
Cassia dan Kessy langsung berteriak kaget serta cemas saat melihat jika Ayah mereka sedang menarik kerah baju Kevin, anak lelaki imut tersebut.
"Siapa kau?" tanya Tuan Besar Alaric sedikit melemahkan suaranya.
Kevin menaikkan alisnya, "Aku cucumu."
Taun Besar Alaric yang mendengar suara cuek itu langsung melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Kevin. Nada cuek ini memang sudah menjadi ciri khas anak tersebut.
Walau dia masih agak curiga dengan anak ini, tapi bagaimana pun juga dia benar-benar cucunya dan bukan orang yang menyamar sebagai cucunya.
Setelah melepaskan cengkeramannya, Tuan Besar Alaric kembali ketempat duduknya lalu menatap lekat kearah Kevin.
Kevin sendiri yang menyadari hal itu hanya menaikan bahunya cuek seolah-olah ia tak peduli dengan tatapan yang selalu mengikutinya.
"Kenapa kau bisa tahu mengenai penjelasan seperti itu?" tanya Tuan besar Alaric kepada Kevin.
"Rahasia…, intinya hanya itu cara yang bisa membuat kakak bodoh ku menadi kuat."
"Tidak usah dipikirkan lagi, cara itu tidak akan mampu Raphael tangung walau dalam mimpi sekalipun."
"Huh! Kau terlalu meremehkan cucumu sendiri, pria tuan."
"Ini demi kebaikannya kau tau!"
"Seterah, lagian aku gak minta jawaban darimu pria tua! … Kak jadi bagaimana saran ku, apa kau menerimanya?"
Raphael yang ditanya tentu saja menerimanya, apapun resikonya dia akan tetap maju dan mengubah dirinya menjadi kuat seperti harapan wanitanya.
"Ya, aku menerimanya." tekan Raphael penuh tekad.
Kevin tersenyum penuh arti, "Bagus."
Saat anak itu ingin berkata lagi, suara wanita paruh baya menghentikannya, "Nak apa ada efek samping dari pembuatan tubuh baru? Lalu bagaimana cara memindahkan jiwa kakakmu?"
Kevin menatap hambar wajah Mamah-Nya, "Tenang, tidak ada efek samping, dan hanya prosesnya saja yang sangat menyakitkan. Dan cara memindahkan jiwa kakak aku yang akan melakukannya sendiri."
"Kevin darimana kau tau caranya memindahkan jiwa seseorang?!" tanya Bastian heran.
"Sudah kubilang itu rahasia!" kesal Kevin memutar bola matanya jengah.
Cassia yang mengetahui jika akan ada percekcokan antara ayah dan anak segera menghentikan mereka. Buat apa membuang waktu untuk hal yang tidak berguna? Lebih baik tanyakan lagi hal-hal yang lebih berguna daripada itu.
"Sudah sudah, jangan ribut lagi!" ujar Cassia menarik lengan Bastian berusaha melerai.
"Suami mu duluan yang mencari keributan." cuek Kevin yang memang terlihat menyebalkan.
"Bocah gak sopan! Dari dulu kau selalu seperti itu!" tegur Bastian kesal.
Bodo amat!
"Kevin apa maksudmu prosesnya begitu menyakitkan? Seberapa sakitnya?" tanya Kessy dengan keringat yang mengalir dipundaknya.
"Mungkin seperti kau tertusuk ribuan pisau dan terbakar didalam minyak panas." santai Kevin.
Gleg!
Suasana diruang itu menjadi mencekam, beberapa dari mereka merasa ngeri, tegang, sekaligus ketakutan.
"Bohong! Kau jangan mengurang-ngurangi, rasa sakitnya bahkan lebih sakit daripada tertunsuk ribuan tombak panas yang baru diasah, tubuh orang itu juga akan terasa sangat panas seperti kau berendam didalam lahar. Belum lagi jika jiwanya ditarik secara paksa! Cara itu sangat tak manusiawi untuk manusia seperti kita!!" seru Tuan Besar Alaric menceritakan kebenarannya.
Karena perkataannya, beberapa dari mereka menjadi ketakutan. Benar cara maupun proses dari pembuatan tubuh baru maupun perpindahan jiwanya sangatlah tak lazim untuk dilakukan manusia seperti mereka.
Langsung saja mereka semua juga ingin mengeluarkan suaranya untuk melarang Raphael agar tidak melakukan hal bodoh itu hanya karena cinta. Namun sepertinya mereka terlambat karena pemeran utama disini sudah lebih dulu menyetujuinya.
Suara mereka pun tiba-tiba terasa tercekat, beda lagi dengan Keanu dan Arcas yang sudah seperti mayat hidup saat mendengar percakapan yang entah itu apa namun terdengar mengerikan.
