
Saat ini mereka masih dibuat takjub oleh sepasang mata cantik milik Queen, banyak sekali pujian yang mereka keluarkan didalam hati mereka.
Disisi lain Tuan Besar Alaric masih terdiam termenung, pria itu tidak merasa terkejut lagi jika mata Queen bukanlah berwarna hitam melainkan berwarna lain.
Contohnya seperti sekarang ini, ternyata dia bisa melihat warna mata asli milik wanita itu yang berwarna ungu kebiruan seperti galaxy. Namun sepertinya pria itu tau jika mata itu sangat tidak mungkin dimiliki oleh seseorang.
Dia juga tau pasti jika semua Ras yang ada di semesta ini tidak ada yang bermata seperti itu, bahkan dia pun tidak pernah mendengar ada seseorang yang memiliki mata langka seperti itu.
Tapi sepertinya ada satu orang yang memiliki mata itu namun sepertinya pria ini lupa siapa pemilik mata tersebut.
Beberapa kali dia ingin mengingat mata siapakah yang sama seperti wanita itu, namun lagi-lagi dia tidak bisa mengingatnya.
"Sebenarnya siapa wanita ini?" gumam pria itu berkerut, lagi-lagi pertanyaan itu lagi yang ada di kepalanya.
Disisi lain kedua pria yang berada di samping Tuan Besar Alaric ikut merasa penasaran dengan gumaman pria tersebut.
"Pah apa kamu mengenali mata itu?" bisik Georgie penasaran begitu juga dengan Bastian.
Tuan Besar Alaric yang mendengar pertanyaan dari menantunya seketika membuyarkan lamunannya.
"Entahlah, tapi sepertinya Papah pernah mendengar ada satu orang yang memiliki mata seperti itu." jawabnya ikut berbisik.
Mereka kembali terdiam dan kembali melihat kearah Queen yang saat ini sedang terduduk dilantai.
Wanita itu terus menggerutu dan mengutuk kesialannya, padahal wanita itu ingin melakukan kegiatan yang bermanfaat bukannya menyimpang seperti ini.
"Latihan pedangku sirna begitu saja…" batin Queen menangis dalam hati.
Dengan kekesalan yang menumpuk, wanita itu berdiri dengan rasa malu yang membara didalam hatinya.
Huh, lihat saja nanti kalian anak-anak bodoh!
Saat ia sudah berdiri, wanita itu langsung menatap kearah belakang dan menatap tajam kearah anak-anaknya yang masih bisa tersenyum kagum menatapnya.
"Sepertinya selain mengganti otak mereka aku harus mencabut gigi mereka agar tidak tersenyum lagi." batin Queen kejam.
Dengan kesal Queen berjalan menuju kearah anak-anaknya. Saat baru satu langkah dia berjalan, mereka semua langsung berlari kesana kemari menghindari amukan Queen.
Tak berapa lama ruangan itu seketika sepi dan hanya menyisahkan orang-orang dari keluarga Alaric.
Queen terdiam mematung menatap tempat yang tadinya dipenuhi oleh anak-anaknya yang bodoh, namun dalam hitungan detik mereka hilang begitu saja.
"Lain kali aku harus membuat surat wasiat! Sungguh aku sangat lelah mengurus tuyul tuyul ini!" batin Queen murka.
Karena ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya terhadap anak-anak bodoh itu, Queen pun langsung mengubah arah mangsanya dan mendapati Alvarez serta Raphael didekatnya.
Senyum jahat penuh arti tercetak jelas disudut bibir Queen, wanita itu langsung berjalan menghampiri kedua pria setianya ini. Sedangkan kedua pria itu terlihat kebingungan saat melihat Queen menghampiri mereka dengan api yang berkobar dimatanya.
Alvarez linglung seketika namun akhirnya ia tersadar dan membulatkan matanya kaget saat menyadari sesuatu. Tanpa ditunggu lagi pria itu langsung lari terbirit-birit menerobos pintu Lift.
Pada akhirnya tersisa lah Raphael seorang diri yang masih bingung dengan keadaan ini, ia melirik kearah ketiga pria yang merupakan keluarganya. Mereka terlihat memandangi dirinya dari jauh dengan tatapan menyemangati sekaligus perihatin.
"Ada apa ya??" tanda tanya besar terletak jelas di kepala tampangnya, bingung sekaligus heran menguasai pria itu.
Merasa ada hawa panas yang mendekatinya, pria itu langsung memandang kearah depan dan akhirnya ia tau jika hari ini merupakan hari sial selanjutnya baginya, setelah Alvarez dan Queen.
Detik berikutnya Queen sudah berada tepat dihadapan pria itu, ia langsung menarik tangan Raphael kuat dan membawanya ke depan Mansion dimana anak-anaknya sering berlatih di sana.
Raphael yang dibawa ke sana kesini oleh wanita yang ia cintai seketika linglung. Ia tidak tau kenapa dia dibawa ketempat yang menyimpan banyak sekali senjata mematikan. Sungguh ia tidak tau jika di rumah wanitanya juga ada tempat seperti ini.
Sudah lebih dari 20 menit Ia ditarik kesana kemari oleh wanitanya yang seperti sedang mencari sesuatu. Pusing tentu saja pusing.
Coba bayangkan dia sudah beberapa kali bolak balik dari satu ruangan keruangan lainnya. Ingin ia menepis tangan ini namun ia tak mau menyakiti perasaan wanitanya, mau tak mau dia harus merasakan kesialannya ini.
