
Ratu? Sebenarnya siapa Queen? Siapa sebenarnya indentitas wanita cantik itu? Melihat dari kekuatannya, terlihat sekali jika dia bukan orang sembarangan.
Orang yang kuat pasti memiliki identitas yang kuat, orang dengan momentum menakutkan seperti itu pasti juga memiliki identitas yang menakutkan.
………………………………………………………
_Besok Paginya_
Mansion QueenZell disinari oleh cahaya matahari yang hangat, walaupun begitu semua ruangan yang ada di Mansion itu tetaplah dingin.
Beberapa anak-anak Queen sudah berkeliaran didalam Mansion itu menjalani aktivitasnya, begitu juga dengan para robot yang sudah diaktifkan kembali untuk menjalankan perintah.
Dilantai paling atas terdapat satu kamar yang luasnya sebesar Aula, didalam sana terlihat seorang wanita cantik yang sedang tertidur lelap.
Wajahnya yang damai seakan-akan tidak ada beban didalamnya, meski sebenernya terdapat banyak beban dan tanggung jawab yang wanita itu bawa kemana-mana, tanpa bisa dia lepas begitu saja.
Sedikit demi sedikit kelopak mata cantik itu terbuka, tanpa wanita itu sadari jika warna lensa matanya kembali berubah menjadi warna aslinya, ungu kebiruan seperti galaxy.
Wanita itu beranjak dari tempat tidurnya dan menatap kearah jendela besar di samping tempat tidurnya. Tidak ada cahaya matahari yang masuk kedalam sana.
"Cahaya matahari pun tak bisa melewati tirai ini." batin Queen, terlihat sekali jika wanita itu sebenarnya sosok yang sangat kesepian.
Wanita itu berjalan mendekati jendela besar itu dan langsung membuka tirai tersebut kasar, dia muak jika harus selalu melakukan hal ini setiap paginya.
"Segitunya matahari disini tak menyukainya?" kesal Queen.
Saat tirai itu sudah terbuka, cahaya matahari pun langsung menembus kaca jendela itu dan menyinari kamar tersebut.
Rasa dingin yang ada di sana berangsur-angsur menghilang. Queen pun segera memasuki kamar mandinya dan menjalani ritual mandinya.
Tak berapa lama wanita itu keluar dari kamar mandi, wanita itu langsung mendekati kaca yang ada dimeja riasnya.
Saat wanita itu melihat kearah kaca, seketika tubuhnya membeku.
"A-aku tidak menyadari warna mataku berubah, untung saja aku tidak langsung keluar kamar."
"Jika aku langsung keluar dengan penampilan seperti ini, pasti orang-orang itu akan terkejut lagi."
Saat Queen ingin merubah warna matanya menjadi hitam, namun entah kenapa tidak ada hasilnya, mata itu tetap berwarna ungu kebiruan seperti galaxy.
"Ada apa ini?"
Dengan paksa wanita itu terus mencoba menutupi warna mata aslinya, tak terasa keluar beberapa tetes darah dari bawah serta ujung matanya.
"Heheh… kau terlalu memaksakan diri Queen!" sosok lain didalam diri Queen berseru.
"Ck! Aku juga tau." balas Queen.
"Tapi tak mungkin jika aku keluar dengan penampilan ini! Kau tau pasti bukan, warna mata ini hanya aku yang memilikinya."
"……" sosok itu terdiam, dan kembali menghilang.
"Dasar makhluk bodoh!" cibir Queen saat maklum itu bungkam.
Dengan terpaksa wanita itu mengambil pita berwarna biru malam dari lemarinya untuk menutupi matanya. Tidak masalah jika harus seperti itu, toh ia masih bisa melihat walaupun matanya tertutup oleh benda sekalipun.
"Cklek!" Pintu terbuka
Wanita itu keluar dari kamarnya dan melihat jika bocah bodoh yang ia pukuli kemarin malam sudah berdiri di sampingnya dengan senyum yang ughh…, menyebalkan.
"Mama kau sudah bangun, hemm~"
Queen hanya mengabaikan bocah bodoh ini, semakin lama bocah ini semakin gila, sepertinya memang harus diganti otaknya itu.
"Jangan panggil aku Mama jika didepan orang-orang itu." ucap Queen saat sudah didalam Lift.
"Huh memangnya kenapa! Mereka sangat mengganggu 'kan?" kesalnya.
"Puft… kau tidak salah bicara 'kan? Disini yang mengganggu tuh kamu!" sindir Queen.
Alvarez yang mendengar sindiran itu langsung mengerutkan bibirnya kesal, ya ya sudah pasti bocah ini sedang merajuk dalam arti besar ngambek.
"Menurutmu otak mana yang paling bagus diantara para Ras?" ucap Queen tiba-tiba menanyakan hal yang gak ada faedahnya.
Dengan ekspresi aneh Alvarez menjawab, "Sepertinya Ras Malaikat, mereka selalu berfikir terbuka ditambah mereka sangat cerdas."
Queen yang mendengar jawaban itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, wanita itu mengusap dagunya memikir.
"Kalau begitu pasti akan cocok untuk mengganti otak busuk mu itu 'kan?" senyum bagikan monster psikopat terlihat jelas dimata bocah itu.
