
Sekarang ini semua wanita-wanita itu memiliki ketakutan yang besar, mereka takut karena masalah ini dapat menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan yang sangat direbutkan oleh banyak orang, tapi yang membuat mereka lebih takut adalah kehancuran keluarga mereka, mereka takut jika keluarga mereka akan ikut terseret dari masalah ini juga.
"Apa kalian takut? Oh tentu saja kalian takut, kalian pasti takut kehilangan pekerjaan yang membuat kalian sombong itu, bukan!" ucap ku semakin membuat wanita-wanita itu gemetar.
"Dengar! Aku tidak suka jika perusahaan ku memiliki karyawan yang sombong, angkuh, serta serakah seperti kalian! Apa karena pangkat dalam pekerjaan ini membuat kalian berubah? Lalu bagaimana nanti jika kalian menjadi seorang pemimpin perusahaan, bahkan negeri sekalipun, seperti apa sikap kalian nanti!!" ucap ku marah dan terdengar seperti menasehati mereka, walaupun kenyataannya tidak.
Dan ku lihat juga setelah aku mengatakan hal itu, beberapa dari wanita yang menghinaku tertunduk lesu bercampur dengan rasa sedih, mereka juga merasa ucapan dari wanita itu ada benarnya, mereka juga mengaku jika sikap mereka itu salah, dan patut mendapatkan hukuman, mereka sungguh menyesal, tapi menyesal-pun percuma mereka akan tetap kehilangan pekerjaan mereka.
Tapi beberapa wanita lain membantah semua ucapan Queen, mereka tidak terima dinasehati oleh wanita itu, mereka juga curiga kepada wanita itu, bagaimana bisa Bos mereka memiliki seorang ibu yang sangat muda, mereka berdua bahkan terlihat lebih layak menjadi sepasang kekasih.
"Alvarez kau sudah membaca siapa yang menyesal dan tidak bukan? Lalu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya." ucap ku menoleh sambil mengusap darah yang ada dibagian kepala anak itu pelan.
Anak itu hanya mengangguk sambil memejamkan matanya menikmati usapan lembut dari ku, setelah itu dia membuka matanya dan terlihat sorotan mata penuh dengan amarah kepada wanita-wanita yang membuat dia dan wanita yang paling dia sayangi serta cintai hampir memutuskan hubungan dengannya.
"Tidak akan ku maafkan!" geram Alvarez pelan tapi masih bisa didengar oleh orang-orang yang ada didekat Alvarez, begitu juga dengan wanita-wanita itu yang ikut mendengar geraman Alvarez.
"Kalian berempat kemasi barang-barang kalian dan keluar dari perusahaan ini, Cepat!" perintah Alvarez mutlak, sambil menunjuk satu-satu kearah keempat wanita yang dimaksud tadi.
"Ta-tapi Tuan kenapa hanya kita berempat yang dikeluarkan, padahal mereka berdua juga terlibat!!" teriak Direktur wanita yang menampar Queen tadi, dia benar-benar tidak terima jika dikeluarkan dari perusahaan ini, sedangkan 2 temannya lagi tidak dikeluarkan, padahal pangkat dia lebih tinggi, dan seharusnya dialah yang tidak dikeluarkan, tapi kenapa 2 temannya yang hanya seorang manajer biasa tidak dikeluarkan seperti 3 temannya yang lain.
Saat aku mendengar teriakan wanita itu yang tidak terima akan keputusan dari bocah ini, akupun ikut geram karena melihat tingkah wanita itu yang semakin menjadi-jadi, dan tidak tau dalam kondisi apa dia sekarang, jujur saja aku jadi penasaran apa otaknya benar-benar rusak, entahlah tapi sepertinya itu hal yang bagus.
"Kenapa? Kau menanyakan alasannya? Baik akan aku tanya, apa kau memiliki rasa penyesalan? Lalu apa kamu bisa melihat sikap mu sekarang ini? Bagaimana bisa kau bilang seperti itu ketika jelas-jelas kau sudah hancur!!" marah Alvarez sambil menggenggam tangannya erat.