………………………………………………………
_Di Lapangan Tanding_
Di Mansion QueenZell terdapat halaman dan ruangan untuk melatih anak-anaknya, contohnya seperti Lapangan Tanding ini yang merupakan penentu dimana jabatan anaknya ditentukan dari hasil tanding.
Kekuatan dan kinerja sangat dibutuhkan untuk menjaga Mansion ini karena tanpa sepengetahuan orang-orang yang ada di Negera ini, jika dibawah tanah tepat dimana Mansion ini dibangun terdapat hewan mitologi yang tersisa.
Tentu saja itu milik Raja dari penguasa Ras Manusia QI yang pernah menetap di bumi. Jika saja Mansion ini tidak dibangun, sudah pasti hewan itu sudah merayap keluar dari bawah tanah dan menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di kota ini.
Lanjut ke cerita, saat ini Queen sudah berdiri di atas lapangan tersebut dengan pedang biasa yang tergenggam erat ditangan cantiknya.
Terlihat jika didepan wanita itu berdiri seorang pria tampan yang masih terdiam karena tidak mengerti kenapa dia dibawa ke lapangan ini.
Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata saat ini mereka berdua sedang di tonton dari berbagai arah oleh semua penghuni Mansion, begitu juga dengan Keluarga Alaric yang ikut menonton karena penasaran.
"Hahah…! Ternyata ada gunanya juga manusia itu." tawa seorang pria yang merupakan anak dari Queen.
Pria itu terlihat sedang menanti pertarungan yang akan datang dari jauh, ia juga terlihat sedang membawa sebungkus cemilan yang ia curi dari gudang makanan hanya karena ingin melihat manusia itu dipukuli oleh Ratu-Nya.
"Tapi sepertinya pria itu bodoh deh, kenapa dia tidak kabur saja?" pikir anak Queen yang lainnya.
"Ehhh… iya ya! Padahal tadi aku melihat banyak celah untuk dia kabur. Ckckck aneh sekali dia."
"Tapi jika dibilang bodoh atau gila, aku lebih percaya jika pria itu dengan suka rela tidak kabur dari Ratu."
"APA?! Jangan bercanda!" jawab mereka semua.
"Itu benar, lagipula buat apa aku berbohong? Lihat saja tatapan mata itu saat menatap Ratu."
Serentak mereka semua langsung melihat tatapan Raphael kepada Queen.
"Tatapan yang membuat orang ingin mencongkel matanya bukan?"
"Bukan deh kayaknya tatapan mesum!"
"Cih, jawaban kalian malah makin ngaco!"
"Hah? Lalu apa?" bingung mereka.
"ITU TATAPAN CINTA BODOH!!" suara itu berasal dari para wanita yang ada dibelakang mereka.
Para wanita itu sudah sangat geram mendengar percakapan para pria yang tak sampe-sampe juga otaknya.
"Oohhhh begitu…… Eh? Apa tadi?" akhirnya mereka paham namun sesaat berikutnya beberapa dari mereka langsung saling pandang.
"Ci-cinta!!?" teriak para pria panik serta marah.
"Apa yang harus kira lakukan!! Jangan sampai Ratu diambil oleh mahkluk lemah itu!"
"Aku mati 2000 kali pun tetap tidak rela jika Ratu menjadi kekasihnya!"
Keributan pun terjadi dan membuat para wanita kembali dibuat geram oleh tingkah aneh para pria, "Bisakah kalian diam!!" teriak para wanita.
"TIDAK BISA!" tolak para pria berseru.
Seketika keributan semakin menjadi-jadi, sampai pada akhirnya suara seseorang menghentikan perang mulut mereka.
"Aku punya satu cara untuk memisahkan mereka bedua." ucap suara dingin itu, dia merupakan anak Queen paling muda setelah wakil Alvarez.
Mendengar saran itu mereka langsung menatap wajah anak itu dengan tatapan pembunuh yang kuat, mata mereka berubah menjadi mata Ras Mutan mereka masing-masing.
"Katakan." desis mereka memaksa.
Gleg!
"Astaga… kenapa mereka menatapku seperti ingin memakan tubuhku?" batin anak itu tertekan.
"Itu… kenapa kita tidak memanggil salah satu dari ketujuh monster yang ada di Istana?" sarannya takut.
Hawa dingin seketika lenyap diganti dengan perasaan gundah didalam diri mereka, rasa takut langsung melahap tulang-tulang mereka.
"Umm… apa tidak ada cara lain?" ucap salah satu dari wanita yang ada di sana terlihat ketakutan dan ingin menangis.
"Entahlah aku tidak tau, tapi cara inilah yang paling ampuh!" ucap anak itu lagi.
Mendengar jika tidak ada cara lain, mereka langsung menghirup nafasnya dingin. Jika sudah berhubungan dengan ketujuh monster overprotektif itu, mereka seperti kehilangan jiwa tekad mereka.
"Jika tidak ada cara lagi, mau tidak mau kita harus memanggil salah satu dari mereka." putus salah satu dari mereka.
Dengan terpaksa mereka harus menyetujui saran yang kapan saja bisa berbalik arah melawan mereka.
Walau sangat takut namun jika memang itulah cara yang dapat membuat Queen serta pria itu terpisah mereka akan tetap melakukannya.
…………………………………………………
Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺
(Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next