
Sebenarnya ia harus melakukan apa agar bisa mendapatkan kekuatan yang dapat bersanding dengan wanitanya?
"Kalau begitu jika aku menang kau harus……"
Sosok Raphael tiba-tiba berubah menjadi bayangan samar. Seketika pria itu menghilang dari hadapan Queen.
SRING!
Sebuah pedang terlihat didepan leher Queen, wanita itu sedikit terkejut, bagaimana mungkin pria ini bisa menghilang tanpa ia sadari? Namun jika dipikirkan lagi sepertinya itu wajar.
Karena bagaimana pun juga pria itu merupakan keturunan tak langsung dari Klan Ras Elf Sejati. Tapi jika memang begitu, tetep saja itu tidak mungkin.
"Terkejut?"
Queen tersenyum sinis, "Sedikit, tapi kau belum tentu menang…" ujarnya.
Pria itu memeluk pinggang Queen erat, "Tapi posisi ini sangat menguntungkan ku."
"Dan… kau tidak boleh menggunakan kekuatan Magis mu untuk bertarung dengan manusia sepertiku."
"Heh! Aku bukan pengecut kau tau!" geram Queen.
Cup!
Raphael mengecup pipi Queen lembut sekaligus gemas, tak peduli dengan darah yang ada di wajah wanitanya ini dia tetap menciumnya tanpa rasa jijik.
"Kau ingin dengar bukan kesepakatan yang aku minta?"
"……" Queen terdiam wanita ini masih tak percaya dengan kelakuan tak tau malu dari pria itu.
Bagaimana bisa di situasi sekarang ini pria itu masih sempat-sempatnya menciumi pipinya?!
"Katakan!" ucap Queen mengangkat pedangnya keatas kepala Raphael.
Jadi jika dilihat posisi keduanya terlihat sangat mematikan. Raphael menaruh pedangnya dileher Queen sedangkan wanita itu menaruh pedangnya di atas kepala Raphael. Posisi mereka dapat membuat mereka berdua mati kapan saja.
"Jika aku menang, aku ingin kau menjadi kekasihku…" lirih Raphael lembut tepat ditelinga Queen.
Namun seketika terdengar suara cekikikan yang menakutkan dari atas langit, beberapa gunung yang masih aktif di Negara itu sedikit mengeluarkan laharnya, seakan-akan lahar tersebut ingin menerobos keluar dari gunung dan terangkat keatas langit.
Udara seketika menjadi panas, Raphael dan Queen bisa merasakan jika tubuh mereka tak bisa digerakkan, begitu juga dengan semua yang ada di Negara tersebut.
Jika ada diantara mereka yang memaksa untuk bergerak, pasti akan terasa sesuatu yang bergejolak dibawah kulit mereka, yang terasa dapat membuat tubuh mereka meledak.
"Apa keputusan kita benar?" ucap seorang pria tampan dengan bibir bawahnya yang bergetar.
"Entahlah…" lirih mereka.
Dan ya, mereka adalah anak-anak Queen yang sekarang ini sedang menatap kearah langit dengan tubuh yang kaku. Ada rasa menyesal pada diri mereka saat memanggil sosok tersebut.
Queen dengan sedikit susah mengangkat kepalanya keatas langit. Diatas sana terlihat sebuah cahaya berwarna merah membara, dan didalam sana terdapat bayangkan seseorang, namun sosok yang ada didalam sana masih belum terlihat jelas.
Tapi walau begitu, Queen sendri tau jika pria ini adalah si perusuh valid.
"Lihat saja kalian anak-anak bodoh! Lain kali aku akan mengutuk kalian!" gumam Queen dengan wajah memerah padam.
Raphael yang masih memeluk Queen dapat mendengar jelas apa yang di gumamkan wanitanya. Sekarang apa lagi ini? Kenapa cuaca tiba-tiba menjadi sangat panas?
Suara tawa yang sangat menyebalkan dan terlihat marah terdengar di atas langit. Apa yang membuat sosok itu terlihat marah?
Sesaat Queen tersadar, ia langsung melepaskan pelukannya dari Raphael. Wanita itu langsung menarik tubuh Raphael kebelakang tubuhnya. Berusaha menyembunyikan pria itu dari amukan monster rusuh ini.
"Dasar pembawa bencana!" kutuk Queen berseru menatap langit.
Suara tawa itu berubah menjadi tawa hangat, namun kembali panas seperti sebelumnya, entah apa alasannya.
"Aku tak menyangka jika Bunda memiliki pria simpanan lemah seperti ini…"
Sosok itu menekan momentumnya menjadi satu titik yaitu Mansion QueenZell. Sekarang rasa panas itu hanya terasa disekitar Mansion tersebut.
Sosok itu sebenarnya masih berada diantara perbatasan dimensi, namun karena level kekuatan yang ia miliki membuat momentum disekitarnya menyebar.
"Bunda siapa dia~"
Queen tak menjawab, sungguh sial sekali dia harus bertemu dengan sosok agresif seperti pria itu.
"Bukan urusan mu!" seru Queen.
Wanita itu menggenggam tangan Raphael erat mengisyaratkan agar dia tak bergerak sedikit pun.
Sosok itu yang melihat orang yang paling berharga dalam hidupnya menyentuh tangan seorang pria, yang bahkan umurnya lebih muda dari hamster yang dia jadikan mainan di Istana, merasa tak suka hati.
