The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 46



Diruang tempat dimana Queen berada, terlihat bahwa mereka sudah selesai membahas kerja sama antara Queen dan Devano, dan sekarang ini terlihat bahwa ATB ingin kembali ke Markas militer mereka, begitu juga dengan Queen yang juga ingin pulang ke Mansion-nya karena dia sudah sedikit lelah.


Mereka sama-sama keluar dari ruangan CEO, dan memasuki lift khusus CEO yang luas dan muat untuk mereka, karena Devano hanya membawa tiga orang kepercayaannya saja, jadi tidak terlalu banyak.


Sampainya dilantai bawah, banyak sekali yang melihat kearah mereka, tapi tidak berani berbicara dan menatap mereka terlalu lama, bahkan ada yang tidak menatap sama sekali, karena aura yang dikeluarkan oleh ATB, Queen, dan juga Alvarez, yang mampu menekan keberanian mereka.


Setelah mereka sampai didepan perusahaan, secara tiba-tiba munculah mobil-mobil yang sangat mewah yang sudah berbaris dihadapan mereka, dan ketika melihat mobil itu Queen langsung masuk kedalam mobil, diikuti oleh Alvarez.


"Kalian tidak masalah bukan jika aku pulang duluan." ucap Queen menyenderkan kepalanya dibangku mobil, "Yah tidak masalah, kita juga akan segera pulang." ucap Devano lembut, dan sekarang ketiga kepercayaan Devano sudah tidak kaget lagi dengan suara lembut itu yang terdengar sangat tulus, tidak seperti biasanya yang hanya kepura-puraan, mereka bertiga sudah menebak bahwa ketua mereka tertarik dengan Wanita CEO itu, makanya bersikap seperti itu.


"Oh baiklah, hati-hati." ucap Queen tanpa melihat mereka lagi, dan menutup kaca mobil, setelah itu mobil-mobil itupun langsung berjalan pergi keluar gerbang perusahaan dengan beriringan.


"Dia sangat cantik bukan?" ucap Devano linglung, "Dan barusan dia bilang hati-hati? Ah senangnya..." ucap Devano terseyum sendiri, sedangkan ketiga kepercayaan Devano, hanya melihatnya dengan pandangan aneh dan sedikit horor, ternyata ketua-nya bisa seperti ini juga.


Tak berapa lama mobil-mobil yang memiliki simbol Kemiliteran Tinggi berbaris didepan mereka, dan seketika Devano langsung mengehentikan senyumnya ketika sudah melihat jemputnya tiba, lalu merekapun langsung masuk kedalam mobil yang berbeda-beda, setelah itu mobil mereka langsung melesat beriringan menuju Markas Kemiliteran.


……………………………


_Di Mansion QueenZell_


NOTE : Mansion Queen bernama QueenZell ya guys.


"Huffft...." helah Queen langsung menjatuhkan tubuhnya disofa besar diruang tamu, bukan karena lelah, tapi dia terlalu bosan dengan kehidupan yang ada disini, dia juga binggung harus melakukan kegiatan apa besok.


"Ada apa?" ucap Alvarez datang tiba-tiba sambil membawa cemilan ditangannya, yang baru saja dia curi dari salah satu temannya, yang sedang enak enaknya menyemil.


"Bosan." singkat Queen, "Ada yang menarik?" ucap Queen lagi sambil melihat Alvarez.


"Entahlah, aku juga tidak tau." ucap Alvarez mendudukan dirinya didekat Queen, "Mau?" tawar Alvarez.


"Tidak, aku tidak suka pengawet." ucap Queen singkat, dia tidak mau memakan cemilan itu karena pasti ada pengawet makanan, dan dia tidak suka dengan pengawet, maka dari itu semua makanan dan bumbu selalu dibuat langsung ditangan anak-anaknya, dan terjamin kesehatannya.


"Jangan terlalu sering makan itu." ucap Queen tidak suka jika anaknya memakan makanan yang seperti itu terlalu sering, "Iya iya, tidak lagi Ma." ucap Alvarez terseyum hangat.


"Kenapa terseyum? Sudah gila ya?" ucap Queen jahat, "Tentu saja tidak, masa anak setampan aku bisa gila sih." canda Alvarez.


Mendengar perkataan Alvarez, beberapa orang yang ada disana yang juga merupakan anak-anak dari Queen ikut tertawa karena merasa geli dengan ucapan Alvarez, berbeda lagi dengan Queen yang terlihat jengah dengan perkataan narsis itu.


"Muka kaya banci aja sombong." smirk Queen ketika melihat ekspresi kaku dari Alvarez, "Mama~ kenapa kamu tega sekali, benar kan?" ucao Alvarez kepada teman-temannya yang ada disan, yang terlihat sedang menahan tawa melihat ekspresi menyedihkan dari Alvarez.


"Hahaha sudahlah aku bercanda." ucap Queen, "Tapi-" ucap Alvarez tertahan karena tiba-tiba saja salah satu temannya yang ditugaskan untuk menjaga pos depan menghampiri mereka.


"Permisi RatunNa." sopan orang itu yang bernama, Justin yang ditugaskan sebagai ketua penjaga di Mansion itu, "Apa?" singkat Queen.


