
Saat ini mereka sudah sampai ditempat toko Es Krim tersebut, dengan semangat Queen dan Kevin langsung memilih Es Krim yang mereka suka.
"Ini rasa apa?" tanya Queen kepada si penjual, Queen bertanya terlebih dahulu karena takut jika dia salah membeli makanan yang ada disini.
"Ini rasa coklat kak, kalau yang ini rasa keju." jawab si penjual Es Krim.
"Kalau begitu saya beli 2 Es Krim, rasa coklat dan keju, dicampur." ucap Queen mengeluarkan kartu kreditnya yang ada didompet.
"Aku saja yang bayar." sela Devano tiba-tiba, "Tidak usah, aku sangat mampu membayarnya!" tekan Queen langsung memberikan kartu kreditnya yang hanya ada 5 didunia.
Beberapa menit kemudian Queen dan Kevin sudah mendapatkan Es Krim mereka masing-masing, kemudian mereka kembali berjalan keluar pusat perbelanjaan ini.
Namun tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan yang ada di Mall kepada semua pengunjung agar mereka tidak meninggalkan pusat perbelanjaan ini untuk beberapa menit.
"Ada apa ini?" heran Devano sesudah mendengar pemberitahuan itu.
"Cih membuat lama saja!" cibir Queen kesal, "Manusia pengatur, dia pikir dia siapa?!" lanjut Queen dalam hati.
"Kakak ini kenapa?" takut Kevin saat mendengar jika mereka tidak diizinkan untuk keluar Mall tersebut.
"Entahlah, tapi kamu tenang saja ada kakak yang menjaga mu…" lembut Queen mengendong Kevin lalu pergi mencari tempat duduk yang ada disini.
Beberapa menit berlalu mereka masih terus duduk menunggu disana, bahkan sekarang ini ekspresi wajah Queen sudah menghitam saking marahnya.
Saat Queen ingin berdiri dan melakukan protes kepada pemilik Mall, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang bisa dia hitung ada delapan orang berjalan kearah sini.
"Apa lagi ini." malas Queen saat melihat segerombolan pria berbaju hitam lengkap dengan atribut canggih.
"Kakak…" lirih Kevin memeluk Queen kuat karena takut.
"Tenanglah ada kakak…." lembut Queen menenangkan Kevin, tapi berbeda dengan tatapan matanya yang sangat datar, tatapan itu juga terlihat oleh Devano yang sendari tadi terdiam.
"Kakak aku mengenal orang-orang itu…" ucap Kevin pelan, "Oh benarkah? Siapa mereka?" ucap Queen melepaskan pelukannya dan menatap lensa mata anak ini.
"Mereka orang-orang kakak ku." ucapnya menunjuk kearah simbol keluarganya yang ada dikerah baju orang-orang itu.
"Kalau begitu bagus bukan? Kakak mu sedang mencari mu, ayok kita kesana." unjar Queen terseyum cerah.
"Aku tau kak, tapi… ada wanita jahat itu disana!" ucap Kevin tidak suka sambil menunjuk kearah orang yang tidak lain adalah Raphael dan tunangannya yaitu Felicya Angeline Charly.
Felicya merupakan seorang Putri tunggal dari pengusaha terkaya di Prancis, dia berkerja sebagai pemegang perusahaan Modeling di Negara Eropa.
Raphael yang merasa dirinya sedang ditunjuk oleh seseorang dan sedang ditatap oleh orang itu, segera menatap keasal tempat dimana orang itu berada.
Namun yang dia lihat adalah adiknya yang sedang menunjuk kearahnya dengan pandangan tidak suka, dia sendiri tau jika anak ini tidak suka dengan hubungan pertunangannya dengan wanita ular ini.
Namun yang membuatnya lebih terkejut adalah karena dia mendapati wanita pujaannya dan seorang pria yang merupakan musuh terbesarnya ada disana juga, ada rasa cemburu yang kuat dan rasa posesif yang melanda dirinya saat melihat jika jarak antara mereka cukup dekat.
Raphael segera melangkahkan kakinya menuju kearah ketiga orang yang sangat dia kenal, meninggalkan Felicya sendiri.
Felicya yang ditinggal oleh Raphael ikut menyusulnya, namun dia masih belum menyadari jika pria itu sedang berjalan mendekati adiknya yang sempat menghilang.
"Kenapa kamu bisa bersamanya?" ucap Raphael saat sudah tiba dihadapan ketiganya.
"Humph! Aku bertemu dengan kakak ini ditoko baju, kakak tanya saja apa yang dilakukan tunangan kakak itu kepada ku!" ucap Kevin ngambek kepada kakanya sendiri.
"Dimana tunangan mu?" tiba-tiba Queen bertanya kepada Raphael dengan nada datarnya, dia seperti itu bukan karena cemburu melainkan dia marah kepada wanita yang meningalkan Kevin sendirian di Mall ini.
Raphael yang mendengar suara wanitanya seketika rasa rindunya terobati, tapi disisi lain dia tidak mau jika wanita ini salah paham dengan hubungannya kepada wanita yang menjadi tunangannya itu.
Sebelum Raphael memberikan penjelasan mengenai hubungannya dengan tunangannya, tiba-tiba suara lain menghentikannya.
"Aku tunangannya, kenapa?" Felicya menjawab dengan nada arogan saat baru sampai disana.
"Kenapa kau meninggalkan anak ini sendirian?" datar Queen masih menahan dirinya agar tidak marah.
"Aku tidak sengaja, lagipula ini bukan salah ku sepenuhnya dia saja yang terus berjalan-jalan." elak Felicya tidak mau mengakui jika hal ini sepenuhnya adalah kesalahannya.
