
Seketika Mansion bergetar hebat, getaran itu semakin kuat dan terdektesi oleh alat perekam gempa, para pekerja di bidang penanggulangan bencana menjadi panik sebab gempa tersebut datang secara tiba-tiba.
Didalam Mansion keluarga Alaric, terlihat seorang pria yang amat sangat tampan dengan ekor seperti kalajengking sambil memegang senjata seperti malaikat maut bediri dibelakang mereka.
Mata pria itu menjadi empat, dimana muncul mata baru dibawah matanya, akan tetapi mata itu lebih kecil daripada mata pada umumnya, tentu saja itu merupakan efek dari iblis hati yang meluap deras didalam diri Alvarez.
Semua orang termaksud keluarga Raphael menjadi tertekan dan merasa sangat takut saat melihat wujud Alvarez yang sangat tidak lazim.
Monster apa ini? Dia bahkan sangat menakutkan, belum pernah mereka melihat mahkluk dengan wujud semenyeramkan ini.
Apa dia merupakan Ras Elf yang ingin mengambil Artefak tersebut?
Tapi penampilannya sama sekali tidak seperti seorang Elf, bahkan lebih mirip Iblis.
"Berani menipu Ratu… MATI!!" tekanan semakin kuat, terlihat jika ada beberapa dari mereka yang tergeletak pingsan.
Seluruh keluarga Alaric mengeluarkan darah dari dalam mulutnya, mereka semua sudah berlutut di atas lantai.
Tuan Besar Alaric yang tak mau tinggal diam, mengambil Artefak Elf tersebut berniat ingin melawan pria menyeramkan didepannya.
Melihat tindakan bodoh yang dilakukan oleh pria itu, Alvarez tertawa lantang, "Hahahah! Kau pikir dengan senjata itu kau bisa mengalahkan ku yang dibimbing langsung oleh sang Ratu?!!"
Mendengar kata Ratu mereka semua menjadi bingung, dengan memberanikan diri Tuan Besar Alaric bertanya akan hal itu.
"Si- Uhuk… Si-siapa Ratu mu? Kami bahkan tidak tau siapa Ratu mu!" jawab Tuan Besar Alaric dengan susah payah.
"Hah? Ayolah jangan menipuku… aku tau kau adalah Ras Elf Sejati yang 'Katanya' sudah lenyap, tapi apa ini? Kalian bahkan hidup dengan baik ditambah jumlah kalian cukup banyak!!"
"Karena kalian sudah menipu Ratu ku!! Kalau begitu kalian harus MATI." geram Alvarez mengangkat senjatanya.
Tak mau tinggal diam Tuan Besar Alaric juga melakukan hal yang sama, senjata tinggal Dewa itu saling berlawanan dan bergesekan.
Berbagai jenis sihir dan magis bertabrakan di udara, beberapa aksesoris ruangan serta beberapa ruangan hancur ketika terkena serangan dari kedua senjata tersebut.
Pertarungan diantara mereka terlihat imbang namun mereka tidak tau jika Alvarez masih terlihat santai, sedangkan untuk Tuan Besar Alaric, pria itu sudah terlihat tidak berdaya.
Sudah bosan bermain, Alvarez langsung mengalahkan Tuan Besar Alaric dengan sekali hentakan yang membuat senjata tingkat Dewa Elf tersebut terlempar cukup jauh.
Tanpa terlihat oleh mata mereka senjata mematikan milik Alvarez sudah berada dileher Tuan Besar Alaric, bersiap untuk memenggal kepala tersebut.
"Cepat katakan dimana bangsa kalian yang lain!?" sedikit demi sedikit senjata itu semakin mendekat kearah leher pria tersebut.
"Aa-aku tidak mengerti apa maksudmu…"
"GRRRT" geraman itu terdengar jelas dari senjata Dewa milik Alvarez.
"Hehehe kalau begitu kau mati sa-" sebelum Alvarez berhasil memenggal kepala itu, terdengar suara pria lain yang mirip dengan suara pria yang paling dia benci.
Yup, siapa lagi jika bukan Raphael?
Pria tampan itu masuk kedalam dengan membawa anak buahnya, terlihat jika dia sehabis berlari.
Dengan nafas yang tidak beraturan dia menatap semua kerusakan yang terjadi sekarang ini, ekspresi tak percaya tentu saja terlihat begitu jelas dimatanya.
Ternyata apa yang dikatakan wanitanya yang mengatakan jika di dunia ini terdapat banyak monster, benar-benar ada dan muncul langsung didepannya.
Tapi kenapa wajah monster itu terlihat sangat familiar dimatanya? Siapa sebenarnya monster itu?
"Apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa kau melukai keluarga ku!?" ujar Raphael.
Namun Alvarez tidak menjawab, pria itu malah terlihat semakin kesal dengan kedatangan musuhnya ini.
