
"Tanpa pikir panjang aku menjatuhkan kedua lutut ku, aku memohon kepada kedua pria itu agar melepaskan gadis tersebut. Sialnya permohonan ku tidak digubris, aku yang saat itu sangat tertekan tidak tau apa lagi yang bisa aku lakukan berusaha menahan air mata yang hampir terjatuh kembali."
"Tapi untungnya kedua pria itu mau melepaskan anak perempuan tersebut, walaupun sudah terlambat tapi aku sangat bersyukur."
" Gadis itu berlari mendekatiku dengan langkah gontai sesekali terjatuh saking lemasnya menerima pelecehan makhluk-makhluk sialan tersebut."
"Dia menangis didalam pelukan ku, aku semakin merasa bersalah karena semua yang terjadi hari ini karena ulahku, kebodohan ku."
"Sejak hari itu kami berdua tidak di izinkan keluar dari tempat tersebut, walau begitu aku tidak merasa sedih karena semakin hari hubungan ku dengan anak perempuan tersebut semakin dekat, dan bisa dibilang aku dan dia adalah seorang sahabat."
"Selain tidak di izinkan, kami juga mengalami penyiksaan lain, dimana kami berdua tidur disebuah kamar yang sangat pengap, tidak ada udara yang masuk, cahaya matahari saja tidak ada sama sekali di ruangan ini, ditambah kami harus berbagai tempat tidur, jelas-jelas tempat ini sangat luas, tapi kedua pria sialan itu malah memberikan tempat sempit ini kepadaku."
"Tersiksa? Tentu saja, setiap hari kami berdua tersiksa. Selang beberapa bulan kami tinggal di sana, kami semakin diperlakukan layaknya seorang budak."
"Kami selalu disuruh melakukan pekerjaan yang sangat berat dan tidak mungkin kami lakukan. Tapi jika kami tidak menurut anak perempuan tersebut akan selalu dihukum."
"Pernah waktu itu aku menentang perintah makhluk jelek tersebut, tapi mereka bilang jika ini perintah langsung dari pemimpin mereka. Ya walaupun sudah dibilang begitu aku tetap saja menentangnya karena permintaan pria tersebut sangatlah tidak wajar."
"Karena aku menentang, anak perempuan itu diseret kembali dan ingin dihukum lagi oleh mereka. Melihat itu pikiranku kalang kabut apalagi semenjak terakhir kali anak itu dihukum karena keegoisan ku, dia bahkan hampir mati."
"Jadi aku langsung menghentikan mereka dan meminta mereka menghukum aku saja, aku menyuruh mereka berhenti menyiksa anak itu, karena anak itu tidak bersalah, akulah yang bersalah."
"Tapi saat aku berusaha keras membantu anak itu, aku merasa ada hawa mengerikan yang mendekat kearah kami. Aku menolehkan kepalaku dan melihat jika dibelakang ku ada seorang pria yang tidak lain adalah pemimpin tertinggi disini. Pria dingin itu menatap ku seakan-akan ingin merobek jiwaku."
"Lalu pria itu berkata aku tidak boleh mengantikan hukumannya, dia tau jika aku bukanlah manusia biasa, dia juga tau aku tidak akan merasakan sakit hanya karena hukuman ini."
"Tapi sebagai gantinya bukannya hukuman lagi yang didapatkan anak itu, tapi pria itu mengancam akan membuatku dan anak itu dilecehkan orang-orangnya dengan bebas."
"Jantungku saat itu hampir berhenti berdetak, makhluk suci mana boleh dilecehkan kaum rendah? Itu pelanggaran besar!"
"Tidak usah ditanya lain apa yang terjadi selanjutnya, tentu saja aku marah dan tiba-tiba ada sesuatu yang meledak didalam diriku. Awalnya aku tidak tau itu apa, tapi unsur ini sangatlah mirip dengan Aura yang dikeluarkan orang yang memberikan kehidupan padaku."
