
Tak berapa lama badai pasir pun berhenti. Pasir-pasir panas berserakan dimana-mana yang bisa saja membuat kaki seseorang meleleh. Pasir itu berasal dari dalam goa.
Raphael yang sendiri tadi menunggu saat-saat ini langsung menggunakan kemampuan pengelihatannya yang dapat menembus Martial mati. Dia segera melihat sekeliling untuk menemukan kedua sahabatnya.
Tak lama ia mengetahui dimana sahabatnya berada. Namun ia tak mendapati adik jahatnya.
"Huft… sudahlah, pasti bocah itu lagi menonton pertempuran kita layaknya menonton bioskop." ucapnya.
Sebenarnya ia tak hanya bisa menemukan kedua sahabatnya. Ia juga menemukan dimana Breast itu berada. Namun ia masih tidak tau wujud pasti dari Breast tersebut. Karena ia hanya bisa melihat asap hitam yang sangat pekat dengan mata merah sempurna dari dalam goa.
Saat ia ingin memastikan wujud Beast itu lagi. Akan tetapi tatapan mata mereka tanpa sengaja bertemu.
Tubuh Raphael kaku dalam sekejap, "Tidak mungkin kan ia dapat menemukan dimana aku berada?"
Raphael dengan hati-hati menatap lekat mata Beats itu memastikan apa tatapan mereka tak sengaja bertemu atau dia benar-benar bisa melihat keberadaannya.
Namun tanpa diduga Beast itu tersenyum lebar sehingga memperlihatkan gigi tajamnya, yang awalnya hanya terlihat mata dan asap.
Karena menyadari reaksi tak wajar dari Beast, Raphael yakin jika Beast tersebut menemukan keberadaannya.
Dengan cepat Pria itu langsung berlari dari titik perlindungannya. Baru beberapa detik ia berlari dari sana ternyata batu yang ia jadikan pelindung seketika berubah menjadi lelehan lahar berwarna putih.
"Hissst…" Raphael dapat merasakan seberapa panasnya lelehan lahar putih itu. Untung saja ia berhasil menjauh sebelum batu itu meleleh dan mengenainya.
Didalam goa, mahkluk yang diduga sebagai Raja Breast itu merasa dirinya semakin terhibur. Ditambah ternyata manusia aneh yang menemani mereka sudah tak ada di sana, yang artinya dia tak perlu cemas lagi.
"Manusia… Manusia… Manusia…!!! Akan ku buat kalian menjadi lelehan nanti!" suara itu bergema dari dalam Goa.
Suranya tak sekeras sebelumnya, namun tetap saja suara itu dapat membuat telinga mereka berdengung.
Raphael sudah berpindah tempat untuk berlindung. Dan ternyata sangat pas, karena dia ada di atas persembunyian kedua sahabatnya yang ada didalam retakan tanah dibawahnya.
"Kalian baik-baik saja?"
Keanu dan Arcas mendongak keatas, "Kami baik-baik saja." bisik Keanu dari bawah.
"Raphael apa yang harus kita lakukan?" tanya Arcas yang sudah kembali tenang.
"Pertama-tama kita harus membuat dia keluar dari goa itu dulu." jawab Raphael melirik sedikit kearah Beast yang juga menatapnya dari dalam goa.
"Apa kau yakin kita bisa menang melawannya? Kita saja tidak bisa mendekatinya, apalagi membunuhnya." kata Arcas frustasi. Pria itu mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
"Kita harus tenang dulu. Kau terlalu banyak berfikir logis." oceh Keanu sedikit terganggu.
"Sudahlah… mungkin karena kita manusia dan tidak pernah melihat apalagi berhadapan langsung dengan monster seperti itu, makanya ada rasa takut yang sangat besar didalam diri kita. Ditambah pemikiran logis kita yang berfikir seusai realita jika kita tidak bisa melawan monster itu karena jauh lebih besar dan kuat dari kita, yang membuat kita menyerah duluan sebelum bertarung." Raphael berusaha menjelaskan kepada kedua sahabatnya.
"Tapi kekuatan dan ukuran bukan berarti menentukan jika ia akan menang! Aku tak akan rela mati ditangan monster itu!" geram Keanu.
"Tepat. Jadi kita hanya perlu menghilangkan pemikiran logis kita yang hanya dapat mendorong kita untuk mati." balas Raphael smirk.
"Jadi maksudmu kita seharusnya berfikir fantasi sesuai tebakan dan insting? Apa kau pikir itu dapat membuat keajaiban!?" kesal Arcas.
"Keajaiban sekarang bukan hal yang mustahil. Bukti sudah ada bukan? Monster, makhluk yang memiliki kekuatan? Itu semua merupakan keajaiban." jawab Raphael lagi.
"……" Arcas terdiam, ucapan sahabatnya memang sangat benar.
"Disini kita tidak boleh merengek dan termakan emosi. Kuat dan lemah saling berdampingan, namun keduanya juga saling membatasi. Jadi jika kita tetap mau menjadi orang lemah dan tidak mau memecahkan pembatas itu, kita tidak akan bisa menjadi kuat!" ujar Raphael.
"Jadi sekarang kita harus benar-benar bertarung tanpa mempedulikan apapun?" tanya Arcas.
"Bukan begitu bodoh! Maksud Raphael kita pertarungan dengan tekad untuk menjadi kuat. Karena dengan itu kita tidak akan memperdulikan bagaimana resiko yang akan kita terima." Keanu menjitak kepala Arcas keras karena terlampau kesal.