Alvarez dengan refleks memegangi kepalanya sayang, tubuhnya gemetar, keringat sebesar biji jagung terlihat di dahi bocah itu.
"Hahah… kau sangat takut sepertinya, tenang saja ketujuh anak-anak ku akan sangat lembut nanti."
Dengan senyum puas Queen berjalan keluar lift tersebut tanpa memperdulikan Alvarez yang sedang berjongkok frustasi ketika membayangkan kekejaman ketujuh monster yang ada di Istana.
"Ahaha… Sangat menyenangkan mengerjai bocah itu…" batin Queen tertawa lucu.
Disisi lain Alvarez masih berada didalam Lift tersebut, dia tidak bisa menyusul Queen karena kakinya tiba-tiba lemas.
Mama-Nya ini jika sudah bercanda benar-benar tidak ada toleransi!
Beberapa detik kemudian bocah itu sudah bisa berdiri walaupun masih terasa lemas, namun saat bocah itu ingin keluar dari Lift tersebut ternyata pintu Lift itu sudah lebih dulu tertutup.
Alvarez terbengong-bengong melihatnya, Lift juga sudah kembali menuju lantai keatas dan dia terjebak didalamnya, mau tidak mau pria itu harus menunggu Lift berhenti baru turun lagi.
"HARI YANG SIAL!!" teriak Alvarez kesal sambil menendang-nendang pintu Lift sebagai pelampiasan.
Okay jangan pedulikan pria bodoh itu lagi, mari kita lihat adegan selanjutnya.
Skip \=>
…………………………………………………………
Dilantai dua tepat Lift tadi berhenti, terlihat jika Queen sedang menuju lantai dasar melalui anak tangga, wanita itu berniat untuk berlatih pedang.
Berlatih pedang dengan mata tertutup bukanlah masalah bagi Queen, hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Namun saat ia sudah sampai dilantai dasar, seketika seluruh anak-anaknya menatapnya dengan tatapan horor, wah sepertinya akan terjadi keributan lagi.
Lalu dengan serentak mereka semua dengan tampang suram berlari kearah Queen, salah satu pria yang merupakan anaknya langsung menggendong wanita itu menuju sofa besar diruang tamu.
Begitu juga dengan anak-anaknya yang lain yang ikut mendekatinya,terlihat jika mereka membawa selimut tebal, dan beberapa alat kesehatan, entah kapan mereka mengambilnya.
Lalu bagi anak-anaknya yang memiliki sihir penyembuhan mereka terlihat menarik lengan bajunya hingga keatas, seperti orang yang siap melakukan tinju.
Queen merinding melihatnya, oh ayolah kalian terlalu panik dan posesif terhadapnya.
Wanita itu juga sudah bisa menebak jika anak-anaknya ini bersikap seperti itu karena dia menutup matanya dengan kain pita.
"Apa mereka selalu berfikir hal-hal yang negatif ya?!" batin Queen berteriak.
Wanita itu seketika langsung memberontak saat anak-anaknya memaksanya untuk menidurkan dirinya di sofa.
"Hey… Aku sama sekali tidak sakit bocah durhaka!" seru Queen, namun mulutnya langsung ditahan oleh tangan dingin seseorang.
Saat wanita itu melirik kearah pemilik tangan tersebut, ternyata tangan itu milik seorang anak lelaki yang merupakan wakil dari Alvarez.
Tatapan mengancam terlihat jelas dimata anak sialan ini namun kesan horor semakin bertambah saat anak itu tiba-tiba mengangkat satu tangannya yang lain, dan memperlihatkan sebuah pisau bedah yang mengkilap tajam.
Seakan-akan pisau itu siap untuk merobek tubuh seseorang!
Melihat itu seketika suara Queen tercekat, ternyata bukan hanya bocah durhaka Ini saja yang melakukan hal itu, namun semua anak-anaknya juga ikut memberikan tatapan mengancam, sambil memegang benda-benda tajam.
"Astaga… apa-apa ini??" batin Queen pasrah.
Namun sepertinya mereka tak menyadari jika aktivitas mereka dilihat oleh orang-orang dari keluarga Alaric yang sekarang ini sedang kebingungan, heran, takut, serta terkejut saat melihat kegiatan ekstrem mereka.
Ekspresi orang-orang itu selalu berubah-ubah setiap kalinya, bahkan tanpa diduga Tuan Besar Alaric, berserta Ayah dan Om Raphael juga ada di sana.
Ketiga pria itu sedang menatap kearah kerumunan, namun pusat tatapan itu tertuju kepada seorang wanita cantik yang sedang ditahan di sana, siapa lagi jika bukan Queen.
"Wanita yang Malang…" batin mereka bertiga memberikan tatapan perihatin kepada Queen.
Huh! Siapa yang bilang jika diperhatikan oleh seseorang dan di posesifkan itu menyenangkan?
Berasa seperti orang yang berharga memang menyenangkan, namun jika diperlukan sama seperti Queen beda lagi ceritanya, sobat~
……………………………………………………
Acieee digantung nih 🤭
Heheh tunggu besok lagi yah 🤫
Jangan lupa LIKE and VOTE (Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next