"Yang meledak didalam diriku adalah Esensi Tuhan, kekuatan itu aktif dalam diriku hanya mencapai 0,002% tapi sudah sehebat ini dan membuat makhluk-makhluk jelek itu menghilang sekejap menjadi debu dan menguap."
"Aku juga melihat jika Roh pria itu terluka hanya karena momentum Esensi ini. Jujur saat itu aku sangat puas, aku berfikir aku bisa kabur bersama anak itu."
"Tapi pria itu ternyata sudah memelukku dari belakang dan menjabat rambut anak itu kuat lalu menyeret kami ke Aula, saat aku ingin melepaskan diri, belum satu detik kami sudah ada ditengah Aula yang berbeda dari Aula yang dulu aku kunjungi."
"Aku memiliki ekspresi aneh saat itu, ternyata disini ada mahkluk normal dan penampilan mereka lumayan juga, tapi jangan tertipu dengan tampilan mereka, karena orang-orang ini jauh lebih kuat daripada mahkluk menjijikkan yang pernah aku temui sebelumnya."
"Aku kira pria itu ingin menghukum kami berdua disini, tapi ternyata pria itu hanya menghukum anak itu dengan melempar anak tersebut dengan sangat kasar seperti melempar sampah. Kepala anak itu mengeluarkan banyak darah, mata dan hidungnya pun sama."
"Aku linglung melihat sahabat ku saat itu dalam kondisi hidup dan mati, hanya dengan dilempar begitu saja? Lalu setelah melempar anak itu, aku dibawa pergi oleh pria ini, bedanya aku dibawa kedalam kamar oleh pria gila ini!"
"Dia bilang jika dia menyuruh mereka untuk melecehkan anak itu."
"Untuk kedua kalinya aku dibuat gila oleh pria ini, dia tidak melukai Fisikku maupun Rohku, tapi dia melukai mental ku secara perlahan melalui anak itu."
"Harapan dan kebebasan yang selama ini aku pikiran sirna begitu saja, aku sekarang sudah benar-benar pasrah, saat ini aku tidak bisa melawannya karena kekuatan ku yang masih lemah."
"Aku sebenarnya sangat ingin meminta pertolongan dari orang-orang yang ada di atas, tapi sepertinya aku tidak bisa, karena sejujurnya orang seperti kita sangatlah ditentang untuk turun dan ikut campur dengan urusan mahkluk bawah seperti mereka."
"Selain itu, jika aku meminta pertolongan dari orang-orang atas dan salah satu dari mereka turun kesini, maka semua yang ada disini akan hancur."
"Perbedaan kekuatan untuk mahkluk yang ada disini dan orang-orang yang ada di tempatku berasal sangat sangatlah jauh berbeda, mereka tidak punya wujud tetap. Jika ditanya apakah mereka laki-laki atau perempuan aku pun juga tidak bisa menjawab, ditambah lagi kami tidak bisa melahirkan sebuh keturunan."
"Kami diciptakan hanya untuk menyeimbangkan kehidupan, mencari kebaikan, dan mengasihani kejahatan."
"Kembali ke cerita, aku sudah benar-benar pasrah dan aku menerima jika aku harus menjadi budak mereka."
"Aku berkata aku akan menerima semua yang dia mau, tapi aku ingin anak itu diperlakukan selayaknya."
"Aku juga bilang jika aku akan menjadi budaknya, asalkan anak itu bebas dari siksaan ini."
"Setelah aku mengatakan itu pria tersebut tidak menjawab dan hanya tersenyum. Entah apa maksudnya, aku tidak tau."
"Setelah beberapa saat pria itu menolak semua yang aku ucapkan, dia menggelengkan kepalanya dan menatapku dingin. Aku bingung kenapa pria ini tidak menerima permintaanku, apa menjadikan diriku budak tidak cukup untuk melepaskan anak itu?"
"Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, saat pria itu malah meminta sesuatu yang benar-benar dapat membuat sekujur tubuhku merinding."
…………………………………………………
Ditunggu episode selanjutnya ya
Like and Vote
.
.
.
.
#Next