"Owh benarkah? Apa bukan karena kau terlalu sibuk memilih baju akhirnya lupa dengan keberadaan Kevin, lalu dengan enaknya kamu pergi bersama tunangan mu, bersenang-senang?" unjar Queen sedikit keras karena kesal.
Felicya yang mendengar perkataan Queen tidak bisa melanjutkan kembali perkataannya, karena ucapan wanita ini memang benar adanya.
Sedangka Raphael yang mendengar jika Queen sedikit salah paham dengannya karena mengira jika dirinya sedang bersenang-senang dengan wanita ini, segera menjelaskan jika dirinya tidak pergi bersama Felicya.
"Tidak, aku tidak pergi kemanapun bersamanya." jelas Raphael.
"Sayang apa kau mengenal wanita ini?" unjar Felicya curiga dengan kedekatan mereka yang terlihat sudah saling mengenal.
"Iya." tekan Raphael.
Felicya yang tidak mendapatkan jawaban yang pasti sedikit kesal juga cemburu, "Aku tidak peduli mau kau mengenal tunangan ku atau tidak, yang terpenting jangan dekat-dekat dengannya!" ucap Felicya keras.
"Kau pikir aku mau ya? Lagipula kau tenang saja aku tidak akan merebut tunangan mu." sinis Queen menatap Raphael datar.
Raphael yang mendengar ucapan itu langsung dari mulut wanitanya merasa sakit hati, dia tidak ingin jika wanitanya akan menjauhinya karena wanita ular ini.
"Apa kamu akan menjauhiku…" ucap Raphael pelan, suaranya yang seperti ini sangat jarang didengar oleh Felicya begitu juga dengan Devano, makanya mereka sangat keget dengan intonasi yang dikeluarkan Raphael untuk Queen.
"Lalu? Kau mau aku menjadi wanita mu seperti perkataan mu waktu itu? Dengar, aku tidak akan pernah mau mejadi pengganggu hubungan orang, dan lagipula belum tentu juga aku ingin menjadi wanita mu!" unjar Queen tanpa perasaan.
"Apa?!!" teriak Felicya tiba-tiba saat mengetahui jika tunangannya memiliki ketertarikan kepada wanita ini, sebelum dia bertemu wanita itu.
"Kau mengenalnya?" bisik Devano ikut tercengang, "Yah begitulah." ucap Queen pelan.
Tapi percakapannya tertunda karena Raphael menyela mereka, "Nasya tapi aku dan dia hanya bertunangan sementara saja, dan kami tidak serius." unjar Raphael menatap Queen sendu.
"Tidak serius bagaiamana? Jelas-jelas wanita mu sangat mencintaimu!" tegas Queen melihat sekilas kearah Felicya.
"Tapi aku tidak mencintainya!" unjar Raphael menekan suaranya.
"Kau tidak boleh egois! Wanita itu mencintai mu, kenapa kau tidak?" Queen berucap dengan nada tinggi karena terbawa suasana.
"Aku tidak egois, pertunangan ini bukan aku yang menginginkannya!" teriak Raphael tidak sengaja.
"Berteriak kepada wanita sangat tidak sopan!" sinis Queen menyindir Raphael.
"Maaf…" gumam Raphael membuat semua orang yang ada disana terdiam.
Mereka semua yang ada didekat sana ikut terkaget mendengar jika sang CEO besar meminta maaf kepada wanita cantik yang ada didepannya.
Suasana yang ada disana menjadi sunyi, namun tak berapa lama Kevin memecahkan kesunyian itu.
"Kakak apa kamu tidak menyadari sesuatu?" ucap Kevin menarik lengan baju Queen pelan.
"Menyadari apa?" bingung Queen saat ditanya seperti itu.
"Perasaan kakakku!" serunya sebal karena kakak cantik ini tidak mengerti.
"Hah? Perasaan apa?" heran Queen masih tidak mengerti.
Sedangkan Raphael yang mendengar percakapan mereka berdua seketika merasa jika tubuhnya kaku, sepertinya adiknya ini lebih peka dengan perasaannya daripada wanita pujaannya ini.
Bahkan Devano dan Felicya juga sudah paham jika Raphael mencintai Queen bahkan sudah sampai ketahap posesif.
"Kakakku mencitaimu kak! Kakak apa kamu tidak melihat tatapan pria es itu saat melihat kakak?" seru Kevin terseyum meledek kearah kakaknya yang sedang dilanda kegugupan.
"What? Jangan bercanda, kamu mana tau apa itu cinta." lembut Queen kepada Kevin, "Lagipula aku tidak percaya cinta lagi." lanjutnya dalam hati.
"Kalau perkataan ku tidak benar kenapa kakakku sangat gugup?" ucap Kevin menahan tawanya saat melihat ekspresi kakaknya yang semakin lucu.
"Hey kau kebelet pipis?" tiba-tiba Queen melontarkan pertanyaan yang membuat Raphael gemas, begitu juga dengan Devano yang ikut geregetan karena wanita ini tidak menyadari perasaan rivalnya.
Berbeda lagi dengan Felicya yang sendiri tadi terus memasang raut wajah masam.
"Hahahaha…" tawa kevin pecah saat mendengar ucapan kakak cantiknya ini, yang masih belum menyadari perasaan kakaknya yang malang ini.
Queen yang melihat ekspresi mereka yang terlihat berbeda-beda menjadi bingung, "Aneh sekali…" batin Queen tidak mengerti.
……………………………………
Okay jangan lupa Like and Vote ya guys~
.
.
.
.
#Next