The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 95



Awalnya Cassia dan Kessy ingin berteriak melarang bocah itu untuk melompat, akan tetapi anak itu sudah lebih dulu melompat dan mendarat dengan sempurna tanpa ada luka sedikit pun, ditambah wajahnya yang tetap terlihat santai seakan-akan ia sudah terbiasa.


Dilain sisi ada seorang pria yang tidak terkejut sama sekali, yang tak lain adalah Raphael, ia bisa menebak jelas jika adiknya juga bukan manusia biasa.


Setelah itu mereka semua langsung berjalan keluar dan menemui Kevin yang menunggu mereka bosan diluar Mansion. Kevin yang melihat jika turisnya sudah tiba langsung menyuruh mereka membuat lingkaran sempurna dengan bergandengan tangan.


Terlihat jika bocah itu berdiri ditengah lingkaran tersebut, ia menundukkan dirinya. Mulut anak itu seperti sedang membaca sesuatu dan tangannya ikut bergerak. Tak lama setelah itu Kevin langsung menempelkan tangannya ketanah dan munculah garis-garis simbol berwarna ungu dengan cahaya abu-abu disekitarnya.


Garis itu membentuk sebuh lingkaran yang sama besarnya dengan mereka semua. Tak lama cahaya yang berasal dari lingkaran sihir itu menjulang keatas langit dengan mereka juga yang menghilang didalamnya.


Susana di Mansion langsung sepi, tak ada lagi cahaya yang bersinar cantik di sana. Akan tetapi beberapa Maid langsung berbisik-bisik entah membicarakan apa.


………………………………………


Di suatu tempat terlihat sebuah cahaya yang sama seperti yang dibuat Kevin, terlihat di daerah yang suhunya terasa sangat panas. Tak ada angin di sana, tak ada cahaya matahari serta pepohonan dan air di sana.


Daerah tersebut seperti daratan mati yang tak bisa ditinggali oleh seseorang, tanah gersang, pohon-pohon hanya terlihat batangnya saja karena daunnya sudah lenyap dari pohon-pohon tersebut.


Langit di sana juga berwarna merah dan hitam, semua yang ada di sana hanya berwarna hitam, merah, dan coklat.


Keluarga Alaric berserta Raphael yang melihat itu cukup tercengang, nafas mereka terasa sesak, suhu disini sangat panas dan hampir menyamai suhu untuk mengukus makanan.


Kevin tersenyum hambar melihat orang-orang ini berkeringat karena suhu yang ada ditempat tersebut.


"Apa kakak mau menyerah atau masih terus lanjut? Semakin kita masuk semakin panas juga suhunya. Tapi tidak masalah, aku akan memasang pelindung untuk yang lain kecuali kalian bertiga. Karena kalian harus merasakan ujian pertahanan fisik ini sebelum meleburkan tubuh kalian dan diganti tubuh baru."


"Tapi sebelum membuat tubuh baru, kita harus mencari bahan-bahan untuk membuat tubuh kalian. Tapi tak mungkin jika aku menyuruh kalian yang mencarinya, maka dari itu aku akan mencari bahan tersebut dan kalian hanya perlu membantuku jika aku sedikit kesusahan nanti."


Raphael dan yang lainnya hanya menganggukkan kepalanya paham. Tanpa basa basi lagi Kevin langsung membuat pelindung Es yang suhunya terasa sangat dingin.


Karena sudah mengeluarkan kekuatannya, anak itu sudah tak perlu lagi berpura-pura menjadi manusia, dirinya pun segera berubah menjadi sosok yang berbeda.


Rambut putih dan mata berwarna ungu keabuan dengan bentuk mata yang tajam serta kulit yang putih bersinar sangatlah tampan, hawa dingin yang menusuk terasa di sekeliling tubuhnya. Rasa dinginnya sama seperti es yang dia keluarkan untuk melindungi keluarganya dari suhu panas yang ada ditempat tersebut.



Penampilan Kevin yang berbeda membuat mereka tercengang sekaligus takjub dengan wajah tampan milik Kevin, tapi sepertinya ketampanan ini masih kalah jauh dengan orang yang membawa Queen pergi.


"Adikku saja terlihat keren dan kuat saat ini. Apa aku bisa seperti itu?" batin Raphael menundukkan kepalanya berfikir.


Arcas yang melihat sahabatnya menunduk langsung menepuk pundaknya menyadarkan, "Hey apa ini semua nyata? Sumpah gila adikmu cakep banget! Gak nyangka Kevin tampangnya kayak gini." gurau Arcas.


Raphael menepis tangan Arcas, "Berisik."


Karena tak mau membuang waktu, mereka kembali memasuki tempat tersebut. Mereka terus berjalan entah sudah berapa jam dan sepertinya masih belum ada apa-apa disini.


Dibelakang gerombolan terlihat jika Kessy sudah sangat lelah, dia berasa seperti mengelilingi beberapa kota dengan berjalan kaki, begitu juga dengan Cassia yang sudah sedikit linglung ingin pingsan.


Kevin berdecak kesal, dia menggerutu diam-diam melihat itu. Tapi pada akhirnya bocah itu tetap tak bisa mengabaikan keluarganya. Kevin pun langsung mengeluarkan Mana-Nya dan membuat sebuah Bunga Lotus putih yang sangat dingin yang mengambang di atas udara.


