
Beberapa menit berlalu, Queen akhirnya sudah masuk kedalam area pusat perbelanjaan tanpa hambatan sama sekali.
Disana Queen terlihat sedang memarkirkan mobilnya diarea parkiran mobil khusus, yang hanya orang-orang besar saja yang bisa manaruh mobil mereka disana.
Saat Queen sudah memarkirkan mobilnya dia langsung keluar dari mobilnya dan untung saja tidak ada orang disini, karena jika ada orang disini pasti dia akan menjadi pusat perhatian.
Sebenarnya sejak awal saat Queen masuk kedalam pusat perbelanjaan ini, dia sudah merasa tidak nyaman karena semua yang ada disini cukup asing baginya.
Tapi mau bagaimana lagi tempat inilah yang cocok digunakan untuk mengetes penyesuaian-nya, makanya dia dengan berat hati melangkah keluar dari parkiran mobil itu.
"Nona CEO!" tiba-tiba terdengar suara pria memanggilnya, Queen menolehkan kepalanya kearah kiri dan mendapati seorang pria yang pernah dia temui dikantornya.
"Ternyata kamu." ucap Queen mengenali orang itu yang tak lain adalah Devano.
"Nona CEO untuk apa anda datang kesini sendirian?" formal Devano kepada Queen.
"Jangan memanggilku seperti itu, panggil Anasya saja." tegas Queen tidak nyaman jika dipanggil dengan sebutan seperti itu.
"Baiklah, jadi untuk apa kamu datang kesini sendirian? Dimana pacar mu, Tuan Alvarez?" ucap Devano tiba-tiba membuat Queen kaget seketika.
"What, Pacar? Bocah itu kau bilang pacar ku? Hahaha…" tawa Queen geli karena pria ini ternyata sudah salah paham dengan kedekatannya kepada Alvarez.
"Umm... jadi dia bukan pacar kamu? Lalu kenapa kalian sangat dekat satu sama lain?" bingung Devano.
"Aku Mama-nya…" dengan santai Queen mengatakan hubungannya antara dirinya dengan Alvarez, kepada Devano.
Tapi untung saja pria itu hanya menganggap ucapannya sebagai bualan saja, "Hehehe…" tawa Devano kecil tidak menanggapi perkataan Queen dengan serius.
"Sepertinya kamu tidak menganggap ucapan ku dengan serius ya." unjar Queen tiba-tiba.
"Tentu saja memangnya akan ada orang yang percaya saat mendengar itu? Kamu masih sangat muda bgaimana bisa memiliki anak yang seumuran dengan mu." balas Devano masih tertawa.
"Terserah." Queen langsung meninggalkan Devano saat sudah sampai kedalam pusat perbelanjaan itu, namun Devano malah mengikutinya dari belakang.
"Pergilah." tekan Queen tidak suka karena dia ingin berjalan-jalan sendirian.
"Tidak mau." tolak Devano menggelengkan kepalanya pelan.
Queen yang mendapatkan tolakan dari pria itu hanya bisa terdiam, dia kembali melanjutkan aktivitasnya dengan mengetes penyesuaian-nya, sekaligus membeli sesuatu yang dia temui, mengabaikan Devano yang masih terus ada disampingnya.
"Dev apa disini ada toko baju yang bagus?" pada akhirnya Queen tidak lagi mengabaikan Devano dan mulai mengajaknya berbicara.
"Ehh... apa kamu belum pernah kesini sebelumnya?" heran Devano saat mendapatkan pertanyaan itu.
"Yah begitulah, makanya beritahu aku." jawab Queen malas.
"Baiklah ikuti aku." Devano mengajak Queen menuju toko baju yang paling terkenal di pusat perbelanjaan itu.
Saat mereka sudah sampai disana, terlihat jika toko itu sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang besar, tapi ada juga beberapa ja*ang yang disana.
Queen dengan cuek melewati mereka dan masuk kedalam toko itu dengan meninggalkan Devano sendirian.
Dan saat orang-orang itu melihat sosok wanita yang amat sangat cantik melewati mereka ada rasa kagum sekaligus iri dihati mereka.
Mereka saling berbisik satu sama lain, ada yang menjelek-jelekkan Queen dan ada yang memuji Queen, dan itu terdengar sampai ketelinga Devano yang masih ada didepan toki tersebut.
"Sepertinya aku lupa bilang kepada wanita itu untuk memakai masker saat ketempat ramai seperti ku, Haiss… pantas saja dari tadi banyak yang melihatnya." batin Devano terseyum canggung pada dirinya sendiri.
_Didalam Toko_
Queen saat ini sedang sibuk memilih baju serta gaun yang ada ditoko ini, namun tiba-tiba dia melihat jika diruangan satunya lagi ada banyak orang disana, sedang mengerumuni sesuatu.
