The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 79



"Dia tidak ingin menjadikanku seorang budak melainkan dia ingin aku menjadi kekasihnya? Lucu bukan?"


"Saat itu aku tidak langsung menjawab permintaannya, aku bimbang, namun aku teringat kembali bayangan sahabatku yang menangis kesakitan sehabis disiksa, membuatku lemah."


"Dengan terpaksa aku menerima permintaannya, dan dia hanya tersenyum saat aku sudah menjadi kekasihnya."


"Semenjak hari itu aku dan sahabat ku dibebaskan dari penyiksaan ini, kami sudak tidak diperlakukan seperti budak oleh mereka, melainkan kami diperlakukan layaknya orang penting disini."


"Kamar, makanan, baju, perhiasan, hiburan, dan senjata atau benda-benda sihir semuanya tersedia untuk kami."


"Semenjak hari itu juga hubunganku dengan pria itu semakin dekat, bahkan banyak yang bilang jika kami adalah pasangan yang ditakdirkan langit."


"Selain dekatnya hubunganku dan pria itu, aku juga dekat dengan pria yang juga merupakan pemimpin sekaligus sahabat dari kekasihku saat itu."


"Aku dekat dengannya juga dengan orang-orang yang ada ditempat itu, aku bahkan menganggap mereka keluargaku sendiri."


"Makhluk-makhluk menjijikkan yang pernah aku lihat saat itu seketika menghilang dari pandanganku. Kupikir setelah itu aku akan bahagia tapi ternyata tidak."


"Orang yang ku anggap sebagai keluargaku mengkhianati ku, dia memainkan trik trik licik untuk menjatuhkan ku dan merenggut apa yang aku punya saat itu."


"Penyiksaan yang sebenarnya baru saja terjadi setelah ular yang selama ini aku jaga ternyata lepas kendali."


"Kehancuran yang menimpa ku tidak langsung terjadi namun bertahan, siksaan yang ku terima bahkan sangat tidak manusiawi."


"Orang yang ku anggap kekasih ternyata berbalik menjadi musuh, begitu juga dengan yang lain."


"Disiksa secara perlahan namun menyakitkan sangat membuatku menderita."


"Sakit ini bahkan tidak sepadan dengan rasa sakit di hatiku, melihat penghinaan, penghianat, dan perselingkuhan antara sahabatku dengan kekasihku sendiri."


"Naif sekali aku dulu, aku bahkan bisa-bisanya berfikir hidupku akan damai seperti semula."


"Sahabatku bahkan selalu menyiksaku didepan pria yang kucintai, dia hanya dia. Aku frustasi saat itu, namun…"


Queen menghentikan ceritanya dan melihat kearah Raphael yang sekarang memasang wajah tidak percaya.


"Mungkin cerita ku tidak masuk akal bagi kalian, tapi kuharap kamu tidak menyebarkan semua yang ku ceritakan hari ini…"


"Seterah kau mau percaya atau tid-" perkataan Queen terpotong saat Raphael menyelanya.


"Tidak aku percaya." tegasnya


"Aku percaya semua yang kamu ceritakan."


"Hah? Bagaimana bisa." Queen membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Karena aku juga selalu melihat hal-hal yang tidak masuk akal sendiri kecil." pria itu tersenyum tapi mengandung kesedihan dan kemarahan didalamnya.


"Tidak itu tidak mungkin! Kamu harusnya tidak mengatakan itu!" Queen membantah semua ucapan Raphael.


"Harusnya kamu mengatakan kalo aku ini gila, iya harusnya kamu mengatakan itu!"


"Lalu apa yang kamu lihat disini apa bukan gila namanya?" Raphael menunjuk pohon besar di depannya.


"Aku tidak tau pohon apa itu, tapi aku tau pohon ini memiliki sesuatu yang luar biasa didalamnya."


"Selain untuk pengobatan, aku sering melihat Opah ku berbicara sendiri ditengah malam diwaktu tertentu, bahkan sampai sekarang."


"Aku juga sempat curiga kepada Opah ku karena dia terlihat masih sangat muda dan jarang sakit, bahkan jika dipikir-pikir aku tidak pernah melihatnya sakit."


"Jadi apa menurutmu itu semua masuk akal?"