Dengan jari tangannya Kevin menerbangkan keluarganya naik keatas bunga tersebut. Seketika pelindung yang ia buat pecah karena bertabrakan dengan Martial dari Bunga Lotus Putih, dan digantikan dengan pelindung Es yang berasal dari kelopak bunga tersebut.


Kelopak bunga itu menutup menjadi pucuk kembali dengan keluarganya yang sedang beristirahat didalam. Kelopak itu tembus pandang dari dalam keluar, namun dari luar tak bisa melihat kedalam.


Sekarang yang berada diluar hanya Kevin, Raphael berserta kedua sahabatnya, mereka terus melanjutkan perjalanan. Kevin juga sesekali melihat kearah Raphael yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan, sedangkan kedua sahabatnya sudah seperti anak jalanan.


"Kau tidak lelah?" tanya Kevin kepada kakaknya.


"Tidak, kau sendiri?"


"Haha… tentu saja tidak."


"…… Kita mau kemana, apa kita hanya berjalan tanpa arah?"


"Ck… bodoh, tentu saja tidak! Kita akan kepuncak Pegunungan Mati, tempat itu merupakan tempat tinggal dari Raja Beast Api Pemurnian. Api itu merupakan salah satu Api Sejati yang langka, Roh Api ataupun Elemental Api biasanya akan tunduk jika bertemu dengan Api Sejati, contohnya seperti Api Pemurnian ini." jelas Kevin.


"Apa Beast itu masih hidup?"


"Untuk apa aku takut dengannya, musuhku saja lebih kuat!"


"Hohoh… pintar! Oh iya Api Pemurnian itu juga yang akan meleburkan tubuh kalian."


"APA?!!" teriak Keanu serta Arcas yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.


"Be..Be-Berakti kita akan menemui Beast itu!!" teriak Arcas kalang kabut sedangkan Keanu hanya meneguk ludahnya kasar.


"Bukankah lebih bagus meleburkan tubuh kalian menggunakan api ini daripada lahar? Karena semakin panas semakin bagus untuk pertahan jiwa kalian! Jangan ada yang menolak, aku benci orang pengecut!!" seru Kevin menyindir.


"………" kedua Keanu dan Arcas terdiam dengan wajah pucat dan langkah kaki yang semakin melemas.


"Jika Api Pemurnian merupakan Api Sejati yang dihormati api-api lainnya, bagaimana jika aku memiliki api itu?" gumam Raphael berfikir.


Kevin yang mendengarnya langsung menepuk pundak Raphael, "Kau ingin memiliki Api Pemurnian?"


Raphael sedikit terkejut karena pundaknya ditepuk dengan keras oleh bocah tengil ini, akan tetapi dia langsung menganggukkan kepalanya.


"Haha… lucu sekali! Kalau kau ingin memiliki Api itu kau harus bertarung dengannya, lalu mengambil kristal Spirit Soul miliknya!"


"Oke."


Raphael langsung menyetujuinya, dan jawaban itu langsung membuat kedua sahabatnya menjatuhkan dagunya tercengang.


Begitu juga dengan keluarganya yang ada didalam Lotus Putih yang juga ikut jantungan, namun mereka kembali bersikap santai karena mengetahui jika Kevin pasti akan membantu ketiga pria itu.


"Ngomong-ngomong bahan yang dibutuhkan untuk membuat tubuh baru kalian juga ada pada Beast tersebut. Bahan-bahannya tak lain adalah, darahnya, jantungnya serta tanaman yang ia jaga di lereng gunung tersebut."


"Jadi kalian bertiga harus bekerja sama untuk mengalahkan Beast tersebut. Paham kan?"


"……!!"


Pasti malaikat pencabut nyawa sudah terlalu merindukan mereka, makanya kita disuruh mati muda!


Jerit Arcas dan Keanu dalam hati. Padahal mereka masih belum pacaran! Boro-boro pacaran, cinta aja belum pernah! Tapi apa ini? Mereka sudah mau mati duluan sebelum merasakan indahnya jatuh cinta?! Oh No!


Mereka berdua langsung bersembunyi dibelakang Raphael. Tak berapa lama Kevin tiba-tiba menghentikan langkah mereka.


Kevin menatap kearah depan yang masih terlihat tanah gersang dengan retakan-retakan diatasnya, "Sudah sampai." gumam anak itu.


Raphael serta sahabatnya memiliki tanda tanya besar di kepalanya. Apanya yang udah sampai? Apa bocah ini tidak bisa melihat kalau jalan didepan mereka masih tetap sama seperti awal saat mereka sampai?


Tak!


Kevin menjentikkan jarinya lalu sebuah perlengkapan bertarung langsung terpasang rapi ditubuh Raphael dan kedua sahabatnya, senjata pun juga Kevin berikan masing-masing tiga dengan berbagai jenis yang berbeda pula.


Pedang, Belati, dan Batu Pelindung Kevin berikan secara cuma-cuma. Senjata yang ia berikan sebenarnya sudah dilapisi racun Es, hanya untuk memperkuat Senjata Petarung tersebut.


……………………………………………


Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺


(Bagi yang mampu aja ya)


.


.


.


.


#Next