The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 67



3 hari berlalu semenjak Raphael mengantar Queen pulang ke Mansion-nya, disela-sela kesibukannya dia masih terus memikirkan pujaan hatinya.


Walaupun dia selalu disibukkan oleh pekerjaannya yang menumpuk tapi jika di jam istirahatnya, dia akan langsung menyusun rencana agar bisa lebih dekat dengan wanita pujaannya.


Disisi lain Queen juga lagi disibukkan oleh sihir penyusunan-nya, hal ini dia lakukan untuk bisa lebih lama berdekatan dengan manusia, dia juga sudah lelah harus menahan rasa pusing dan mual saat berdekatan dengan manusia-manusia itu.


Berbeda lagi dengan Pria bercahaya yang ada didunia kesucian yang sedang sibuk mengawasi wanita penganggu yang pernah mengusik orang terdekatnya yang tidak lain yaitu Queen.


_Di Perusahaan AL4RIC COMP4NY_


Raphael sedang disibukkan dengan berkas-berkas yang baru saja dia terima dari cabang perusahaannya yang ada diluar negeri.


Walaupun berkas-berkas itu terlihat sangat menumpuk dimeja kerjanya, tapi dia sama sekali tidak merasa adanya kesulitan untuk mengecek dan mencatat sekaligus mengisi kolom-kolom yang hanya CEO lah yang boleh mengisinya.


Dia mengerjakan berkas-berkas itu dengan cepat tanpa hambatan dan setelah beberapa jam berlalu semua berkas yang ada disana sudah selasai dia kerjakan.


Raphael menghela nafasnya panjang karena sedikit lelah oleh semua pekerjaannya, dia ingin menghilangkan rasa penatnya dengan meminum sesuatu yang dingin.


Makanya dia langsung memanggil salah satu bawahannya untuk mengantarkan minuman dingin ke ruangannya.


Namun beberapa detik kemudian terdengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Cepat sekali datangnya." gumam Raphael sedikit heran padahal dia baru saja meminta bawahannya untuk membawakannya minuman, tapi minumannya sudah langsung datang.


"Masuk." suara dingin itu menyuruh seseorang yang ada diluar sana untuk masuk kedalam ruangan ini.


Pintu-pun dibuka terlihat seorang wanita yang sangat cantik memasuki ruangan itu dengan senyum mengembang, wanita itu berpakaian seksi seperti layaknya wanita-wanita kaya semestinya.


"Sayang~" suara lembut itu membuat Raphael merasa jijik seketika, dia sungguh tidak menyangka jika wanita inilah yang tadi mengetuk pintu ruangannya.


Wanita itu berjalan dengan gaya anggun mendekati Raphael, dia langsung menggeser salah satu kursi yang ada disana untuk bisa berdekatan dengan Raphael.


"Kenapa kamu disini." sinis Raphael tidak suka, bahkan sangat tidak suka dengan kedatangan wanita ular ini.


"Sayang~ Apa aku harus memiliki alasan untuk menemui tunangan ku sendiri…?" manjanya.


"Pergilah, aku tidak menerima mu disini." usir Raphael langsung tanpa basa basi karena dia sendiri tidak mau berlama-lama berdekatan dengan wanita lain selain wanita pujaannya.


"Sayang, kamu tega sekali aku tunangan mu loh…" rujuknya.


"Lau kenapa? Kita hanya sekedar tunangan saja bukan berakti kau bisa seenaknya!" sinis Raphael menepis kabar wanita itu yang ingin memegang tangannya tanpa meminta persetujuannya.


"Sayang kenapa kamu selalu kasar kepada ku… Aku datang baik-baik loh, apa kamu mau aku laporkan kepada keluarga mu?" sedihnya tapi terkesan mengancam.


"Sana katakan saja pada mereka, lagipula setelah itu aku bisa dengan mudah memutuskan hubungan pertunangan kita." ucap Raphael menarik ujung bibirnya smirk.


"Ahh baiklah aku mengalah…" unjar wanita itu cepat-cepat karena tidak ingin pertunangannya dibatalkan.


"Oh iya sayang aku mengajak adik mu kesini loh." lanjut wanita itu tidak menyadari jika orang yang dimaksud olehnya tidak ada disini.


"Dimana dia, kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Raphael menatap sekilas wanita itu.


"Dia ada disi-ni…" wanita itu seketika terkejut karena anak yang tadi dia bawa sudah tidak ada lagi disampingnya, padahal dia berencana memanfaatkan anak ini untuk bisa lebih dekat dengan Raphael.


"Dimana dia." datar Raphael saat menyadari ada yang tidak beres dengan adiknya.


"Ta-tadi dia ada disamping ku, aku tidak berbohong, tapi entah kenapa dia sudah tidak ada…" jelas wanita itu cepat karena takut jika Raphael akan membencinya karena menjadi penyebab adiknya menghilang.


Mendengar itu Raphael dengan kemarahan yang dia tahan segera menghubungi anak buahnya untuk mencari dimana adiknya berada.


Dia juga langsung menghubungi orang yang dia minta untuk membawakannya minuman untuk tidak usah membawakan minuman itu ke ruangannya.


"Dengar jika terjadi apa-apa dengan adikku, aku tidak akan segan-segan memenggal kepala mu walaupun kau adalah tunangan ku." geram Raphael menahan amarahnya, kemudian berjalan keluar ruangan meninggalkan wanita itu yang hanya bisa terdiam kaku.


