
Dengan terpaksa mereka harus menyetujui saran yang kapan saja bisa berbalik arah melawan mereka.
Walau sangat takut namun jika memang itulah cara yang dapat membuat Queen serta pria itu terpisah mereka akan tetap melakukannya.
Tanpa menunggu lagi mereka diam-diam menghilang entah kemana, namun sepertinya mereka berada ditempat yang pernah Queen tempati untuk memanggil Alcifer.
……………………………………………………
Kembali kelapangan tanding, saat ini Queen terlihat sedang mengusap pedangnya menggunakan telapak tangannya sendiri. Tak berapa lama wanita itu menatap pria didepannya yang berdiri cukup jauh darinya.
Melihat jika pria itu tidak memegang senjata apapun, wanita itu menaikan alisnya sedikit lalu melempar pedang yang tadi dia pegang.
"Ambil itu." ucap Queen menyuruh, lalu dituruti oleh Raphael yang masih terlihat bingung.
Karena senjatanya sudah dia berikan kepada pria itu, Queen pun mengambil senjata baru yang sama jenisnya. Setelah mengambil pedang itu Queen langsung menatap Raphael yang masih terdiam.
"Serang aku."
"Apa?" bingung Raphael.
"Serang aku. Gunakan pedang itu!"
"Aku menolak." tolak Raphael dingin.
Queen yang ditolak memiringkan kepalanya dengan senyum smirk yang tercetak jelas disudut bibirnya.
"Kenapa? Anggap saja kita sedang latihan."
Raphael masih terdiam dan tidak beranjak sama sekali dari tempatnya, pria itu tidak mau bertarung dengan wanitanya walaupun cuman latihan saja.
"Aku takut kehilangan kendali." batin Raphael.
Tak terasa muncul sekelebat bayangan gelap dibelakangnya, pria itu dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap kearah bayangkan tersebut sambil mengangkat pedangnya, reflek.
TRANG!
Sreet...
Ternyata bayangan tersebut adalah Queen yang menyerang Raphael tiba-tiba.
"Lumayan… aku tak menyangka kau dapat menangkis serangan ku dari jarak dekat dan tiba-tiba." puas Queen.
Disisi lain Raphael merasa jika telapak tangannya gemetar karena serangan dari pedang wanitanya yang cukup kuat.
Sesaat tangannya terasa mati rasa karena tabrakan antara pedangnya dengan pedang wanitanya.
"…… Wanitaku ternyata sangat kuat." diam-diam Raphael tersenyum tipis dan menatap Queen dengan pandang kagum.
"Jadi? Apa mau dilanjut?" tanya Queen sambil mengibaskan pedangnya.
Raphael tersenyum, sebenarnya dia tidak ingin melawan wanitanya tapi jujur dia sangat penasaran sampai kapan wanita itu bertahan jika bertarung dengannya.
"Baiklah." sanggup Raphael mengangkat pedangnya tepat kearah depan.
Tanpa menunggu lagi kedua orang itu mendekat kearah satu sama lain dengan kecepatan di atas rata-rata. Suara dentingan pedang terdengar cukup kuat di antara mereka.
Srinng! Srinngg!
Trangk!!
Pertarungan mereka sangat mengundang perhatian orang-orang yang ada di sana.
5 menit berlalu, terlihat jika Queen masih terlihat santai bahkan sangat menikmati pertarungan tersebut, begitu juga dengan Raphael yang cukup menikmati pertarungan mereka.
Masih dengan beradu pedang, kedua orang itu sesekali berbicara.
"Apa kamu lelah?" tanya Raphael masih menghindari serangan Queen, sesekali ia juga melempar tebasannya.
"Heh bercanda? Ini bahkan belum apa-apa, kau juga merasa begitu bukan?"
Raphael hanya tersenyum.
"Mari serius." suara dingin itu terdengar dari mulut cantik Queen. Warna matanya tanpa ia sadari berubah menjadi merah layaknya seorang vampir.
Raphael yang melihat itu memundurkan dirinya waspada, apa dia memang harus serius sekarang? Tapi bagaimana jika dia melukai wanitanya?
Saat dirinya sedang bimbang, terdengar sebuah suara yang berasal dari Kakeknya yang sedang menonton bersama dengan yang lainnya dari kejauhan.
"Nak jangan bimbang seperti itu. Jangan berfikir kau yang akan melukainya, yang ada kaulah yang kehilangan tanganmu!!" teriak Tuan Besar Alaric dari ujung sana.
Sedangkan keluarganya yang lain hanya bisa menyemangatinya tanpa bisa membantu.
Raphael yang dinasehati oleh sang Kakek langsung menurutinya. Yang dikatakan orang tua itu cukup masuk akal, karena bagaimana pun juga wanitanya bukanlah manusia biasa. Maka dari itu dialah yang harus waspada.
