
Masih ditampat yang sama, dimana semua orang melihat betapa aneh serta kejamnya wanita yang tidak lain adalah Queen. "Harusnya aku membunuh anak tidak tau untung seperti mu dari dulu, payah dan manja, tidak berguna!!" ucap Queen dengan tatapan ganas.
Sedangkan Asisten Alvarez masih diam mematung dengan apa yang dia lihat, dia sungguh dibuat bingung oleh gadis itu? Bagaimana bisa dia sekuat ini, sampai-sampai Tuan Alvarez yang sudah dia akui kehebatannya, seperti bukan apa-apa didepan gadis itu, bahkan Asisten itu juga tau sekuat apa fisik dan pertahanan dari Tuan-nya, tapi gadis itu dengan mudahnya bisa menendang Tuan-nya mundur kebelakang dengan sangat keras.
"Ughh." rintih Alvarez karena tendangan yang dilayangkan oleh Queen benar-benar terlihat sangat kencang. Alvarez mendongakkan kepalanya kearah orang yang sangat dia kenal, dia sama sekali tidak tau kenapa orang itu menendangnya, apa dia berbuat salah? Apa karena dia tidak menyadari keberadaan orang itu? Apa karena dia telat untuk datang? Itulah yang ada dipikirannya.
…………………………………
"Cih! Apa kamu tau? Kau pantas mati! Jangan pernah berfikir bahwa jika kau bukan orang asli dari rakyat ku, kau bisa seenaknya melakukan hubungan dengan seseorang, kau menjijikkan!" ucap ku pedas, sambil menatap hina kearah orang itu, sekarang ini aku tidak ingin menyebutkan namanya lagi, itu hanya membuat ku muak.
Dan sekarang ini orang itu menatap ku dengan tatapan sendu, tapi aku malah membalasnya dengan tatapan menyalang, heh apa kamu pikir kau bisa menghindari hukuman dari ku dengan ekspresi murahan mu itu? Tentu saja tidak! Orang seperti mu memang pantas diberi hukuman bendarah, atau yang lebih tepatnya aku bisa langsung membunuh mu, tapi itu terlalu mudah.
Dan setelah itu aku bergerak cepat kearahnya dengan tatapan hambar, aku tidak merasa bersalah karena melukai anak ku sendiri, lagi pula dia memang bukan anak asli ku, dia ku ambil dari dimensi lain, jadi itu bukan sesuatu yang harus ku lihat, tapi sekilas terlihat memori tentang dia sewaktu masih kecil didalam otak ku, dan itu membuat ku kaget dan berhenti tepat 3 langkah lagi dari hadapan orang itu.
"Ahhgggg!" ucap ku geram dengan kilasan itu, hal ini membuat ku sulit untuk membunuh orang tak tau diri itu, tapi bukannya aku berhenti aku malah semakin marah dengan orang itu dan menerjangnya, lalu menendang orang itu kesamping.
Aku samar-samar mendengar orang-orang yang ada disini menjerit melihat kelakuan ku, aku hanya diam saja, aku sendiri juga sulit menahan Esensi sang Dewi Pembunuh, lagipula aku baru saja menerima sifat asliku walaupun sudah menyatu, tapi bukan berarti aku bisa menyesuaikan dengan cepat.
Aku hanya melihat orang itu diam menerima serangan ku, dia hanya tersenyum lembut, tapi aku dapat melihat tatapan sendu itu semakin menjadi jadi, ini membuat ku semakin marah, jelas-jelas orang itu bisa mengelak tapi dia hanya pasrah, lalu ada apa dengan tatap matanya? Menjijikkan!
"Kenapa tidak mengelak?! Kau jelas-jelas bisa mengelak, tapi kenapa kau tidak melakukan itu? Kau meremehkan ku hah!!" ucap ku mengeram marah, dan untuk sekian kalinya aku hanya melihat dia tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, lalu tertunduk lagi, dan karena melihat responnya yang tidak sesuai dengan kamuan ku, itulah yang membuat ku semakin marah dengan sikap pengecutnya.