Saat Raphael sudah keluar dari ruangan CEO, ruangan itu tiba-tiba menjadi panas walaupun tidak membakar benda-benda yang ada disana, tapi kepanasan yang ada diruang itu benar-benar sangat panas.


Lalu seketika hawa panas itu lenyap diiringi dengan isakan tangis dari wanita itu.


"Kenapa Tuan… Kenapa kau masih tidak bisa menerima ku? Aku bahkan telah menyingkirkan wanita itu dalam hidup mu, aku bahkan rela kehilangan sebagian kekuatan ku untuk mengunci ingatan masa lalu mu…" gumam wanita itu terisak-isak.


"Kenapa Tuan?! Kenapa aku masih belum bisa mendapatkan cinta-mu? Apa hati mu selamanya akan tetap menjadi milik wanita cacat itu?! Katakan padaku Tuan…" ricaunya dengan mata penuh amarah.


Ditempat lain dimana Queen berada terlihat jika dia sudah selesai melakukan penyusunan-nya, Queen terseyum tipis melihat keberhasilannya padahal dulu dia selalu menganggap remeh sihir ini, karena dia merasa jika sihir ini tidak akan pernah berguna.


Tapi sekarang dia malah sangat membutuhkan sihir ini, dan ternyata disaat-saat seperti inilah sihir itu yang paling berguna untuknya.


"Hey bocah apa dulu aku terlihat sangat sombong?" tanya Queen kepada anak kecil itu yang bernama Marchel.


"Maaf?" heran Marchel yang merupakan kaki tangan kedua setelah Alvarez untuk mengurus Mansion ini.


"Apa kamu tidak merasa jika dulu aku sering menyepelekan apapun yang menurut ku tidak menarik?" ulang Queen.


"Sepertinya memang benar Ratu, tapi aku sama sekali tidak merasa jika Ratu adalah orang yang sombong." jawab Marchel.


"Huft… untung saja tidak, kalau begitu kita jalan-jalan saja sekaligus mengetes penyesuaian ini." ajak Queen langsung berjalan ketempat garasi mobilnya.


Sedangkan Marchel yang melihat jika Ratu-nya sudah berjalan mendahuluinya segera berlari menyusul kearah wanita itu.


Saat mereka sudah sampai ditempat garasi mobil, Queen langsung mengambil salah satu kunci mobilnya yang ada dilemari kaca yang penuh dengan kunci-kunci mobil sport yang berjejer rapi didalam sana.


"Ratu kamu ingin mengendarai mobil itu sendiri?!" kaget Marchel saat melihat Ratu-nya mengambil kunci mobil yang ada dilemari.


"Iya, masalah?" Queen menatap Marchel dengan tatapan bertanya, namun dia kembali mengacuhkannya lagi.


"Kenapa Ratu tidak menyuruh orang-orang yang ada disini? Mereka bisa menjadi supir mu." ucap Marchel mencegah Queen menyetir sendirian.


"Tidak perlu, aku hanya ingin sendiri." unjar Queen memutar-mutarkan kunci mobil yang ada dijari telunjuknya, sambil menyenderkan tubuhnya dipintu mobil.


"Tapi… bukannya tadi RatuNa mengajak saya juga?" bingung Marchel, sekarang dia terlihat sangat berbeda dari biasanya yang selalu memasang ekspresi datar, mungkin karena dia sedang berhadapan dengan Queen.


"Tadinya tapi sekarang tidak, kau terlalu berisik." unjar Queen setelah itu langsung masuk kedalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya.


Lalu Queen melajukan mobilnya dan saat mobil itu ada didekat Marchel, Queen menghentikan mobil itu dan menurun kaca mobilnya.


"Jangan susul aku, dan bilang juga kepada anak-anak itu jika aku hanya keluar sebentar." unjar Queen lagi.


Kemudian dia kembali melajukan mobilnya menuju gerbang Mansion meninggalkan Marchel sendirian disana.


………………………………


"BUKA GERBANGNYA BOCAH TENGIK!" teriak Queen menatap tajam kearah orang-orang yang menjaga pintu gerbang Mansion-nya, yang tidak lain adalah anak-anaknya sendiri.


Queen berteriak memberikan perintah kepada anak-anaknya untuk membuka gerbang Mansion, tapi karena anak-anaknya tidak mengizinkannya keluar Mansion, itulah yang membuatnya kesal.


"Ohh ternyata kalian tidak menurut yah, baiklah kalau begitu biar aku buang saja kalian ke jalanan!" santai Queen tapi diselingi dengan kata-kata yang mengancam.


Setelah mendengar ancaman itu orang-orang yang ada disana dengan berat hati membukakan pintu gerbang itu untuk Queen lewati.


Tanpa menunggu lagi Queen langsung menginjak pedal gas mobilnya meninggal Mansion itu dengan kecepatan tinggi.


Didalam mobil Queen terlihat sangat menikmati waktu-waktu mengendaranya, "Ingin kemana yah…?" bingung Queen sesaat.


"Ke pusat perbelanjaan saja mungkin, sepertinya tempat itu sangat cocok untuk menguji penyesuaian ku." ucap Queen saat sudah mendapatkan ide.


Karena dia sudah mendapatkan tempat yang bagus untuk menguji penyesuaikannya, tanpa pikir panjang dia langsung melesat pergi menuju pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Ibu Kota Italia.


……………………………


Maaf jika Author baru bisa Up sekarang, episode selanjutnya mohon ditunggu sebentar lagi yah 🙏


Jangan lupa Like and Komen ya guys


.


.


.


.


#Next