
Setelah aku masuk kedalam portal kaca itu, secara tiba-tiba aku sudah sampai ketempat dimana menjadi tempat tinggalku di bumi, yah tempat ini merupakan tempat yang sepi, karena disini hanya ada tempat tinggalku dan jalan menuju ke jalan depan.
Tempat tinggalku juga merupakan Mansion paling mewah dan besar di Negara Italia, sebenarnya aku bingung dengan mereka karena tau Mansion ini, padahal aku sudah membangun-nya ditempat yang sepi, tapi ya sudahlah mau diapakan lagi?
Aku melajukan mobilku menuju pintu masuk Mansion, dan secara alami pintu masuk yang amat sangat besar, mewah, dan elegant itu terbuka, dan akupun segera masuk kedalam, setelah masuk ku lihat banyak anak-anak ku yang merupakan setengah manusia dan setengah mahkluk yang memiliki kekuatan, tak peduli itu mahkluk apa.
Mereka berbaris dengan rapi, dan membukukan setengah badannya, dan ku lihat juga mereka terseyum senang, mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu dengan ku, oh iya walaupun mereka keturunan mahkluk yang memeiliki kekuatan, tapi anak-anak ku yang ada disini tidak memiliki kekuatan, dan hanya manusia biasa.
Tapi jangan salah, walaupun mereka tidak memiliki kekuatan seperti anak-anak ku yang ada di kerajaan, tapi mereka memiliki kepintaran, serta daya tubuh yang kuat, dan tentu saja beladiri yang sangat bagus, dan itu semua harus dilatih terlebih dahulu, dan tentu saja yang melatih mereka adalah si anak penjaga menara pertahanan, dan bukan aku. Hehehe~
Setelah itu aku memberhentikan mobilku didepan seorang lelaki yang merupakan ketua dari anak-anak ku yang ada disini, yah dia adalah salah satu orang yang ku selamatkan dulu saat berkunjung di dimensi tetangga, uhh kasian sekali dia, keluarganya hancur gara-gara peperangan antara faksi-faksi kerajaan di dimensi-nya.
Seperti yang ku lihat dia menghampiri ku dan membuka pintu mobil, setelah itu dia mengulurkan tangannya untuk ku, dan tentu saja aku menyambutnya, huhuhu aku sangat terharu dengan bocah ini, ternyata dia sudah dewasa dan tidak semenyebalkan dulu.
"Selamat datang kembali Mama..." ucapnya manja kepada ku, seketika rasa haru ku yang tadi pecah, ahhh dia masih seperti dulu, huhuhu bagaimana aku bisa merasa tenang disini, sedangkan ada bocah menyebalkan seperti dia disisi ku~
"Ayolah... kapan kau berubah hah? Kau sudah dewasa dimata orang-orang yang ada dibumi, bukan?" kata ku menebak, karena setau ku di bumi umur 17+ tahun sudah termaksud dewasa bukan? Tapi jika dimata ku... umur 100 tahun-pun masih seperti anak-anak, ah mungkin karena umurku sudah tua!
"Tidak mama... aku masih anak-anak dimata mu bukan? Aku tidak mau dewasa.... aku mau tetap menjadi anak-anak, nanti mama tidak mau memanjakan ku lagi bagaimana? Aku tidak mau!" ucapnya histeris.
"Eh eh eh...? Kenapa jadi begini sih? Ah sudahlah, aku harus membuat bocah ini berhenti menangis dulu." batin ku.
"Baiklah Baiklah, cepat berhenti menangis tanpa air mata mu itu dulu, kamu ini benar-benar dehh..." ucap ku, setelah itu masuk kedalam Mansion tanpa memperdulikan dia lagi.
Setelah aku masuk, tiba-tiba saja anak itu berhenti menangis, dan tatapannya berubah seketika, tatapannya menjadi dingin, tajam, serta terasa protektif yang amat dalam mengikuti ku sampai aku masuk kedalam Mansion, tapi aku tak menyadari hal itu.
"Ketua, kau benar-benar bermuka dua! Bagaimana bisa kau berpura-pura seperti itu, hanya karena ingin mendapatkan perhatian RatuNa" batin anak-anak ku yang ada disana.
"Bukan urusan kalian, dan diam!" ucap anak yang tadi menangis yang tak lain bernama Alvarez. Dia memang bisa membaca pikiran mereka yang baru saja membatin tentang dirinya.
Setelah itu Alvarez masuk kedalam Mansion berniat menyusulku, dan saat ini aku ada di lantai 3 lebih tepatnya dibalkon lantai tiga yang menghadap kolam renang yang ada dibawah sana.
"Mama..." ucap Alvarez, sambil menghampiri ku. Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara lembutnya.
"Hmm" ucap ku dingin, dan yah seperti dugaan mungkin tengah malam sifat asli ku akan benar-benar bangkit lagi. Ahhh aku benar-benar tak sabar menunggu hal itu, jujur aku lelah harus berpura-pura baik atau ramah atau apalah itu.
"Mama, apa sifat asli mu akan kembali lagi?" ucap Alvarez sedih. "Mungkin." ucap ku singkat, dan seperti yang ku lihat anak itu menundukkan kepalanya dalam, sepertinya sedang menahan sedih. Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti itu, dengar ya sifat ku masih belum menyatu seutuhnya jadi masih bisa bersikap manusiawi ok.