"Berarti intinya kita harus menjadi kuat. Dan cara kita untuk menjadi kuat adalah dengan melenyapkan Beast tersebut yang bagaikan pembatas yang menghalang kita untuk menjadi kuat!?"
Raphael dan Keanu mengangguk dengan tatapan mata yang penuh dengan kejahatan. Jika tidak mau mati, mereka harus lebih jahat daripada Beast tersebut.
Karena dirasa kedua sahabatan sudah mengerti. Raphael langsung membuat rencana singkat bersama.
Mereka sesekali melirik kearah goa, takut jika Beast itu menyerang tiba-tiba. Namun sepertinya Beast tersebut masih bermurah hati karena sendiri tadi tidak menyerang mereka duluan.
Tepat saat mereka selesai membuat rencana. Beast itu terlihat sudah tak mau menunggu mereka lagi. Mereka mengetahuinya karena mendengar geraman keras didalam goa.
"GROOO…!! Manusia…" Beats itu meraung keras.
Keanu bungkam sesaat, begitu juga dengan Arcas, "…… Makhluk itu bisa berbicara?" ucap Arcas tercengang.
"Sesuai dengan tingkatnya yang tinggi, tidak mungkin dia tidak bisa bicara." Raphael menimpali. Pria itu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Haruskah aku menjawab?" dingin Raphael. Pria itu sudah berdiri tepat didepan goa tanpa rasa takut.
"GRRR... Hanya seorang manusia berani sekali mengangkat kepalanya didepan ku!"
"Memangnya kau siapa? Apa aku harus bersujud jika bertemu denganmu?" ketus Raphael.
"APA? Kau masuk kesini tanpa tau monster apa yang ada disini?!! Hey manusia aku ini Raj-' perkataannya terpotong oleh Raphael.
"Yayaya, aku ini Raja Breast. Lalu kenapa?" Raphael masang wajah bodo amat. Toh ia juga tidak peduli, karena sebentar lagi Beast itu akan menjadi bahan untuk dijadikan tubuh baru oleh mereka.
DUUMMMM!!!
Tanah yang Raphael pijak jatuh kebawah dengan tiba-tiba. Mau tak mau ia harus melompat keluar sebelum terkubur didalam tanah bersama kawah panas yang menunggunya.
"AKU KATAKAN SEKALI LAGI! UNTUK APA KAU KESINI!!" raungnya.
Akhirnya Beast itu menampakan dirinya. Ia keluar dari goa dan tebang keatas. Wujudnya seperti serigala dengan ekor gajah dan memiliki sepasang sayap kalelawar. Wujud yang aneh namun kuat.
Saat ini bukan hanya Raphael yang kesulitan. Keanu dan Arcas juga dalam situasi yang sama. Mereka berdua sedang berusaha keras mencegah retakan tanah yang ingin tertutup rapat.
"Arghhhh!!" Keanu dan Arcas sama-sama berusaha keras mendorong retakan itu tertutup.
"Huh…huh… Kau keluarlah duluan. Aku akan menyusul setelah kau keluar." Keanu berucap dengan nafas yang tak beraturan.
"Hosh…hosh… kau sudah gila? Kalau aku keluar apa kau bisa menahan retakan tanah ini sendirian!?" seru Arcas.
"Ck! Aku tidak akan mengorbankan nyawa ku sendiri bodoh! Maksudku kau harus keluar dulu lalu membantuku keluar juga!"
Mendengar itu ia langsung menurut tanpa bantahan lagi. Pria itu melompat sambil menggapai atas permukaan tanah dengan tangannya. Lalu dengan cepat ia menarik lengan Keanu dan mengangkatnya tanpa memberikan aba-aba.
Keanu dan Arcas akhirnya bisa keluar dari retakan tanah itu dengar selamat. Keduanya langsung menatap Beast yang terbang mengelilingi mereka dengan menyemburkan lahar panas dari mulutnya.
Mereka sekarang sudah dikepung oleh lahar panas. Sedikit keringat bercucuran dipunggung mereka.
Disisi lain Raphael masih sibuk melompat di atas potongan-potongan batu yang seakan-akan ingin ikut menguburnya. Ia meloncat keatas dengan cepat dari satu batu ke batu lainnya.
Tap! Tap! Tap!
"Sedikit lagi…" gumam Raphael langsung mengumpulkan tenaganya ke telapak kakinya. Dengan sekali loncatan akhirnya Raphael berhasil keluar dan mendarat di atas goa yang menjadi tempat tinggal Beast tersebut.
"Tidak ku sangka aku dapat melompat setinggi ini." batinnya.
Arcas dan Keanu yang melihat kemampuan Raphael yang dapat melompat bagaikan terbang cukup terpukau.
Namun langsung saja mereka pendam. Karena sekarang belum saatnya mereka bersantai-santai. Mereka harus melawan Beast itu sesuai petunjuk Raphael.
"Untuk sekarang kita hanya perlu menunggu Beast itu turun. Kita haru menyerangnya dari jarak dekat." bisik Keanu.
Arcas menggenggam tangannya yang sedikit bergetar. Pria itu memang yang paling penakut diantara mereka. Saat menjadi Anggota Mafia, ia sangat jarang bertarung dengan para Anggota Militer. Karena dia sibuk di ruangan Lap nya.
………………………………………………………
Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺
(Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next