Ekspresi dan hawa yang dikeluarkan Alvarez semakin berat sehingga menekan mereka sampai terduduk dilantai, begitu juga dengan Raphael.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa kau melakukan ini kepada keluarga ku!?"
Namun pertanyaan itu sama sekali tidak dijawab oleh Alvarez, pria itu kembali menatap Tuan Besar Alaric yang sudah memucat.
"Ckckck sepertinya aku tidak akan membunuhmu langsung… sayang sekali." smirk Alvarez.
Raphael yang melihat itu semakin dibuat marah sekaligus geram, "Aku pikir kemampuan ku sudah sangat hebat jika nanti bertemu dengan lawan yang lebih kuat dariku sekalipun, namun jika lawan ku seperti dia, aku… aku sama sekali tidak bisa melawan." batinnya.
Drap…! Drap…! Drap…!
Suara langkah kaki mendekat kearah Raphael, jantung pria itu berdetak kencang, dia tidak takut dengan kematiannya, namun dia takut jika keluarganya akan mati begitu saja ditangan monster sialan ini.
Alvarez berhenti didepan Raphael, pria itu semakin menekankan momentumnya yang ada disekitarnya, dan membuat Raphael tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Raphael sekuat tenaga menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak ambruk, namun dengan kejamnya monster itu menginjak tangannya dengan sangat kuat.
Sakit yang sangat menusuk masuk kedalam tubuhnya, seperti hawa listrik.
"Ahh dari awal aku memang tidak suka padamu."
Setelah mengatakan itu Alvarez mengangkat tubuh Raphael dengan satu jarinya, semua keluarga Alaric yang melihat itu menjadi cemas.
Alvarez tersenyum buas menatap wajah Raphael yang tidak terlihat adanya ketakutan didalamnya, "Apa gunanya tekad itu jika kau sama sekali tidak memiliki kemampuan."
Lalu tiba-tiba Alvarez melempar tubuh Raphael cukup jauh darinya dan menyebabkan suara yang cukup kencang ditempat itu.
BRUKK…!!
Tak berhenti sampai disitu Alvarez melakukannya berulang-ulang kali, dengan cara dan ketinggian yang berbeda-beda.
Tawa yang begitu menyeramkan selalu terdengar jelas saat tubuh mangsanya sudah mencapai tanah, dan suara tersebut terdengar semakin kuat setiap kalinya.
Saat Alvarez sudah sedikit merasa bosan, dia pun menarik tubuh seorang anak kecil dari belakang tubuhnya yang tidak lain adalah Kevin, namun setelah dia melakukan sihir yang sama seperti yang dia lakukan kepada Raphael, namun entah kenapa sihirnya selalu ditolak.
"Emm… Sepertinya tubuhmu bukan tubuh biasa, atau… kau lah yang tidak biasa?" desisan menakutkan terdengar begitu jelas oleh mereka.
Kevin tidak menjawab dan hanya tersenyum, "Memuakan!" satu kata yang membuat Alvarez semakin dibuat tertarik dengan anak ini.
"Heheh aku tidak peduli siapa kau sebenarnya, namun kau harus tetap menemani kakak mu bermain!"
Tekankan yang Alvarez keluar menjadi 15% , dengan kekuatan yang dia keluarkan menjadi 5% , dengan jumlah kecil ini sudah cukup menarik tubuh Kevin secara paksa.
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi Alvarez kembali melempar dan menendang mereka berdua tanpa memperdulikan isakan tangis dari kedua wanita dibelakangnya.
Saat Alvarez sudah benar-benar bosan dan ingin mengakhiri semuanya, tiba-tiba.…
BRAAKK……!!!!
Suara pukulan yang begitu dahsyat terdengar jelas oleh mereka dan mengakibatkan Pohon Suci menjadi miring, akibat tanah yang ada disampingnya terkikis dan menciptakan lubang besar di sana.
Gempa terjadi untuk sekali lagi dan kembali terdektesi oleh alat perekam gempa, kali ini orang-orang yang bekerja ditempat penanggulangan bencana sudah tidak bisa lagi menganggap remeh gempa tersebut.
Mereka langsung dengan cepat mengaktifkan pemberitahuan kepada semua pemimpin kota agar mengeksekusi orang-orang ketempat yang lebih aman.
Kembali ketempat dimana pusat bencana itu terjadi, terlihat sekumpulan asap lebat menjulang sampai keatas langit.
Melihat dari kumpulan asap itu saja kita bisa tau jika pukulan tadi sangatlah bukan main-main.
Didalam kumpulan asap debu itu terlihat seorang wanita yang sedang berdiri dengan tangan yang dicengkeram kuat, disekeliling tubuhnya terdapat listrik berwarna hijau dan merah secara bersamaan.
……………………………………………………………
Like and Vote 🥺
.
.
.
.
#Next