The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 85



Seketika Queen menatap kearah belakang tubuhnya dan melihat jika ada beberapa orang yang melesat kearah sini, dan langsung memecahkan pelindung yang dia buat dengan mudah.


Tentu saja mudah, dia hanya membuatnya secara asal, Huh!


Ada beberapa dari mereka yang terbang dan ada beberapa dari mereka yang sedang melesat cepat dari batang pohon ke batang pohon lainnya.


Mereka yang menuju kesini melalui darat segera menuju kearah Alvarez, sedangkan bagi mereka yang mendekat melalui udara segara mengentikan Queen, dan berusaha menenangkannya.


Mereka mengeluarkan banyak sekali kata-kata untuk membujuk Queen, sehingga mengganggu Queen yang memang sendari tadi sudah sangat lelah.


"Mereka kita aku benar-benar marah apa!? Sehingga membujuk ku seperti ini!" serunya dalam hati, urat-urat kekesalan kembali terlihat saat anak-anaknya memohon agar dia tidak membunuh Alvarez.


"KALIAN BISA DIAM TIDAK!"


Setelah mendengar teriakan dari sang Ratu, untuk sesaat mereka terdiam, namun tak berapa lama mereka kembali berbicara bahkan lebih keras daripada sebelumnya.


Pusing, kesal, jengkel, itulah yang dirasakan Queen saat ini, mempunyai anak yang kadang pintar dan kadang bodoh sangatlah merepotkan baginya.


Namum ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan ketujuh monster yang ada di Kerajaan-Nya.


Karena sudah tidak tahan mendengar ocehan mereka, Queen pun terpaksa menutup mulut mereka menggunakan sihirnya.


Mereka pun seketika terdiam, karena tiba-tiba saja mulut mereka tidak bisa dibuka apalagi digerakkan, benar-benar kaku seperti sedang disegel.


Queen yang melihat jika urusannya disini sudah selesai, ia pun memberikan senyum mengejek kepada anak-anaknya yang bodoh itu.


Setelah memberikan senyum menyebalkan tersebut, wanita itu mendarat kebawah dengan sempurna.


Ia melirik sekilas kearah Alvarez yang sedang tersenyum bodoh kepadanya dengan jempol tangan yang ia perlihatkan, seakan-akan bocah itu memberitahunya bahwa dia baik-baik saja.


Queen pun menganggukkan kepalanya mengerti, wanita itu langsung berjalan mendekati Tuan Besar Alaric tanpa menghiraukan tatapan mereka yang takut saat melihatnya.


"Ambilah, lain kali jangan mengeluarkan Artefak ini sembarangan, tekan hawanya jika memang ingin kau gunakan agar tidak menyebar kemana-mana." jelas Queen memberikan kembali Tombak Elf tersebut.


Melihat itu Tuan Besar Alaric segera mengambil kembali Tombak tersebut walaupun sempat ragu, pria itu menganggukkan kepalanya mengerti dengan penjelasan Queen.


Namun secara tiba-tiba Queen kembali tersenyum misterius dan berjalan mendekati Kevin, bukannya Raphael.


Queen menatap baju Kevin yang terlihat kotor, "Berdirila, aku tau kau mampu berdiri."


Kevin hanya tersenyum canggung dan berdiri seperti tidak terjadi apa-apa padanya, walaupun ia merasa sedikit nyeri di punggungnya, namun tak masalah.


Sedangkan untuk Raphael, Queen membantunya menghilang rasa sakit yang dia terima saat dilempar kesana-kemari oleh anak bodohnya itu


"Kau akhirnya tau bukan?" tanya Queen.


"Umm..." dehem Raphael.


Pria itu akhirnya benar-benar nyakin 100% jika wanitanya memang bukan manusia biasa, persis sekali dengan apa yang wanita itu ceritakan.


Melihat jawaban itu Queen menganggukkan kepalanya sebagai respon, lalu ia kembali menatap wajah Kevin dengan tawa yang ditahan.


"Apa lihat-lihat!?"


"Hahah… tidak ada, pintar sekali kau menyembunyikan diri." kedipnya kepada Kevin, lalu meninggalkan kedua adik kakak tersebut.


"Dasar wanita aneh." gumam Kevin, namun tiba-tiba dia merasakan hawa panas yang berkobar dibelakangnya.


Sesaat anak itu merasa ngeri saat ingin melihat kearah belakang, sudah pasti kakaknya lah yang mengeluarkan hawa seperti ini.


"Kenapa dia mengedipkan matanya kepadamu hah?" dingin Raphael.


Kevin pun melihat sekilas kearah kakaknya, "Mana aku tau tanya saja sendiri, huh!"


Anak itu langsung pergi menjauhi pria gila dibelakangnya, saat sudah cukup jauh anak lelaki itu langsung membatin.


