
Di dalam kamar, Queen sedang termenung didepan kaca kamar mandinya, padahal awalnya dia setelah mandi ingin langsung tertidur.
Tapi entah kenapa dia malah teringat wajah dari kedua kaparat itu, dan hal inilah yang membuatnya tidak memiliki niat lagi untuk tidur.
_POV Queen_
Kenapa sekarang aku jadi sering mengingat wajah mereka, jelas-jelas aku sudah melupakannya, aku tidak ingin mengingat mereka lagi!
Karena merekalah aku jadi seperti ini, tapi kenapa harus mereka? Kenapa aku harus memiliki dendam seperti ini!
Aku ingin melupakan semuanya, tapi disisi lain aku tidak bisa, kesalah kalian begitu fatal, aku tidak mungkin melupakannya.
Dendam berdarah ini akan selalu kubawa kemana-mana! Amarah! Sakit hati! Kebencian! Penghianatan! Dan penghinaan kalian akam selalu ku ingat!
Aku sangat ingin menghabisi kalian semua, tapi aku tau saat itu akulah yang bodoh karena dengan mudahnya tertipu oleh kalian.
Namun kenapa harus kalian yang melakukan itu? Orang yang kupercayai adalah musuh tersembunyi ku! Aku tidak percaya ini!
Dan ternyata sejak awal kalian hanya mempermainkan ku! Bahkan sahabat ku sendiri dengan teganya menghianati ku!
Saat aku ingin membalas semuanya kalian malah menghilang, menghilangnya kalian semakin membuat ku menderita.
Bahkan aku dengan bodohnya hampir mencelakai seseorang yang mirip dengan kalian! Aku hampir melakukan dosa lainnya akibat kalian juga!
Dan jika bukan karena kalian aku tidak akan mudah marah, aku juga tidak mungkin mendapatkan Esensi ini.
Bahkan karena Esensi ini aku menjadi gelap mata dan dengan teganya membunuh adiku secara tidak langsung.
Karena kemarahan ini, karena dendam ini kenapa harus berdampak keseeorang yang paling ingin kujaga?!
Adikku bahkan tidak tau apa-apa tapi malah menjadi korban kemarahan ku! Ini tidak adil.
Aku juga baru menyadari jika dulu aku sering menyia-nyiakan orang yang memiliki hubungan darah dengan ku.
Dulu aku sangat menyia-nyiakan waktu berdua dengan adikku, aku bahkan sering mengacuhkannya.
Aku bersikap layaknya seorang kakak yang lebih mementingkan ketenangan daripada adikku sendiri.
Aku menyesal, tapi itu tidak berguna lagi, yang sekarang menjadi tujuan utama ku adalah membalaskan semua rasa sakit ini kepada kalian!
Akan kubuat kalian menderita! Akan kubuat kalian sengsara! ini adalah sumpah ku! Tunggu dan lihatlah kemarahanku!!
_POV Author_
Queen berteriak sambil melampiaskan semua amarahannya, dia juga menumpahkan semua keluh kesahnya kepada dirinya sendiri, didepan cermin.
Dia terus berseru dan sesekali bergumam sedih, saat ini ruangan itu menjadi sangat suram, disana juga terlihat banyak sekali bercak darah yang terjatuh dari kuku jemari Queen.
Lalu dengan emosi yang tidak bisa dikontrol lagi Queen langsung memecahkan kaca kamar mandinya, dan karena suara pecahan kaca itu sangat keras, makanya suara itu bisa sampai terdengar keluar kamar.
Alvarez dan anak lelaki itu yang mendengar suara kaca pecah dari dalam kamar Queen, seketika tersentak kaget namun digantikan oleh rasa khawatir.
"Jangan halangi aku lagi, bocah!" unjar Alvarez memperingati rekannya yang datar ini.
"Siapa yang ingin melarang? Masuklah." balasnya cuek.
Lalu mereka dengan tergesa-gesa segera memasuki pintu kamar itu, tapi yang pertama kali mereka liat adalah ruangan yang kosong.
Tapi saat mereka mendengar suara teriakan dari dalam kamar mandi, dengan cepat mereka langsung menghampiri pintu kamar mandi tersebut.
Dengan khawatir mereka langsung membuka pintu itu, dan terlihatlah Queen yang saat ini sedang memegang salah satu dari pecahan kaca tersebut.
Saat ini Queen terlihat seperti ingin menusuk pahanya sendiri dengan potongan kaca tersebut.
