The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 72



Queen mengusap air matanya yang keluar tidak terlalu banyak dari ujung matanya, jadi dia dapat dengan cepat mengelap air mata itu tanpa ketahuan oleh pria disampingnya.


"Apa tadi aku terlalu… Emm... berlebihan?" malu Queen.


"……" Raphael terdiam karena masih sangat tercengang.


"Emm itu... yang tadi tolong lupakan saja, anggap saja tidak pernah terjadi…" gugup Queen menolehkan kepalanya kearah kaca mobil, tidak mau menatap wajah pria itu sesaat karena malu.


"Akhhh… Queen bodoh! Dasar dasar! Tidak tau malu…!!" kacau Queen dalam hati.


Disisi lain Raphael masih tengelam didalam batinnya, "Dia begitu menyukai orang imut, apa aku harus menjadi imut dulu baru dia akan menyukai ku?" merindingnya.


Pria itu tidak bisa membayangkan jika dirinya berubah menjadi orang yang imut dan kekanakan, "Ughhh... apa aku bisa?" ragunya.


"Baiklah, demi wanita yang ku cintai, aku rela melakukan apapun bahkan menjadi imut sekalipun!" tekadnya kuat.


Sekarang didalam mobil itu tidak ada lagi percakapan, mereka berdua sama-sama terdiam, yang satu sedang dalam keadaan malu, yang satunya lagi sedang berfikir bagaimana caranya agar dia bisa menjadi orang yang imut tapi tidak terlalu imut.


Tak berapa lama Queen dapat melihat sebuah bangunan besar yang hampir menyamai Mansion-nya, bangunan ini juga cukup bangus menurutnya.


"Mau dibawa kemana aku sebenarnya?" batin Queen malas, sama sekali tidak merasa takut saat dibawa ketempat asing.


Seharusnya untuk orang pada umumnya, biasanya akan panik saat dibawa ketempat yang mereka tidak tau, tapi berbeda dengan Queen yang masih terlihat sangat santai malah lebih terlihat malas.


…………………………………………………………………


Mobil mereka memasuki area bangunan itu, Queen dapat melihat banyak sekali pria berseragam Bodyguard, dan dia juga melihat sejumlah pria yang memakai seragam yang pernah dia temui di Kasino pria itu beberapa hari yang lalu.


"Sepertinya aku lupa menanyakan siapa sebenarnya orang-orang itu." batin Queen masih dengan tampang malasnya.


Lalu tiba-tiba dia melihat lagi satu gerbang yang ada didepannya, "Gerbang berlapis? Sepertinya tempat ini sangat ketat." batinya.


"Aku baru mendapatkan 5% dari kekuatan ku, tapi itu cukup untuk menghancurkan setengah dari bumi ini, jadi jika memang benar tempat ini sedikit berbahaya aku hanya perlu mengeluarkan 0,2% kekuatan ku untuk membereskannya." batin Queen menerka-nerka.


"Heheh... sepertinya aku harus berterima kasih kepada anak-anakku, karena berkat darah mereka kekuatan ku sedikit lebih cepat kembali." ucap Queen tersenyum devil.


Gerbang kedua terbuka, Queen dapat melihat jika ada sebuah Mansion mewah dibelakang sana, tapi bukan itu yang menjadi daya tariknya, melainkan di melihat ada sebuah pohon yang sangat besar dan berusia ratusan ribu tahun tertanam kokoh ditengah halaman Mansion itu.


"Itu bukan pohon biasa yah?" batin Queen bukan didalam hati, melainkan diruang kehampaan yang ada didalam dirinya, lebih dalam daripada batin seseorang.


Sepertinya wanita itu sedang mengajak berbicara seseorang yang terkurung disana, siapa lagi jika bukan Esensi Sang Dewi Pembunuhan.


"Hehehe~ Sangat jarang melihat pohon seperti ini masih ada di bumi, bahkan pohon ini bisa bertahan hidup walaupun hidup dilingkungan yang sudah tidak bersih." ucap mahkluk gelap itu.