"Apa kakak nyakin? Rasa sakitnya memang seperti yang dikatakan pria tua itu."
"Ya aku sangat nyakin."
"Jadi kita sepakat 'kan?"
Sekejap wajah Kevin menjadi dingin sekilas matanya berubah-ubah menjadi warna ungu keabuan dan itu tertangkap oleh mereka, dan tentu saja mereka semua tersentak.
"Misalnya, satu orang dari mereka bisa menghancurkan satu negara jika orang itu berpindah dari dimensi luar ke dimensi kita. Jadi bisa diartikan kakak disana hanya dipandang sebagai sampah diantara para sampah."
"Jadi aku menyarankan agar kakak tidak melakukan hal bodoh dengan pergi sendirian ke sana. Mau tak mau kakak harus mengajak kedua bajingan ini ke sana."
"Dan yang terpenting aku juga akan ikut untuk mengawasi dan berjaga-jaga kalau kalian dalam bahaya nantinya." Jelas Kevin masih dengan nada cuek.
Dilain sisi Keanu dan Arcas yang sudah paham jika mereka akan terjebak kedalam bahaya, langsung menggelengkan kepalanya keras menolak ajakan Kevin.
Tapi sahabatnya yang kejam itu lagi-lagi memaksa mereka dan menyeret mereka masuk dalam mulut harimau jadi-jadian secara sukarela.
Dengan ekspresi lesu serta ketakutan mereka akhirnya menyetujui ajakan tersebut, tak masalah dengan keluarga atau posisi penerusnya, mereka juga tidak terlalu tertarik dengan takhta.
Setelah itu mereka pun kembali ketempat mereka masing-masing untuk beristirahat sekaligus mengisi energi untuk hari esok.
…………………………………………………
Keesokan harinya, waktu sudah menunjukkan pukul jam 5 pagi. Mereka dengan cepat langsung merapihkan diri untuk melihat proses pembuatan tubuh.
Disebuah kamar yang didominasi dengan warna gelap terlihat seorang pria tampan yang sedang bersiap-siap di kamarnya, semangat.
Sedangkan keluarganya bersiap-siap dipagi hari untuk melihat kelangsungan proses tak manusiawi yang akan dilakukan oleh Raphael, Kevin, dan kedua sahabatnya.
Lalu bagaimana dengan Keanu dan Arcas? Ya mereka saat ini sedang menginap di Mansion keluarga Alaric karena dipaksa, agar mereka tak kabur.
Dikamar mereka berdua terlihat tak semangat saat membersihkan diri mereka sendiri. Mereka hanya bisa menangis dalam hati karena sepertinya hidup mereka tak akan lama lagi. Sungguh sial!
Tepat pukul jam setengah 7 mereka semua sudah siap membersihkan diri. Dan sekarang mereka sudah menunggu didepan pintu Mansion keluarga Alaric.
Tapi saat dilihat-lihat lagi mereka tak menemukan pemandu mereka, ya siapa lagi jika bukan Kevin? Sepertinya anak itu yang lebih terlambat daripada Keanu dan Arcas.
Karena keterlambatan Kevin, Kessy ingin memerintahkan salah satu Maid yang ada di sana untuk mengecek kamar anak nakal itu, namun sebelum Maid itu pergi terdengar sebuah suara di atas mereka.
"Wow semangat sekali kalian, jam segini sudah pada rapih!" ujar Kevin dari lantai 3, terlihat jika bocah itu juga sudah merapihkan diri namun sepertinya bocah itu terlihat santai-santai saja.
"Anak nakal! Dari mana saja kau hah?!" ujar Bastian kesal.
"Duduk." cueknya berdiri dari duduknya, lalu menepuk-nepuk celananya.
"Nak kemari lah kami sudah menunggu mu." ucap Cassia lembut.
Entah kenapa Kevin selalu menatap orang-orang dengan pandangan hambar seperti saat ini.
Tanpa ditunggu lagi ia langsung naik ke besi pembatas dan melompat turun dari lantai 3 kelantai 1.
HUP!
Anak itu mendarat sempurna, dia kembali menepuk-nepukan bajunya merapihkan beberapa lekukan baju yang sedikit lecek.
"Ayok ikuti aku." cuek Kevin keluar dari Mansion, meninggalkan mereka yang tercengang.
Ayolah itu reaksi wajar untuk orang yang melihat anak kecil melompat dari lantai 3 kelantai 1.
Awalnya Cassia dan Kessy ingin berteriak melarang bocah itu untuk melompat, akan tetapi anak itu sudah lebih dulu melompat dan mendarat dengan sempurna tanpa ada luka sedikit pun, ditambah wajahnya yang tetap terlihat santai seakan-akan ia sudah terbiasa.
……………………………………………………
Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺
(Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next