
"Jadi kenapa kamu menangis?" tanya balik Raphael berpura-pura tidak bersalah karena tidak menjawab pertanyaan dari wanita pujaannya.
"Ih jawab dulu pertanyaan ku!" ujar Queen memukul lengan Raphael geram.
"Gak mau." balas Raphael cengengesan.
"Kalau begitu aku tidak akan menjawab pertanyaan mu!" ancam Queen menggembung pipinya imut.
"Ya sudah." tanpa pikir panjang Raphael berdiri bersiap meninggalkan Queen sendirian. Yah walaupun sebenarnya dia tidak akan benar-benar meninggalkan wanitanya, setidaknya ini dapat membuat wanita itu buka suara.
"Ehhh… kamu mau kemana??" teriak Queen menarik lengan Raphael menahan pria itu meninggalkannya sendirian.
"Kenapa? Masih belum puas memelukku makanya menahan ku?" ucapnya tersenyum menatap Queen dengan tatapan menggoda.
"Eng-engak kok, tapi jangan pergi dulu tetaplah disini…" ucap Queen pelan dengan pipi memerah setelah mendengar perkataan pria tidak tahu malu ini.
"Ternyata wanita jika menginginkan sesuatu selalu mencari alasan terlebih dahulu…" kekeh Raphael semakin membuat Queen gelagapan.
"Sembarangan!" seru Queen kesal menutupi pipinya yang memerah.
"Lihat ini, kenapa pipimu memerah seperti kepiting rebus?" goda Raphael semakin gencar, sungguh dia ingin selalu melihat pipi wanitanya merona seperti sekarang ini.
"Gemas…" batin Raphael tanpa sadar mencubit pipi Queen seperti anak kecil.
Pria itu terus mencubit dan menekan-nekan pipi Queen seperti adonan kue, tanpa melihat wajah datar wanita tersebut.
"AKHH SAKIT BODOH!!" teriak Queen geram menjitak kuat dahi Raphael tanpa belas kasih.
"Aduhh……" rintih Raphael mengusap kepalanya dengan ekspresi memelas. Sepertinya pria ini sengaja berakting agar Queen merasa kasihan kepadanya.
"Hmmph!" Queen berjalan menjauhi Raphael, lalu duduk kembali ke kursi yang tadi dia duduki.
"Lebay!" sinis Queen sengaja mengeraskan suaranya agar pria tidak tahu malu ini dapat mendengarnya.
Raphael yang mendengar hinaan dari wanita pujaannya seketika membeku, "Harusnya dari awal aku tidak bertingkah imut…" sesalnya.
"Duduk sini." pinta Queen masa bodo dengan siapa orang yang dia suruh, toh dia juga tidak peduli dengan kedudukan orang-orang yang ada di bumi.
Dengan langkah berat Raphael berjalan kearah wanitanya dengan ekspresi lesu, sepertinya pria itu butuh semangat dari wanita pujaannya.
Saat pria itu sudah duduk, dia merasakan telapak tangan seseorang menepuk-nepuk kepalanya sayang, siapa lagi jika bukan Queen.
"Bolehkah aku menganggap kita sepasang kekasih?" ujar Raphael dalam hati senang.
"Apa kamu mau mendengar ceritaku? Cerita masa laluku?" tanya Queen masih terus mengusap kepala Raphael pelan, dia melakukan itu berharap jika rasa sakit yang disebabkan oleh jitakannya dapat menghilang.
"Kenapa kamu mau menceritakan masa lalu mu padaku?" ucap Raphael pelan, "Lagipula aku hanya orang asing." lanjutnya dengan suara yang semakin mengecil.
"Iya, karena kamu orang asing makanya aku mau menceritakan masa laluku, aku tidak mau menceritakan masa laluku kepada orang terdekatku, aku tidak mau mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu." jelas Queen panjang lebar.
"Ternyata benar, aku hanya orang asing baginya." sedih Raphael dalam hati, tersenyum getir.
"Kalau begitu ceritalah, aku akan mendengar semuanya sampai akhir." balas Raphael tidak keberatan, toh dia juga ingin tau masa lalu wanitanya.
Melihat jika pria ini mau mendengarkan ceritanya, Queen merasa senang, akhirnya dia bisa mencurahkan sedikit bebannya kepada orang lain.