"Saya mau memberikan undangan ini, dari pengantar pesan kalangan atas, yang baru saja kemari." ucap Justin langsung, "Mana suratnya." tanya Alvarez sedikit kesal karena ucapannya dipotong.


"Ini Tuan." Justin langsung memberikan surat undangan itu kepada Alvarez, dan ketika sudah menerimanya Alvarez langsung saja membuka surat itu dengan tidak ikhlas, "Coba kamu baca." suruh Queen kepada Alvarez ketika suratnya sudah dibuka.


Alvarez mengangguk dan langsung membaca surat itu dengan teliti, Alvarez membaca hanya dengan waktu singkat dan langsung menutup surat itu, dan melemparnya keatas meja tamu.


"Surat undangan untuk semua pengusaha kelas atas diseluruh dunia." jelas Alvarez mengenai surat itu, "Tidak penting." sinis Alvarez tidak suka dengan manusia-manusia itu, makanya selama ini Alvarez tidak pernah datang ke acara-acara seperti itu.


"Aku akan datang." ucapan singkat dan jelas itu mengagetkan mereka semua, apalagi yang mengatakannya adalah Queen sendiri, "Ke-kenapa?" binggung Alvarez tidak mengerti.


"Aku bosan, tidak ada kegiatan, apa salahnya jika datang." jelas Queen, "Apa RatuNa akan benar-benar datang ketempat kotor itu?" ucap anak-anak Queen, yang terlihat tidak senang.


"Hanya sekali." tekan Queen, "Huft... baiklah aku juga akan ikut." ucap Alvarez langsung.


"Terserah kau sajalah." setelah mengatakan itu, Queen langsung beranjak dari sofa, dan menaiki lift menuju lantai tempat dimana kamarnya berada.


……………………………………


Disisi lain tepat dimana Raphael dan kedua temannya berada, mereka terlihat sedang berlatih diruangan latihan khusus, setelah kejadian tadi.


"Dorr...! Dorr....!! Dorrr...!!!" suara tembakan bergema diruang itu, mereka berlatih dengan sangat gila, karena mereka berlatih seperti benar-benar sedang menembak seseorang, dan itu terlihat dari ruangan pelatihan yang sudah kacau balai, dan walaupun semua persenjataan diletakan dipintu yang berbeda, sehingga tidak ada kerusakan pada senjata, tapi tetap saja mereka keterlaluan.


Tapi ada satu pria yang tidak ikut latihan menembak, dia lebih suka latihan dengan bom, tapi tidak mungkin dia latihan diruang ini bukan, bisa dipenggal lehernya itu sama sahabatnya yang kejam, mungkin habis ini dia akan kebelakang hutan, untuk latihan dengan bom kesukaannya.


"Doorrr.....!" tembakan itu menancap tepat disamping pria yang tidak berlatih itu, dan pria itu adalah Arcas, dia sekarang ini memiliki tubuh yang kaku karena terlalu kaget dengan peluru yang hampir saja mengenai dia.


"Hey hey! Kalian mau aku mati hah? Lihat-lihat saat menembak, brutal sekali...!!" kesal Arcas kepada sahabatnya itu, dan apa ini mereka tidak mendengar perkataannya, benar-benar kurang ajar.


"Ck dasar pria gila!" maki Arcas pelan, 'Tring' bunyi pesan yang ada di Hp Arcas.


"Eh?" mendengar suara pesan itu, Arcas langsung menyalahkan layar Hp-nya, kemudian membaca pesan tersebut, tapi saat membaca pesan itu terlihat ekspresi yang ditunjukkan Arcas terlihat binggung.


"Raphael lihat ini." ucap Arcas pada sahabatnya itu, dan seketika mereka berdua langsung berhenti menembak dan menghampiri Arcas.


"Cih langsung pada berhenti, aneh." cibik Arcas dalam hati, sungguh dia sedikit kesal dengan sikap sahabatnya itu.


"Hm?" dehem Raphael, "Ini kau bacalah." ucap Arcas memberikan Hp-nya, dan langsung dibaca oleh Raphael, "Tidak berguna." ucap Raphael tidak peduli dengan surat undangan itu, yang sama dengan surat undangan yang diterima Queen.


"Kau selalu seperti itu, ayolah kita datang." bujuk Arcas, "Kau ingin mengoda wanita hmm?" smirk Raphael hafal dengan sikap sahabatnya ini.


"Tidak usah ditanya memang benar bukan?" sindir Keanu, "Hehehe." tawa Arcas pelan karena ketahuan.


"Yasudah kita datang, sesekali tidak apa." ucap Raphael sambil menyenderkan kepalanya disofa yang sudah sedikit rusak karena terkena tembakan tadi.


"Yes." seru Arcas senang dalam hati. "Bocah playboy." sindir Keanu dalam hati juga.


Tapi mereka berdua tidak menyadari bahwa satu orang sahabatnya itu sedang dalam perasaan yang tidak menentu.


"Ada apa ini? Kenapa aku merasa gugup?" binggung Raphael dengan perasaannya yang entah kenapa merasa jantungnya berdetak kencang, seperti dia akan menemukan sesuatu yang menarik dan berharga baginya.


……………………………………


Jangan lupa Like sama Vote nya ya guys 😘


Salam hangat Author~


.


.


.


.


.


#Next