"Kau... kau dasar tiak tau diri! Aku sudah susah payah membesarkan mu, lalu apa yang ku terima kau malah seperti penghianat! Kau benar-benar bocah kurang ajar! Harusnya dari awal aku tidak mengambil bocah pembangkang seperti mu! Harusnya seperti itu! Pergi kau, aku tidak ingin melihat wajah mu lagi! Kau memuakan! Menjijikan! Pergi kau dengan kekasih simpanan mu itu! Cepattt sebelum aku membunuh mu!!!" ucap ku meluapkan semua kemarahan ku sambil berusaha untuk tidak membunuh orang itu.
Tapi untuk sekarang ini aku sama sekali tidak melihat ekspresi orang itu, karena sekarang ini aku sedang menahan perubahan mata ku, mata iblis ini, ini menyusahkan ku untuk menahan hasrat akan membunuh, tidak peduli itu mahkluk seperti apa, aku akan selalu ingin membunuh mereka.
Tapi tiba-tiba saja aku merasakan tangan seseorang memeluk tubuhku erat sambil gemetar, aku masih tidak bisa melihat siapa yang memelukku, karena aku sendiri masih sibuk untuk menutup mata ini, jika mata ini muncul dibumi aku nyakin sekali bahwa seketika semua makhluk yang ada dibumi pasti akan menjadi gila seperti layaknya zombie, dan aku benar-benar tidak mengharapkan hal itu, aku takut "Dia" akan murka kepada ku yang telah mengancurkan ciptaannya.
"Sial, sial, sial, gara-gara bocah menjijikkan itu, aku harus seperti ini." gumam ku masih menahan Esensi mata ini, tapi aku tidak tau bahwa orang yang memeluk ku mendengarkan gumaman ku, dan semakin mengeratkan pelukannya.
Dan untung saja setelah beberapa menit aku kembali tenang dan tatapan ku tidak seperti tadi, walaupun masih ada sedikit kilatan cahaya dari Esensi sang Dewi Pembunuhan itu dilensa mata ku, tapi itu tidak bertahan lama, lalu setelah beberapa saat kemudian tatapan ku juga semakin jelas dan sekarang ini aku menyadari bahwa orang yang memeluk ku, adalah orang yang saat ini paling ingin kubunuh, tapi hasrat itu tidak sekuat tadi, jadi aku hanya bisa menahannya terlebih dahulu.
"Huhhh, lepas!" ucap ku dingin, tapi orang itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan ku.
"Ck! Apa karena tendangan ku tadi membuat mu menjadi tuli?" suara ku terdengar seperti ejekan, tapi untuk sekali lagi dia hanya diam.
"Cih! Sudah ku bilang lepas! Kau tidak dengar hah?!" seru ku semakin membenci orang itu.
Lalu saat aku melihat bahwa aku masih saja tidak dihiraukan olehnya, akupun mendorong tubuhnya keras hingga hampir terjatuh.
"Dengar! Mulai sekarang kau bukan siapa-siapa ku lagi, dan kau juga bukanlah rakyat serta anak ku lagi." ucap ku pelan, tapi ku nyakin bahwa dia dapat mendengar ucapan ku.
Degg!
Saat aku ingin melangkah keluar dari perusahaan ini, kaki ku secara tiba-tiba saja ada yang menahannya walaupun terasa lemah, aku sendiri dapat mendengar suara sesegukan dari orang itu, aku menolehkan kepala ku dan melihat dia sedang tertunduk lemas serta syok mendengar ucapan ku, kulihat juga tatapannya menjadi kosong, dia juga menagis.