Tanpa mereka sadari sebuah pedang besar dengan unsur gaib sudah terbentuk di atas langit. Hawa panas menyelimuti pedang tersebut. Panas yang hampir sama seperti panas matahari terlihat siap untuk melelehkan apa saja yang ada disekitarnya.
"Mahkluk lemah sepertimu tak boleh berdekatan dengan Bunda!!" dingin sosok tersebut langsung menerobos ruang antar dimensi.
Terlihat seorang pria tampan dengan rambut merah terangnya yang terbang di atas langit dengan menggunakan sayapnya yang sama merahnya dengan rambutnya.
PSST!
"Lepaskan tangan Bunda dan matilah dengan tanganmu sendiri. Jika tidak aku yang akan melenyapkan mu!" tubuh pria itu gemetar saat melihat disekeliling tubuh Queen terdapat bekas nafas dari mahkluk panas tersebut.
Sungguh dia tak pernah membayangkan hal ini. Bagaimana jika kakak pertama dan keduanya, serta adik ketujuhnya tau hal ini?
Sosok itu nyakin jika akan terjadi perang ke-3 yang akan datang didalam sejarah alam semesta ini, jika ketiga mahkluk di atas monster gila itu melihat hal ini.
"Hentikan pedang itu!" perintah Queen tiba-tiba.
"Bunda kau kenapa membela mahkluk panas itu hah!!? Lepas cepat! Lepaskan tangan Bunda dari mahkluk itu!" ujar sosok itu posesif.
"Cukup! Pulang lah, kau tak diterima disini!" usir Queen sarkas.
"AGGHHH… TIDAK! Jika aku pulang Bunda juga harus ikut PULANG!" teriak sosok itu marah.
"Reizel! Jangan menggila disini! Pulanglah!"
"Cih! Bunda kau pasti sudah diberikan sesuatu oleh mahkluk ini!" bengisnya kepada Raphael.
"Diam! Pulang, kumohon pulanglah…" usir Queen sekali lagi.
Tubuh sosok itu semakin bergetar, "Bunda kau benar-benar ingin memancing perang ya?"
"Bunda dimana otakmu hah?! Mereka tak pantas mendapat perhatian mu! Sudah cukup tikus-tikus kecil itu!"
Queen tak menjawab, wanita itu semakin menyembunyikan Raphael yang ada dibelakang tubuhnya. Wanita itu menatap wajah tampan itu nanar.
"Maaf, aku sudah melibatkan mu…" ucap Queen tersenyum getir.
Untuk sekarang, ia tidak bisa menang jika harus bertengkar dengan sosok itu. Kekuatannya memang sudah cukup jika harus bertarung dengan sosok rusuh tersebut.
Tapi wanita itu nyakin setelah ia bertarung dengan sosok rusuh itu, kekuatannya pasti akan kembali berkurang.
"Apa mau mu…?" ucap Queen lembut, tak mau membuat sosok itu marah.
"Yang aku mau pria itu harus mati di tanganku." bengisnya lagi.
Mendengar itu Queen langsung menatap tajam penuh hawa pembunuh kepada sosok yang bernama Reizel itu.
"Jangan bercanda! Apa yang kau inginkan?!"
"Aku ingin membunuh…… pria itu……!"
Reizel menghilang dari atas langit. Pria itu tiba-tiba sudah berada didekat Queen serta Raphael. Terlihat jika pria itu sedang mencekik leher Raphael tak terlalu kuat, karena masih ingin bermain-main terlebih dahulu dengan manusia ini.
Reizel mencekik Raphael sambil memakai sarung tangan saking tak ingin menyentuh manusia. Itu hal yang wajar untuk orang sepertinya.
Coba kalian bayangkan jika dibumi benar-benar ada manusia serigala atau vampir, apa kalian ingin menyentuh mereka? Tentu saja yang atau kalian malah lari menjauh karena jijik dan ketakutan saat melihat makhluk seperti itu.
Greb!
"Jangan membuatku marah." Queen menarik tubuh Raphael dari genggam anaknya.
Seketika sosok Queen serta Raphael menghilang menjadi kabut berwarna emas dan muncul kembali dilantai tertinggi di Mansion tersebut, meninggalkan Reizel dengan raut wajah yang menggelap.
"Larilah, kau tak perlu khawatir dengan keluarga mu. Dia tak mengincar mereka, hanya kau!" pinta Queen tersenyum getir menatap Raphael, pria itu memasang ekspresi yang tak bisa ia tebak.
"Aku akan meminjamkan kekuatanku, dengan itu kau bisa bersembunyi darinya."
Queen membuat pelindung dengan 1% kekuatannya. Dia tau jika pelindung ini tak bisa begitu lama menahan Reizel yang sudah siap berperang melawan Raphael
"Kenapa aku begitu lemah?" lirih Raphael sedikit meneteskan air matanya.
"Itu bukan salahmu, terlahir menjadi manusia juga tak ada salahnya. Karena kalian masih bisa merasakan cin…"
"Aku tidak ingin pergi." sela Raphael.
Queen menggelengkan kepalanya tak setuju, "Kau harus pergi, dia tak akan melukaiku. Anggap saja ini permintaan terakhirku."
Raphael yang mendengar itu membulatkan matanya kaget, "A-apa maksudmu?!"
Queen mengalihkan pandangannya kearah lain tak mau melihat pria yang dapat merebut perhatiannya sekaligus kebenciannya.
…………………………………………………
Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺
(Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next