Sekarang terlihat jika Raphael juga ikut serius, walaupun hatinya merasa cemas namun ia harus memendamnya.
Segera ia menatap kearah depan dengan wajah dingin. Namun saat ia menatap kearah depan, ia tak menemukan dimana wanitanya berada.
Seketika pria itu tersadar, namun ia kalah cepat karena tubuhnya sudah ditendang oleh gagang pedang milik wanitanya, yang sekarang ini wanita itu sudah ada dibelakangnya.
Buukk!
Pria itu terjatuh ketanah.
Brakk!
Tubuhnya dibanting dengan keras oleh Queen.
Saat wanita itu ingin menyerang lagi namun tangannya langsung dikunci oleh Raphael. Pria itu ingin mendorong tubuh wanitanya agar menjauh darinya, yang dapat ia manfaatkan untuk mengambil celah agar bisa menyerang.
Tapi lagi-lagi usahanya gagal karena wanita itu melompat dengan tangan yang masih ia genggam. Kaki wanita itu melompat berputar kebelakang, dan mendarat di atas pundaknya.
Dengan keras Queen langsung membanting tubuh Raphael untuk sekian kalinya. Setelah berhasil melumpuhkan lawannya, Queen langsung mengambil kembali pedangnya yang sempat terjatuh.
"Aku tau kau masih menyembunyikan kekuatan aslimu. Keluarkan lah dan tunjukan padaku!"
Sebelum menjawab pria itu lebih dulu bangkit dari tanah, tubuhnya sudah lecet namun setidaknya tidak ada luka darah dan patah tulang. Sepertinya memang benar diantara mereka masih belum ada yang mengeluarkan kekuatan aslinya.
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan." ucap Raphael.
"Oh, kalau begitu apa?"
"Aku akan mengeluarkan kekuatan asliku dan teknik-teknik pertarungku, asal kau juga melakukan hal yang sama."
"Tidak masalah."
Lalu secara tiba-tiba Queen kembali menyerang Raphael, pria itu dengan senyum misterius langsung menangkis serangan Queen yang sedang mengincar titik vitalnya.
Wanita itu sudah tak segan-segan lagi, bahkan gerakannya selalu mengincar titik vital. Raphael juga tak mau kalah, pria itu ikut-ikutan mengincar titik lumpuh disekitar area tubuh wanitanya.
SRING!
TARNGK!
SREET!
BRAAK!
Luka demi luka terlihat ditubuh kedua orang itu.
Queen yang melihat ada darah di pakaiannya terlihat tidak suka.
Karena itulah Queen mengubah arah serangnya menjadi kearah jantung, kepala, serta leher pria itu. Terlihat sekali jika wanita itu ingin membunuhnya.
Disisi lain Raphael sebisa mungkin menghindar dari sayatan pedang yang semakin menajam dari wanitanya. Serangan itu selalu mengincar titik yang dapat langsung membunuh seseorang.
"Apa yang kau lakukan!" ujar Raphael tak mengerti.
Pria itu berucap ditengah-tengah pertempuran tersebut, luka darah semakin terlihat jelas diantara mereka.
"Mari ubah kesepakatan! Jika aku menang kau harus menjadi budak ku!" seru Queen geram.
"Jika aku yang menang?"
"Seterah kau mau minta apa!"
Baru saja Raphael ingin membuka suaranya dia sudah terlempar cukup jauh kearah Selatan. Wanita ini sungguh tak main-main, apanya yang ingin dijadikan budak? Wanita ini jelas-jelas ingin membunuhnya.
Pedang keduanya sudah dilumuri darah, begitu juga dengan tubuh serta wajah mereka yang ikut dibasahi darah segar.
Queen mengibas pedangnya untuk sekian kalinya, cipratan darah terlihat di setiap kibasan pedang tersebut.
Bukan hanya tubuh dan pedang mereka saja yang terkena darah, tapi beberapa tempat yang ada di lapangan tersebut juga terdapat beberapa tetesan darah dari tubuh mereka.
"Jadi apa kesepakatan mu!" ucap Queen muncul lagi dihadapan Raphael yang masih berjongkok di tanah tersebut sambil memegang pedang sebagai penopang.
"Anasya kau ingin menjadikanku budak jika aku kalah?"
"Benar."
"Apa untuk membunuh ku?"
"……"
Raphael hanya tersenyum kecut, lagi-lagi dia merasa tak pantas bersanding dengan wanita yang ia cintai.
Sebenarnya ia harus melakukan apa agar bisa mendapatkan kekuatan yang dapat bersanding dengan wanita itu?
…………………………………………………………
Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺
(Bagi yang mampu aja ya)
.
.
.
.
#Next