The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 77



"Bukanya mendapatkan kata terima kasih, aku malah dikata sebagai wanita bodoh, aku kembali dihina dan dimaki oleh mereka. Aku tidak mengerti apa salahku, aku tidak tau kenapa mereka seperti itu."


"Mereka bilang, apa gunanya jika aku menyelamatkan mereka, tetap saja ujung-ujungnya mereka akan mati, bahkan lebih menyakitkan daripada ini."


"Aku tidak mengira itu, namun yang pasti aku dapat menebak jika ada pihak lain yang sangat berkuasa dibalik kejadian ini."


"Karena tidak dihargai oleh mereka aku memutuskan untuk pergi, pergi dengan rasa kecewa, hatiku semakin hancur, aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sewaktu ditempat ku dulu."


"Aku berjalan tanpa arah diiringi dengan teriakan penghinaan tersebut, aku menangis saat itu. Namun saat aku sedang menangis menahan semua penghinaan itu, aku melihat seorang anak kecil yang sangat cantik berdiri tepat didepan ku."


"Aku heran dia siapa, tapi ternyata dia adalah anak dari seorang bangsawan yang sudah ku bunuh. Anehnya dia tidak menangis ataupun marah kepadaku karena bagaimana pun juga akulah yang sudah membunuh kedua orang tuanya."


"Lebih anehnya dia malah menghiburku dan menemaniku hingga aku merasa baikan, tak lama kemudian aku pun merasa baik tidak lagi menangis. Jadi aku memutuskan untuk pergi dari sini."


"Tapi ternyata anak itu menahan ku, dia berkata jika dia ingin ikut denganku, awalnya aku menolak, namun ketika anak itu berkata jika dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku pun merasa bersalah dan mengizinkannya ikut bersamaku."


"Sebelum aku pergi dari sini aku merasa ada hawa pembunuh yang sangat kuat, bahkan sangat-sangat kuat sampai cukup menekan ku saat itu. Karena tekanan ini aku langsung melirik anak perempuan itu yang saat ini terlihat sesak nafas, wajahnya pucat, dia mencengkeram dadanya berusaha bernafas dengan benar."


"Aku kasihan dengan anak lemah ini, aku pun membantunya agar dia tidak terlalu tertekan oleh aura ini. Sebenarnya aku tau momentum itu hanyalah hembusan kekuatan dari orang yang entah siapa itu, yang pasti dia sangatlah kuat dan berbahaya."


"Saat itu aku sempat merasa gelisah jika orang yang ada dibelakang ini merupakan orang yang sama dengan orang yang memiliki momentum yang sangat mengerikan tersebut. Jika memang benar akan sangat merepotkan, alasannya karena aku yang dulu masih sangat lemah jika dibandingkan dengan yang sekarang."


"Untuk beberapa detik aku bernafas lega saat momentum mengerikan itu menghilang, namun tanpa diduga dan sangat amat membuatku terkejut adalah karena aku melihat ada segerombolan makhluk menjijikkan dan menyeramkan terbang di atas langit, ada juga beberapa dari mereka yang sedang merayap seperti serangga."


"Perasaan yang aku rasakan saat itu hanyalah takut, kakiku lemas, aku tidak bisa berbicara, pikiran dan hatiku tidak sejalan saat itu, apalagi saat aku melihat anak perempuan ini sudah hampir pingsan sambil berteriak ketakutan."


"Apa mereka datang karena aku sudah mengganggu rencana mereka? Apakah mereka akan menyerangku? Itulah yang aku pikiran saat itu."


"Lalu apa kamu tau apa yang terjadi selanjutnya? Aku seketika ambruk setelah melihat cahaya merah yang berasal dari lubang hitam ditengah-tengah gerombolan tersebut, mata merah itu mirip seperti warna merah darah yang kotor, penuh dengan kejahatan, aku pusing saat melihat mata itu."


"Tak butuh beberapa detik aku dan anak perempuan itu jatuh pingsan ditengah-tengah bahaya seperti saat itu. Jika ditanya apakah aku tidak takut mati saat itu, jawabannya tidak."


"Karena aku tahu ada seseorang yang mengawasi ku dari atas sana, tidak mungkin orang-orang itu berdiam saja saat aku akan dibunuh."


"Aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu, yang pasti saat aku terbangun aku sudah berada disebuah kamar yang bernuansa hitam merah. Aku bingung saat itu, aku ada dimana, dan kemana mahkluk menjijikkan itu berada."


"Karena penasaran aku keluar dari kamar itu, didepan pintu kukira akan ada orang tapi ternyata tempat ini sangat sepi, mungkin karena saking sepinya aku jadi merasa curiga."


"Karena alasan itulah aku semakin gencar menjelajahi tempat tersebut tanpa memperdulikan bahaya yang terjadi nantinya. Aku akui aku sangat bodoh saat itu."


"Aku yang melihat itu berusaha menahan mual, aku dengan berani membuka pintu itu, seketika aku tercengang karena melihat pemandangan yang diluar akal sehatku."


"Banyak sekali monster disini, mahkluk menjijikkan itu tak terhitung jumlahnya, tapi yang membuat ku tidak bisa berkutik adalah saat aku melihat dua orang pria yang tidak bisa ku jelaskan seperti apa kekuatannya, yang pasti mereka sangat kuat dan tentu saja tampan."


"Jika dilihat-lihat ketampanan mereka menyamai ketampanan orang-orang dimana tempat ku tinggal, jujur aku cukup terpikat sesaat, namun aku membuang pikiran itu cepat-cepat. Aku tidak boleh sampai terpikat oleh monster seperti mereka."


"Saat aku diam-diam ingin melarikan diri ternyata kedua pria itu sudah melihat keberadaan ku secara bersamaan. Sungguh kesialan apa yang menimpa ku?"


"Salah satu dari pria itu tersenyum lembut, tapi mengandung ancaman didalamnya, yang satu lagi seperti balok es yang sangat dingin. Yang pasti kedua orang itu bukanlah lawan yang mudah, bahkan bisa saja aku yang kalah."


"Setelah itu salah satu dari pria tersebut berbicara dengan nada menyebalkan menurutku. Karena kesal aku ingin berbalik dan meninggalkan tempat ini, namun belum satu langkah pria dingin itu mengancam ku untuk tidak melarikan diri."


"Tentu saja awalnya aku tidak peduli dengan ancaman pria itu tapi seketika aku berubah pikiran dan menurut dengan perintah pria itu agar tidak berusaha melarikan diri."


"Apa kamu tau apa yang dia pakai untuk mengancam ku? Anak itu, anak perempuan itu yang saat ini sedang dilecehkan habis-habisan dipinggir ruangan tersebut oleh mahkluk menjijikkan seperti mereka."


"Sumpah demi apapun aku sama sekali tidak merasakan kehadiran serta suaranya saat perempuan itu menjerit, aku tau pasti ini semua ulah salah satu dari pria tersebut. Karena tidak terima anak perempuan itu harus dilecehkan lagi oleh makhluk-makhluk seperti mereka."


"Tanpa pikir panjang aku menjatuhkan kedua lutut ku, aku memohon kepada kedua pria itu agar melepaskan gadis tersebut. Sialnya permohonan ku tidak digubris, aku yang saat itu sangat tertekan tidak tau apa lagi yang bisa aku lakukan berusaha menahan air mata yang hampir terjatuh kembali."


……………………………………………………………


Salam hangat Author guys '-'


Ditunggu besok lagi ya dan tolong kasih dukungannya


.


.


.


.


#Next