Disisi lain Alvarez yang melihat itu tidak bisa tinggal diam, dan ingin menghentikan tindakan Mama-nya yang dia akui sangatlah bodoh.
Namun lagi-lagi dia ditahan oleh bocah ini, "Kenapa kau menahan ku hah?!!" murka Alvarez menatap anak lelaki itu dengan pandangan sengitnya.
"Ratu memiliki alasan." ucap anak lelaki itu dengan datar dan santainya seperti tidak tau apa yang terjadi saat ini.
Namun ternyata anak lelaki itu masih terus memantau Ratu-nya yang sudah bersiap untuk menusuk dirinya sendiri.
JLEB!!
Suara tusukan itu membuat Alvarez terdiam kaku, dia ragu untuk menolehkan kepalanya kembali kearah Mama-nya, dia takut jika wanita berharganya terluka.
"Huftt..." helaan nafas itu terdengar dari diri Queen yang saat ini sedang terduduk lemas dilantai kamar mandinya.
Tubuhnya penuh dengan keringat dan terlihat cukup banyak darah yang mengalir dari pahanya serta jari jemarinya.
"Ratu... apa tidak ada cara lain untuk menekan Esensi gelap mu selain Yang Mulia Pangeran?" ucap anak lelaki itu tiba-tiba bersuara lembut.
"Dasar bermuka dua!" cibir Alvarez melirik anak lelaki itu dengan pandangan mencela, tapi tatapannya malah diacuhkn oleh anak lelaki tersebut. Kurang ajar memang!
"Tidak." singkat Queen lelah karena baru saja melawan Esensi gelapnya, yang membuatnya sempat marah.
"Apa ada yang perlu saya bantu, Ratu?" tanya anak lelaki itu.
"Yak! Tentu saja." tegas Alvarez menyahuti.
"Tidak perlu, aku hanya membutuhkan darah kalian saja." pinta Queen langsung dituruti oleh mereka berdua.
Bahkan tusukan taring yang Queen miliki lebih sakit dari pada taring Vampire asli sekalipun, namun itu wajar saja jika orang itu adalah Queen jadi tidak perlu diragukan lagi.
…………………………………………
Disuatu tempat yang sangat murni kebersihannya dan ketenangan, terdapat banyak mahkluk bersayap yang sedang berkeliaran dengan bebas, tapi tidak mengganggu ketenangan yang ada disana.
Mereka berkeliaran dengan lembut seperti bayangan, dan jika kalian lihat mulut mereka terus saja berucap dan tidak berhenti berbicara, tapi walaupun begitu suara mereka sama sekali tidak terdengar.
Saat mereka berkeliaran, mereka akan selalu menebarkan energi murni yang sangat murni kesuciannya, bahkan wajah mereka semuanya bercahaya, namun ada diantara mereka yang juga sampai seluruh tubuhnya memiliki cahaya.
Ditempat itu juga terlihat sebuah bangunan yang sangat besar dan elegan, yang ada ditengah-tengah tempat tersebut, bangunan itu didominasi oleh warna putih dan abu-abu bersih.
Bahkan jika dilihat lagi bangunan itu lebih besar dari bangunan yang dimiliki Queen yang tak lain yaitu Istananya sendiri.
Jadi kalian bisa membayangkan-nya sendiri seberapa besarnya bangunan itu, dan seberapa bagusnya bangunan itu.
Didalam sana juga terlihat seorang pria yang tidak bisa kita lihat wajahnya karena seluruh tubuhnya mengeluarkan banyak cahaya yang sangat terang.
Tapi walaupun kita tidak bisa melihat wajahnya yanh pasti pria itu sangat tampan, dia sekarang sedang terduduk di Kusi Kebesarannya.
Pria itu memiliki sepasang sayap berwarna abu-abu bersih dan sangat mengkilap, sayapnya juga terlihat begitu Indah.
Dia juga memiliki sayap yang berjumlah delapan bagian, berbeda dari yang lainnya yang hanya memiliki enam bagian sayap.
Jumlah sayap itu menentukan seberapa tingginya kedudukan mereka, dan karena itulah kedudukannya pria itu lebih tinggi dan lebih bersih dari mereka yang ada disana.
"Apa anda tau dimana anak itu berada." ucap pria bercahaya itu ringan tanpa perasaan atau ekspresi apa-apa saat mengatakan itu, seolah-olah dirinya hanya berisikan kemurnian.