Aku dapat melihat bahwa anak ini sudah benar-benar marah, tapi aku hanya diam, karena aku ingin melihat lagi apa yang akan dia lakukan kepada keempat wanita tersebut.
"Ingat jangan pernah kalian berfikir bisa mendapatkan pekerjaan lagi dimasa depan, begitu juga dengan keluarga kalian!!!" murka Alvarez mengancam keempat wanita itu.
Ku lihat untuk sekian kalinya keempat wanita itu terduduk lemas, wajah mereka melihatkan betapa lesu dan putus asanya mereka.
Setelah. elihat bahwa semuanya telah selesai, akupun memutar tubuhku memasuki lift dan menuju lantai tempat dimana CEO berada, dan aku tidak menghiraukan mereka lagi, aku hanya ingin diam, dan menghirup suasana tenang di perusahaan ku sendiri.
Dan ketika Alvarez melihat bahwa wanita yang dia sayangi serta dia cintai telah pergi menggunakan lift, Alvarez-pun ikut menyusul wanita yang tidak lain yaitu Queen.
"Aku serahkan semuanya pada mu." ucap Alvarez sambil menepuk pundak Asistennya, lalu berjalan pergi menuju tempat dimana Queen berada.
"Baik Tuan." ucap Asisten itu.
……………………………………
_Diruangan CEO_
Sekarang ini aku sedang menyenderkan tubuhku ke Sofa yang sangat besar dan empuk yang mengahadap kearah kaca jendela yang juga sangat besar dan menampilkan suasana perkotaan serta jalan Raya yang ada didepan sana.
Aku mengelus kepalanya dengan satu tangan ku, dan memegang luka yang disebabkan oleh ulah ku sendiri. "Apa kamu merasakan sakit saat aku menyerang mu?" ucap ku kepada anak itu.
"Iyah..." ucapnya pelan dan semakin menenggelamkan kepalanya. "Bukankah hanya seperti itu saja, kenapa sakit?" ucap ku bingung.
"Sakit Mama, aku sakit ketika kau ingin membuang ku, aku tidak masalah jika kau membunuh ku, tapi... rasanya sangat sakit saat Mama mengatakan hal itu..." lirih Alvarez.
"Sakit? Dibagian mana?!" ucap ku memeriksa bagian kepalanya yang terdapat bekas luka, dan masih sedikit mengeluarkan darah.
"Bukan... Bukan disana Mama..." ucap Alvarez mengangkat kepalanya dan menatap ku sendu, setelah itu dia menggenggam tangan ku dan meletakkannya di dadanya.
"Disini... hati ku yang sakit... hati ku yang hancur ketika mendengar Mama ingin membuang ku.." ucap Alvarez sayu, dan aku hanya diam mendengar ucapannya.
"Huhhh maaf, ini semua salah ku, aku sulit menahannya." ucap ku kepada anak itu sambil mengelus kepalanya lagi. "Sudahlah... Kau obati dulu luka mu itu." ucap ku, kemudian Alvarez membersihkan lukanya.
Dan setelah Alvarez mengobati dan membersihkan lukanya dengan bantuan ku, suasana kembali menjadi semula, dan aku mengutarakan niat ku datang ke perusahaan ini.
"Apa surat kontrak dari Tentara Bayangan itu masih ada? Apa masih berlaku?" ucap ku menatap Alvarez yang saat ini sedang memainkan jari-jari tangan ku.
"Hemm iya." jawabnya masih sibuk dengan jariku. "Kalau begitu, bawa kontrak itu kesini." perintahku.
"Buat apa?" ucap Alvarez mengangkat kepalanya menghadap kearah ku, dan terlihat bahwa dia cukup penasaran dengan tindakan ku ketika meminta kontrak itu.
"Bawakan saja dulu." ucap ku malas. "Hahh baiklah." ucap Alvarez mengalah, kemudian dia menelepon Asistennya untuk membawa semua berkas serta surat kontrak kerja sama yang diajukan oleh Anggota Tentara Bayangan.
…………………………………
Ok jangan lupa Like, Komen, And Vote ya guys, Author mohon dukungan kalian semua^^
.
.
.
.
.
#Next