erat telapak tangannya kuat.


"Apa tidak ada jalan lagi?! Aku tidak bisa menyerah untuk orang yang kucintai! Opah tolong katakan padaku bagaimana caranya untuk menjadi kuat!"


Kacau Raphael, pria itu menjambak rambutnya frustasi. Ia tidak, dan sangat tidak rela jika ia sampai akhir tidak bisa melihat wanita pujaannya lagi.


Bagaimana pun caranya dia harus menjadi kuat dan membuat namanya tersebar agar wanitanya bisa mendengar namanya dari tempat ia tinggal. Disaat itu juga dia akan menjemput wanitanya dan langsung menikahinya.


"……" Taun Besar Alaric terdiam pria itu menundukkan kepalanya seolah-olah dia tidak tau cara lain agar cucunya bisa menjadi orang kuat.


Menjadi kuat saja susah, apalagi mengalahkan pria yang dia lihat saat itu?! Benar-benar tak masuk akal! Cinta memang sangat mematikan dan dapat membuat seseorang menjadi bodoh.


Melihat jika Tuan Besar Alaric hanya terdiam dan tidak bersuara, seluruh keluarga Alaric juga ikut terdiam. Mereka mengalihkan pandangannya kearah lain, seolah-olah mereka tak ingin menunjukkan raut wajah menyesal yang sekarang ini mereka perlihatkan.


Selama ini ia tidak pernah melihat wajah kakaknya yang terlihat sangat kacau seperti sekarang. Jujur dia bosan karena terus-menerus melihat wajah kakaknya yang seperti itu.


"Huftt……" Kevin menghembuskan nafasnya lelah. Mau tak mau ia harus membantu kakak bodohnya ini.


"Ehem…, aku memiliki cara agar kakak bisa menjadi kuat." suara cuek itu terdengar dari bibir mungil milik Kevin.


Mendengar ucapan itu mereka semua langsung menatap Kevin seperti melihat hewan langka, berbinar-binar.


Bukan hanya orang-orang itu saja, pemeran utama pun juga ikut menampakkan wajah cerahnya, saat adik tak bergunanya ini akhirnya berguna juga.


Walau agak ragu pria itu harus tetap mendengarkan cara yang diusulkan anak ini, karena sepertinya bocah tengik ini memang sangat misterius sejak dulu.Siapa tau jika adiknya memang mengetahui sesuatu?


"Cepat katakan padaku!" ucap Raphael cerah, di angguki oleh yang lainnya.


Cih! Kemana hilangnya wajah menyedihkannya itu?


Dengan kesal Kevin pun menjelaskan bagaimana caranya agar bisa membuat Raphael menjadi orang kuat.


"Seperti yang dikatakan Opah, disini kau memang tidak bisa melatih maupun menaikan level kekuatan Spirit. Namun di dimensi lain bukankah sangat mudah untuk melatih maupun menaikkan level Spirit? Dan itu pun tergantung tingkatan dimensinya."


Diam-diam Tuan Besar Alaric mengerutkan keningnya heran. Pria itu tidak tau darimana cucunya ini mengetahui hal tersebut. Sedikit rasa curiga terlihat di mimik wajahnya.


Tapi beberapa saat kemudian, ia langsung mengubah ekspresi wajahnya karena tak mau berburuk sangka kepada cucunya sendiri.


"Tidak bisa!! Cara itu sangat beresiko!" ujar Tuan besar Alaric tak setuju.


Namun sebuah suara membuat pria itu tercengang, siapa lagi jika bukan Raphael?


"Aku menerimanya." dinginnya penuh dengan tekad bercampur hawa pembunuh. Sepertinya pria ini sudah termakan oleh kegelapan.


Apa cucu ku sudah gila?!


"Jangan bicara omong kosong Raphael! Kau sama sekali tidak mengerti seberapa bahayanya dimensi diluar sana! Bahkan sebelum kau masuk, kau sudah terlebih dahulu menjadi potongan daging karena tubuh manusia yang kau punya!"


"Haha… ayolah pria tua, bagaimana mungkin aku mengusulkan pendapat kalau pada akhirnya kakak bodoh ku ini akan mati begitu saja? Huh, aku tak sekejam itu kepada keluarga ku sendiri."


Tuan Besar Alaric semakin mengerutkan keningnya bingung, rasa curiga kepada cucunya semakin menjadi-jadi.


Anak ini berbicara seakan-akan dia sudah sangat mengetahuinya?! Walaupun curiga pria itu masih tetap menutup mulutnya rapat.


"Kevin sayang, apa maksudmu nak?" tanya Cassia, Mama dari Kevin serta Raphael.


"Jika kakak tidak bisa melewati perbatasan antara dimensi karena terdapat Hukum Dao Ruang Dimensi sebab ia manusia. Tapi bagaimana jika aku memindahkan jiwa kakak ke tubuh baru? Yang jelas bukan tubuh manusia dan monster."


BRAAK!!


Wush……


"Siapa kau?!" seru Tuan Besar Alaric memukul meja yang ada didepannya dan menghilang lalu muncul lagi didepan Kevin dengan posisi ia menarik kerah baju anak itu.


Kyaaa…!!


Cassia dan Kessy langsung berteriak kaget serta cemas saat melihat jika Ayah mereka sedang menarik kerah baju Kevin, anak lelaki imut tersebut.


………………………………………………


Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺


(Bagi yang mampu aja ya)


.


.


.


.


#Next