"Alvarez kemarilah." ucap ku kepada anak itu, ketika mendengar perkataan ku, Alvarez langsung mengangkat kepalanya cepat, dan segera menghampiri ku.
"Duduk disini." ucap ku sambil menepuk bangku disamping. Dan seperti perintah ku diapun duduk dengan patuh, tapi matanya masih memerah.
"Jangan menangis ok! Kau sudah cukup besar, aku tak mau mempunyai orang yang lemah, paham! Dan kamu tenang saja, walaupun sifat ku kembali lagi, tapi aku masih bisa mengingat mu... Jadi tenanglah." ucap ku menghibur sambil memberikan nasehat.
"Baik mama..." ucapnya sambil meremas ujung baju ku, tapi aku tak mempermasalahkan-nya, lagian cuma baju.
"Oh iya, apa aku boleh bertanya?" ucap ku lagi. "Iya, bertanya apa?" ucap Alvarez mulai serius, nah ini yang kusuka, mari kita serius.
"Apa disini ada kelompok yang memiliki kekuatan bertarung? Atau suatu anggota yang bekerja untuk menjaga negara atau menghancurkan negara? Atau orang-orang yang memiliki suatu komunitas?" ucap ku benar-benar serius.
Aku bertanya hal itu karena penasaran saja, aku hanya ingin tau pertahanan bumi seperti apa? Jadi tiak ada masalahkan jika aku bertanya tentang hal itu. Tapi ntah kenapa anak itu hanya diam, sambil tersenyum sinis.
"Emm sebenarnya memang ada kelompok-kelompok seperti itu, tapi... mereka sangat payah~" ucap anak itu meremehkan.
"Payah bagaimana?" ucap ku lagi, sungguh aku benar-benar tidak mengerti apa yang anak itu ucapkan.
"Jadi begini, mereka masih belum bisa menggunakan kekuatan serta sumber bumi dengan baik, jadi pertahanan mereka masih suka jebol..." ucap anak itu, sambil memasang wajah lucu.
"Bagaimana kamu tau? Hah... tunggu, jangan bilang kamu yang menerobosnya sendiri!" ucap ku kaget, sungguh aku benar-benar kaget, ahh jadi ini alasannya dia bisa bilang kelompok itu payah, tentu saja akan terlihat payah, orang yang menerobosnya saja adalah anak itu. Bagiamana sih!
"Tentu, aku hanya ingin mencoba pertahanan mereka saja, tapi sungguh bukan aku saja yang menerobos, tapi anak-anak lain juga ikut kok, jadi aku memutuskan bahwa tempat itu sebagai objek berlatih kita~" ucap anak itu yakin sekaligus bangga.
Saat aku mendengar ucapannya barusan, rasanya aku ingin sekali terjun dari lantai tiga, lihat saja ekpresinya benar-benar sangat bangga dengan ide konyol itu. Hahh lupakan!
"Jadi apa semuanya juga payah?" ucap ku memastikan lagi, karena tidak mungkin kan semua kelompok itu payah? Benar-benar tidak masuk akal.
"Tidak! Ada 2 kelompok yang benar-benar tertutup, dan lumayan sulit dilewati, tapi bagiku dan anak-anak lain tidak masalah, tapi bagi orang lain itu akan mustahil, kelompok itu juga memiliki kekuatan, persenjataan, dan pertahanan yang sangat bagus, dan sesuai romor kelompok mereka sangat-sangat ditakuti oleh orang-orang serta para penjahat yang ada di dunia ini, apa lagi aku pernah mendengar bahwa 2 kelompok itu saling bermusuhan, karena kelompok itu berbeda pekerjaan, yang satu menjaga negara-negara agar tetap damai, yang satu lagi malah menghancurkan negara!" ucap Alvarez dingin sambil memasang wajah serius.
Saat aku mendengar hal itu, aku hanya diam, dan mencoba menyalin ulang perkataan anak itu, huhh baiklah aku sudah paham.
"Jadi kelompok mereka itu apa?" gumam ku, tapi tak sengaja terdengar oleh Alvarez.
"Kelompok yang menjaga negara merupakan Tentara Bayangan tapi yang benar-benar memantau negara adalah Kemiliteran, dan Kedua bidang itu dipimpin oleh satu orang, lalu satu kelompok lagi yang menghancurkan negara adalah.... Mafia!" ucap anak itu menjawab gumaman ku.
"Tentang Bayangan yah.... Dan Mafia...." ucap ku mengulangi.
"Mafia... Ah aku sangat tertarik dengan Mafia itu." ucap ku terseyum.
"Tapi kenapa kamu hanya menyebutkan itu Mafia? Apa tidak ada yang lain?" ucap ku penasaran.
"Maaf~ Hanya itu saja yang kudapat, Mafia itu.... aku sendiri juga susah menerobosnya, dia... sangat hebat!" ucap Alvarez lirih.
"Ahh ya sudah tak apa." ucap ku pasrah karena melihat ekspresi sedihnya muncul lagi.
…………………………………
Jangan lupa Like, Komen, Vote, anda Rite ya guys, dan terima kasih untuk readers yang sudah ngevote Author^^
.
.
.
.
.
#Next