"Kekasih....?" lirih orang itu. "Tapi aku tidak punya kekasih, Mama!!" ucap orang itu cukup keras, dan seketika itu juga semua karyawan yang ada disana ingin sekali memuntahkan seteguk darah, bagaimana tidak! Mereka saja benar-benar tidak bisa mengatakan betapa terkejutnya mereka, ketika mendengar secara langsung bahwa Bos mereka memanggil wanita itu dengan sebutan Mama?! Apakah dia adalah ibu dari Bos mereka?! Kenapa masih sangat muda dan amat sangat cantik! Ini sungguh diluar nalar mereka!
Para wanita yang ada disana juga sangat syok dengan ucapan Bos mereka, mereka takut jika karena masalah tadi mereka akan dikeluarkan dari perusahaan, tapi jangan salahkan mereka sepenuhnya, mereka juga tidak tau bahwa dia adalah Ibu dari Bos mereka sendiri, tapi jika saja Queen tau apa yang ada dipikirkan orang-orang itu, pasti dia akan menendang bokong mereka sampai tidak bisa duduk selama 5 bulan karena berani mengira bahwa dia adalah ibu dari orang yang tak lain adalah Alvarez.
Ayolah Queen menyebut anak-anaknya sebagai anak-anak dia karena perbedaan umur mereka, sebenarnya Queen lebih tua dati buyut ke buyut dan ke buyut dan seterusnya,tapi karena Queen tidak nyaman jika memikirkan hal itu, jadi diam memutuskan untuk memanggil rakyatnya sebagai anak-anaknya dari pada cucu atau cicit.
………………………………
Dilihat dari tatapan serta ekspresi wajahnya itu, sepertinya memang dia berkata dengan jujur, tapi…
"Apa kau masih layak untuk dipercaya?" ucap ku sinis. "Mama aku tidak berbohong, aku berkata dengan jujur, lagipula tidak mungkin aku membohongi mu... tolong jangan buang aku Mah..." tangis Alvarez tertahan.
Mendengar hal itu, aku melirik tajam kearah kerumunan karyawan yang baru saja menantang ku, lalu sekilas aku menarik senyum smirk yang secara tidak sengaja dapat dilihat oleh beberapa orang yang ada disana, atau lebih tepatnya yaitu Asisten dari Alvarez sendiri dan seorang Pria yang bernama Ray tadi yang juga secara tidak sengaja melihat senyum yang cukup membuat bulu kuduknya mereka menegang.
"Apa kau mau aku maafkan mu?" ucap ku masih tidak ingin melihat wajah bocah itu. "Hah? I-iya Mama, aku mau!" ucapnya semangat tanpa menghiraukan darah yang masih keluar dari kepalanya.
"Bagus, hey kalian kemari!" ucapku memanggil wanita-wanita yang tadi menantang ku, dan ketika aku memanggil wanita-wanita itu, terlihat raut wajah ketakutan yang mereka keluarkan.
"Alvarez, apa kamu tau-" jeda ku sengaja. "Ya? Tau apa Mah?" ucap Alvarez binggung, dan sekarang ini dia sudah berdiri tapi masih saja menggenggam tangan ku erat.
"Mereka yang membuat ku marah." ucap ku sinis kearah mereka. "Mereka?" ucap Alvarez dingin.
"Yah, apa kamu mau tau apa yang karyawan mu katakan didepan ku? Dan apa kau tau kelakuan karyawan mu yang kau pilih secara bodoh itu?!" ucap ku geram ketiga mengingat penghinaan yang mereka berikan.
"Mereka, mereka sudah membentak ku, berteriak kepada ku, menghina ku sebagai wanita liar, dan menampar ku dengan sangat keras, mereka jugalah yang harus disalahkan karena tindakan ku tadi, mereka mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut jika kau mengetahui kelakuan mereka, karena mereka memiliki teman yang merupakan kekasih dari Bos mereka sendiri dan itu kau!!" ucap ku terseyum puas melihat wajah pucat dari wanita-wanita itu.
…………………………………
Ok jangan lupa Like, Komen, and Vote ya guys
.
.
.
.
.
#Next