"Ada orang mati ya?" ucap Queen ngelantur kepada salah satu pekerja yang ada disana.
Pekerja wanita muda itu hanya bisa terseyum lucu saat mendengar ucapan Queen yang tidak masuk akal.
"Bukan Nona, disana ada seorang anak kecil yang menagis sepertinya dia tertinggal, saat kami ingin mendekatinya dia terlihat ketakutan padahal kami hanya ingin membantunya mengubungi orang tuanya." jelas wanita perkerja itu kepada Queen.
"Mungkin dia sangat jarang berdekatan dengan orang lain makanya terlihat takut." ucap Queen memberikan pendapatnya.
"Kalau begitu terima kasih, kamu kembalilah berkerja." ramah Queen.
Saat wanita perkerja itu sudah tidak ada lagi disini, Queen segera mencari dimana Devano berada, dan ternyata dia sedang memilih beberapa baju yang tidak jauh dari sini.
Queen berjalan mendekati Devano dan langsung menarik tangannya kuat "Ikut aku."
Mereka terus berjalan mendekati kerumunan itu, saat sudah disana Queen melihat ada seorang anak kecil yang sekilas mirip dengan adiknya.
"Erlan…" lirih Queen tapi seketika dia langsung sadar jika anak itu bukanlah adiknya, "Adikku sudah tidak ada…" gumam Queen sedih.
Disisi lain Devano bisa mendengar gumaman Queen, tapi dia memilih untuk tetap diam dan tidak bertanya apapun kepada wanita ini.
Anak kecil itu terlihat sangat ketakutan mendapati jika dirinya sedang dikelilingi oleh orang-orang yang tidak dia kenal.
"Aku ingin pulang…" batin anak lelaki itu terdengar oleh Queen yang saat ini masih fokus menatap lensa matanya.
"Permisi…" ucap Queen ingin mendekati anak lelaki itu.
Mendengar suara lembut tersebut orang-orang yang ada disana langsung menatap wajah Queen bersamaan, lalu entah kenapa mereka langsung memberikan jalan kepada wanita itu.
Queen segera melangkahkan kakinya mendekati anak lelaki tersebut, dan saat dia sudah sampai disana Queen langsung terseyum cerah menumpahkan rasa rindunya kepada adiknya, anggap saja anak ini sebagai tempat perantara antara dirinya dan adiknya yang sudah tidak ada.
Sedangka anak lelaki itu entah kenapa merasa jika dirinya menghangat, dia juga sangat nyaman dengan senyum yang dilempar oleh kakak cantik yang ada didepannya.
"Hai… nama mu siapa?" Queen duduk disamping anak itu tanpa bilang-bilang.
"Ke-kevin kak…" ucap anak itu menggeser tubuhnya menjauh dari Queen, dan itu terlihat olehnya.
"Apa aku terlihat jahat?" sedih Queen lesuh, "Ti-tidak!" gagap anak itu.
"Kalau iya, tolong kemarilah sedikit." ucap Queen dituruti oleh Kevin.
Saat anak itu sudah menggeser tubuhnya mendekat kearah Queen, Queen langsung mengusap kepalanya dengan sangat lembut.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Siapa yang mengajak mu?" unjar Queen kepadanya.
"A-aku kesini bersama tunangan kakak ku, tapi dia meninggalkan ku sendiri…" ucapnya pelan karena sedih.
"Sudah tidak papa, nanti kakak ajak kamu pulang." ramah Queen.
"Benarkah?!" semangatnya saat mendengar kata pulang.
"Hehehe… iya." jawab Queen tertawa kecil.
"Kita pulang sekarang ya kak!" serunya tidak sabar.
"Okay…" Queen langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung menggenggam tangan anak itu erat.
"Kami permisi…" ucap Queen ramah dan di iyakan oleh orang-orang itu.
Mereka-pun keluar dari toko tersebut, lalu memasuki lift, saat sudah sampai dilantai paling bawah mereka segera berjalan menuju pintu keluar utama yang ada di Mall.
Namun tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya saat melihat toko Es Krim.
"Kakak aku mau itu…" pinta Kevin memelas membuat Queen gemas seketika.
"Memangnya itu apa?" Queen bertanya karena memang dasarnya dia tidak tau benda apa itu.
"Itu Es Krim kak, terbuat dari susu sapi yang dicampur dengan buah-buahan." jelasnya semangat.
"Sehat gak?" tanya Queen bingung kepada Devano.
"Tentu saja sehat, asalkan kita tidak terlalu sering memakannya." jawab Devano terseyum saat melihat kekhawatiran dimata Queen kepada anak yang tidak mereka kenal.
"Yasudah ayo beli, aku juga ingin mencobanya." riang Queen menarik tangan Kevin menuju toko Es Krim tersebut.
……………………………………
Jangan lupa Bom Like ya~
.
.
.
.
#Next