Queen yang mendengar itu, tidak bisa membantah lagi, memang benar apa yang dikatakan pria itu sangat tidak masuk akal.


"Aku juga tau saat pertama kali kamu disini, kamu selalu menatap pohon itu dengan senyum aneh."


"Jadi kamu melihatnya?" bibir Queen bergetar tidak menyangka pria ini sangat jeli kepada sekitarnya.


"Iya sejak awal aku melihat gerak gerik mu."


"Anasya apa boleh aku bertanya sesuatu?"


Queen yang mendengar itu menganggukkan kepalanya menanggapi.


"Bagaimana kamu disiksa oleh mereka? Kamu tidak mengatakan detail nya, dan hanya mengatakan jika kamu disiksa secara bertahap."


Raphael sebenarnya tidak ingin bertanya hal itu, tapi jika wanitanya ingin menjelaskan lebih rinci lagi, dia akan lebih tenang. Jujur sejak tadi dia selalu menahan hasrat membunuhnya.


Queen yang ditanya seperti itu menggelengkan kepalanya pelan tidak sanggup menceritakan kembali memomori menyakitkan tersebut.


"Maaf…" hanya itu yang bisa Queen balas.


"Tidak apa, aku mengerti."


"Apa sahabatmu masih hidup sekarang?"


Queen mengangkat kepalanya menatap langit sore hari, tak terasa hari sudah sore.


"Aku tidak tau, semuanya menghilang begitu saja."


Tak terasa setetes air mata keluar dari sudut mata Queen.


Raphael yang melihat ketidak berdayaan wanitanya merasa hatinya tersayat ribuan pisau. Namun dia masih ingat menanyakan sesuatu yang masih mengganjal dihatinya.


"Kamu masih mencintai pria itu?" Raphael kaget dengan mulutnya sendiri yang secara tak sengaja menanyakan pertanyaan yang sangat bodoh menurutnya.


Queen tersenyum getir, "Apa pria seperti itu masih layak mendapatkan cintaku?"


Mendengar jawaban itu, alangkah senangnya dia. Pria itu bahkan bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.


"Yess!" batin Raphael bersorak ria.


Namun sepertinya kesenangan itu tidak berlangsung lama setelah Queen mengatakan sesuatu yang mengejutkannya.


Bagaikan ditusuk ribuan tombak besi, Raphael merasa hatinya berdarah mendengar ungkapan yang dikeluarkan wanitanya.


Belum sempat berbicara, Raphael pun sudah disela oleh Queen.


"Aku membenci wajahmu, wajah itu sangat mirip sepertinya." tajam Queen.


"Dan temanmu juga sangat mirip dengan pria sialan itu. Entah ini sebuah anugrah karena memiliki wajah tampan seperti mereka, atau tidak." lirih Queen.


"Apakah itu sebabnya kamu begitu membenciku saat pertama kali kita bertemu?"


"Apa karena itu juga kamu sampai berkelahi dengan sahabatku?" tanya Raphael akhirnya tau jika semua perilaku Queen yang sempat aneh disebabkan karena kemiripan antara dirinya dengan pria yang sudah merusak masa depan wanitanya, begitu juga dengan sahabatnya.


Mendengar balasan itu Queen segera menjawab, "Mungkin ini tidak adil untuk kalian berdua, tapi mau bagaimana lagi… aku sangat membenci wajah itu."


Setalah mengatakan itu Queen tersadar jika sekarang waktu sudah menjelang malam.


"Hem sepertinya waktu sudah hampir malam, tolong antar aku pulang." pinta Queen namun tak dibalas oleh pria disampingnya ini.


Disisi lain Raphael masih diam termenung, rasanya jiwanya sudah melayang entah kemana mendengar pernyataan menyakitkan ini.


"RAPHAEL!" Queen berteriak kesal. Wanita ini sudah berada didepan pria itu dengan kedua tangannya diatas pinggang.


"Ehh iya kenapa?" kaget Raphael.


"Antar aku pulang! Tapi sebelum itu aku ingin menemui kakek mu dulu…" jawab Queen melengos pergi meninggalkan Raphael yang masih ada ditaman.


Raphael yang ditinggal sendirian menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan jalan pikiran wanitanya, "Minta diantar tapi kenapa dia duluan yang pergi?"