"Sudah." jawab seorang pria yang terlihat sedang memakai tudung jubahnya, dia menjawab dengan singkat tanpa embel-embel lainnya.
Karena walaupun kedudukan pria yang bertanya padanya jauh lebih tinggi, tapi didunia ini tidak ada aturan atau budaya untuk menghormati mereka yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
"Oh, lalu dimana anak itu." tanyanya meminum segelas air suci yang ada disampingnya.
"Bumi, tempat dimana manusia tinggal, tapi..." jeda pria itu ragu.
"Tapi apa." tanya pria bercahaya itu seolah-olah dia penasaran, tapi sebenarnya dia sama sekali tidak tertarik ataupun peduli dengan hal itu.
"Disana juga ada kedua pria dan satu wanita yang membuat dia sengsara seperti sekarang." lanjutnya.
"Ketiga orang yang pernah menyakitinya juga ada disana? Apakah ini takdir?" gumam pria bercahaya itu mengerutkan keningnya sesaat.
"Tapi anda tenang saja kedua pria itu tidak mengingat ingatan mereka sebelumnya, tapi wanita itu masih dengan jelas mengingat kenangan itu." jawannya.
"Oh ya, mereka hilang ingatan? Mungkin ini karma yang mamang sangat pantas untuk mereka berdua, tapi sepertinya kita harus terus memantau wanita itu, jangan sampai wanita penghianat itu menyakitinya lagi." tegas pria bercahaya itu.
"Emm, lalu apa anda sudah mendengar jika anak itu memiliki seorang adik, tapi sayang sekali adiknya kehilangan nyawanya." ucapnya lagi.
"Hah?! Sejak kapan anak itu punya adik? Cepat ambil jiwanya kemari." perintah pria bercahaya itu kepada salah satu mahkluk permpuan bersayap yang ada disana.
Saat mendengar perintah itu wanita bersayap tersebut hanya memberikan senyum lembutnya, dan dengan hati yang ikhlas dia menerima perintah itu dan langsung menjalani tugasnya.
Tak butuh waktu lama wanita itu kembali lagi dengan memegang sebuah bola kristal yang seperti kaca es, tapi disisi lain bola itu bukanlah kaca es melainkan benda lain. Entah itu apa?
Tanpa disuruh w langsung anita itu memeberikan bola kristal itu kepada pria bercahaya tersebut, dengan hati yang gembira pria bercahaya itu mengucapkan rasa terima kasihnya yang tulus kepada wanita murni yang ada didepannya.
Lalu dia langsung melihat isi jiwa yang ada didalam bola itu, didalam sana terdapat segumpal daging yang berbentuk seperti bayi.
Dan dia adalah jiwa dari seorang adik yang dimaksud oleh mereka, "Apa daging kecil ini adiknya? Huft... kukira dia memang adik kandungnya, ternyata hanya darahnya saja yang sama, sangat mengejutkan." ucap pria bercahaya itu.
"Ya walaupun dia bukan adik kandungnya dan hanya objek saja, tapi anak itu tetap menganggapnya sebagai seorang adik, dan karena dia sudah mati anak itu seperti sangat kehilangan sosok adiknya." jelasnya.
"Hanya gumpalan daging kecil ini, apakah bisa membuatnya luluh?" heran pria bercahaya itu.
"Tentu, walaupun tidak seutuhnya, tapi ini suatu keajaiban untuk orang yang tidak mempunyai perasaan seperti anak itu, tapi bukankah kau yang menyuruh 'Dia' untuk mengutuknya? Kenapa?" ucapnya.
"Umm kau benar, tapi aku mempunyai alasan tersendiri dan itu sangat rahasia, hanya aku dan 'Dia' sajalah yang tau." terang pria bercahaya itu.
"Baiklah, namun apa kamu mau menghidupkannya lagi? Bukankah dengan cara ini anak itu dapat merasa senang, dan tidak akan terlalu sedih dan emosional seperti sekarang?" saranya.
"Tidak, biarkan ini berlalu, anggap saja kematian segumpal daging ini sebagai takdirnya, lagipula 'Dia' sangat menentang kita untuk melakukan itu, dan hanya 'Dialah' yang berhak atas ini semua." unjar pria bercahaya itu lagi.
"Kamu memang benar." jawab pria bertudung itu menganggukan kepalanya membenarkan semua ucapan dari pria bercahaya itu.
…………………………………………
Bom Like ya guys >_>
.
.
.
.
#Next