"Dasar pencemburu, memangnya wanita itu mau apa sama orang kayak dia?" batin Kevin menggerutu.


………………………………………………………


Disisi lain Alvarez saat ini sudah merasa baikan saat meminum pil obat yang ada didalam Cincin Ruangnya yang dia gunakan untuk mengobati luka dalamnya.


Dan untuk luka fisiknya dia dibantu oleh teknik penyembuhan yang dilakukan oleh rekan perempuannya, jadi sudah dipastikan jika pria itu tidak akan kenapa-kenapa.


Tak berapa lama Alvarez pun sudah terlihat segar kembali seperti tidak terjadi apa-apa.


"Padahal aku berharap kalau aku akan sekarat tadi…" gumam Alvarez seketika dibalas oleh tatapan aneh rekan-rekannya, yang tak mengerti dengan jalan pikiran ketuanya ini.


PLETAK!


"Apa? Mau marah?" ucap Queen dengan nada menantang.


"Heheh tidak kok…"


"Kau ini kenapa bodoh sekali sih! Apa perlu ku ganti otakmu dengan yang baru hah?"


Beerrrr…!


Tubuh Alvarez langsung menegang, keringat bercucuran saat memikirkan jika nanti kepalanya akan dibelah, lalu otaknya akan dicabut, dan diganti dengan otak yang baru.


DIA SAMA SEKALI TIDAK BISA MEMBAYANGKAN HAL TERSEBUT!


Karena pemikiran anehnya Alvarez pun pingsan dengan keadaan syok, sedangkan rekan-rekannya hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ketuanya.


Setelah pembicaraan mereka selesai yang diakhiri dengan pingsannya Alvarez, Queen pun langsung menatap bangunan Mansion Alaric yang sudah hancur sebagian.


Refleks wanita itu segera melihat kearah orang yang memiliki bangunan tersebut, dan mendapati mereka yang tercengang menatap rumahnya yang sudah hancur.


"Huftt... benar-benar deh!" dengus Queen.


"Kalian sementara tinggal di rumah ku saja, besok Mansion ini akan kami perbaiki dalam waktu sehari."


Setelah mengatakan hal itu, Tuan Besar Alaric berserta keluarganya berdiskusi tentang tawaran yang diberikan Queen.


Yah walaupun sebenarnya mereka masih memiliki rumah lainnya di daerah lain, namun apa salahnya jika mereka menerima tawaran tersebut.


Tuan Besar Alaric pun menyetujui tawaran Queen, dan secara bersamaan keluarga itu merasakan banyak sekali tatapan mata buas yang mengarah kearah mereka.


Gleg!


Keluarga itu tercengang saat melihat tatapan itu berasal dari orang yang merupakan bawahan Queen.


Berbeda dengan para Maid yang sudah menyadari dari awal jika orang-orang yang merupakan bawahan wanita yang tak lain adalah Queen, terlihat tidak suka dengan jawaban mereka, sehingga mereka tak terlalu tercengang.


Disisi lain Kevin juga menatap kerah belakang tubuh Queen dan mendapati puluhan mata yang menatap mereka buas.


"Tatapan mereka seperti seorang predator!" ujar Kevin dalam hati.


Dibelakang anak lelaki tersebut, terlihat seorang pria tampan yang terlihat biasa saja saat melihat tatapan menusuk tersebut.


Toh ia juga sudah biasa dengan hal itu makanya dia hanya menghiraukannya saja, walaupun dia merasa sedikit cemas karena bagaimana pun mereka bukanlah manusia biasa.


Melihat raut wajah keluarga itu terlihat cukup aneh, tanda tanya besar muncul di kepala Queen, "Ada apa dengan kalian?"


"………"


Tidak ada satupun yang mau menjawab pertanyaannya, karena tatapan menusuk itu semakin membesar sehingga membuat mereka bungkam.


Walaupun ada beberapa dari mereka yang sudah biasa makanya tidak terlalu takut dengan tatapan itu, tapi mereka memilih untuk diam.


Melihat jika keluarganya tidak ada yang mau menjawab, Kevin pun menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan Queen.


"Coba berbalik dan lihat kebelakang mu."


Queen pun langsung membalikkan tubuhnya dan melihat anak-anaknya yang sedang menatap kesemarang arah.


"Lalu kenapa?"


"Ck…! Tadi mereka menatap kami dengan tatapan predator!" adu Kevin jengkel.


Mendengar aduan tersebut wajah Queen menjadi muram, wanita itu menatap tajam penuh ancaman kepada anak-anaknya. (Anak-anaknya bermasalah semua :v)


…………………………………………………………


Jangan lupa LIKE and VOTE 'Bagi yang mampu' 🙄🙄


.


.


.


.


#Next