…………………………………………………


_Diruang Kepala Keluarga Alaric_


Terlihat seorang lelaki muda yang sebenarnya sudah memiliki umur yang cukup dibilang sangat tua sedang membaca buku yang entah itu apa.


Tok..Tok..Tok


"Permisi Tuan, ada orang yang ingin menemui Tuan." ucap seorang Maid dari luar ruangan.


"Suruh dia masuk." Pria itu dengan cepat menutup bukunya dan menatap pintu ruangannya menunggu orang yang sudah bisa dia tebak siapa yang ingin menemuinya.


Seorang wanita yang sangat cantik memasuki ruangan tersebut, dengan senyum yang berbeda dari sebelumnya.


Tidak ada perasaan sombong, angkuh, ataupun dendam didalam senyum itu, akan tetapi rasa hangat yang sangat jelas didalam senyuman tersebut.


"Ternyata benar itu kau Nona, silahkan duduk."


"Hahaha tidak perlu sesopan itu, dan ternyata kau sudah menunggu ku."


Queen berjalan mendekati sofa dan duduk dengan alami seperti tempatnya sendiri.


"Pertama-tama aku ingin mengucapkan maaf karena perilaku angkuh ku diruang Utama."


"Ah soal itu lupakan saja Nona." pria itu gelagapan saat mendengar permintaan maaf dari Nona didepannya.


Mendengar penolakan itu Queen menggelengkan kepalanya lalu menatap serius pria didepannya ini.


"Aku awalnya berfikir jika Ras Elf sudah menipuku dengan mengatakan Ras-nya sudah tidak bisa lagi bertahan. Terlebih lagi aku merasakan darah murni Ras itu pada dirimu."


"Namun setelah aku masuk kedalam jiwa mu, ternyata kau hanya mempunyai 65% darah Elf pada dirimu. Jadi bisa dibilang kau bukan Ras Elf sempurna."


"Mendengar alasan Nona saya bisa memakluminya." sopan pria itu tidak keberatan.


"Okay langsung saja, aku ingin bertanya kenapa kamu memiliki darah itu? Seperti perkataan ku sebelumnya kau bukanlah keturunan langsung Ras tersebut."


"Ya Nona benar, kenapa aku memiliki darah ini ceritanya cukup panjang, tapi darah ini berasal dari darah pengorbanan guruku."


"Oh? Siapa gurumu?"


"Dia adalah orang yang bernama Alaric seperti nama marga keluarga ini. Berkat dirinya aku memiliki umur yang panjang, dia berkata jika Ras-nya sudah menghilang satu persatu, makanya dia ingin menitipkan Artefak miliknya untuk kujaga."


"Tapi karena dulu aku hanya seorang Pendekar QI aku tidak bisa menyentuh apalagi merawat Artefak berharga milik guru. Jadi guru mengorbankan darahnya dimana sangat beresiko mengorbankan nyawanya."


"Walau begitu guru tidak peduli dan tetap bersikukuh untuk merubahku menjadi Ras Elf Sejati seperti dirinya dengan menggunakan darahnya, sehingga aku bisa merawat Artefak miliknya."


"Tapi sayang sekali guru tidak bisa bertahan lama setelah merubahku menjadi Ras Elf."


"Hemm… jadi karena itulah kau hanya mempunyai 65% darah dari Ras Elf Sejati sesungguhnya. Baiklah aku mengerti terima kasih sudah menceritakan semuanya."


"Sebagai gantinya aku akan memberikan salah satu Artefak dari leluhur Klan Elf Sejati, dengan Artefak ini kedua Artefak yang kau jaga akan bisa bertahan untuk beberapa dekade."


"Kau seharusnya tau bukan jika dunia ini sudah tidak cocok untuk benda suci seperti mereka, itu sama saja kau merusak berada tersebut perlahan-lahan, dan semua pengorbanan gurumu akan sia-sia."


Setalah Queen menyelesaikan perkataannya, pria itu semakin menundukkan kepalanya merasa bersalah. Queen yang melihat itu sebenarnya tidak bermaksud untuk membuat pria ini terluka karena perkataannya.


………………………………………………………………


Jangan lupa tinggalkan jejak


Yang baik boleh Vote Author hehehe


.


.


.


.


#Next