NOTE : Sosok gelap itu merupakan perwujudan dari Esensi Sang Dewi Pembunuhan yang ada didalam diri Queen, dia mendapatkan Esensi itu saat mengalami insiden yang sangat tragis dimasa lalunya, sehingga jiwa dendam dan emosionalnya terbangkit, sosok itu juga tidak memiliki bentuk tetap dan sering berubah-ubah, dan karena sosok inilah Queen menjadi susah untuk menekan amarah, dendam dan kenangan masa lalunya.


"Memang benar, Pohon Suci seharusnya ada ditempat yang suci, tapi dunia ini sudah bercampur, Martial yang ada disini sudah begitu padat, pohon ini tidak cocok ada disini." balas Queen menatap pohon itu dari dalam ruang kehampaan menembus keluar tubuhnya.


"Pohon itu bukankah milik Klan Elf sejati? Setahuku Ras Manusia Qi, Mutan, dan Elf sudah punah disini, dan semua peninggalan Ras itu sudah kau amankan, kenapa pohon suci Elf ini masih ada disini, dan masih bisa bertahan hidup?" heran sosok gelap itu.


"Ada satu kemungkinan bagaimana bisa Pohon Suci ini masih ada disini!" smirk Queen menatap sosok itu serius.


"Apa?" penasarannya.


"Jadi semua Artefak yang dimiliki Ras itu memang sudah semua ku amankan, tapi seharusnya kamu juga tau jika Artefak yang kuambil merupakan Artefak yang sudah tak bertuan, dengan kata lain Tuan dari Artefak tersebut sudah punah atau mati…." jelas Queen.


"Dan Artefak yang tidak bertuan akan aku panggil dan mereka akan datang dengan sendirinya, tapi… jika Artefak tersebut masih memiliki tuan, Artefak tersebut tidak akan datang kepada ku." lanjutnya lagi.


"Jadi kesimpulannya Pohon Suci itu masih memiliki seorang tuan dan dia masih hidup!?" ucap sosok itu seketika tersadar.


"Menarik bukan?" smirk Queen dalam.


"Hahahah~ Ternyata tempat yang kita abaikan memiliki rahasia seperti ini…" desis sosok itu senang.


"Sepertinya kau akan mendapatkan mainan yang menyenangkan! Tapi… apa tebakan ku dan tebakan mu sama? Jika…" jeda sosok itu sengaja.


"Yah, mungkin saja tuan dari pohon itu ada disini." senyum Queen semakin dalam.


"Hehehe ternyata tebakan kita sama, semoga beruntung~" ucap sosok itu, lalu kembali menghilang.


Begitu juga dengan Queen yang sudah kembali mengambil kesadarannya, "Aku ingin melihat siapa tuan mu Pohon Suci…" senyum Queen mengarah kearah pohon suci tersebut.


Tak lama kemudian mobil mereka berhenti didepan pintu masuk utama Mansion tersebut.


Semua orang yang ada disana cukup terkejut saat melihat ada seorang wanita asing yang keluar dari dalam mobil Tuan Muda mereka, begitu juga dengan orang yang membukakan pintu mobil untuk Queen sendiri yang lebih merasa kaget dan tercengang saat melihat kehadiran wanita itu.


Dia sungguh sangat mengagumi sosok dari wanita ini, jujur wanita ini sangatlah cantik serta anggun, tapi disisi lain dia secara sekilas bahkan hampir tak terasa dapat merasakan hawa berbahaya dari dalam tubuh wanita ini.


"Wanita ini tidak boleh disinggung!" batin orang itu tidak jadi menatap lensa mata Queen langsung, entah kenapa dia merasa tertekan.


"Sepertinya Maid ini sedang membatin, apa aku harus mengaktifkan kemampuan Pembaca Alam Semesta ku, agar aku bisa mendengar batin mereka?" ucap Queen dalam hati.


"…… Baiklah akan aku coba." diam-diam Queen mengaktifkan salah satu kemampuannya yang merupakan kemampuan Pembaca Alam Semesta, yang beberapa minggu ini sempat tertutup karena kekuatannya tertekan.