……………………………………………………
_Cerita Dimulai_
"Apa kamu percaya jika dulu aku orang sangat ceria, aku suka tersenyum, berbicara dengan lembut, selalu memancarkan aura yang hangat. Orang-orang selalu memujiku karena aku sangat bercahaya, entah itu dari luar maupun dalam."
"Saat itu aku masih berusia beberapa butir kacang saja, umurku saat itu masih sangat muda. Aku ditempatkan disini hanya untuk melihat-lihat saja, awalnya aku senang karena bisa melihat hamparan lain yang sangat berbeda dari tempatku berasal."
"Namun setelah beberapa waktu setelahnya aku semakin merasa bosan, sangat-sangat bosan, aku tidak tau sampai kapan aku harus melihat-lihat semua ini. Aku bertahan dengan pindah dari satu wilayah kewilayahan lainnya."
"Saat aku ada disalah satu wilayah dimana tempat itu penuh dengan hewan-hewan lucu, aku pun berfikir untuk menetap sebentar disana. Namun belum beberapa hari setelah aku menetap disana ternyata ada sesuatu yang mengejutkan, aku sangat terkejut saat itu."
"Yah mungkin karena aku belum terbiasa dengan pemandangan itu, aku merasa mual melihatnya, kasihan, dan ikut merasa sakit. Aku ingin membantu tapi aku tidak tau apakah boleh atau tidak."
"Yang aku tahu saat itu aku hanya disuruh melihat-lihat saja, melihat semuanya yang ada disini tanpa ikut campur. Entah aku tidak tau tujuan apa dan kenapa aku harus melihat semua yang terjadi disini dari waktu ke waktu, tapi aku tau aku tidak bisa membantah."
"Ya awalnya aku berfikir seperti itu, makanya aku hanya diam dan melihat pemandangan yang membuat mental ku hancur saat itu, tangisan, jeritan, menguasai wilayah itu. Aku ikut menangis, aku ikut sedih melihat mereka."
"Aku semakin hancur saat masih bukan orang dewasa lagi yang diperlukan seperti itu, tapi anak kecil yang tidak bersalah ikut menjadi imbasnya. Aku yang saat itu berada disebuah penginapan, menghancurkan semuanya yang ada disana."
"Aku berteriak marah, benci, dan geram kepada orang yang berkedudukan tinggi yang ada disini, mereka bahkan rela mengorbankan nyawa orang-orang itu kepada hewan yang tadi kubilang lucu, ternyata ada yang seperti monster terkutuk."
"Tapi gilanya bukannya mereka sadar dengan apa yang mereka perbuat, mereka malah tertawa girang saat orang-orang tak bersalah itu tinggal sedikit yang hidup, mereka juga mengejekku dan menghinaku karena terlalu ikut campur dengan urusan mereka."
"Aku yang saat itu sudah tidak bisa menahan diriku untuk diam, segera mendekati anak-anak itu yang sekarang ini tinggal beberapa hitungan jari saja yang masih hidup."
"Saat aku mendekati anak-anak itu, tatapan mereka kosong, aku tau mereka sangat syok, sedih, dan ketakutan saat melihat semua ini."
"Sebab itulah aku tidak bisa menerima semua perilaku yang diperbuat monster terkutuk ini, aku melenyapkannya dengan sangat tragis, mangsa pertamaku, awal mula aku membunuh sesuatu yang bernyawa."
"Mental ku terguncang, ini wajar… karena saat itu aku masih seorang anak kecil yang polos dan lugu, apalagi ini kali pertama aku melihat darah, banyak darah dimana-mana."
"Sangat berbeda jauh dari tempatku lahir, disana sangat wangi, wangi yang tidak bisa dijelaskan, berbeda dengan saat itu. Yang aku cium hanyalah darah, mual tentu saja aku mual, tanganku lengket, aku tidak suka perasaan ini."
"Namun tanpa aku duga ternyata aku masih belum puas hanya karena membunuh monster itu, entah… entah kenapa dengan diriku ini. Karena itulah aku pun membantai semua orang yang ada di wilayah itu, satu persatu, dari rumah ke rumah, akan aku datangi dan aku habisi mereka tanpa belas kasihan."
"Setelah membereskan mereka semua, aku kembali ketempat anak-anak itu berada, tapi ternyata semua tindakan ku tidak dihargai oleh orang-orang yang sudah ku tolong."
……………………………………………………………
Salam hangat Author guys '-'
Ditunggu besok lagi ya dan tolong kasih dukungannya
.
.
.
.
#Next