"Selamat Datang Tuan Muda ke-1 dan ke-2" ucap mereka serentak, membungkukkan tubuhnya menghadap kerah Raphael dan Kevin.


"Huh!" dengusan tidak suka Kevin layangkan kepada para Maid yang ada disana, dia dengan tampang tidak pedulinya memasuki pintu Mansion tersebut.


"Anak itu…" hela Raphael lelah dengan sikap adiknya yang sangat arogan dan tidak bisa menahan diri saat berdekatan dengan seseorang.


Walaupun dia juga tidak sula dan benci berdekatan dengan orang-orang, tapi dia masih bisa menahan diri agar tidak terlalu menunjukan rasa itu secara langsung, tapi anak ini bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya itu? Benar-benar keterlaluan!


"Sudah kubilang bukan adik mu itu sangat menarik." ucap Queen tidak menutupi dirinya jika dia tau sifat Kevin yang sebenarnya.


"……" semua orang yang ada didekat Queen terdiam saat mendengar jika wanita ini sudah mengetahui sifat asli Kevin yang sangat susah ditebak, bahkan Felicya yang sering bersama Kevin pun sampai sekarang masih tidak tau sifat aslinya.


"Hahh... ternyata kamu sudah tau, tapi kenapa kamu masih menyukai anak itu?" bingung Raphael.


"Bukan urusan mu!" sinis Queen, "Lagipula tidak mungkin jika aku bilang adikmu itu sedikit mirip dengan adikku." lanjutnya dalam hati.


"Yasudah kita ayok masuk..." pasrah Raphael langsung menggenggam tangan Queen menuntunnya masuk kedalam sana.


Saat pintu besar itu kembali dibuka, Queen langsung diperlihatkan desain dari dalam bangunan itu yang memang terlihat sangat mewah melebihi Kasino yang dimiliki pria ini.


"Aku jadi semakin penasaran bangunan apa ini...." batin Queen melihat sekeliling dan lagi-lagi dia melihat sesuatu yang menarik.


"Lukisan Elf? Apa disini benar-benar ada Ras Elf Sejati?" teka teki baru kembali muncul saat dia melihat lukisan yang terpajang didalam lemari kaca disamping tempat dia berdiri.


"Mari kita lihat." ucap Queen menghentikan langkahnya, Raphael yang merasa jika wanita itu berhenti berjalan menolehkan kepalanya, dia melihat jika wanita itu sedang melihat sebuah lukisan yang memang dia tidak pedulikan dari kecil hingga sekarang.


"Apa dia tertarik dengan hal-hal yang berbau fantasy?" batin Raphael menebak asal-asalan.


"Ada apa?" tanya Raphael mengusap lembut telapak tangan Queen.


"Emm... kamu bisa duluan saja aku ingin melihat lukisan ini dulu." jawab Queen langsung.


"Tapi…" bimbang Raphael tidak ingin meninggalkan Queen sendirian.


"Tidak apa, nanti aku akan menyusul." ucap Queen menyakinkan.


"Huft… baiklah, kamu susul aku diruang utama, nanti kamu bisa tanya kepada orang-orang ini." jelas Raphael sedikit tidak rela meninggalkan wanitanya sendirian.


"Okay, yasudah sana." usir Queen tak menghiraukan pria itu lagi dan lebih fokus kepada lukisan tersebut.


Raphael yang melihat jika dirinya baru saja diusir oleh wanitanya, mendekatkan dirinya kearah wanita itu, "Cepatlah menyusul ku." bisiknya ditelinga Queen, yang membuat wanita itu merasa geli.


"Iya iya, udah sana!" seru Queen mendorong tubuh pria itu keras karena kesal sudah dibuat geli olehnya.


Saat pria itu sudah meninggalkannya sendiri, Queen langsung menatap lukisan itu dengan senyum misterius.


……………………………………………


Jangan lupa tinggalkan jejak ya '-'


.


.


.


.


#Next